My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Perpisahan



" Cerai?" gumam Aleyna yang terkejut ketika mendengar Widya sedang berbicara dengan seseorang dalam sambungan telepone, sampai sabun mandi beserta handuk yang Aleyna bawa pun ikut terjatuh, karena Aleyna begitu shock mendengar nya.


Apa aku tidak salah mendengarnya.....


" Aleyna!" ucap Widya yang ikut terkejut dan menghampiri Aleyna yang tengah berdiri di depan pintu kamar nya, Widya bahkan khawatir Aleyna mendengar semua percakapan nya dengan seorang kuasa hukum nya, segera Widya menghampiri Aleyna, ia bahkan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa dengan diri nya.


" Maaf bunda, Aleyna tidak sengaja." ucap Aleyna yang membereskan semua barang-barang yang tadi sempat terjatuh.


Widya sudah menduga kalau Aleyna pasti mendengarkan semua percakapan antara dirinya dengan kuasa hukum nya, karena Aleyna terlihat begitu gugup.


" Jawab pertanyaan bunda, apa kau mendengar semua percakapan tadi?" tanya Widya yang membuat Aleyna semakin gugup, padahal Aleyna tidak sengaja mendengar nya karena sudah berapa kali Aleyna mengetuk pintu kamar Widya, namun nampak nya Widya tidak membukakan nya, terpaksa Aleyna membuka nya sendiri karena pintu kamar Widya tidak terkunci.


" Aleyna... mmmmm..... " ucap Aleyna terbata bata karena ia tidak ingin bersikap lancang seperti ini.


" Nak, katakan saja apa kau mendengar nya?" ucap Widya sambil terus menekan Aleyna untuk jujur terhadap nya.


" Bunda, maaf Aleyna tidak sengaja mendengar nya, bahkan Aleyna tidak bermaksud bersikap lancang" ucap Aleyna sambil menundukan kepala nya, ia tidak berani menatap wajah Widya yang nampak dalam keadaan emosi.


Widya memegangi pelipis nya, ia bahkan merasa pusing, dan ia kembali duduk di kasur , dengan tangan yang masih memegangi pelipis nya yang terasa sakit, ia bahkan tidak berani untuk mengatakan kejadian sebenarnya kepada Aleyna, karena ia sendiri tidak sanggup untuk menceritakan nya.


Ketangguhan hati seorang Widya, nampak lemah ketika semua masalah menerpa, belum lagi, tapi apalah Widya, ia hanya bisa menerima takdir ini, meski sangat sulit tapi perlahan, Widya pasti bisa.


Aleyna nampak prihatin, ia masih bingung dengan semua nya, apalagi ketika melihat Widya yang nampak frustasi, Aleyna masih bertanya-tanya, dalam benak nya. Ia sebenarnya belum memahami situasi nya, Aleyna hanya mendengar segelintir kata cerai saja yang keluar dari mulut Widya.


Aleyna menghampiri Widya, ia berjongkok dan menatap wajah Widya yang nampak sendu, ntah Aleyna merasa sedih.


" Bunda, apa yang terjadi?" ucap Aleyna sambil memegang bahu Widya.


Widya tidak menjawab semua perkataan Aleyna, ia malah meneteskan air mata bahkan memeluk erat Aleyna.


" Bunda, maaf Aleyna telah lancang ." ucap Aleyna begitu terharu.


Apa sebenarnya yang terjadi dengan Bunda, mengapa ia begitu frustrasi....


" Aleyna tidak ingin memaksa bunda untuk cerita sekarang, tapi Aleyna memohon kepada Bunda, jangan pernah menyembunyikan apapun dari Aleyna.... " ucap Aleyna, lalu melepaskan pelukan nya.


Bunda Widya pun menghela nafas, ia ingin menceritakan semua nya kepada Aleyna karena, sampai kapanpun Aleyna pasti akan mengetahui nya.


" Bunda dan Ayah akan bercerai!" ucap Widya dengan lantang nya.


