My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 76 KENCAN (1)



Setelah Divya berganti pakaian yang lebih santai dan sepatu tanpa hak, Jatinra mengajak mereka ke mobil yang sudah menunggu di depan lobi Aerocity Center karena mereka akan menuju Benteng Merah. Jatinra, Fajrin, Divya dan Gultom berada di dalam satu mobil karena mobil yang mereka bawa kali ini adalah mobil double kabin 4WD dan Jatinra tidak bisa mengemudikan mobil tersebut maka mereka memakai seorang supir. Sementara Irvan, Andra, Cahyo dan Muslim berada di mobil yang kedua sedangkan Ryan memilih satu mobil dengan Liam.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh delapan menit dari Aerocity Center, sampailah mereka di area parkir Benteng Merah. mereka turun dari mobil dan berkumpul di depan gerbang Delhi karena Liam serta Ryan masih mencari area parkir yang kosong. Divya yang sudah tidak mengenakan sarung tangan membuat Fajrin sedikit bingung bagaimana menggandeng tangan Divya, akhirnya dengan sedikit ragu-ragu menggenggam pergelangan tangan kanan Divya.


“ maaf “ ucap Fajrin saat hendak memegang pergelangan tangan Divya yang tertutup blouse lengan panjang.


Saat tangan kiri Fajrin menggenggam pergelangan tangan kanan Divya, Divya merasakan suatu hal yang aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dengan hati berbunga-bunga Divya mengikuti langkah kaki Fajrin masuk ke area benteng merah melalui Gerbang Delhi.


Benteng merah merupakan salah satu bangunan bersejarah Warisan Dunia yang mewakili puncak kreativitas Mughal, Benteng ini memadukan arsitektur istana Islam dengan tradisi lokal. Perpaduan antara arsitektur Persia, Timurid, dan Hindu menjadi inspirasi bagi bangunan dan taman selanjutnya di seluruh India.


Karena latar belakang keahlian Fajrin, Irvan dan Gulton adalah teknik arsitektur maka mereka sangat menikmati melihat-lihat arsitektur benteng merah ini, sedangkan Jatinra dan yang lain meskipun latar belakang keahlian mereka adalah teknik sipil tapi mereka juga tidak kalah antusiasnya menikmati arsitektur benteng ini. Sedangkan Divya yang tidak mengerti apa yang Fajrin bicarakan dengan yang lain hanya bisa mengulas senyum bahagia karena hari ini seharian menghabiskan waktu dengan Fajrin meskipun tidak berdua saja tapi sudah cukup membuat Divya senang.


Benteng Merah memiliki luas seratus tiga koma enam hektar yang dikelilingi oleh tembok pertahanan sepanjang dua koma empat puluh satu kilometer dan diselingi oleh menara juga bastion yang tingginya bervariasi dari delapan belas meter di sisi sungai Yamuna hingga tiga puluh tiga meter di sisi kota. Benteng ini berbentuk segi delapan, dengan sisi utara selatan lebih panjang dari sisi timur barat. Marmer, dekorasi bunga dan kubah ganda benteng menjadi contoh arsitektur Mughal di kemudian hari.


“ capek? “ tanya Fajrin saat mereka berhenti di area Diwan-i-khas.


“ sedikit “ jawab Divya dengan tertunduk karena tidak menyangka bahwa dia akan berjalan cukup jauh.


“ kita duduk di sana saja sambil menunggu yang lainnya “ ajak Fajrin sambil menunjuk ke arah pelataran Masjid marmer putih atau Masjid Moti.


Fajrin berjalan pelan menyesuaikan langkah kaki Divya karena sepertinya telapak kaki Divya sudah cukup lelah berjalan dari gerbang Delhi hingga Diwan-i-khan. Fajrin meminta Divya untuk duduk dan meluruskan kedua kakinya, menyerahkan sebotol air mineral untuk Divya minum. Divya memijat betis kanannya pelan membuat Fajrin merasa kasihan.


“ sini.... kakak yang pijat “ ucap Fajrin sambil mengenakan sarung tangan yang sudah dia siapkan di dalam tas kecil yang dia bawa bila sewaktu-waktu membutuhkannya.


Dengan malu-malu Divya melurukan kaki kanannya tepat di depan Fajrin, saat Fajrin fokus memijat kedua betis Divya dari arah bangunan Khas Mahal yang tepat di samping Diwan-i-khan beberapa pasang mata memperhatikan Fajrin dan Divya.


“ let's give time for Mr. Fajrin alone with Divya (kita beri waktu untuk pak Fajrin berduaan dengan Divya) “ ucap Gultom pada yang lain.


“ yes, give them half an hour (iya, beri mereka waktu setengah jam) “ ucap Ryan yang sudah mengambil beberapa foto bangunan Khas Mahal.


“ I hope that slowly Mr. Fajrin's heart opens to accept Divya (semoga saja pelan-pelan hati pak Fajrin terbuka menerima Divya) “ ucap Andra mendapatkan anggukan dari yang lain.


Tanpa terasa sudah setengah jam lebih Fajrin juga Divya beristirahat di pelataran masjid marmer putih.


“ kemana mereka? Apa mereka sengaja meninggalkan aku dengan Divya? Mulai berani jahil.... “ gumam Fajrin dalam hati sambil masih memijat kedua betis Divya dan melihat ke arah Diwan-i-khan mencari sosok rekan-rekannya.


Divya yang gembira di perlakukan seperti ini semakin membuat hatinya berbunga-bunga karena baru kali ini ada sosok pria yang memperlakukan dirinya dengan lembut dan sangat menghargainya. Divya memandangi Fajrin penuh dengan rasa kagum hingga membuatnya berhalusinasi membayangkan sikap dan perilaku Fajrin bila dirinya sudah halal bagi Fajrin. Saat mereka berdua sibuk dengan pemikiran masing-masing Liam datang menghampiri mereka membuat Fajrin tersadar dari lamunannya.


“ Liam.... are you alone? Where are the others (Liam.... kamu sendiri? Dimana yang lain?) “ tanya Fajrin heran dan sudah menghentikan pijatan tangannya di betis Divya.


Divya memasang wajah tidak suka menatap Liam.


“ they've been there a long time ago.... they've been there for about half an hour (mereka ada disana sudah dari tadi.... kurang lebih sudah setengah jam mereka disana) “ ucap Liam sambil menunjukan ke arah bangunan Khas Mahal.


Fajrin melihat ke arah yang Liam tunjuk, Fajrin segera berdiri dan melihat rekan-rekannya berjalan cepat mendekati pelataran masjid marmer putih. Mereka mendekati Fajrin dengan menahan senyum kuatir bila Fajrin akan memarahi mereka.


“ thank you for giving me a chance (terima kasih kalian sudah memberi saya kesempatan) “ ucap Fajrin sambil membulatkan kedua matanya membuat tim jakarta merasa merinding.


“ because it's late, we should go back to the hotel (karena sudah sore, sebaiknya kita kembali ke hotel saja). “ ucap Fajri sambil melihat warna langit.


“ Yes, that's right, let's just go back... and tomorrow we'll go for a walk again (iya benar, kita kembali saja... dan besok kita jalan-jalan lagi) “ ucap Ryan dengan semangat.


Akhirnya mereka keluar benteng merah melalui gerbang Lahore, meskipun masih banyak tempat di dalam Benteng Merah yang belum mereka lihat.


Karena Fajrin harus mengantar Divya kembali ke Apartemen jadi Fajrin dan Jatinra memutuskan untuk naik ke mobil yang Liam bawa dan tentunya Jatinra duduk di samping Liam.