
Sebenarnya, Elea malas sekali harus bertemu dengan Rangga tapi apa boleh buat, bukankah pertemuan itu suatu takdir yang telah di tentukan, lagi pula Rangga maupun Elea tidak pernah berjanji untuk saling bertemu bukan?
" Aku tau semua cerita tentang mu, bahkan Clara sempat mengirim pesan kepadaku, agar aku tidak mengganggumu"
Elea duduk sambil meminum jus buah mangga, perut nya sakit karena terlalu lama berjalan.
" kenapa sih perut aku sakit banget" Elea memegangi perut sebelah kanan nya yang mencekik, ia memang tidak boleh terlalu lama berjalan. Tapi, Elea malah memaksa keadaan. Ya begitulah Elea dari dulu sangat nekat.
Karena Elea tidak sanggup untuk berjalan, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang melambaikan tangan di depan wajah nya.
" Biarkan aku membantumu, sebagai teman meski bukan kekasihmu lagi."
lambaian tangan itu persis mirip tangan Rangga.
Elea hanya terdiam, ia masih merasakan perut nya yang amat mencekam, keringat nya mulai bercucuran membasahi tubuh nya, kini wajah nya semakin memerah menahan perut yang amat sakit.
Elea meraih tangan Rangga untuk bangun dari duduknya, namun rasanya ia tidak dapat berdiri. Rangga menggandeng tubuh Elea untuk keluar dari keramaian.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Rangga menjaga Elea, menolong Elea untuk pergi dari keramaian mall serta membawa dua kantong belanjaan milik Elea, Rangga membawa Elea turun ke Parkiran mobil, kebetulan Rangga memang dari tadi mengikuti Elea setelah selesai Makan tanpa Elea ketahui. Karena Rangga begitu yakin, kalau Elea tidak baik-baik saja.
Elea masuk ke dalam mobil milik Rangga setelah sekian lama Elea tidak pernah satu mobil dengan Rangga dan sepertinya mobil ini adalah mobil baru milik Rangga, dengan warna hitam metalik, mobil merk Lamborghini ini terlihat mewah, Elea jauh lebih tenang ketika berada di dalam mobil Rangga, perut nya tidak terlalu sakit.
" Mengapa kamu selalu menenangkan di saat aku sedang kesakitan"
Elea terdiam, melihat Rangga yang nampak khawatir , Rangga memberikan satu botol air minum kepada Elea dan Elea hanya menuruti saja, Ia meneguk air minum itu, kembali lagi Rangga menatap Elea dengan tatapan penuh kekhawatiran.
" Apa kau jauh lebih baik sekarang, Elea?"
Raut wajah Rangga nampak lesu, Elea hanya mengangguk saja sambil menarik nafas.
" Mau ku antar pulang?" tawar Rangga, namun Elea tetap masih mengangguk saja.
Rangga menawarkan sapu tangan milik nya, untuk mengelap keringat di wajah Elea, mungkin dulu ia bisa saja mengelap wajah Elea tanpa meminta ijin,tapi sekarang Elea bukanlah siapa-siapa lagi, Elea bukan kekasih Rangga.
" Apa perlu aku lakukan itu?" ucap Rangga sambil memberi kain lap milik nya.
" Tidak usah, nanti pacar kamu cemburu."
celetuk Elea, sebenarnya hati nya cemburu melihat Rangga sudah mempunyai pengganti nya.
" Aku tidak memiliki kekasih, aku sedang menata diri apalagi setelah aku pergi dan menyakitimu" tutur Rangga.
" Lantas? siapa itu Clara? dia bahkan mengirimkan pesan dan memberi peringatan kepadaku,kalau aku tidak boleh mendekati mu."
Rangga terkejut, mengapa Clara bisa mengenal Elea padahal Rangga tidak menceritakan apapun kepada Clara tentang Elea.
" Kurang ajar!"
Rangga nampak marah dengan Clara, karena seminggu yang lalu Rangga memutuskan Clara, hubungan yang di jalin selama enam bulan belakangan itu membuat Rangga tertekan dan tidak nyaman, bahkan Rangga di paksa untuk mencintai Clara sedangkan hati nya bukan untuk Clara.
Karena rasa tidak enak hati, tapi Clara malah sesuka hati menjadikan Rangga seperti boneka mainan nya.
