
“ apakah kamu mengenal Fajrin lebih lama dari Azkar? “ pertanyaan Davis membuat Roby menghentikan langkahnya.
“ kami dulu sekolah di SMA yang sama “ jawab Roby singkat dan jelas.
“ kalian satu sekolah tapi bukan berarti kamu sangat mengenal Fajrin? Bisa jadi kamu hanya temannya saja... “ Davis mencoba memancing Roby untuk menggali lebih dalam tentang sosok Fajrin.
“ apa yang ingin tuan Davis ketahui tentang Fajrin? “ ucap Roby sedikit menantang.
“ kehidupan pribadinya. “ ucapan Davis seperti sebuah tamparan keras di wajah Roby.
“ untuk kehidupan pribadinya.... saya akan katakan banyak wanita yang menyukainya tapi hanya 2 wanita yang sangat berkesan di hidupnya “ ucapan Roby berhenti karena pintu lift terbuka tepat di lantai dimana ruang kerja Fajrin berada.
Dengan isyarat tangan Roby mempersilahkan Davis untuk keluar terlebih dahulu. Roby mengajak Davis masuk ke ruang kerja tim Fajrin, Davis tercengang melihat kesibukan di ruangan kerja tim Fajrin. Fajrin sedang konsentrasi penuh pada sebuah design yang dia buat di meja gambar yang posisinya membelakangi kedatangan Roby.
“ dik.... sudah dulu ya.... kakak sibuk.... nanti kalau server kamu datang pasti rekan resepsionis akan memberitahu kakak. “ ucap Fajrin sambil membuat garis di kertas kalkir yang terbuka di atas meja gambar.
Fajrin memijat tengkuknya dengan tangan kiri.
“ iya.... kakak ingat LCD, server, firewall dan rack 6U “ ucap Fajrin sambil memijat tengkuknya sekali lagi.
Davis mengamati Fajrin dengan tertegun karena baru kali ini melihat seorang arsitek yang sedang sibuk menggambar juga sekaligus berbicara di ponsel dengan pembicaraan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaannya. Fajrin mematikan sambungan dengan menekan tombol bluetooth di earphone yang dia pakai di telinga kanannya dan kembali sibuk dengan kertas kalkir. Tim Fajrin terlihat sangat sibuk berpindah dari satu meja gambar ke meja gambar yang lain, membuka menggulung kertas kalkir dan melakukan simulasi di laptop masing-masing sesekali Fajrin terlihat mengarahkan timnya dan memberi beberapa saran saat melakukan simulasi di laptop mereka.
“ apa tuan Davis ingin mengenal Fajrin secara langsung? “ tanya Roby yang melihat Davis masih tertegun menatap apa pun yang Fajrin lakukan.
Sedangkan Fajrin sendiri merasa tidak terlalu terganggu dengan kehadiran Roby dan Davis, Fajrin merasa bahwa tidak perlu menyambut kedatangan Davis karena pekerjaannya lebih penting dari pada hanya beramah tamah dengan orang yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya.
“ kalau dia sudah tidak sesibuk ini mungkin aku ingin berbicara berdua dengannya “ ucap Davis pelan dan keluar dari ruang kerja tim Fajrin.
Roby mengikuti langkah kaki Davis yang ternyata menuju lobi.
“ sampaikan pada Azkar, mungkin dalam beberapa hari kedepan aku akan sering kemari hanya untuk melihat kesibukan Fajrin. “ ucap Davis dan segera masuk ke dalam mobil yangs udah menunggunya di lobi.
Roby segera kembali ke ruangannya dan menyampaikan apa yang Davis tanyakan padanya dan apa saja yang Davis lakukan di gedung ini juga permintaan Davis yang dalam beberapa hari kedepan akan selalu berkunjung kemari hanya untuk mengamati Fajrin.
“ biarkan om Davis melihat keseharian Fajrin, kalau perlu kamu siapkan sofa dan meja di ruang kerja Fajrin untuk om Davis. Biarkan beliau melihat sendiri siapa Fajrin yang sebenarnya. “ ucap Azkar sambil memasukkan kembali berkas tentang Fajrin.
