My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 50 PENING



Sementara di kamar Fajrin, Elena dan joana berusaha keras menenangkan Divya dari reaksi addyi yang meskipun hanya sebagian kecil dia telan. Divya sudah melepas semua kain yang melekat di badannya dan hanya meninggalkan hipster, Joana menahan tangan Divya agar tidak melepas hipsternya. Reaksi dari Addyi membuat orang yang telah meminumnya merasakan hangat di sekujur tubuhnya, membuat hormon oksitosin pada tubuh peminum meningkat tak terkendali untuk segera mengeluarkan ‘big O'.


“kak...... kak Fajrin...... kak Fajrin" ucap Divya memanggil Fajrin dengan suara seksi, membuat Elena juga Joana sedikit merinding tapi tetap berusaha menahan Divya.


Berkali-kali Divya memanggil nama dan berkali-kali pula Elena menutup mulut Divya dengan tangan kirinya. Kuatir bila suara Divya akan membuat berisik para penghuni kamar yang lain.


“ini pasti milik kak Fajrin.....” ucap Divya saat melihat tas punggung Fajrin yang tergeletak di sofa.


Divya membukanya mengambil sepotong pakaian Fajrin dan memeluk erat seperti memeluk tubuh Fajrin. Elena dan Joana makin kesulitan mengendalikan Divya yang semakin berbuat aneh dengan pakaian Fajrin


“Jo you go out looking for that guy, ask him for help... I'll hold her down (Jo kamu keluar cari pria tadi, minta bantuan padanya... aku akan menahannya)" Joana segera melangkah keluar kamar sementara Elena berjuang sendiri menenangkan Divya yang sepertinya semakin tidak dapat menahan reaksi addyi.


“did you saw the man who helped Divya earlier (apa kalian tadi melihat pria yang menolong Divya)?” tanya Joana membuat kedua pengawal Divya menganggukan kepalanya hampir bersamaan.


“where did he go? I need his help to calming Divya (pergi kemana dia? Aku butuh bantuannya menenangkan Divya)" ucap Joana sambil melihat ke segala penjuru lorong.


“he has gone downstairs with his friends seems to be back in the ballroom (dia sudah turun kebawah dengan rekan-rekannya, sepertinya kembali ke ballroom)" ucap Liam membuat kepala joana seketika kosong.


“damn it….. then, when you see that guy just call here…. Elena and I will try to calm Divya (sialan..... kalau begitu, saat kalian melihat pria tadi segera panggil kemari.... Elena dan aku akan berusaha menenangkan Divya)” ucap Joana dan kembali masuk ke kamar.


Joana melihat Elena dengan wajah tidak dapat di artikan karena Divya sudah berusaha membuka paksa pakaian Elena, Joana segera menahan tubuh Divya agar tidak menyerang Elena lagi. Elena membetulkan pakaiannya yang sedikit koyak.


“where was that guy (mana pria tadi)?” tanya Elena semakin bingung menenangkan Divya.


“he's back in the ballroom, I told Liam and Bibhu to bring in that guy if he sees him (dia kembali ke ballroom, aku sudah mengatakan pada Liam dan Bibhu untuk membawa pria tadi kemarin kalau melihatnya)” ucap Joana yang juga mulai tidak bisa menahan tingkah Divya.


Setelah kurang lebih selama satu jam mereka berjuang sekuat tenaga menenangkan Divya yang sudah tidak bisa menguasai diri dari pengaruh addyi, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar.


“sir....can you help our lady? Elena and Joana can't hold our miss anymore (tuan.... bisakah anda menolong nona kami? Elena dan Joana sudah tidak dapat menahan nona kami)” ucap Liam membuat Fajrin berpikir keras bagaimana menghilangkan pengaruh addyi.


Tanpa Divya dan Elena ketahui juga yang lain, Liam bekerja juga pada Davis. Liam akan memberikan informasi apa pun pada David yang terjadi pada Divya.


“wait a second (sebentar).....” ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponsel mencari tahu bagaimana meredam reaksi dari addyi.


Beberapa detik kemudian Fajrin melangkah mendekati pintu kamarnya, saat hendak membuka pintu kamarnya tiba-tiba dia menghentikan tangannya. Dia teringat kalau tadi saat dia masuk kamar kondisi wanita tadi sudah tidak memungkinkan untuk dia masuk.


