My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 200 TIDAK JERA



Sekretaris itu langsung beranjak pergi meninggalkan ruang kerja Fajrin, Yuni yang melihat raut wajah sekretaris itu menjadi terlihat sangat ketakutan dan segera masuk ke ruang kerja Fajrin.


“ ada yang bisa saya bantu pak? “ tanya Yuni dengan heran.


“ tolong carikan berkas tentang Sekretaris pak Henri secepatnya. “ ucap Fajrin sambil menata berkas-berkas kontrak pelimpahan dari Henri karena dia akan membawanya ke ruangan Azkar.


Tanpa menunggu lama Yuni segera keluar dari ruang kerja Fajrin dan melakukan apa yang Fajrin minta. 45 menit menunggu kedatangan Azkar membuat Fajrin tidak tenang dan berjalan mondar mandir di dalam ruangannya membuat para bawahannya melihat dengan heran. Fajrin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Roby, mendapat informasi bahwa Azkar sudah datang Fajrin segera mengambil semua berkas kontrak dan dengan cepat menuju ruang kerja Azkar.


Azkar yang baru saja melepas jas kerjanya di buat terkejut dengan suara ketukan pintu.


“ Assalamu'allaikum bang.... ini berkas yang aku ceritakan tadi “ salam Fajrin sambil membuka pintu dan meletakkan beberapa tumpukkan berkas di meja Azkar.


Azkar menarik nafas panjang melihat Fajrin yang terlihat sangat bersemangat bila menemukan sesuatu yang tidak beres.


“ Wa'alaikumsalam..... jangan terlalu bersemangat seperti ini.... simpan buat malam pertamamu “ ucapan Azkar membuat Fajrin lemas seketika.


“ serius bang..... ini aneh.... kalau abang biarkan separuh aset Surendra jatuh ke tangan orang lain.... bagaimana nasib para karyawan dan keluarganya..... “ ucap Fajrin yang sudah duduk di sofa.


Mendengar ucapan Fajrin seketika kedua mata Azkar membulat sempurna dan meraih salah satu berkas kontrak yang Fajrin bawa, raut wajahnya berubah menjadi serius geram rahang bawahnya terlihat mengeras.


“ siapa yang membuat point kontrak ini? Tidak mungkin om Henri... apa kau sudah menanyakan pada om Henri? “ tanya Azkar sambil membaca beberapa berkas kontrak yang lain.


“ ini jawaban om Henri “ ucap Fajrin sambil memperdengarkan pesan suara dari Henri.


Tanpa pikir panjang Azkar segera menghubungi komandan satpam untuk menahan sekretaris Henri. Disaat Azkar sibuk memahami setiap point kontrak kerjasama itu, Yuni datang dengan nafas memburu.


“ maaf pak.... saya tidak mengetuk pintu..... ini berkas yang bapak minta..... “ ucap Yuni sambil mengatur nafas yang memburu karena berlari dari meja kerjanya hingga ruang kerja Azkar menggunakan tangga darurat karena informasi yang penting dan lift masih terlalu lama di lantai bawah.


Fajrin membaca berkas itu dan terlihat sangat geram, Azkar merebut berkas yang Fajrin baca dan seketika terlihat wajah Azkar memerah menahan amarah.


“ sialan..... berani-beraninya dia melakukan ini.... apa tidak jera dengan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya. “ ucap Azkar dengan geram.


Melihat Azkar yang terlihat sangat marah, membuat Fajrin pelan-pelan melangkah mundur mendekati pintu begitu juga dengan Yuni.


“ kamu jangan keluar.... kamu harus membantuku menyelesaikan ini.... kalau tidak aku tidak akan membantumu mengurus perizinan masuk barang pelangkahmu “ ancaman Azkar membuat Fajrin melangkah ke depan mendekati Azkar.


Tapi Yuni sudah berhasil keluar dari ruang kerja Azkar.


“ adik yang pintar..... “ ucap Azkar sambil menepuk bahu kiri Fajrin.


“ duh..... auranya sama seperti pertama kali aku menemukan retakan itu “ gumam Fajrin dalam hati.


Pada akhirnya Fajrin dan Roby seharian di ruang kerja Azkar bahkan Fajrin mengirim pesan singkat pada Divya bahwa dirinya berada di ruang kerja Azkar. Benar saja 30 menit sebelum adzan Dhuhur Divya sudah mengetuk pintu ruang kerja Azkar.


