
Fajrin menerima berkas kontrak itu dan melihat Arbab dengan tatapan dingin, Fajrin belajar menatap dingin dari Azkar. Dua menit, lima menit, sepuluh menit, lima belas menit dan di menit ke enam belas Fajrin meletakkan berkas itu di meja.
“ I still refuse this contract (saya tetap menolak kontrak ini) ” ucap Fajrin singkat dan jelas.
“ do you understand the details of the facilities and the amount of the contract you will get (apa anda sudah memahami butir-butir fasilitas dan besaran kontrak yang akan anda dapatkan)? ” tanya Arbab yang sepertinya dapat membaca bahwa Fajrin belum membaca hal itu.
“ already....and I still refuse this contract (sudah.... dan saya tetap menolak kontrak ini) " ucap Fajrin yakin dan semakin terkesan dingin.
Arbab geram kesabarannya habis, menarik nafas panjang dan berbicara dengan suara keras serta nada tinggi.
“ how much do you want to accept this contract (berapa yang anda inginkan agar anda menerima kontrak ini)? ” ucap Arbab seketika dengan suara tinggi membuat tim jakarta juga Jatinra tersentak.
“ no matter how much you offer, I still refuse this contract (berapa pun yang anda tawarkan, saya tetap menolak kontrak ini) " ucap Fajrin dengan santai.
Fajrin paling tidak suka segala sesuatu di ukur dengan materi.
“ so far no one has refused my contract, they even gladly accepted my contract. I'm sure the salary and the facilities currently that you get are not as big as the contract I offer it (selama ini tidak ada satu orang pun yang menolak kontrak saya, mereka bahkan dengan senang hati menerima kontrak saya. Saya yakin gaji dan fasilitas yang anda dapat saat ini tidak sebesar kontrak yang saya tawarkan).” Ucap Arbab dengan sombong dan sangat percaya diri.
Seketika tim Jakarta, Jatinra juga Elena menggelengkan kepala hampir bersamaan mendengar ucapan Arbab, sementara Divya seperti tersihir tidak mendengar ucapan Arbab dan masih memusatkan perhatiannya pada Fajrin.
“ and I'm the first one who reject your contract (dan saya orang pertama yang menolak tawaran kontrak anda) " ucap Fajrin dengan santai.
Arbab semakin geram tidak terima dengan penolakan Fajrin dan membuatnya semakin emosi hingga kehilangan ide mau pun kata-kata untuk membuat Fajrin menerima kontrak ini, dengan emosi mengeluarkan sebuah buku cek dan menandatanganinya serta menyodorkan pada Fajrin.
“ fill in the value that you want it (silahkan anda isi sendiri nilai yang anda inginkan)” ucap Arbab dengan sombong.
Fajrin melihat sesaat cek kosong itu dan tersenyum tipis.
“ Is this how you honor someone who has helped your model from a client who almost destroyed your model's self-esteem? Do you know what your client has done with your model? (begini cara anda menghormati orang yang sudah menolong model anda dari seorang client yang hampir saja menghacurkan harga diri model anda? Apa anda tahu apa yang sudah client anda lakukan pada model anda ini?) ” ucap Fajrin sambil menunjuk ke arah Divya dengan tangan kirinya.
Arbab seketika terdiam karena dia tidak tahu detail kejadian yang menimpa Divya, Arbab hanya tahu bahwa Fajri menolong Divya dari orang-orang jahat. Fajrin tersenyum tipis melihat reaksi Arbab yang bingung juga tidak bisa berkata-kata.
“ I'm pretty sure you didn't find out about it and I'm pretty sure you don't know who is behind what happened to Divya (saya sangat yakin ada tidak mencari tahu hal itu dan saya yakin sekali anda tidak mengetahui siapa di balik peristiwa yang Divya alami) " ucap Fajrin dengan tegas.
Seketika Divya teringat perlakuan Rohit padanya membuatnya tertunduk malu juga takut.
Arbab terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan yang Fajrin ajukan, Fajrin menarik nafas panjang sudah tidak tahan mendengar suara Arbab.
“ please come out, I have a lot of important things to do. Jatinra, take them out (silahkan kalian keluar, banyak hal penting yang harus saya selesaikan. Jatinra, antar mereka keluar) " ucap Fajrin sambil menatap layar laptop.
Dengan sopan dan sedikit memaksa Jatinra juga Irvan meminta Arbab dan yang lain untuk segera keluar dari unit ini, saat Irvan hendak menutup pintu kembali tiba-tiba Elena menahan pintu itu dengan kaki dan tangan kanannya membuat Irvan tidak bisa menutup pintu.
“ can I and Divya stay in to talk with Mr Fajrin (bisakah saya dan Divya masuk untuk berbicara dengan pak Fajrin) " ucap Elena memohon.
“ I’m sorry I ca..... (maaf saya tidak bera.....) ” belum selesai Irvan berbicara, Fajrin dengan suara tinggi menyuruh Irvan segera menutup pintu.
“ Wait here a moment, I'll try talk to him (tunggu disini sebentar, akan aku coba berbicara dengan beliau) " ucap Irvan pelan membuat Elena menarik kaki dan tangan kanannya menjauh dari pintu.
Irvan menutup pintu dan melangkah mendekati Fajrin.
“ Sir, one of the women who are with them wants to talk to you (pak, salah satu wanita yang bersama mereka ingin berbicara dengan anda) " ucap Irvan sedikit takut bila Fajrin akan memarahinya.
Fajrin menarik nafas panjang meredakan emosinya yang hampir keluar.
“ let her in (suruh dia masuk) " ucap Fajrin yang sudah mulai reda emosinya.
“ mau apa lagi adiknya Dipta itu...... abang dan kakak sama saja, sama-sama merepotkan " gumam Fajrin dalam hati sambil menyisir kasar rambut dengan tangan kirinya.
Irvan membuka kembali pintu unit dan mempersilahkan Elena masuk, seketika wajah Elena terlihat senang dan segera menarik tangan Divya juga merebut amplop kontrak yang masih di tangan Ben.
Mendengar suara pintu di tutupi seketika Fajrin mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi ingin dia ucapkan.
“ apa yang ingin kamu katakan, kamu sama seperti Dipta sama-sama merepotkan dan menyusahkan orang lain. Tidak bisakah kalian menyelesaikan masalah kalian sendiri tanpa harus melibatkan orang lain? " ucap Fajrin dengan santai.
Karena Fajrin merasa bahwa yang akan berbicara dengannya adalah Divya.
“ ma....af, kami sudah merepotkan anda dan terima kasih sudah menolong Divya “ suara Elena terdengar bergetar sambil menggenggam erat tangan kanan Divya yang terasa dingin.
Sementara kali ini Divya tertunduk malu mendengar ucapan Fajrin yang terkesan lebih tenang tidak seperti tadi yang terkesan dingin. Fajrin berdiri dari kursi dan melangkah masuk ke dalam kamarnya membuat yang lain melihatnya dengan heran begitu juga dengan Elena. Saat Irvan hendak meminta Elena dan Divya keluar unit karena Irvan merasa Fajrin tidak ingin menemui mereka membuat Elena kecewa, tiba-tiba Fajrin keluar kamar.