
Rangga memang belum terlalu hafal arah jalan pulang, tapi ia tahu betul arah jalan menuju rumah Elea, karena ia sudah terbiasa pergi ke sana untuk menemui Alvin.
Rangga memasuki pintu gerbang perumahan elit milik keluarga Elea, untung saja ia sudah mengenal bapak security yang sedang menjaga pintu gerbang depan, sehingga Security tersebut mengijinkan Rangga untuk memasuki area perumahan elit.
Sementara Elea masih tertidur, bahkan ia sudah terlelap, sudah berapa kali Rangga berusaha membangunkannya tapi Elea memang sudah nyenyak.
Rangga tersenyum menatap wajah manis Elea yang sedang terlelap dalam tidur nya.
Sambil mencari blok perumahan tempat tinggal Elea, akhirnya Rangga sudah sampai di depan pintu gerbang rumah milik Elea.
Rangga berhenti sejenak, sambil menunggu security rumah keluarga elea untuk membukakan gerbang besar yang menghalangi mobilnya untuk masuk.
" hey, cewek pecicilan! aku tau kamu terlalu nyaman ketika bersamaku, sampai terlelap seperti ini. "
Rangga menarik hidung mancung Elea, sambil tertawa.
Rangga tidak ingin melupakan momen indah seperti ini, lantas ia segera mengambil ponselnya dan menjepret wajah Elea yang sedang tertidur.
" aku belum terlalu mengerti, tentang sebuah perasaan, yang aku rasa hanyalah sebagian kebahagiaan kecil, yang terlintas begitu saja ketika aku berada di dekatmu, elea... "
Apakah Elea menyadari, akan hadirnya Rangga di sampingnya, bahkan di saat Rangga mulai menunjukkan perhatiannya dan rasa kepeduliannya kepada Elea, semua sirna begitu saja.
Elea tidak bisa melihat bentuk perhatian yang Rangga berikan, mungkin tuhan belum membuka hati nya untuk Rangga.
" Elea bangun!"
Rangga masih sibuk menggoyahkan tubuh Elea agar ia bangun dari tidurnya, akan tetapi Elea tetap saja terbuai oleh rasa kantuk yang begitu dalam.
Tak lama security di rumah Elea pun membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan mobil Rangga untuk masuk ke perkarangan besar rumah milik keluarga Elea, sebelum masuk Security yang menjaga ketat nampak curiga dengan kedatangan Rangga, bahkan ia memeriksa sampai ke dalam mobil, begitu melihat Elea
Security tersebut, memperbolehkan Rangga untuk masuk ke dalam perkarangan rumah besar ini.
" Elea, bangun atau aku akan menyeretmu masuk ke dalam rumah..... "
Rangga terus menggerutu, ia masih terus berusaha membangunkan Elea, tapi Rangga tidak sekejam itu, ia tidak akan membiarkan gadis secantik Elea di seret begitu saja.
Rangga mulai membuka sabuk pengaman yang mengikat tubuh Elea, lalu Rangga turun dari mobil dan beralih menuju pintu sebelah kiri untuk menggendong Elea masuk ke dalam rumah.
" Ternyata kamu bukan pecicilan doang, tapi berat juga.... "
Rangga menggendong tubuh Elea untuk masuk ke dalam rumah, namun kedua bola matanya nampak membulat ketika ia melihat kedua orangtuanya dan keluarga Adnan serta Alvin yang sudah berkumpul di luar, mereka menatap tajam ke arah Rangga.
Tatapan penuh dengan pertanyaan, namun Rangga berusaha tidak menghiraukan itu, ia terus menggendong tubuh Elea dan Ayah Elea selaku dokter Adnan langsung menghampiri Rangga, dan ia beralih menggendong Elea untuk masuk ke dalam rumah.
" Elea.... "
Adnan berlari ke arah Rangga, untuk mengetahui kondisi Elea
" el, kamu kenapa sayang?" ucap Aleyna begitu khawatir, bahkan Rangga merasa bingung karena di rumah ini begitu ramai,bahkan sangat tidak mungkin menangisi orang yang sedang tertidur.
" Elea tidak apa-apa Tante, Om dia cuma tertidur .. " ucap Rangga
" Mas, bawa Elea masuk!" ucap Aleyna yang menyuruh Adnan untuk mengambil Elea karena Rangga sudah begitu keberatan menggendong Elea.
" Rangga, kamu hutang penjelasan dengan saya..." ucap Adnan sambil bergegas menggendong Elea di ikuti oleh Aleyna.
Alvin nampak heran dengan sikap Rangga, bahkan ia tidak percaya kalau Elea bisa pergi bersama Rangga karena yang Alvin tahu, mereka seperti tom dan jerry yang tidak pernah akur.
" Rangga, kamu dari mana saja!" ucap Papa bear yang berdiri tegak persis di hadapan Rangga.
" Iya sayang, kamu bawa elea kemana? kamu jangan macam-macam yah, elea itu anak sahabat mama ga!" ucap Reyna yang menjewer telinga Rangga.
" Aw, sakit ma!" teriak Rangga yang berusaha menghindar dari Reyna.
" Berani nya kamu membawa anak gadis pergi tanpa ijin. Rangga, Mama nggak pernah mengajarkan kamu seperti itu. " ucap Reyna yang masih terus mendumel mengomeli Rangga.
