My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 160 TRANSFER



Sejak pertemuan dan perkenalan keluarga besar itu, Divya dan Fajrin semakin dekat bahkan Divya mulai berani mengajak Fajrin untuk memakai pakai dengan motif yang sama dengan dirinya saat menghadiri acara-acara tertentu. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di rumah Fajrin atau di kediaman Davis saat akhir pekan, tapi karena Divya sangat ingin segera menyelesaikan pakaian untuk Nara maka akhir pekan mereka lebih sering di habiskan di rumah Fajrin. Membuat Fajrin harus menyediakan selalu makanan sehat di lemari pendinginnya, seperti hari ini.


“ Nenek..... biar Fajrin saja yang masak makan siang ini.... Nenek duduk saja disana “ ucap Fajrin sambil mengambil alih pisau yang Nenek Ina pegang.


Disaat Fajrin sedang sibuk memasak menu makan siang mereka, tiba-tiba ponselnya berdering beberapa kali membuat Divya yang sedang sibuk melipat beberapa kain menjadi ingin tahu siap yang mengirim pesan.


“ ayang.... ada pesan singkat masuk “ suara keras Divya dari ruang tengah membuat Fajrin mematikan kompor dan berjalan melangkah ke ruang tengah.


Divya yang sudah membaca satu isi pesan singkat itu hanya bisa terdiam karena Divya sendiri sedikit terkejut tapi masih bisa menguasai diri. Fajrin mengambil ponselnya dari tangan Divya dan seketika wajahnya menjadi pucat pasi, keringat dingin mengucur di pelipis dan dahinya. Fajrin terduduk di sofa karena kedua kakinya terasa lemas, tangan kanan yang masih memegang ponsel seketika jatuh lemas di sofa. Divya yang belum pernah melihat wajah pucat pasi Fajrin menjadi panik juga bingung, Divya dengan sigap menepuk-nepuk kedua pipi Fajrin untuk menyadarkannya. Tapi kedua mata Fajrin terlihat jelas pandangan kosong meskipun tepat di depannya ada wajah Divya yang panik juga bingung, Divya berusaha menyadarkan Fajrin dengan masih menepuk-nepuk kedua pipi Fajrin.


“ ayang..... ayang..... jangan begini..... ayang.... “ panggil Divya dengan panik dan suaranya yang semakin keras membuat Nenek Ina juga Liam yang mendengar segera mencari asal suara.


“ ayang..... sadar...... ayang..... jangan begini...... ayang...... Divya mohon...... ayang sadar “ panggil Divya yang semakin panik bingung dan kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Nenek Ina yang melihat wajah pucat pasi juga tatapan mata kosong Fajrin segera menyuruh Liam mengambil air mineral dan menyerahkan pada Divya, Divya berusaha keras menyadarkan Fajrin yang amat sangat terkejut tidak percaya dengan apa tertulis di pesan singkat itu. Karena Fajrin masih saja dengan pandangan kosong, air minum yang tidak bisa tertelan dan justru mengalir keluar dari sudut bibir Fajrin membuat Divya memberanikan diri dengan mencium bibir Fajrin. Divya merasa ini cara terakhir untuk menyadarkan Fajrin, dan benar saja seketika kedua mata Fajrin berkedip-kedip yang berarti Fajrin sudah sadar dari keterkejutannya dan seketika menjauhkan wajahnya dari wajah Divya.


“ Divya..... apa yang kamu lakukan “ ucap Fajrin sambil mengusap bibirnya yang basah karena air liur Divya.


“ wajah ayang pucat pasi..... pandangan mata ayang kosong..... Divya takut..... Divya berusaha membuat ayang minum tapi air minumnya justru keluar dari sudut bibir...... Divya takut..... ayang kenapa..... apa isi pesan singkat itu “ ucap Divya dengan mata berkaca-kaca.


Fajrin tertunduk menyisir kasar rambut dengan kedua tangannya, Divya masih menunggu jawaban Fajrin dengan duduk bersimpu di depan Fajrin. Pelan-pelan Fajrin meraih ponselnya dan sekali lagi membaca pesan singkat tersebut.


“ Divya.... lihat ini berapa jumlah semua angka yang tertera di sini “ ucap Fajrin dengan suara bergetar.


“ satu.... dua.... tiga... empat.... “ ucapan Divya terhenti membuat Fajrin melihat layar ponselnya.


Kedua mata Fajrin terlihat serius memperhatikan tulisan di layar ponselnya.


“ se.... te... ngah.... mil.... bukan..... tri...liun..... lebih “ ucap Fajrin terbata-bata membaca nominal nilai transfer pada rekeningnya yang selama ini tidak pernah dia lakukan penarikan sama sekali.


