
KEDIAMAN KELUARGA ROBY
Dari sejak semalam Rendra dan Maya berdebat tentang keputusan Rendra terkait perjodohan Delilah.
“ kenapa harus anak itu?... apa papa tidak mempunyai calon yang lain? “ ucap Maya kesal.
“ kriteria apa lagi yang mama cari untuk calon suami Delilah? Agama?.... dia bahkan sudah pernah berhaji sudah terbukti mampu menjadi imam mampu mendidik adiknya dengan baik. Pendidikan?.... mereka sama-sama strata satu. Pekerjaan?.... posisinya sekarang sudah manager area dan tentunya penghasilannya jauh lebih banyak dari saat dia melunasi hutangnya. Dia juga pekerja keras “ ucap Rendra lebih tegas membuat Maya tidak bisa berkata-kata lagi.
“ terserah papa kalau begitu.... papa yang atur saja perjodohan ini.... mama tidak mau sampai anak kita menyesal nantinya “ ucap Maya dan melangkah ke dapur.
Perdebatan mereka ini sempat terdengar oleh Roby dan cukup membuat Roby untuk segera berangkat kerja. Setelah kepergian Roby, Rendra berusaha menghubungi Fajrin. Tapi beberapa kali panggilan tidak terjawab.
“ mungkin masih dalam perjalanan ke kantor “ ucap Maya sedikit ketus.
“ mungkin juga... kalau begitu jam 9 saja, papa telpon Fajrin “ ucap Rendra yang sudah melangkah keluar rumah di ikuti oleh Maya.
RUMAH SAKIT
Sampai di sebuah rumah sakit tempatnya bekerja, Rendra terlihat santai membaca status para pasien yang harus dia kunjungi pagi ini. Saat selesai melakukan kunjungan ke 2 pasien yang berada di ruang VVIP, Maya terlihat dari jauh mendekatinya.
“ Assalamu'allaikum, papa sudah telepon dia? Tadi barusan mama bertemu Delilah di IRD dan menyampaikan rencana papa.... tapi Delilah malah pergi meninggalkan mama.... Delilah bilang ada pergantian shift dengan rekannya “ ucap Maya sambil menggandeng tangan Rendra.
Mereka melangkah masuk ke ruang dokter dan duduk di sofa.
“ papa telepon Fajrin sekarang saja “ ucap Maya sambil meraba-raba saku jas dokter Rendra mencari ponselnya.
Rendra menarik nafas panjang melihat tingkah istrinya.
“ tadi pagi menolak rencana papa sekarang menjadi antusias “ ucap Rendra pelan dan membuat Maya melebarkan kedua matanya.
Rendra menekan nama Fajrin dan menekan tombol loudspeaker agar Maya dapat mendengar juga jawaban Fajrin, tapi Rendra juga meminta Maya agar jangan bersuara.
“ ...... “ mendengar salam Fajrin membuat Maya tidak sabar untuk segera mengatakan rencana Rendra.
Rendra dengan isyarat tangan meminta Maya agar tidak bersuara.
“ Wa'alaikumsalam, bagaimana kabarmu.... sehat? Sudah lama om tidak mendengar suaramu “ Maya berbisik agar Rendra jangan terlalu lama berbasa-basi.
“ ..... “ ucapan Fajrin membuat Rendra sedikit lega karena Fajrin tidak menolak permintaannya.
“ posisi kerja kamu sudah semakin bagus.... tentu tanggung jawab kamu semakin banyak dan berat, tapi semua itu kalau kamu kerjakan dengan ihklas amanah dan juga karena ALLAH..... Insya ALLAH apa yang kamu dapat akan menjadi berkah bagi dirimu dan orang-orang di sekitar kamu “ nasehat Rendra membuat Maya semakin tidak sabar dan bergumam sendiri.
“ .... “ Rendra menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“ .... “ Rendra semakin lega mendengar jawaban Fajrin.
“ Alhamdulillah kalau begitu.... kami akan memesan tempat di restauran.... nanti om akan kirim pesan singkat dimana kita makan siang. “ ucap Rendra di sambut senyum bahagia Maya.
Rendra membalas salam Fajrin dan segera memutuskan panggilan, memandang Maya dengan heran.
