
Sejak pertemuan pertama mereka di luar kontrak, Fajrin selalu menyempatkan menerima panggilan Divya atau menghubungi Divya meskipun hanya sekedar menanyakan apakah Divya sudah sholat atau sekedar menanyakan apa kegiatan Divya. Setiap pulang kerja Fajrin menyempatkan untuk berkunjung ke rumah Divya meskipun setiap jam 10 malam saat Fajrin hendak pulang, ada saja alasan Divya menahannya agar tidak pulang. Bahkan tak jarang Divya ke kantor Fajrin untuk membawakan makan siang Fajrin, Divya selalu mengirim pesan dulu pada Fajrin dan Fajrin menunggu di lobi atau pintu masuk parkir basement. hari ini sejak pukul 9 pagi Divya sudah membuat Nenek Ina dan beberapa pelayan sibuk. Setelah kepulangan Fajrin, Divya mencari tahu apa makanan kesukaan Fajrin dengan menghubungi Ningsih dan membuat Dipta sedikit marah karena olah raga malamnya terganggu.
“ Nenek yakin ini enak? “ tanya Divya ragu karena masakan ayam bekakak di beberapa bagian terlihat lebih gelap dari bagian lainnya.
“ nenek yakin enak..... kalau kamu tidak percaya coba saja dulu “ ucap Nenek Ina sambil memasukkan Nasi liwet di sebuah tempat bekal makan siang.
Divya masih mengamati hasil masakannya dan terlihat tersenyum senang.
“ apa nasi sebanyak ini cukup? “ pertanyaan Nenek Ina membuat Divya melihat tempat Nasi yang nenek ina maksud.
“ kalau ayang yang makan pasti cukup tapi kalau Divya ikut makan.... sepertinya kurang “ Nenek Ina tersenyum mendengar ucapan Divya.
Tepat pukul 11 siang Divya pergi ke gedung Surendra sepanjang perjalanan Divya tersenyum bahagia tidak sabar melihat respon Fajrin saat Dia memberi kejutan dengan membawa makan siang masakannya sendiri. Pukul 11.30 sampai di area parkir mobil basement 1, Divya merapikan rambut dan sedikit menambah bedak di wajahnya. Dengan mengenakan atasan berupa kaos lengan panjang dengan potongan leher kura-kura, bawahan berupa rok godet setinggi di bawah lutut dan sepatu model gladiator boots berwarna krem. Divya melangkah dengan bahagia sambil menenteng makan siang untuk Fajrin.
Menunggu pintu lift basement terbuka membuat Divya merasa tidak sabar, saat pintu lift terbuka Divya segera masuk dan menekan angka dimana ruang kerja Fajrin berada. Di saat Divya sibuk merapikan penampilannya, pintu lift terbuka. Roby menatapnya heran.
“ ada apa kesini? Bawa makan siang pula? Buat siapa? “ tanya Roby dengan tatapan seribu tanda tanya.
Divya meringis memperlihatkan gigi putihnya.
“ mau bertemu ayang.... ini makan siang buat ayang Divya “ ucap Divya tersenyum dan sedikit malu-malu.
“ ayang.....? “ Roby masih melihat Divya dengan heran.
Tapi Divya mengabaikan itu dan segera melangkah keluar saat pintu lift terbuka di lantai tujuannya, seketika Roby terkejut dengan pemikirannya. Pintu lift tertutup membuat Roby masih tidak percaya dengan yang dia lihat.
“ Assalamualaikum “ salam Divya saat masuk ke ruang bagian Fajrin.
“ Wa'alaikumsalam “ balas semua tim Fajrin juga Yuni yang menatapnya dengan heran.
“ mmm..... bisa bertemu pak Fajrin? “ tanya Divya malu-malu sambil menunjuk ruangan dimana Fajein berada.
Semua tim Fajrin melihatnya heran karena baru kali ini melihat Divya berpenampilan tanpa high heels dan lebih terkesan sederhana.
“ ada, tunggu saja di dalam.... beliau tadi masih keluar sebentar “ jawab Cahyo dengan suara keras membuat semua rekan-rekannya terkesima dengan perubahan penampilan Divya.
Saat Divya hendak melangkah menuju ruang kerja Fajrin, Yuni admin pengganti Ningsih menghalanginya.
