My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 15 SHOCK THERAPY



Yudha melihat Fajrin dan Sofia bergantian, sementara Nara sibuk dengan game minesweeper di ponselnya. Sofia terdiam tak mampu berkata-kata bahwa suaminya Yudha mengajaknya makan siang ternyata untuk mempertemukan dirinya dengan Fajri, sosok lelaki yang sangat dia kagumi sangat dia banggakan.


“silahkan kalau bapak ingin memesan sesuatu" ucap Yudha yang masih dengan nada sombong.


“terima kasih.... hari ini saya puasa dan adik saya tidak terlalu menyukai makanan Jepang.” Ucap Fajrin pelan dan sopan.


Yudha semakin menahan emosi merasa bahwa Fajrin tidak menghormatinya dengan menolak tawarannya untuk memesan makanan, yudha menahan emosinya Sofia pun tidak berusaha menenangkan emosi Yudha.


“maaf.... ada hal apa sampai bapak mengajak saya bertemu di luar kantor?” tanya Fajrin dengan santai seperti tak ada beban sama sekali.


Nara yang terlihat menundukkan pandangan hanya melihat layar ponselnya yang menampilkan game minesweeper, sesekali mencuri pandang pada Sofia yang sesekali menarik nafas panjang dan juga mencuri pandang pada Yudha yang terlihat jelas menahan emosi.


“saya mengajak pak Fajrin bertemu di luar kantor.... karena sebenarnya saya ingin memastikan apa yang selama ini saya curigai..... saya yakin pak Fajrin dapat menebak apa kecurigaan saya..... jadi sebaiknya pak Fajrin jangan menutupi apa pun dari saya.” Ucap Yudha dengan nada tegas dan micingkan sebelah matanya.


“kecurigaan seperti apa yang ada dalam pikiran bapak..... saya tidak paham" ucap Fajrin terlihat jelas bingung dengan ucapan Yudha.


“saya sudah tahu bahwa pak Fajrin sangat mengenal istri saya Sofia.... pak Fajrin tidak hanya rekan satu kampus tapi kalian berdua adalah sepasang kekasih.....” ucapan Yudha mulai terdengar memancing emosi Fajrin.


“sepertinya pak Yudha sudah mengetahuinya..... apakah Sofia yang menceritakannya atau bapak mengetahui dari kedua orang tua Sofia?” tanya Fajrin dengan memaksa sedikit senyum tipis.


“tidak penting saya mengetahui semua itu dari siapa atau pun sejak kapan. Saat ini saya hanya ingin memastikan perasaan kalian berdua..... apakah pak Fajrin masih ada rasa pada istri saya atau hanya istri saya saja yang masih memiliki rasa itu" ucap Yudha sambil melingkarkan lengan kanannya pada bahu Sofia.


Fajrin tersenyum tipis mendengar ucapan Yudha yang terkesan menyindir, tapi Fajrin berusaha untuk tidak terpancing emosinya.


“baiklah..... apa yang ingin pak Yudha ketahui tentang hubungan kami ?” ucapan Fajrin membuat Yudha mengepalkan tangan kirinya hingga memutih.


“semuanya....” ucap Yudha singkat padat dan jelas.


Dengan berat hati Fajrin mulai menceritakan awal pertemuan mereka bagaimana Sofia menemaninya di saat-saat keadaan sulitnya, hingga permintaan Sofia agar Fajrin segera melamarnya yang berakhir dengan penolakan kedua orang tua Sofia, tapi ada beberapa hal yang Fajrin tidak ceritakan karena Fajrin kuatir akan menimbulkan kesalahpahaman yang berlebihan.


“kenapa pak Fajrin tidak memperjuangan cinta bapak?” pertanyaan Yudha membuat Fajrin teringat kembali semua ucapan kedua orang tua Sofia padanya.


“saya masih ada tanggung jawab yang tidak bisa saya abaikan begitu saja..... saya hanya memiliki satu keluarga yang tidak mungkin saya abaikan hanya demi memenuhi rasa egois dan gengsi saya.” Ucap fajrin sambil melihat Nara yang masih asik bermain minesweeper.


“maksud pak Fajrin.... bahwa pak Fajrin lebih memilih adik dari pada seorang kekasih yang sudah menemani bapak dari nol.... begitukah?” tanya Yudha mempertegas pernyataan Fajrin.