" Ini semua hanya kesalahpahaman saja, Rangga dan Elea hanya pergi mengerjakan tugas. " ucap Rangga yang mulai mencari alasan.
" Iya kebetulan om dan tante bear, Elea sama Rangga satu kelas... " ucap Alvin yang membela Rangga.
Sama seperti yang lain, Alvin juga merasa penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Rangga dan Elea akan tetapi, Alvin akan berusaha berbicara secara baik-baik dengan Rangga.
" Anak nakal.... " ucap Reyna yang bergegas masuk ke dalam rumah.
Sementara Fandy mulai membisikan sesuatu di telinga Rangga, memang selama ini Fandy begitu dekat dengan Rangga bahkan seperti teman sebayanya saja.
" Kalau memang kamu menyukai nya, kejarlah karena cinta butuh perjuangan, tapi jangan sampai kejadian ini terulang lagi. " bisik Fandy di telinga Rangga.
" Itu semua tidak seperti apa yang Papa liat..." bisik Rangga lagi.
Sementara Rangga masih diluar, ia masih gengsi dengan perasaannya, bahkan ia tidak ingin orang lain mengetahui termasuk Papa nya sendiri, kalau memang ia menyimpan perasaan suka terhadap Elea.
Rangga duduk di teras rumah, dengan di temani Alvin, sementara bibi sudah membuatkan teh hangat untuk menghangatkan tubuh Rangga.
Alvin memang sangat mengerti bagaimana sifat Rangga sebenarnya.
" Ga, aku tahu kamu tidak akan membohongi ku, seperti apa yang kamu lakukan kepada orang tuamu tadi?" ucap Alvin sambil duduk di samping Rangga
" Apa maksud mu... " ucap Rangga seolah tidak ingin membahas kejadian tadi.
" Aku tahu, kamu tidak menyukai Elea semenjak awal bertemu, dan aku tahu kamu pernah mengatakan kalau Elea begitu berisik dan juga pecicilan, oleh karena itu kamu sangat terganggu dengan elea. Tapi, malam ini kamu tiba-tiba datang dengan membawa Elea, bahkan di luar dugaanku... "
Alvin masih terus berusaha mendesak Rangga, agar ia mau menceritakan kejadian sebenarnya.
" Vin, apa kamu bisa menerima ini semua, kalau sampai aku menjelaskan kejadian sebenarnya?" ucap Rangga seolah menantang Alvin.
Karena kalau sampai Alvin mengetahui Elea dan juno berkencan, mungkin saja Alvin akan mengamuk dan langsung menerkam Juno, karena Rangga tahu, Elea merupakan segalanya bagi Alvin.
Alvin memang baik kepada siapapun, tapi kalau sampai menyangkut Elea, ia tidak akan tinggal diam begitu saja.
" Katakan saja, jangan membuatku semakin penasaran.... " ucap Alvin yang sudah tidak sabar mendengarkan cerita dari Rangga.
" Tadi sore aku membuntuti Juno, entah ini semua kebetulan saja tapi tiba-tiba firasat buruk muncul begitu saja di dalam pikiranku."
" Maksud nya..?"
" Aku bertemu Juno dan Elea di sebuah cafe yang terletak di arah timur, mereka sedang berkencan.... "
Alvin membulatkan kedua bola matanya, ia nampak tidak percaya dengan cerita Rangga.
" Apa kau yakin?".
" Lebih parahnya lagi, Juno sengaja tidak menjemput atau mengantarkan Elea pulang, tapi ia malah sibuk dengan wanita lain!"
Alvin mulai mengepal kan kedua tangannya , Rasanya ia ingin esok cepat berlalu, Alvin tidak akan membiarkan Juno seenaknya mempermainkan hati Elea, apapun itu Alvin akan memberi Juno peringatan.
" Sialan, Aku tidak akan membiarkan lelaki itu hidup tenang, setelah ia berani menelantarkan elea!" Alvin sangat marah, bahkan tak terbendung lagi.
" Aku memang tidak menyukai elea yang begitu berisik, ataupun pecicilan tapi, asal kamu tahu vin, aku bertanggungjawab atas apa yang aku lakukan. Aku tidak akan tega melihat seorang wanita, berdiri menanti seseorang, yang bahkan orang itu tidak pernah mengharapkan kehadiran nya!" Rangga seolah membandingkan sikapnya dengan Juno yang tidak bertanggung jawab sama sekali terhadap elea.
" Terimakasih ga, kamu telah melindungi Elea, mungkin besok dan seterusnya aku akan membatasi elea agar tidak membohongiku lagi... "
Mereka pun kembali meminum teh hangat yang telah disiapkan dan memakan beberapa cemilan, sementara di dalam rumah ada pembicaraan antara dua keluarga yaitu keluarga dokter Adnan dan juga keluarga dokter fandy, beserta Rangga yang masih hutang penjelasan dengan Adnan.
Ntah, apa yang mereka bicarakan, bahkan Rangga tidak ingin mengetahui.
Kira- kira dokter Adnan sama dokter Fandy lagi ngomongin apa sih, serius banget!
Nantikan terus di cerita selanjutnya....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
GUYS, DI VOTE DONG :(
SEDIH AKU TUH :(
like dan komen juga!