
“ jangan sampai ada yang tertinggal..... “ ucap Fajrin yang mengingatkan Divya akan barang-barang mereka.
Mereka memasukkan semua pakaian ke dalam koper karena siang ini mereka akan terbang ke Sapporo dan melanjutkan bulan madu mereka di pulau Hokkaido.
Disaat Divya sibuk memasukkan barang-barang mereka dan Fajrin berada di kamar mandi buang air besar, tiba-tiba ponsel Fajrin berdering. Divya segera meraih ponsel tersebut dan melihat nama Gendhis.
“ Assalamu'allaikum “ salam Divya
“...... “ Divya terkejut mendengar suara tangis Gendhis.
“ dhis.... tenang dulu dhis..... mbak tidak paham maksud kamu “ ucap Divya berusaha menenangkan Gendhis.
“..... “ tanpa mengetuk pintu Divya masuk ke dalam kamar mandi membuat Fajrin sedikit terkejut.
“ siapa? “ suara pelan Fajrin membuat Divya memperlihatkan layar ponsel.
Divya menekan tombol loudspeaker.
“ kak.... pulang.... papa masuk rumah sakit...... mbak Ayu.... mba Bening susah sekali Gendhis telpon..... “ suara Gendhis yang lebih sering terdengar menangis membuat Fajrin segera mengakhiri buang air besarnya.
“ kamu tenang dulu..... kakak coba hubungi bang Azkar “ ucap Fajrin menenangkan Gendhis.
“ jangan om Azkar...... “ tiba-tiba sambungan terputus.
Fajrin dan Divya saling melihat satu sama lain seperti berbicara dengan mata mereka.
“ kita kembali ke Jakarta “ ucap Fajrin dan Divya hampir bersamaan.
Dengan sigap Fajrin menghubungi orang kepercayaan Azkar dan merubah rencana penerbangan Sundth air, Divya memasukan semua pakaiannya juga pakaian Fajrin dengan asal. Karena bandara Miyako bukan bandara international dengan jadwal penerbangan yang padat, orang kepercayaan Azkar dapat mudah melakukan negosiasi dengan pihak Airnav untuk melakukan perubahan jadwal juga perubahan rute penerbangan Sundth Air. Tidak butuh waktu lama bagi Sundth Air untuk merubah jadwal juga rute penerbangan, sepanjang penerbangan Fajrin merasa tidak tenang begitu juga dengan Divya.
Satu hal yang menjadi beban pikirkan Fajrin saat ini adalah bagaimana menjalankan amanah Henri, sedangkan dia sendiri belum mengenal satu pria pun yang dekat dengan Gendhis.
“ sayang.... apa Gendhis pernah cerita kalau dia dekat sama seseorang? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya bingung juga terlihat berpikir keras.
Kembali mereka terdiam sibuk dengan pemikiran masing-masing, Divya mengeluarkan ponselnya dan membaca-baca kembali beberapa pesan dari Gendhis yang pernah dia terima.
“ sekali Gendhis cerita ini.... tapi Gendhis juga tidak menyebutkan siapa orang yang dia maksud. “ ucap Divya sambil memperlihatkan isi pesan singkat Gendhis pada Fajrin.
Fajrin mengerutkan kulit di antara kedua alisnya, Divya menatap wajah Fajrin dengan tatapan penuh tanya apa yang di pikirkan oleh Fajrin.
“ apa mungkin yang Gendhis maksud itu sama yang Om Henri katakan tempo hari waktu kita di Penang..... “ ucap Fajrin sedikit ragu.
“ maksud ayang...... “ tanya Divya heran dan masih belum bisa menebak jalan pikiran Fajrin.
Sampai di bandara international Soekarno Hatta, sebuah mobil sudah menunggu di depan hanggar. Fajrin dan Divya segera turun dari Sundth air dan berjalan cepat menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
“ bagaimana belah duriannya? “ suara yang sangat Fajrin juga Divya kenal.
“ kamu yang jemput..... supir bang Azkar kemana? “ Roby jengah karena pertanyaan di jawab pertanyaan oleh Fajrin.
“ siaga di rumah sakit “ ucap Roby sambil melajukan mobil.
“ bagaimana keadaan om Henri? “ Roby menarik nafas panjang menguatkan diri mencoba menceritakan keadaan Henri.
“ big bos sudah tahu keinginan terakhir pak Henri.... sudah dua hari ini big bos sama Helen menginterogasi Gendhis.... tapi jawaban Gendhis selalu sama.... tidak punya “ ucapan Roby semakin membuat kepala Fajrin pening.
Sampai di rumah sakit Fajrin menggenggam tangan kanan Divya dan berjalan cepat mengikuti langkah kaki Roby menuju ruang rawat inap Henri. Terlihat monitor detak jantung juga nadi masih bergerak naik turun, juga selang kecil berada di kedua lubang hidung Henri. Gendhis menggenggam erat tangan kanan Henri yang sesekali menghapus kedua air matanya.
