
Davis dengan saudara-saudaranya sedang berunding dengan Selo, Freya juga Wingga. Mereka membahas tanggal pernikahan dan lokasi pesta pernikahan juga mahar apa saja yang keluarga Divya inginkan dari Fajrin untuk Divya. Mereka merasa berhak menentukan apa saja mahar untuk Divya, apa lagi setelah mendengar dan melihat sendiri karya George Jensen yang melingkar di leher Divya adalah produk terbatas dan berkuliatas tinggi serta bernilai tinggi. Bahkan para wanita di keluarga Prakash mau pun Lohia tidak ada satu pun yang berhasil mendapatkannya di Canada mau pun Amerika.
Azkar yang ikut mendengarkan apa yang mereka bahas menjadi mulai pening karena meski pun sudah menentukan tanggal pernikahan tapi mereka masih belum memutuskan lokasi pesta pernikahan akan di laksanakan dimana, dan mahar apa saja yang mereka inginkan untuk Divya. Azkar memilih menjauh dari pembicaraan itu dan duduk dengan Fajrin yang sudah duduk bersebelahan dengan Divya juga Roby.
“ berapa lama transit? “ pertanyaan Azkar membuat Roby segera menarik sebuah kursi untuk big bos Azkar.
“ kurang lebih satu jam.... jadwal semua penerbangan dengan rute di atas samudera Hindia mundur..... maaf aku membuat kalian semua kuatir..... begitu ada informasi penerbangan di buka kembali.... Kapten langsung mengontak airnav untuk mendapatkan izin melanjutkan penerbangan kembali..... begitu dapat izin.... kami semua langsung kembali masuk ke private jet.... bahkan aku langsung mematikan ponsel.... karena memang aloksi waktu dari airnav sangat pendek. “ jelas Fajrin membuat Azkar memakluminya.
Divya masih menatap Fajrin tidak percaya bahwa pria yang di sebelahnya saat ini menjadi tunangannya, pria yang dulu terkesan cuek dan idealis pada akhirnya akan menjadi suaminya dalam beberapa bulan kedepan. Divya memainkan kalung yang Freya sematkan, sesekali melihat cincin yang melingkar di jari manisnya dan wajah Fajrin. Ingin rasanya memeluk Fajrin melepas rindu setelah 1 minggu di tinggal ke Olso.
“ matanya itu di kondisikan..... lepas itu nanti bola mata “ ucap Azkar membuyarkan lamunan Divya.
Divya cemberut mendapatkan kalimat jahil dari Azkar.
“ begini ini kalau pawangnya tidak ada..... “ ucap Divya dengan cemberut.
Fajrin mengedarkan pandangan mencari sosok yang Divya maksud.
“ kemana Helen? “ tanya Fajrin yang masih mencari-cari keberadaan Helen.
Azkar menarik nafas panjang.
“ tidak ikut..... punggungnya sakit kalau duduk terlalu lama.... sebenarnya tadi aku juga malas kesini..... tapi karena teman kamu.... mengeluarkan kata-kata ancaman kalau aku tidak hadir, aku tidur sama anak-anak.... ya... dengan terpaksa aku hadir.... dari pada tidur tidak bisa peluk istri.... “ ucapan Azkar membuat Roby menahan tawanya.
“ untung aku dulu di tolak.... bisa-bisa aku seperti big bos “ gumam Roby dalam hati.
Fajrin tertawa renyah mendengar keluh kesah Azkar.
“ jadi aku harus berterima kasih pada Helen. “ ucapan Fajrin membuat Azkar memutar bola matanya jengah.
Hingga mendekati pukul 10, perundingan antara Davis dan Selo masih belum menemukan titik temu dimana mereka akan menggelar pesta pernikahan Fajrin dan Divya. Hingga memaksa Wingga untuk bersuara.
“ yang penting tanggal sudah kita tentukan.... tempat akad nikah sudah..... hanya masalah lokasi pesta pernikahan dan mahar apa saja yang kalian ingin yang belum selasai.... apa kalian tidak takut kalau anak-anak kalian melihat kalian seperti ini.... sudah “ ucap Wingga sambil melihat Fajrin yang menunduk memandangi jari jemari Divya.