“Jo.... can you come out for a second.... the man you looking for was already at the door (Jo.... bisakah kamu keluar sebentar.... pria yang tadi sudah ada di depan pintu)" teriak Bibhu.


Joana segera membuka pintu dan hanya memperlihatkan kepalanya saja, terdengar jelas Divya berteriak memanggil nama Fajrin. Hal ini semakin membuat Fajrin berpikir keras siapa wanita yang sudah dia tolong tadi.


“sir....help us.... Divya is out of our control....we are confused what to do (tuan.... bantu kami.... Divya sudah tidak bisa kami kendalikan.... kami bingung harus melakukan apa)” ucap Joana sambil menahan pintu karena Divya sudah berdiri di belakang Joana berusaha membuka pintu dan memanggil-manggil nama Fajrin.


“kak..... kak Fajrin..... kak Fajrin" teriak Divya membuat Elena berusaha menutup mulut Divya tapi Divya menggigitnya.


“aaaaa.....Divya stop it (hentikan)..... hold yourself (kuasai dirimu)" teriak Elena.


Fajrin mendengar dengan jelas namanya di sebut membuat kepalanya mulai pening tapi juga tidak bisa berbuat banyak karena bisa di pastikan kondisi Divya saat ini adalah tanpa sehelai benang pun dan Fajrin tetap akan menjaga batasnya. Dengan menghela nafas panjang berusaha menahan pening di kepala.


“put your lady in the bathtub and try to keep her soaking in cold water.... if necessary flush her head with cold water (masukkan nona kalian ke dalam bathtub dan usahakan dia tetap berendam di dalam dengan air dingin.... kalau perlu siram kepalanya dengan air dingin)"ucap Fajrin dengan kepala mulai pening yang tidak bisa dia tahan lagi karena mendengar namanya di panggil berkali-kali oleh wanita yang dia tolong.


Sebenarnya Fajrin juga tidak tahu bagaimana meredam reaksi addyi, tadi sebelum naik ke atas Fajrin meminta Krishna untuk menjelaskan bagaikan reaksi addyi dan bagaimana cara meredamnya. Karena obat ini sangat jarang di temukan di New Delhi, kalau pun ada hanya orang kaya saja yang bisa membelinya dan menggunakannya pada wanita yang mereka inginkan.


Joana menganggukan kepala dan segera menutup pintu, sementara Fajrin masih menunggu di luar sambil berpikir keras siapa wanita itu. Karena hanya ini yang bisa Fajrin lakukan saat ini.


Joana dan Elena segera menarik Divya masuk ke dalam kamar mandi, Joana segera mengisi bathtub dengan air dingin dan memaksa Divya untuk berendam didalamnya, sesekali elena menyiram kepala Divya dengan air dingin saat Divya kembali meneriakkan nama Fajrin. Setelah berusaha keras mendinginkan Divya selama kurang lebih dua jam, pada akhirnya Divya bisa kembali tenang tapi kedua matanya tertutup seperti tertidur. Joana keluar kamar untuk menemui Fajrin.


“sir....thanks for the advice.... Divya has calmed down a bit.... once again thank you (tuan.... terima kasih sarannya.... Divya sudah sedikit tenang.... sekali lagi terima kasih)" ucap Joana.


Fajrin menganggukan kepalanya sebagai tanda menerima rasa terima kasih Joana.


“mmm...... sir.... can we use your room until Divya wakes up (mmm...... tuan.... bisakah kami memakai kamar anda sampai Divya sadar)?” tanya Joan sedikit ragu.


“use it…… can you get my backpack (pakailah....... bisakah kamu ambilkan tas punggung saya)" ucapan Fajrin seketika membuat tubuh Joana menegang.


Joana takut kalau Fajrin akan marah karena Divya sudah membuka barang pribadinya. Joana menutup pintu dan mengambil tas Fajrin dengan satu pakaian Fajrin sudah Divya ambil. Joana menyerahkan tas itu dan melihat Fajrin dengan kuatir, Fajrin membuka tas dan melihat isi tasnya sudah berantakan.


“sorry....” ucap Joana pelan membuat Fajrin hanya bisa menghela nafas panjang.


“your clothes are in Divya's arms (pakaian anda ada di pelukkan Divya)" ucap Joana singkat dan cukup membuat Fajrin semakin pening.