“ Assalamu'allaikum “ salam Divya membuyarkan aura tegang pada ketiga pria yang sibuk mencermati isi berkas kontrak itu.


“ Wa'alaikumsalam “ balas ketiga pria hampir bersamaan.


“ sibuk sekali.... apa mereka bertiga tidak merasa lapar..... ini sudah hampir Dhuhur.... “ gumam Divya sambil membuka 1 kotak makan siang.


“ bapak-bapak...... ini sudah hampir Adzan Dhuhur.... kalian tidak pada sholat..... apa kalian juga halangan sepertiku? “ ucapan Divya membuat Fajrin menegakkan tubuhnya dan melihat Azkar yang merasa tertusuk dengan ucapan Divya.


“ kalian sholat dulu.... Divya sudah bawakan makan siang.... “ ucapan Divya membuat ketiga pria tersebut hampir bersamaan berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja Azkar.


Selagi menunggu para ketiga pria kembali, Divya menyiapkan 3 kotak makan siang untuk mereka dan dirinya.


Sejak hari ini Divya bertekad akan selalu mengantarkan makan siang Fajrin dan mengingatkan waktu sholat bagi Fajrin, mengingat pekerjaan Fajrin yang semakin banyak dan tanggung jawab yang tidak kecil.


“ sepertinya aku mulai paham maksud ayang menyuruhku selalu mengantarkan makan siang...... ayang ingin aku membantunya mengingat waktu sholat..... kalau dulu ayang selalu mengingatkanku sekarang aku harus melakukan hal yang sama pada ayang...... semangat Divya “ gumam Divya dalam hati.


Tanpa Divya sadari saat dirinya terlalu fokus dengan ucapan dalam hatinya, ketiga pria memandanginya dengan heran.


“ apa Divya mulai merasa tertekan menikahi pria miskin sepertimu? “ bisik Roby pada Fajrin membuatnya mendapatkan pukulan kecil di kepalanya dari Azkar.


Roby mengusap kepalanya yang Azkar pukul sambil meringis.


“ lebih baik miskin harta dari pada miskin harga diri..... “ bisik Fajrin membuat dada Roby merasa tertusuk tiang pancang.


Suara berbisik Fajrin membuat Divya melihat kebelakang dan tersenyum.


“ aku sudah menyiapkan makan siang kalian..... ayo makan.... setelah makan kalian bisa membaca berkas-berkas kembali..... “ ucap Divya sambil memyerahkan 1 kotak makan siang pada Fajrin.


Roby mengikuti apa yang Fajrin lakukan yaitu membuka tangan kanannya dan menyodorkkan pada Divya, bukan kotak makan siang yang di terima tapi angin.


“ nasib jomblo...... “ ucap Roby membuat Azkar jengah.


Tanpa banyak kata Divya dan Fajrin juga yang lainnya segera menghabiskan makan siang mereka, para pria sangat menikmati makan siang yang Divya bawa.


“ pintar juga kamu memasak.... aku kira kamu hanya bisa menghabiskan uang membeli barang-barang tidak penting dan menghambur-hamburkannya.... “ ucapan Azkar yang terdengar seperti candaan tapi juga ejekan dan pujian, membuat Divya mencebikkan bibirnya.


“ hahahaha...... pasti semua ini tidak kamu siapkan sendiri.... tapi ada pelayan yang membantumu....... “ Divya tersenyum mendengar ucapan Azkar yang benar sekali.


“ ya sudah kalau tidak mau makan jangan di makan.... biar ayang saja yang makan..... “ ucap Divya dengan cemberut.


“ terima kasih.... sudah membawakan makan siang yang enak..... ayang suka..... siapa pun yang membuat ini selama Divya yang mengantarkan..... ayang suka “ puji Fajrin membuat Azkar dan Roby jengah.


“ ayang..... Divya jadi malu “ ucap Divya malu-malu.


“ hmmmmm.... mulai kapan kamu belajar merayu wanita..... jangan bilang sejak bertemu Zeno kamu pandai merayu “ ucap Azkar sambil meraih segelas botol air mineral.


Divya dan Fajrin seketika menunduk mendengar nama Zeno di sebut.