Freya dengan sedikit terpaksa mengikuti langkah kaki ayah mertuanya.
“ sudah menerima tapi masih berbelit-belit dimana mau mengadakan pesta dan mahar apa saja..... sepertinya mereka sengaja ingin melihat seberapa besar kemampuan Fajrin bahkan lebih terkesan seperti menyepelekan keluarga kita. “ ucap Wingga yang sedari tadi menahan rasa kesal pada beberapa ucapan anggota keluarga Prakash dan Lohia.
“ biarkan saja mereka begitu Romo..... kita ikuti saja... yang penting Fajrin bahagia.... Freya yakin ... bahkan yakin sekali Fajrin sangat mampu memenuhi semua permintaan mereka.... kita hanya perlu mendukung Fajrin sebagai balas budi kita pada mendiang kedua orang tuanya. “ ucapan Freya membuat Wingga menurunkan rasa kesalnya.
Melihat raut wajah bahagia Fajrin sudah cukup membuat Wingga merasa lega dan bahagia, begitu juga dengan Freya yang bisa merangkul kembali anak-anak dari sahabatnya dan sahabat suaminya.
pada akhirnya acara lamaran dan pertunangan antara Divya dan Fajrin selesai, Divya yang masih menggenggam ujung jas Fajrin seperti belum puas berada di samping Fajrin membuatnya mengikuti kemana pun Fajrin melangkah. Pada awalnya terlihat aneh di mata keluarga besar Prakash juga Lohia karena Fajrin tidak menggandeng tangan Divya tapi setelah Dipta menjelaskan kenapa Fajrin melakukan hal itu, pelan-pelan mereka paham dan memaklumi sikap Fajrin pada Divya.
Bahkan saat mereka harus segara pulang, Divya masih mengikuti Fajrin hingga lobi hotel.
“ ayo.... ayang antar Divya ke mobil papi “ ucap Fajrin yang sudah melangkah menuju mobil Davis yang sudah bersiap kembali pulang.
“ kangen “ satu kata terdengar sedih di telinga Fajrin membuatnya menghentikan langkah dan membalikkan badan melihat Divya hanya setingggi lutut.
Fajrin terlihat bingung seperti mencari-cari sesuatu, tapi kemudian tiba-tiba melepaskan jas yang dia pakai membuat Divya semakin merasa cinta dan sayang karena Divya tahu apa yang akan Fajrin lakukan. Menutupkan jas tepat di kedua tangan Divya, dan Fajrin menggenggam kedua tangan Divya.
“ ayang..... “ ucap Divya yang semakin meleleh dengan sikap Fajrin.
“ Divya.... malam ini.... pulang dulu sama papi..... Insya ALLAH besok seharian ayang akan temanin Divya..... kemana pun Divya mau pergi..... ayang akan temani “ ucap Fajrin sambil menggenggam erat tangan Divya dengan batas jas miliknya.
“ tapi Divya masih kangen ayang..... “ ucap Divya dengan manja membuat Fajrin ingin sekali memeluknya erat tapi dia sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan memeluk Divya lagi bila belum halal.
“ sabar ya..... besok ayang akan ke rumah papi.... lihat papi sudah menunggu Divya.... tidak sopan membuat orang tua menunggu “ ucapan Fajrin membuat Divya melihat Davis yang menunggunya tepat di depan pintu mobil.
“ pulanglah dulu bersama papi ...... besok Insya ALLAH ayang akan ke rumah..... “ ucap Fajrin berusaha merayu Divya akan pulang bersama Davis.
Dengan pelan Fajrin menarik Divya mendekati Davis, apa yang Fajrin lakukan sangat menarik perhatian para saudara sepupu Divya. Mereka memperhatikan apa yang Fajrin lakukan dan mulai memahai kenapa Fajrin tidak mau menyentuh Divya.
“ this is the first time I ever seen a man treat a woman like that..... usually they will immediately hug without even caring about the people around them they will kiss (baru kali ini aku melihat seorang pria memperlakukan seorang wanita seperti itu..... biasanya mereka akan langsung memeluk bahkan tanpa memperdulikan orang-orang sekitar mereka akan berciuman) “ ucap salah seorang sepupu Divya.