“ dhis.... “ panggil Divya membuat Gendhis mencari asal suara.
Gendhis berdiri dan memeluk Divya erat, tenggorokan dan kedua mata Divya terasa panas karena Gendhis memeluknya erat dan tangisnya semakin pecah. Divya menguatkan diri untuk tidak meneteskan air mata, Azkar dan Helen yang menemani Gendhis memberi isyarat mata pada Fajrin untuk keluar ruang rawat inap.
“ ada apa bang? “ tanya Fajrin heran.
“ Sebelum Om Henri masuk rumah sakit, beliau bilang masih punya satu keinginan..... beliau ingin melihat Gendhis menikah..... apa kamu tahu pacar Gendhis atau mungkin pria yang suka sama Gendhis? “ mendengar pertanyaan Azkar membuat kepala Fajrin semakin pening.
“ jujur... kalau masalah ini dari sejak keluar cottage aku sama Divya berpikir keras siapa pria yang dekat dengan Gendhis dan kami hanya menemukan satu petunjuk.... beberapa hari Gendhis pernah menerima bingkisan dari sesesorang tapi Gendhis tidak mengatakan siapa pria itu. “ ucapan Fajrin membuat Helen juga Azkar berpikir keras.
Disaat semua terdiam memikirkan pria yang sudah mengirimkan beberapa bingkisan pada Gendhis.
“ Mungkin aku tahu yang melakukan itu pada Gendhis..... sayang kamu ingat waktu pesta dia.... siapa yang membuat Gendhis tidak nyaman? “ Azkar mengerutkan kulit di antara kedua alisnya mendengar ucapan Helen.
“ Tidak mungkin..... “ ucap Azkar menyangkal tebakkannya sendiri
Helen menganggukan kepala meyakinkan apa yang ada di dalam otak Azkar.
“ Siapa? “ tanya Fajrin heran.
“ Fajrin.... kamu tenangkan dan yakinkan Gendhis.... sayang kamu hubungi dia..... aku hubungi Amma.... dan kamu.... hubungi pengacara keluarga “ ucapan tegas Helen membuat ketiga pria menganggukan kepala hampir bersamaan.
Mereka bergerak cepat melakukan apa yang Helen rencanakan.
“ Dhis..... kamu punya pacar? “ dengan kedua mata yang sembab dan basah Gendhis menatap Fajrin heran.
“ kenapa? Apa kakak juga akan menyuruhku menikah seperti om Azkar....? Gendhis tidak punya pacar dan Gendhis tidak mau menikah..... masih banyak hal yang ingin Gendhis lakukan sendiri “ ucap Gendhis terbata-bata.
Fajrin menarik nafas panjang.
“ kamu tahu apa kewajiban om Henri yang belum terlaksana sampai detik ini? “ Gendhis tertunduk lesu mendengar pertanyaan Fajrin.
“ dhis.... jawab kakak.... “ Dengan sedikit ragu Gendhis menganggukan kepala.
“ menikahkan anak perempuannya “ jawab Gendhis pelan.
“ siapa anak Om yang belum menikah? “ tanya Fajrin membuat Gendhis menunjuk dirinya sendiri.
“ Saat ini Om dalam kondisi tidak sadar tapi kakak yakin... Om mendengar semua pembicaraan kita..... hari ini kakak akan menikahkan kamu dengan orang yang sudah memberimu beberapa bingkisan..... bang Azkar sedang mencari tahu keberadaa orang itu “ ucapan tegas Fajrin membuat Gendhis kembali meneteskan air mata.
Dengan keras Gendhis menolak perintah Fajrin, Gendhis mengatakan semua pemikirannya tentang orang yang mengiriminya bingkisan hingga tanpa sadar Gendhis menyebut nama orang tersebut. Seketika Gendhis terdiam, kakinya terasa lemas membuatnya luruh duduk di lantai. Divya memeluk menenangkan Gendhis, Fajrin menghubungi Azkar mengatakan siapa pria yang Gendhis maksud.
Tidak butuh waktu lama bagi Azkar untuk membawa pria itu ke hadapan Gendhis juga Henri, dua orang pengacara keluarga besar Azkar sudah siap dengan berkas-berkas pernikahan Gendhis, Helen bahkan sudah menyiapkan pakai bersih untuk Gendhis pakai. Selo, Freya dan beberapa paramedis menjadi saksi pernikahan Gendhis.
Karena Henri dalam keadaan tidak sadar maka Fajrin yang menikahkan Gendhis sesuai amanah Henri, dengan berlinang mata Gendhis pasrah menerima pernikahannya ini.