My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 197 ROOF TOP



Jamuan makan malam PPB group berjalan sangat meriah dan lancar tepat pukul 11 malam waktu Penang, jamuan makan malam berakhir dan rasa penat mata sudah menyelimuti kedua mata Gandhis juga Divya. Dengan perlahan Fajrin dan Gendhis membantu Henri masuk ke dalam kamar yang terlihat mulai lelah.


“ besok... kembali ke Jakarta saja.... apa kamu tidak kasihan om? Kalau perlu kamu batalkan saja pekerjaanmu itu.... “ pinta Fajrin membuat Gendhis menjadi bimbang.


“ sudahlah kamu pikirkan dulu.... kakak tidak mau kamu menyesal di belakang nanti...... jangan ikuti jejak Arum dan Bening..... kamu harus bisa membuat om senang “ ucap Fajrin sambil melangkah membuka pintu kamar.


Divya memeluk Gendhis sesaat dan melangkah keluar mengikuti langkah kaki Fajrin.


Kepala dan badan Fajrin terasa penat, sudah terbayang di depan mata banyaknya kontrak kerjasama yang akan dia pegang karena jelas-jelas tadi Henri mengatakan bahwa semua kontrak kerjasama yang semula di bawah pengawasn Henri akan beralih pada Fajrin. Divya melihat jelas kepenatan Fajrin tapi Divya juga tidak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk calon suaminya.


Menjelang Matahari terbit, seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan keras. Fajrin segera membuka pintu dan terlihat Gendhis yang sangat panik.


“ kak.... papa minta pulang sekarang. “ ucap Gendhis dengan panik.


Fajrin segera mengetuk pintu kamar Divya dan meminta Divya untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta pagi ini, dalam otak Fajrin hanya satu menghubungi salah satu generasi ke enam Rosenkrantz yang semalam di katakan oleh relasi bisnis PPB Group. mengetik pesan singkat di group generasi ke enam Rosenkrantz, berharap apa yang di katakan relasi bisnis PPB Group benar adanya.


“ semoga saja benar apa yang aku dengar semalam. “ gumam Fajrin sambil membantu Gendhis berkemas.


Selesai membantu Gendhis berkemas dan Divya juga sudah mengeluarkan kopernya serta terlihat sudah rapi dengan hijabnya, sekarang giliran Fajrin mengemasi pakaiannya. Disaat Fajrin sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper, tiba-tiba bel kamar berbunyi. Fajrin segera membuka pintu kamar dan seketika terkejut melihat Zeno berdiri tepat di depan kamarnya.


“ Zeno..... bagaimana kamu tahu ini kamar tempatku bermalam? “ tanya Fajrin sedikit ragu.


Tanpa mengatakan apa pun, Zeno menunjukkan pesan singkat yang Fajrin tulis di group generasi ke enam Rosenkrantz.


“ tunggu.... di group ini tidak ada yang bernama Zeno.... “ Zeno tersenyum mendengar keraguan Fajrin dan melangkah masuk ke dalam kamar meski pun Fajrin belum mempersilahkan masuk.


“ aku Johan.... adik kedua Fredrik “ seketika Fajrin membulatkan kedua matanya.


“ kamu perlu bantuan apa? Aku lihat kalian tidak membutuhkan penerbangan darurat ke Jakarta “ ucap Zeno sambil melihat sekitar.


“ om Henri sakit..... minta pagi ini pulang ke Jakarta “ ucap Fajrin sambil menarik koper milik Divya dan miliknya.


Divya yang sudah mengekor Fajrin membuat Zeno ikut mengekor juga di dalam kamar, Gendhis terlihat sudah berderai air mata. Karena Henri memegangi terus dadanya, Fajrin segera mendekat dan mengangkat tubuh Henri. Sedangkan Zeno menghubungi orang-orangnya untuk mempersiapkan akomodasi Fajrin dan yang lain ke Jakarta.


“ roof top “ ucapan singkat Zeno membuat Fajrin heran.


“ roof top “ ucap Zeno sekali lagi sambil menekan tombol lift.


Gendhis yang semakin berderai air mata membuat Divya berusaha keras menenangkannya, Zeno menarik nafas panjang tidak mengira bahwa gadis tomboy ini akan secengeng ini.


Sampai di roof top hotel sebuah helicopter sudah terparkir di helipad menunggu mereka, 3 orang dengan pakaian medis mengambil alih Henri dan segera membawa Henri masuk ke dalam helicopter.


