My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Menuju Melbourne



Reyna menyambut kepulangan Fandy dengan perut yang sudah mulai membesar, ia memang sengaja tidak tidur malah ingin menunggu Fandy pulang, ia sudah sangat merindukan Fandy, setelah Fandy meninggalkan nya selama satu bulan.


" Beruang kutub" Reyna berlari sambil memeluk Fandy, namun Fandy malah menjauh


" Eh jaga jarak!" ucap Fandy sambil tersenyum, namun Reyna malah kesal.


Reyna langsung memalingkan wajah nya, ia bergegas berjalan dengan pelan menuju kamar, namun Fandy memeluk nya dari belakang.


" Aku tau kamu merindukan aku, kelinci kecilku" ucap Fandy sambil sesekali mengelus pucuk rambut Reyna.


" Kamu sudah tahu jawaban nya" ucap nya sambil cemberut


" Haha, jangan ngambek, aku juga merindukan kamu. " ucap Fandy sambil menyentil hidung kecil Reyna.


" Bagaimana kabar calon jagoan Papa Bear" ucap Fandy sambil menunduk dan mengelus perut besar Reyna, yang kini sudah beranjak tujuh bulan.


" Papa bear jahat, ninggalin Mama " ucap Reyna yang menirukan gaya berbicara anak kecil dan menggemaskan.


" Papa bear pulang, untuk kamu jagoan ku!" ucap nya.


Reyna pun menyuruh Fandy untuk istirahat, karena ia baru saja pulang dari tugas nya. Reyna tidak ingin melihat Fandy terlalu kelelahan.


Sementara Fandy, ia nampak ragu untuk membicarakan perihal undangan beasiswa nya, padahal besok adalah hari terakhir penyerahan berkas berkas nya melalui Email, tapi Fandy nampak ragu untuk menanyakan nya kepada Reyna, mengingat Reyna kini sedang hamil besar.


Reyna pun membawa segelas teh hangat untuk Fandy, karena cuaca sangat dingin.


" Untuk mu, suami ku " ucap Reyna sambil menaruh segelas teh hangat di atas meja. lalu ia duduk di samping Fandy.


" Tumben banget sih" ucap Fandy sambil mengelus pucuk rambut Reyna


" Serba salah, Giliran diberi perhatian malah bilang seperti itu" dengus Reyna


" Jangan cemberut terus, jelek tau" ucap Fandy sambil tersenyum


" Sudah tahu jelek, kenapa mau sama aku?" cerocos Reyna


" Kalau terlanjur sayang, bagaimana?" jawab Fandy, sesekali ia meneguk teh hangat buatan Reyna.


Apa ini waktu yang tepat.


Pikiran Fandy masih tertuju dengan Beasiswa nya ke Melbourne.


" Beruang kutub, bagaimana pekerjaan kamu? " ucap Reyna namun Fandy nampak diam ia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Reyna.


" Beruang kutub!" ucap Reyna sambil berteriak di depan telinga Fandy sampai ia begitu terkejut.


" Kenapa sih? berisik banget!" ucap Fandy yang nampak terkejut


" Lagian kamu itu, mikirin apa sih" ucap Reyna yang mulai kesal.


" Ada hal penting yang ingin aku katakan kepada mu, tapi aku mohon jangan di sini " ucap Fandy


Apa yang Fandy ingin katakan, apa dia sudah tidak mencintai ku, atau dia sudah menemuka wanita lain.


pikiran Reyna kacau, ketika Fandy ingin mengajak nya membicarakan hal penting, karena Fandy tidak biasa nya seperti ini.


" Apa yang ingin kamu katakan! " jawab Reyna


" Ikut aku!" ucap Fandy yang menarik tangan Reyna menuju ruang atas, tepat nya di atas balkon kamar nya.


Menurut Adnan, tempat ternyaman untuk membicarakan hal penting bersama seorang wanita yaitu, di atas balkon .


Karena suasana yang sejuk mampu mencairkan suasana.


Fandy pun mengikuti saran dari Adnan, Fandy sudah mempersiapkan kursi untuk ia dan Reyna duduki.


" Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan" ucap Reyna nampak penasaran namun hati nya gelisah.


" Tapi kamu janji jangan pernah emosi, cukup menjadi pendengar yang baik sebelum aku selesai berbicara!" ucap Fandy


" Katakan saja, aku sudah tidak sabar. Aku harap bukan berita buruk atau kamu mencintai wanita lain" ucap Reyna dengan wajah sinis nya.


" kelinci, ini bukan soal wanita lain. Tapi tentang masa depan aku, kamu dan anak kita." ucap Fandy sambil memegang bahu Reyna.


"


Fandy berdeham, ia menghela nafas dan berusaha merangkai kata-kata yang bisa Reyna pahami.