Rekening yang rencananya sebagian dari isinya akan dia berikan pada Nara setelah rumah lama terjual, tapi hari ini beberapa pesan singkat masuk yang menyatakan bahwa sejumlah uang dari eropa masuk ke rekeningnya. Fajrin tertekun melihat nilai tranfer yang sangat besar, kedua tangan dan kakinya dingin. Fajrin takut bila itu sebuah penipuan, Divya yang sudah terbiasa melihat nilai sebesar itu berusaha menenangkan Fajrin agar tidak terlalu panik gugup juga takut.


“ ayang..... coba besok senin ayang datang langsung ke bank dan tanyakan pada pihak bank...... ayang jangan seperti ini..... Divya takut.... Divya takut kalau ayang kenapa-kenapa" ucap Divya sambil menghapus air mata yang membuat kedua matanya berkaca-kaca.


“ tidak.... hari senin terlalu lama..... ayang telepon bang Azkar saja.... pasti bang Azkar tahu hal ini “ ucap Fajrin segera menekan nomor ponsel Azkar dan menekan tombol loudspeaker.


Setelah beberapa kali terdengar nada panggil yang membuat Fajrin gugup dan tidak tenang akhirnya suara Azkar terdengar.


“ Assalamu'allaikum, ada apa telepon “ salam Azkar membuat Fajrin semakin tidak sabar untuk segera mengatakannya.


“ kenapa rekening kamu.... di blokir? Atau apa? “ suara Azkar masih terdengar santai.


“ tadi baru saja..... ada beberapa pesan singkat kalau rekening aku yang itu mendapat tranfer dari bank di eropa...... nilainya setengah triliun lebih..... apa abang tahu tentang ini? “ tanya Fajrin dengan suara yang masih terdengar jelas sangat panik.


“ ooooo..... itu.... sudah masuk ya..... Alhamdulillah kalau sudah masuk..... kenapa memangnya.... apa kamu pikir itu penipuan? Itu hak kamu, selama ini kakek Erhan mengumpulkan di rekeningnya..... “ ucapan Azkar membuat Fajrin tertegun.


“ mak..... maksud abang apa? Aku tidak paham “ ucap Fajrin masih tidak percaya.


“ besok senin saja ke ruangan.... aku... “ belum selesai Azkar berbicara terdengar suara Helen juga Freya.


“ begini jadinya kalau sayang tidak bilang sama Fajrin... pasti dia sangat terkejut membaca pesan singkat itu “ suara Helen yang terdengar kesal membuat Fajrin semakin bingung.


“ memangnya berapa yang sudah kakek transfer? Semua? Atau sebagian? “ suara Freya semakin membuat Fajrin bingung.


“ Fajrin berapa tadi yang masuk ke rekening kamu? “ tanya Azkar membuat Fajrin kembali gugup dan bingung.


“ se...tengah triliun .... lebih.... bang “ ucap Fajrin yang masih gugup dan tidak percaya.


“ oooo.... berarti masih sebagian..... mungkin yang sebagian lagi minggu depan baru masuk “ suara Freya membuat Fajrin lemas.


“ Divya.... kalau kamu di dekat Fajrin.... siram dia pakai air dingin biar sadar “ suara tegas dan terkesan sedikit bercanda membuat Divya cemberut.


“ ayang.... jangan begini.... bang Azkar sudah bilang senin bang Azkar jelaskan semua.... “ rajuk Divya kesal karena Fajrin masih saja tidak percaya dengan isi pesan singkat itu.


“ Fajrin.... senin pagi ke ruangan Azkar..... om akan jelaskan semua..... “ suara Selo membuat Fajrin sedikit tenang.


“ terima kasih om, Assalamu'allaikum “ salam Fajrin dan mematikan panggilan setelah mendengar salam dari ujung panggilan.


Fajrin masih tertegun tidak percaya dengan apa yang dia dapat, Fajrin memikirkan kenapa Erhan mentransfer sebanyak itu ke rekeningnya. Divya yang merasa terabaikan dengan sikap Fajrin yang masih diam memikirkan alasan dibalik Erhan melakukan itu semua.


“ ayang.... kalau ayang diam seperti ini.... Divya cium lagi “ ancam Divya membuat Fajrin sadar dari lamunannya.


Fajrin melihat wajah Divya yang cemberut dari sisi samping kanan dan tersenyum gemas.


“ jangan lakukan lagi.... nanti saja kalau sudah halal.. “ suara pelan dan lembut Fajrin membuat Divya tersenyum kembali.