“adik saya mau pun Sofia, mereka menemani saya dari nol mereka selalu menjadi penyemangat saya tapi ada saatnya hanya dengan mengingat tanggung jawab yang besar adalah semangat saya untuk bisa menjadi yang sekarang..... kalau sekarang anda mempertanyakan bagaimana perasaan saya terhadap Sofia yang sekarang menjadi istri Pak Yudha.... saya akan mengatakan bahwa saya tidak memiliki rasa itu lagi dan saya menghormati Sofia sebagai seorang wanita yang berhati mulia.” Ucap Fajrin dengan tegas tanpa ada rasa terpaksa atau pun berusaha menyembunyikan perasaannya.


Dari sejak melihat Fajrin duduk di depan suaminya, Sofia menahan rasa rindu yang amat sangat besar pada Fajrin. Pria yang selalu dia doakan di setiap akhir sholatnya untuk menjadi imam dunia akhiratnya, pria yang selalu dia banggakan di hadapan semua rekan-rekannya. Mendengar ucapan Fajrin, Sofia seketika memandang Fajrin dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


“kak...... kenapa kakak berkata seperti itu..... kakak sudah berjanji akan mencintai menemaniku hingga akhir hayatku..... kenapa sekarang kakak berubah?” ucap sofia dengan suara berat menahan tangis dan rasa sesak di dada.


Yudha semakin berat menahan emosinya terlihat jelas dengan mengerasnya rahang bawah, Nara melihat Sofia yang sepertinya belum bisa melupakan Fajrin dan Yudha merasa bahwa perasaannya tidak di anggap oleh Sofia.


“Sofia..... sekeras apa pun usaha kakak untuk memenuhi mahar permintaan kedua orang tua anda, tidak akan mampu meluluhkan hati mereka berdua untuk merestui hubungan kita.... dan saya tidak ingin anda seorang wanita terhormat menjadi wanita durhaka pada kedua orang tua..... semua yang saya lakukan untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua anda selalu menghadapi kesulitan selalu bertemu dengan jalan buntu tidak ada jalan yang untuk semakin mendekatkan kita..... anda pasti mengerti apa yang saya maksud.” Jelas Fajrin dengan sopan yang sesekali menarik nafas panjang menahan diri untuk tidak memberikan selempar tisu pada Sofia.


Fajrin mulai memanggil Sofia dengan formal menghilangkan panggilan kakak pada dirinya dan panggilan adik pada sofia, karena memang Fajrin sudah melupakan bahwa dia pernah memiliki rasa pada Sofia. Sofia meneteskan air mata mendengar semua ucapan Fajrin yang mengingatkannya bagaimana usaha Fajrin untuk mendapatkan restu atau pun sekedar ijin dari kedua orang tuanya, saat menjeput dirinya di rumah. Lidah Yudha terasa kelu mendengar suara Fajrin yang terdengar putus asa tidak mendapat respon baik dari kedua orang tua sofia. Nara sedih mendengarkan semua pembicaraan mereka, Nara merasa hanya menjadi beban bagi Fajrin.


“anda sekarang sudah menjadi istri pak Yudha.... anda harus menghormati menghargai perasaan pak Yudha.... seorang istri harus mentaati setiap ucapan suami jangan gunakan hati anda sebagai alibi penolakan pada suami..... anda berdosa menolak seorang lelaki yang sudah halal di hadapan ALLAH..... berusahalah menerima setiap kelebihan dan kekurangan suami, berusahalah mencintai suami meskipun awal yang anda mulai adalah karena orang tua." Ucapan Fajrin membuat Sofia semakin meneteskan air mata.


Yudha masih ingin melihat seberapa jauh Sofia mempertahankan rasanya meskipun saat ini dia ingin meluapkan kemarahannya. Fajrin merasa semua masa lalunya dengan Sofia sudah berakhir sejak penolakan kedua orang tua sofia, dan sekarang Sofia yang dia lihat adalah nyonya Yudha.


“saya sudah mengatakan semua yang ingin pak Yudha dengar, dan ada hal yang harus saya selesaikan sekarang jadi saya mohon undur dulu. Assalamu'allaikum” ucap Fajrin yang sudah berdiri dan mengajak Nara berdiri.


Nara menahan tangan Fajrin dan berdiri tepat di hadapan Sofia membuat Fajrin melihatnya dengan heran.


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda ‘Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri’. Ketaatan seorang istri pada suami termasuk sebab yang menyebabkannya masuk surga.” Ucap Nara pelan tapi terdengar jelas di telinga Sofia, Yudha dan Fajrin.


Sofia merasa bahwa apa yang Nara katakan di tujukan padanya, Yudha melihat Nara dan Fajrin dengan heran.