“ kita bicarakan rencana kita saat makan siang saja, biar lebih jelas kalau lewat telepon nanti bisa timbul hal-hal yang di luar perkiraan kita “ ucap Rendra yang sudah berdiri dari sofa dan menerima status pasien rawat inap yang arus dia kunjungi.
“ kalau begitu, mama akan memesan tempat untuk makan siang kita... papa harus pastikan Delilah ikut “ ucap Maya yang sudah mengeluarkan ponselnya.
Sementara Delilah yang berada di ruang ganti para dokter intership menjadi bingung dan ragu, akhirnya Delilah memutuskan untuk mengirim pesan pada Fajrin dan membersihkan diri karena sudah harus berganti shift dengan rekan kerjanya. Tugas malam yang sangat melelahkan bagi dokter internship, tapi Delilah sangat menikmati itu semua.
GEDUNG SURENDRA
Fajrin yang sedang mengantri masuk lift karena sedari tadi lift penuh terus.
“ lewat tangga saja, pasti sudah banyak yang menunggu “ gumam Fajrin dan melangkah menuju pintu darurat untuk segera turun ke Masjid menggunakan tangga darurat.
Benar perkiraan Fajrin, sudah 2 syaf jamaah laki-laki yang menunggunya sebagai imam Sholat. Fajrin segera wudhu dan berdiri menjadi imam bagi mereka. Selepas sholat seperti biasa, Fajrin berdzikir dan berdoa memohon ampunan dan meminta sesuatu. Saat hendak memakai sepatu, tiba-tiba ponselnya bergetar. Fajrin segera mengeluarkan ponselnya dan mencari notifikasi yang membuat ponselnya bergetar. Menekan notifikasi tersebut dan membaca sebuah pesan singkat dari Delilah, Fajrin menarik nafas panjang saat selesai membaca pesan singkat tersebut.
“ ya ALLAH..... ujian apa lagi yang engkau berikan padaku..... satu masalah belum mampu aku selesaikan.... sekarang muncul masalah baru lagi..... apa ini ujian untuk menaikkan derajatku.... “ gumam Fajrin dalam hati dan menarik nafas panjang.
Dengan langkah lebar berusaha tenang Fajrin melangkah menuju area parkir motor untuk menuju ke sebuah restauran tempat makan siang dengan Rendra. Hanya butuh 15 menit dengan motor, Fajrin sudah berada di area parkir motor sebuah hotel bintang 5 di daerah Mega Kuningan Jakarta Selatan. Melangkah menuju Restuaran Sailendra mencari keberadaan Rendra, dengan sedikit bantuan dari seorang pramusaji akhirnya Fajrin bisa menemukan meja yang sudah di pesan oleh Rendra dan Maya.
RESTAURAN SAILENDRA JW MARRIOTT
“Assalamu'allaikum “ salam Fajrin dan menjabat tangan Rendra juga Maya bergantian.
Delilah yang duduk di sebelah Maya, memberikan senyum manis pada Fajrin tapi tatapan matanya penuh harap agar Fajrin menyetujui permintaannya.
Fajrin duduk di sebelah Rendra dan tertunduk lesu sesaat setelah melihat tatapan mata Delilah, selain itu Fajrin juga paham betul berapa harga makanan disini untuk 1 orang.
“ pilih saja makanan yang kamu mau.... jangan malu-malu.... kita sudah seperti keluarga “ ucap Rendra sambil menepuk punggung Fajrin
Akhirnya Fajrin memutuskan untuk mengambil segelas minuman dingin di buffet dan membawanya kembali ke meja tempat dia duduk bersama keluarga Rendra.
“ hanya minum saja? apa kamu tidak bisa makan makanan mahal. “ ucap Maya membuat Rendra membulatkan kedua matanya.
“ jujur saya bingung mau mengambil makanan apa, ini terlalu banyak pilihan buat saya. Jadi saya memilih mengambil minum saja “ ucap Fajrin dengan jujur.
Tanpa Fajrin sadari ada 2 pasang mata memperhatikan dirinya dari kejauhan sejak pertama kali Fajrin melangkahkan kakinya masuk ke restauran. 2 pasang mata yang menatapnya penuh dengan tanda tanya dan sejuta pertanyaan di otak mereka tentang apa yang Fajrin lakukan dan siapa yang Fajrin temui.