My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 92 MELARIKAN DIRI (1)



Meski pun Divya sudah berbicara banyak hal dengan Ningsih, bukan berarti Divya bisa dengan ihklas menerima perlakuan Davis pada dirinya di masa lalu. Divya masih tetap bertahan di kamarnya, Dipta setiap selesai kerja sebelum pulang kerumah menyempatkan untuk menemui Divya. Berbicara santai bercerita banyak hal.


“ serius Fajrin melakukan semua itu? “ tanya Dipta tidak percaya.


“ iya..... bang.... bantu Divya keluar dari sini.... Divya kangen sama kak Fajrin.... Divya mau menemui bang Azkar. “ rajuk Divya .


“ buat apa menemui bang Azkar? Mau meminta bang Azkar untuk memaksa Fajrin kembali kesini? Abang beritahu kamu satu hal..... Fajrin tidak akan kembali ke Jakarta sebelum project Jaipur selesai dan bang Azkar tidak akan bisa memenuhi permintaan kamu “ jelas Dipta membuat Divya menarik nafas panjang.


“ abang tahu tidak kapan Kak Fajrin kembali ke Jakarta? “ tanya Divya tertunduk.


“ bulan depan mungkin “ jawab Dipta singkat karena Dipta sendiri tidak yakin dengan jadwal kepulangan Fajrin.


“ kalau bulan depan baru pulang berarti hanya dua minggu kami menjalani sisa kontrak “ ucap Divya sedih.


“ kalau kamu memang benar-benar serius dengan Fajrin.... mulai dari sekarang kamu harus berubah.... kamu harus bisa menekan ego kamu dan berdamai dengan masa lalu kamu “ ucap Dipta sambil menunjukkan layar ponselnya.


Divya melihat sesaat layar ponsel tersebut dan tersenyum tipis.


“ sepertinya kak Fajrin tidak merasa sedih Divya tinggal ke Jakarta “ ucap Divya sambil melihat foto Fajrin yang serius mengetik laporan


“ kalau abang lihat..... sepertinya Fajrin hanya menganggap kamu sebagai seorang adik dan tidak lebih dari itu.... karena kamu bukan tipe Fajrin sama sekali “ Divya terkejut mendengar ucapan Dipta yang terkesan tidak mendukungnya.


“ tadi memberi saran agar Divya berubah.... sekarang kenapa ucapan abang jadi terkesan menjatuhkan mental Divya? “ ucap Divya kesal.


Dipta kembali memperlihatkan beberapa foto yang dia dapat dari Roby.


“ ini adiknya Fajrin.... abang dapat dari Roby.... mereka bersahabat dari SMA..... dan ini foto-foto adiknya Fajrin.... lihat bagaimana Fajrin bisa mendidik membimbing adiknya menjadi seperti yang sekarang..... jadi tidak salah kalau mantan Fajrin tidak jauh berbeda dengan adiknya.... sekarang kamu pikirkan..... apa kelebihan dan kesamaan kamu dengan dua orang ini? Jangan bilang kalau kalian sama-sama wanita “ ucap Dipta dan memperlihatkan sosok Nara yang berlatih memanah.


“ kalau kamu tidak percaya.... kamu bisa tanya sendiri pada ustadzah Helen istrinya bang Azkar.... mereka dulu satu kampus “ ucap Dipta dan mematikan ponselnya.


“ apa abang mau membantu Divya menemui istri bang Azkar? “ tanya Divya semangat.


“ kalau kamu mau menemui istri bang Azkar kamu harus minta izin papi dulu...... tidak mungkin kamu bisa keluar dari rumah ini tanpa izin papi “ ucap Dipta yang sudah berdiri di pintu kamar Divya.


Divya kembali kesal mendengar Dipta menyebut Davis, dan memalingkan wajahnya menatap jendela kamar memgabaikan kepergian Dipta. Divya mulai berpikir bagaiman bisa menemui Helen, bagaimana cara dia keluar dari rumah ini. Divya mencoba mengingat-ingat denah rumah ini berdasarkan ingatan masa kecilnya. Divya berjalan mondar-mandir mengelilingi ranjang mengingat-ingat denah rumah ini, sesaat kemudian divya tersenyum lebar karena mengingat sesuatu. Divya menunggu hingga malam saat pergantian pengawal.


