
Divya sangat marah kesal sedih juga kecewa semua rasa negatif tentang Davis memenuhi hati dan otaknya, Divya melihat tas selempangnya yang Jason letakkan di tepi ranjang. Divya ingat bahwa hari ini belum memberi kabar pada Fajrin, Divya segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu untuk Fajrin. Dengan berlinang air mata Divya mengetik sebuah pesan, selesai mengirim pesan dan mendapat notifikasi bahwa pesan terkirim. Divya meringkuk di sofa dan menumpahkan semua air mata kesedihan kebencian juga kekecewaannya.
Davis yang berdiri di depan pintu kamar Divya sejak Jason menyerahkan tas milik Divya, hanya menatap kosong pintu kamar Divya serasa ingin memeluk putri kecilnya. Tapi Davis sangat takut mendapatkan penolakan dari Divya mengingat selama ini dia tidak pernah berada di sisi Divya.
Di luar perkiraan Davis, ternyata Divya sama sekali tidak ada niat untuk keluar dari kamar. Pada awalnya Davis berpikir bahwa Divya akan melarikan diri dari rumah ini. berhari-hari Divya menghabiskan waktu di kamarnya tidak mau keluar dari kamarnya bahkan Divya memutup semua gorden sehingga para pengawal Davis yang berjaga di luar rumah tidak bisa melihat keadaan di dalam kamar Divya. Hanya seorang pelayan wanita yang bisa keluar masuk kamar Divya, itu pun hanya untuk membersihkan kamar, mengambil pakaian kotor, meletakkan pakaian bersih dan mengantar makanan juga mengambil piring kotor.
Davis tidak tahu sama sekali apa yang di lakukan Divya di dalam kamar karena Davis tidak lagi mendengar suara keras tangisan Divya. Tanpa mereka sadari, sebenarnya Fajrin sudah menghubunginya Divya menghabiskan waktu dua jam lebih setiap malam untuk menenangkan Divya. Memberi banyak nasehat bagaimana Divya bersikap tenang, ihklas dan sabar. Berkali-kali Divya menolak nasehat dan saran Fajrin, berkali-kali pula Fajrin akan mengatakan hal yang sama. Karena tanpa Divya sadari bahwa Fajrin sudah mengetahui bagaimana hubungan Divya dengan Davis, Fajrin sedikit banyak sudah mendapatkan gambaran tentang keadaan Divya dari cerita Azkar mau pun Dipta.
Fajrin bahkan memberi saran agar Divya mencoba memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Davis, mengingatkan Divya bahwa Davis adalah wali nikah Divya yang pertama. Dengan cara apa pun Divya menolak saran dan nasehat Fajrin, Fajrin tetap mengingatkan Divya bahwa tanpa keberadaan Davis maka Divya tidak akan ada di dunia ini, sekeras apa pun Divya menyangkal tetap saja Davis adalah ayah kandung Divya.
Karena perbedaan waktu antara Jaipur dan Jakarta satu jam tiga puluh menit, maka Fajrin mengingatkan Divya satu setengah jam lebih awal dari waktu sholat di Jaipur. pelan-pelan Divya mulai tenang mulai bisa berpikir jernih mulai bisa menerima semua nasehat dan saran Fajrin. Divya menghabiskan waktu sesuai nasehat Fajrin, pelan-pelan Divya mulai memahami kenapa Fajrin berkali-kali menasehatinya demikian.
Divya mulai sedikit demi sedikit membuka gorden kamarnya dan melihat para pengawal Davis yang sedang berlatih ketangkasan, Divya melihat wajah Liam yang terdapat bekas lebam di sudut bibirnya. Divya bahkan tidak mengetahui sudah berapa lama dia berada di dalam kamar, yang dia ingat hanya berkali-kali Fajrin selalu mengingatkan waktu sholat tapi Divya tetap tidak bisa menghitung sudah berapa hari dia mengurung diri di kamar.
Saat Divya merekam suara murojaah-nya untuk dia kirim pada Fajrin, seseorang membuka pintu kamarnya. Divya segera diam dan mematikan ponselnya.
“ anak bandel, sejak kapan berada di jakarta? Kenapa tidak memberi kabar kalau pulang ke Jakarta? “ suara berat Dipta membuat Divya melihat asal suara dan meneteskan air matanya.
Divya meletakkan ponselnya dan berdiri merentangkan kedua tangannya, Dipta segera memeluk erat Divya. Membuat Divya kembali menangis di dalam pelukkan Dipta, membiarkan Divya menangis meluapkan semua rasa yang Divya pendam. Pelan-pelan Divya tenang dan Dipta mendudukkannya di sofa.