" Jadi, aku pernah mengikuti tes jalur undangan di universitas Melbourne Australia, waktu itu, Adnan mengajak ku. Aku memang ingin sekali melanjutkan pendidikan pascasarjana, apalagi itu di bagian spesialis jantung" ucap Fandy


" Dan tadi siang, Pihak kampus dari Melbourne menghubungi ku kalau aku di terima di universitas nya, mereka dengan senang hati kalau aku ingin menerima nya. " sambung nya lagi.


Reyna nampak membulatkan kedua bola mata nya, ia bahkan melihat tekad Fandy yang begitu besar ingin melanjutkan bidang nya, dan menyusul kedua sahabat nya yang sudah mengejar program Pascasarjana nya.


" Jadi, apa kamu setuju kalau aku menerima nya?" Ucap Fandy yang meminta persetujuan kepada Reyna.


Reyna nampak terdiam, tapi ia juga tidak ingin melihat kegagalan di wajah Fandy, ia sama sekali tidak berniat untuk membuat nya bersedih apalagi, ini merupakan bagian dari pekerjaan nya.


" Kelinci, bagaimana pendapat mu?" tanya Fandy


" Kalau kamu tidak setuju, aku bisa menolak nya sekarang juga" ucap Fandy


Reyna bangun dari tempat duduk nya, ia bahkan menatap wajah Fandy. Karena di dalam bola mata tersimpan sebuah harapan yang amat besar, Reyna memang tidak bisa berada jauh dari Fandy tapi setidak nya. Ia masih bisa ikut dengan Fandy ke Australia dan menetap di sana, meski berat hati.


Karena ia akan meninggalkan kota kelahiran nya, dan meninggalkan kedua sahabat nya yang kini sedang hamil.


Keputusan terberat, namun Reyna tidak ingin bersikap egois, ini waktu nya Reyna untuk berkorban, demi masa depan Fandy.


" Beruang kutub ku, apa kamu sangat menginginkan nya?" ucap Reyna sambil menatap mata Fandy.


Namun, Fandy tidak berani menatap Reyna ia bahkan lemah kalau berhadapan dengan Reyna.


" Aku tidak ingin membebani kamu, kalau memang kamu tidak setuju, aku akan menolak nya sekarang juga" dusta Fandy


" Jawab pertanyaan aku, apa kamu serius ingin menginginkan beasiswa itu?" Ucap Reyna dengan tegas.


" Aku memang sangat menginginkan kan nya" ucap Fandy yang akhir nya jujur dengan semua perasaan nya.


" Kalau begitu, aku siap menemani kamu. Aku siap mendampingi kamu, berada di sisimu dan mendukung mu, selama itu membuatmu bahagia!" ucap Reyna sambil meneteskan air mata nya.


Fandy nampak tidak percaya dengan semua perkataan Reyna, ia bahkan tidak menyangka kalau Reyna akan menyetujui nya.


Tanpa berkata sepatah pun, Fandy langsung memeluk Reyna, ia bahkan bersyukur memiliki Reyna yang begitu pengertian akan keinginan diri nya.


" apa kamu benar-benar menyetujui?" ucap Fandy sambil memegangi pipi Reyna dengan kedua telapak tangan nya.


Reyna hanya mengangguk kan kepala nya saja, pertanda ia sudah menyetujui nya dan menerima resiko nya.


" Apa kamu siap meninggalkan kota ini, dan menetap di Australia selama 5 tahun lama nya?" ucap Fandy lagi untuk meyakinkan Reyna.


" Aku setuju, asal berdua dengan kamu " jawab Reyna yang membuat Fandy begitu bahagia.


" Terimakasih istriku, kamu memang pengertian. Aku janji setiap perjuangan ku, aku akan selalu ingat pengorbanan kamu. " ucap Fandy kembali memeluk Reyna.


" Kita sama-sama berjuang, aku yakin kamu bisa meraih semua nya. " ucap Reyna membalas pelukan Fandy.


" Jagoan Papa, Kamu penyemangat Papa. Sehat terus ya " ucap Fandy sambil mencium perut besar Reyna.


" Kalau begitu, kamu urus dulu berkas-berkas nya, sebelum semuanya berubah!" ucap Reyna.


" Siap" ucap Fandy sambil mencium pipi Reyna.


Mereka pun masuk ke dalam kamar, Fandy menyuruh Reyna untuk tidur sementara ia sendiri berkutik dengan laptop nya menyelesaikan segala berkas keperluan untuk di kirimkan ke Universitas Medical Melbourne.


Apapun yang aku lakukan, itu atas ijin dari mu kelinci ku, aku tahu bagaimana berat nya kamu meninggalkan kota ini, tapi di sisi lain kamu berani berkorban untukku, aku sangat bersyukur memiliki kamu.


kamu yang selalu aku cintai, seumur hidupku. hingga tangan tuhan memisahkan kita.


Halo, author up lagi :)


jangan lupa dukungan nya berupa Vote, Like dan Komen.


Detik-detik episode mau berakhir guys.