Tepat pukul sepupu malam Divya sudah berganti pakaian dengan celana panjang hitam ketat, kaos hitam dan hoodie hitam juga sepatu boots hitam untuk memulai aksinya. Divya membuat bantal dan guling juga wigs seolah-olah menyerupai dirinya yang sedang tidur terlelap, Divya mulai membuka celah kecil di sudut ruang pakaianya yang ternyata celah itu berujung di salah satu kamar pelayan yang saat ini sudah beralih fungsi menjadi gudang. Divya membuang jauh-jauh rasa geli jijik juga takut pada binatang kecil yang menempel dan merayap di dinding-dinding lorong sempit ini.


Lorong ini hanya cukup untuk satu orang dan karena tubuh Divya yang langsing, Divya dapat dengan mudah merayap menyurusi lorong ini. Dulu Divya kecil sering bermain di lorong ini hanya demi menggoda Bi Ina yang menyuruhnya untuk belajar Sholat atau pun mengaji, tapi Bi ina paham betul dimana ujung lorong ini jadi Bi ina tinggal menyiapkan keperluan Divya dan menunggu di ujung lorong. Sebenarnya ujung lorong ini ada empat tapi Divya hanya perlu mengingat satu ujung saja untuk kabur dari rumah ini.


Sesekali Divya berpapasan dengan laba-laba, cicak, kecoa bahkan tikus dan sesekali binatang kecil itu terjatuh serta merayap di hoodie atau pun celana. Divya ingin sekali teriak tapi bila teriakannya terdengar maka selesai sudah usaha pelariannya. Sampai di ujung lorong Divya melihat penutup ventilasi udara dan mendapati empat kecoa sedang berkumpul di ujung lorong, dengan memanjangkan lengan Hoodie yang dia pakai. Meski ada rasa geli jijik juga takut, Divya berusaha mengabaikan rasa itu untuk menyingkirkan empat kecoa tersebut agar bisa membuka penutup ventilasi.


Setelah berhasil membuka penutup ventilasi Divya merangkak keluar dan mengibaskan kotoran juga binatang kecil yang menempel di hoodie juga celananya. Divya melihat sekeliling dan kembali merasa sedih mengingat bagaimana dulu dia belajar mengaji dengan Bi Ina di ruangan ini. Divya meneteskan air mata mengingat masa kecilnya. Untuk beberapa detik Divya mencoba menenangkan diri dan melihat ke luar ruangan memastikan posisi pengawal berada dimana saja. Divya melihat posisi pengawal saat ini.


“ sialan.... kenapa mereka berdiri disana.... “ gumam Divya yang melihat dua orang pengawal yang berdiri tepat di belakang pos keamanan.


Tepat di belakang pos keamanan terdapat kotak besar untuk membuang sampah, dimana memiliki dua penutup. Satu penutup di sisi dalam pagar dan satu penutup di sisi luar pagar, Divya dengan kesal melihat dua pengawal tersebut berharap kedua pengawal tersebut segera beranjak dari tempat itu. Lima menit, lima belas menit, tiga puluh menit Divya menunggu dengan di temani nyamuk juga kecoa yang lalu lalang di sampingnya. Kuatnya keinginan untuk bertemu dengan Helen membuatnya bertahan menunggu hingga kedua pengawal itu pergi.


Setelah menunggu kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya kedua pengawal itu berpindah tempat dan Divya memanfaatkan kesempatan ini untuk berjalan cepat dengan mengedap-endap di balik tananam menghindari cahaya lampu. Tepat di depan tempat pembuangan sampah, Divya membuka pelan penutup pembuangan sampah dan segera masuk ke dalam. Sekuat tenaga Divya menahan nafas dan pelan-pelan menutup kembali setelah Divya masuk ke dalam pembuangan sampah tersebut. Masih dengan hati-hati Divya membuka pelan-pelan penutup sampai di sisi luar pagar dan mengintip sedikit memastikan tidak ada penjaga di luar pagar, setelah pasti tidak ada penjaga mau pun pengawal di luar pagar Divya segera keluar dari pembuangan sampah dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Dengan sedikit berlari kecil Divya menjauh dari rumah kediaman Davis sambil membersihkan kotoran yang menempel di hoodie dan celananya. Divya sedikit mencium bau hoodie mencoba mengabaikan bau itu dan terus berlari kecil menujuk gerbang perumahan.


Divya bingung karena baru kali ini keluar kompleks perumahan dengan berjalan kaki, Divya bingung bagaimana bila petugas keamanan kompleks mencurigainya. Tapi beruntung nasib baik memihaknya, seorang penjual nasi goreng lewat di depannya. Dengan sedikit negosiasi Divya berhasil meyakinkan penjual nasi goreng itu untuk membantunya keluar dari kompleks ini dan tentunya dengan imbalan uang sejumlah yang penjual nasi goreng itu tentukan.