“ papa “ teriak Gendhis dalam dekapan Divya.


satu helicopter pergi dan datang satu helicopter lagi, Zeno melangkah terlebih dahulu dan menarik tangan kanan Gendhis naik menuju helicopter tersebut. Begitu juga dengan Fajrin dan Divya, Fajrin berusaha menahan hijab Divya agar tidak beterbangan kesana kemari terkena angin baling-baling helicopter.


“ kamu bawa kemana om Henri? “ tanya Fajrin yang mulai kuatir juga.


“ katanya mau pulang..... ya pulanglah...... masak aku mau menculik orang sakit “ ucap Zeno asal.


Jujur Fajrin tidak tahu pola pikir Zeno, karena Zeno jarang sekali aktif di pesan group generasi ke enam Rosenkrantz.


Hanya beberapa menit mereka naik heli dan sampailah di bandara internasional Bayan Lepas, Zeno segera turun begitu juga dengan yang lain karena Zeno masih menarik tangan Gendhis dan Fajrin membantu Divya. Zeno melangkah menuju private jet miliknya, terlihat Henri yang terbaring di sebuah kabin yang khusus di desain sebagai ruang tidur. Seorang dokter dan 2 orang perawat terlihat memasang sesuatu pada tubuh Henri, saat Gendhis mencoba mendekari Henri dengan sigap Zeno menahannya.


“ mereka sedang memeriksa papamu. “ ucap Zeno membuat Gendhis masih saja menangis dan berontak ingin mendekati Henri, meski pun Zeno sekuat tenaga menahannya.


Fajrin yang membantu Divya duduk di sebuah kursi.


“ Divya duduk disini dulu ya.... ayang selesaikan Gendhis dulu “ ucap Fajrin sambil membelai kepala Divya sesaat.


“ tangismu tidak akan membuat om merasa lebih baik.... dari pada kamu menangis membuang air mata sia-sia.... lebih baik kamu duduk dan berdoa..... berdzikir untuk om..... “ ucapan Fajrin seketika membuat Gendhis berhenti menangis dan melangkah mencari tempat duduk yang dekat dengan ruang tidur.


Zeno menatap Fajrin dengan heran, hanya satu kalimat saja sudah membuat gadis tomboy yang dia tahan menjadi berhenti menangis dan menurut. Fajrin berlutut di depan Gendhis.


“ saat ini om tidak butuh air mata Gendhis.... om tidak butuh materi dari Gendhis..... om hanya butuh doa dan amal jariyah dari Gendhis..... “ ucap Fajrin sambil mengulurkan sapu tangan.


Gendhis menerima sapu tangan itu dan membersihkan air mata juga ingusnya.


“ apa kamu sudah membatalkan pekerjaanmu? “ Gendhis menganggukan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.


“ mereka minta ganti rugi 5 kali lipat..... karena Gendhis membatalkan satu hari sebelum jadwal pelatihan... “ ucap Gendhis sedih dengan suara terbata-bata.


Fajrin mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.


“ berapa yang mereka minta? “ ucap Fajrin sambil menyerahkan ponselnya yang sudah menampilkan halaman tranfer online.


Gendhis menatap Fajrin dengan tidak percaya bahwa Fajrin akan membantunya mentransfer ganti rugi yang mereka minta, Divya dan Zeno melihat interaksi mereka berdua di buat tertegun. Tertegun karena Fajrin memperlakukan Gendhis seperti adik kecilnya,


“ tulis nominal yang mereka minta “ Gendhis dengan sedikit ragu meraih ponsel Fajrin.


Dengan jari yang sedikit bergetar Gendhis mengetik nominal yang mereka minta dan menyerahkan kembali ponsel itu pada Fajrin.


“ yakin segini? “ tanya Fajrin meyakinkan Gendhis.


Gendhis menganggukan kepala, Zeno mengangguk-anggukkan kepala melihat apa yang Fajrin lakukan. Karena Zeno sudah paham siapa Fajrin sampai bisa masuk ke dalam pesan group generasi ke enam Rosenkrantz.


“ sudah kakak tranfer ini buktinya.... kakak kirim ke ponselmu.... kamu kirim ke mereka. “ ucap Fajrin menenangkan Gendhis.


Gendhis melakukan apa yang Fajrin minta dan berdiri membalikkan badan, melihat Zeno menatapnya dengan melipat kedua tangannya.