" Hai, orang yang gagal move on! berhentilah menangisi Rangga, berhentilah berharap kepada Rangga karena Rangga seutuhnya adalah milik ku, bukan lagi milik mu. Demi apapun Rangga sudah menjadi kekasih ku, dan Kamu tidak berhak untuk memiliki Rangga, setan! kalau kamu masih mengharapkan Rangga, aku pastikan hidup kamu tidak akan tenang."
Begitulah isi ancaman dari Clara, bahkan Alvin sampai marah besar kepada Rangga.
" Sebenarnya aku ingin menceritakan semua tentang Clara kepada kamu, tapi apa kamu ada waktu untuk aku menceritakan semua nya?" Tanya Rangga, ia ingin sekali menceritakan semua beban yang ada pada dirinya, termasuk tentang Clara, Elea hanya terdiam.
" Sebenarnya tidak ada yang perlu kamu ceritakan, karena cerita kita telah usai Rangga."
" Agar kesalahpahaman itu tidak berlarut Elea, ijinkan aku menceritakan semuanya, dan setelah itu kau bisa membenciku. "
Elea hanya terdiam , sebenarnya Rangga memang terlihat tertekan tapi, Elea juga tidak ingin membenci Rangga selama nya walau hati Elea sudah berdamai.
Elea menghela nafas, ia tidak mungkin akan salah paham dengan Rangga, sedangkan Rangga nampak serius.
" Kali ini saja, ijinkan aku untuk menceritakan semua nya."
Rangga nampak memohon kepada Elea , untuk menceritakan semua nya.
Elea mengangguk dan menuruti keinginan Rangga, karena tidak ada lagi pendengar seperti Elea, yang bisa memberikan Rangga kenyamanan untuk bercerita, berkeluh kesah.
Rangga mengajak Elea ke Taman yang sepi pengunjung, karena ada hal yang harus Rangga ceritakan selama beberapa tahun kebelakang, ada kesalahpahaman antara Elea Rangga dan juga Alvin, apalagi tentang Clara, tentang ancaman yang diberikan Clara untuk Elea.
Dalam perjalanan tidak ada satu katapun yang terucap dari keduanya, Rangga dan Elea hanya terdiam di samping Elea baru pulih dari sakit perut yang menghantam nya. Dan Rangga tidak ingin membuat mood Elea kembali memburuk, Rangga sadar ia lelaki pengecut yang tidak bisa berpegang teguh dengan kata - kata nya.
Mobil itu berhenti di taman , taman indah itu nampak sepi dan hanya ada dua motor saja yang tengah terparkir kebetulan Rangga membutuhkan waktu hanya berdua dengan Elea, dan begitu juga dengan Elea, ia sudah lelah dengan semua nya.
" Semoga apa yang kamu ceritakan, tidak membuatku mengantuk!" Tutur Elea.
Rangga turun dari mobil, dan membukakan pintu mobil sebelah kiri, untuk Elea turun dari mobil nya.
" Masih kuat untuk jalan ?" ucap nya, Elea hanya mengangguk saja.
Rangga menuntun Elea untuk pergi dan duduk di bangku taman yang menghadap ke Danau kecil di depan nya.
Dengan suasana hijau nampak sejuk dan menenangkan, begitupun dengan kedua nya yang sudah tenang tanpa keributan.
" Setidak nya, walaupun aku bukan kekasihmu lagi, aku bisa menjadi teman untuk kamu bersandar, walau aku tahu, mungkin kamu sulit untuk menerima itu semua el, Jujur aku juga tidak bisa jauh darimu, walau mungkin kamu mengatakan aku biasa-biasa saja, aku juga merasakan sakit, aku hancur bahkan aku tertekan dengan semuanya el .."
Elea duduk sambil menatap ke arah Danau, ia mencerna semua kata-kata Rangga , sedikit menyentuh perasaannya.
Apa yang di ucapkan Rangga memang benar, mereka bukan lagi sepasang kekasih, tapi apa bisa mereka berteman sedangkan salah satu dari mereka masih menyimpan perasaan?
apa berteman itu baik bagi keduanya? Sedangkan hati berkata ingin memiliki.
apa cinta harus memiliki, mereka sudah dewasa bisa menentukan jalan masing-masing.