“ sudah lega apa belum? “ canda Dipta berusaha membuat Divya tersenyum.
Divya menggelengkan kepala menjawab pernyataan Dipta.
“ masih mau menangis? “ kembali Divya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Dipta.
“ terus mau apa? Kembali ke India? Bertemu Fajrin lagi? “ pertanyaan Dipta sukses membuat Divya menatapnya dengan seribu pertanyaan.
“ bisakah abang membantuku? “ tanya Divya ragu.
“ tidak bisa.... papi sudah memberikan surat perintah pencekalanmu di kantor imigrasi “ ucapan Dipta membuat Divya menunduk kecewa.
“ kalau tidak bisa membantu kenapa kesini? “ ucap Divya yang sudah merubah posisi duduknya menatap jendela.
Dipta mengeluarkan ponselnya dan menunjukan pesan singkat juga pesan suara dari Fajrin. Dipta memutar ulang pesan suara itu dan seketika membuat bulu-bulu halus di tangan Divya merinding karena kali ini suara Fajrin terdengar seperti saat dia mendengar suara Fajrin di masjid gedung Surendra.
Dipta tahu bahwa dalam pikiran Divya saat ini penuh dengan sosok Fajrin, itulah yang membuat Dipta memaksa Fajrin untuk mengirim sebuah pesan suara yang akan dia sampaikan pada Divya. Meskipun Fajrin sudah sering menghubungi Divya dan membuat admin bagian pembayaran tagihan ponsel Fajrin berkali-kali meminta tanda tangan Azkar untuk memberi persetujuan pembayaran tagihan ponsel Fajrin. Meski pun pada awalnya Azkar menolak tapi setelah melihat nomor ponsel yang Fajrin hubungi, Azkar segera membubuhkan tanda tangannya.
“ abang tahu abang paham kamu marah sama papi.... tolong maafkan papi juga abang.... maaf kalau selama ini abang tidak bisa membimbingmu seperti yang Fajrin lakukan padamu. Itu karena abang tidak tahu bagaimana abang harus bersikap pada kamu yang selalu menang sendiri semua yang kamu minta selalu papi penuhi “ ucapan Dipta membuat Divya tercengang juga terkejut.
“ maksud abang apa? “ tanya Divya bingung.
Karena selama ini sepengetahuan Divya, semua yang memenuhi keinginannya ada Bi Ina bukan papinya.
“ sudahlah....... nanti kamu juga tahu...... sekarang sebaiknya kamu turun.... aku mau kamu berkenalan dengan istri juga keponakan kamu “ ucap Dipta yang sudah melangkah keluar dari kamar Divya.
Divya masih bingung dengan ucapan Dipta tadi, bahkan Divya tak mampu memikirkan berbagai kemungkinan dari ucapan Dipta. Divya memang ingin mengenal istri Dipta tapi egonya mengatakan bahwa sebaiknya tetap berada di kamar karena bila dia keluar pasti akan bertemu papi yang selama ini mengabaikannya.
Saat Divya memutuskan untuk tidak keluar dari kamar dan memilih duduk di sebuah sofa untuk kembali membuat pesan suara pada Fajrin, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“ Assalamu'allaikum “ suara seorang wanita mengucap salam.
Divya melihat ke asal suara, dan terlihat sebuah senyum manis di wajah wanita itu.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Divya dengan berdiri dan berjalan mendekati wanita itu yang tak lain ada istri Dipta.
“ kamu sudah berubah dari terakhir kali kita bertemu “ ucap Ningsih sambil memeluk Divya.
Divya mulai mengingat siapa wanita yang memeluknya ini.
“ kamu pasti Black Pearl yang berhasil membuat bang Dipta bertekuk lutut? “ Ningsih melepas pelukkannya dan tertawa mendengar ucapan Divya.
“ begitukah menurut kamu? “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Ningsih.
Ningsih melihat ponsel Divya yang masih menyala, seketika tersenyum tipis dan mengajak Divya untuk duduk di sofa. Mereka berbincang-bincang banyak hal mulai tentang bagaimana Ningsih bisa mengenal Dipta, bagaimana Ningsih bisa membuat Dipta berubah, siapa yang membantu Dipta berubah. Ningsih menceritakan semua pada Divya, membuat Divya semakin kagum dan cinta dengan sosok Fajrin.