Setiap hari Davis akan mengunjungi gedung Surendra hanya untuk melihat keseharian Fajrin seperti apa, kadang Davis datang sebelum jam kerja hingga jam istirahat siang, kadang pukul 10 hingga menjelang adzan Azhar, kadang setelah istirahat makan siang hingga menjelang jam pulang kerja dan bahkan beberapa kali Davis menjadi makmum saat Fajrin menjadi imam sholat Dhuhur atau pun Azhar. Davis hanya mengamati apa yang Fajrin lakukan setiap hari di kantor setiap kali hendak memperkenalkan diri atau ingin berbicara pada Fajrin selalu saja tidak ada kesempatan.
Entah Davis sadari atau tidak bahwa sebenarnya Fajrin sudah tahu maksud dari kedatangan Davis setiap hari ke ruang kerja timnya, karena Roby dengan sengaja meletakkan sebuah sofa dan meja kecil tepat di samping pintu masuk ruang kerja tim. Yang pada awalnya Fajrin tidak mengira bila yang akan duduk di sofa tersebut adalah Davis, tapi setelah tahu siapa yang duduk di sofa tersebut. Fajrin sudah memerintahkan admin nya untuk menyediakan sekedar minuman atau makan kecil di meja dekat sofa tersebut.
Bagi Fajrin selama Davis tidak mengganggunya bekerja maka Fajrin akan membiarkan Davis duduk di sofa tersebut. Davis sudah mengamati Fajrin dalam 2 bulan ini, terkadang terbersit dalam benak Davis merasa kasihan pada Fajrin. Setiap hari sibuk dengan design-designnya terkadang membuatnya lupa makan siang hingga timnya dengan sengaja menarik tangan Fajrin untuk melepas pensil dan penggaris gambar. Memaksa Fajrin mengikuti mereka makan siang, bahkan beberapa kali Davis ikut makan siang dimana Fajrin dan timnya makan siang. Sama seperti Divya saat pertama kali melihat tempat makan siang Fajrin, Davis tidak percaya dengan yang dia lihat. Melihat Fajrin makan siang di sebuah warung pinggir jalan bersama timnya dengan suasana panas dan pengap.
Seperti hari ini Fajrin membungkukkan 1 porsi soto betawi dan jeruk hangat, Fajrin meminta adminnya untuk menyajikan apa yang sudah dia beli bila sofa tersebut sudah di duduki Davis. Dan benar saja selepas istirahat makan siang, Davis datang dan duduk di sofa seperti biasa mengamati Fajrin.
“ silahkan tuan. “ ucap yuni sambil meletakkan semangkuk soto betawi dan segelas minuman jeruk hangat.
Davis bingung dengan apa yang Yuni sajikan.
“ apa ini? “ tanya Davis bingung.
“ pak Fajrin bilang, ini makan siang tuan... tuan pasti belum makan siang “ ucap Yuni dan kembali ke meja kerjanya.
Davis menatap Fajrin tidak percaya tapi ada keinginan untuk sekedar mencicipi soto betawi yang Fajrin beli, pelan-pelan Davis mencicipi soto betawi tersebut dan pada akhirnya satu mangku soto habis tak tersisa di tangan Davis. Fajrin melihat dari sudut mata kirinya dan tersenyum senang karena apa yang dia beli ternyata di habiskan oleh Davis.
“ begitukah? Baiklah besok pagi aku coba bicarakan sama bang Azkar bagaimana baiknya.... tapi kalau bisa kamu selesaikan saja..... aku masih berat meninggalkan adikku sendiri.... tidak mungkin aku meminta bang Azkar untuk menjaga adikku lagi “ ucapan Fajrin yang pelan tapi gerak bibirnya dapat di baca oleh Davis.
Fajrin melangkah mendekati yuni.
“ yuni, tolong kamu alokasi waktu buat aku bertemu big bos besok.... ada sedikit masalah di lombok “ ucapan Fajrin meski pun pelan tapi gerak bibirnya dapat di baca oleh Davis.
Davis dapat melihat dengan jelas bahwa Fajrin sedikit penat dan frustasi.