“ eee..... tunggu anda tidak bisa masuk begitu saja, anda harus buat janji dulu dengan saya. “ ucap Yuni sambil merentangkan kedua tangannya tepat di depan Divya.
Divya sedikit bingung karena tadi cahyo mengatakan boleh masuk tapi kenapa wanita ini melarangnya masuk, Divya hanya diam menatap Yuni dengan sebuah pertanyaan. tiba-tiba Fajrin datang dan melihat aura ketegangan di antara kedua wanita yang saat ini berdiri tepat di depan pintu ruangannya.
Divya tersenyum dan berjalan mendekati Fajrin sementara Yuni menatapnya semakin penuh pertanyaan di otaknya. Fajrin melihat tangan Divya yang membawa sesuatu.
“ buat ayang? “ tanya Fajrin sambil meraih bekal makan siang yang Divya bawa dan Divya menjawab dengan menganggukan kepala sekali.
“ ayo masuk “ ajak Fajrin membuat senyum Divya semakin mengembang dan melangkah masuk ke ruang kerja Fajrin.
Fajri mengikutinya di belakang, semua tim Fajrin sudah tahu siapa Divya bagaimana mereka memulai hubungan jadi mereka tidak terlalu ingin tahu tentang hubungan antara pimpinan mereka dengan Divya. Tapi tidak dengan Yuni yang sangat ingin tahu tentang hubungan Fajrin dan Divya, Yuni mencoba mencuri dengar suara pimpinannya dan Divya tapi sayang meski pun ruang kerja Fajrin tidak tertutup seperti ruang kerja para pimpinan struktural melainkan terbuka atau hanya berupa kaca dua arah sebagai pembatas ruang kerja Fajrin dan ruang kerja tim. Tetap saja yuni tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
“ Divya buat makan siang untuk ayang “ ucap Divya saat Fajrin membuka kotak bekal makan siang paling atas.
“ buat sendiri apa nenek yang buat? “ tanya Fajrin dengan tersenyum, senyum yang membuat Divya semakin meleleh.
“ hehehe..... idenya Divya tapi..... bumbunya Nenek yang buat “ jawab Divya malu-malu.
“ Alhamdulillah dapat rezeki makan siang..... lepas sholat Dhuhur kita habiskan ini “ ucap Fajrin yang menutup kembali kotak makan siang yang tadi sudah dia buka satu persatu.
“ ayang.... itu kenapa admin ayang begitu.... apa dia kurang kerjaan? “ mendapat pertanyaan itu Fajrin hanya menatap Yuni dengan heran yang ternyata sudah menggeser kursi kerjanya mendekat di pembatas ruangan Fajrin.
“ admin dimana mana selalu sama.... mereka suka mencari bahan ghibah “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dan mengambil sebuah tabung kertas kalkir.
“ pasti setelah Divya pulang dari sini.... akan ada bahan ghibah buat para Admin. “ ucap Divya sedikit kesal.
“ kenapa kesal begitu..... mereka yang ghibah bukan kamu.... seharusnya kamu senang ada ghibah tentang kamu.... karena itu berarti mereka sedang transfer pahala mereka untuk kamu. “ penjelasan Fajrin membuat Divya ingin tahu lebih dan berjalan mendekati Fajrin yang sudah berdiri di depan meja gambar.
“ maksudnya? “ tanya Divya heran.
Fajrin menegakkan tubuhnya dan menatap jauh kedepan seperti menembus dinding kaca Surendra.
“ Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tanibuu katsiirom minadh dhonni inna ba’dlodh dhonni itsm. Walaa tajassasuu walaa yaghtab badlukum ba’dloo. Ayuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiihi maitan fakarihtumuuhu wattaqullooha innallooha tawwaabur rohiim. Artinya, Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka atau kecurigaan, karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. “ suara hapalan Fajrin yang merdu di telinga Divya semakin membuat Divya terpesona dan meleleh.
“ ayang.... kakiku lemas “ ucap Divya dengan manja membuat Fajrin menggelengkan kepala heran.
“ kamu duduk saja “ ucap Fajrin yang sudah mendorong tubuh Divya dengan penggaris besi.
Divya duduk di sofa dan masih menatap Fajrin dengan tatapan memuja.
“ ayang maksudnya apa itu tadi..... Divya tidak paham “ rengek Divya membuat Fajrin sekali lagi menghentikan kedua tangannya dari menggambar garis.