Aleyna membulatkan kedua bola mata nya, bahkan ia tidak salah mendengar semua pengakuan dari Widya, Aleyna nampak terkejut bahkan hati nya tersentuh ketika mendengar kata cerai yang di peruntukan kepada mertua nya, sedangkan Adnan sendiri sangat benci dengan perpisahan, bagaimana kalau Adnan mengetahui nya.


" Bunda, jangan bercanda!" ucap Aleyna seolah tidak percaya


" Bunda dan Ayah benar-benar akan berpisah dan tidak akan bisa kembali lagi " ucap Widya begitu tegas, padahal hati nya rapuh.


" Bunda, apa masalah nya? mengapa bunda dan ayah berpisah? " Tanya Aleyna merasa penasaran dengan semua nya, ia bahkan nampak tidak terima dengan semua keputusan Widya.


Widya pun menceritakan alasan mengapa ia menggugat cerai Raden.


Kala itu, terjadi perdebatan hebat antara Widya dan Raden, karena gejolak hati Widya yang begitu membara, hingga akhir nya Widya pun menyerah dan merelakan Raden hidup berdampingan dengan istri kedua nya, meski alasan Raden menikahi gadis itu karena hanya menolong nya, tapi Widya tetap saja tidak ingin melanjutkan kehidupan nya bersama Raden.


" Bunda....... " Aleyna memeluk bunda Widya dengan sangat erat, bahkan ia terharu dengan semua pengakuan Widya mengenai rumah tangga nya.


" Aku tidak tahu, hati bunda terbuat dari apa, yang pasti bunda wanita yang kuat, aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi dengan ku, mungkin aku tidak akan kuat seperti bunda...... " ucap Aleyna lagi yang kini merasa iba terhadap Widya, ia bahkan meneteskan air mata nya.


" Bunda tidak akan membiarkan itu terjadi, karena bunda yakin, Adnan tidak seperti ayah nya." ucap Widya sambil meyakinkan Aleyna.


" Bunda, apa Mas Adnan sudah mengetahui nya?" ucap Aleyna


" Satu permintaan Bunda, tolong jangan menceritakan ini semua kepada Adnan, kalau memang ada waktu yang tepat, Bunda dan Ayah akan menceritakan semuanya kepada Adnan, tolong jaga rahasia ini Nak." ucap Widya yang memohon kepada Aleyna.


" Tapi,bunda aku takut Mas Adnan akan marah dengan ku, kalau aku tidak menceritakan itu semua" ucap Aleyna merasa gelisah.


" Untuk kali ini saja" ucap Widya memohon


" Baik lah, Aleyna akan menutup semua rahasia ini." ucap Aleyna merasa tidak enak hati


Aku tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan Mas Adnan, bagaimana hancur nya dia di saat mendengar kedua orang tua nya akan berpisah, sedangkan Mas Adnan membenci perpisahan........


Aleyna pun keluar dari kamar Widya, ia kembali menuju kamar nya karena ia masih tidak percaya dengan ini semua, pikiran nya masih tertuju kepada Adnan, bagaimana Adnan akan bisa menerima ini semua.


Aleyna pun mengambil benda pipih yang ia letakkan dia atas nakas, ia mulai menekan tombol panggilan, untuk menelpon Adnan, tapi bukan untuk memberitahu semua tentang kebenaran nya, tapi sekedar memastikan keadaan Adnan, karena di saat seperti ini, pikiran nya masih terus tentang Adnan.


Sudah sekian kali Aleyna mencoba menghubungi Adnan tapi tetap saja Adnan tidak mengangkat nya, mungkin ia sedang melaksanakan tugas nya.


Aleyna kembali menaruh benda pipih tersebut di bawah bantal, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh nya, namun ia tidak tidur melainkan mencemaskan keadaan Adnan.


~


*mungkin sebuah pertemuan akan berakhir dengan perpisahan, tapi aku tidak bisa melihatmu bersedih karena perpisahan kedua orang tua mu.


Kamu selalu berusaha untuk mengalah kalau kita sedang bertengkar, karena kamu pernah mengatakan kalau kamu sendiri benci dengan perpisahan, tapi sekarang orang tua kamu lah, yang akan berpisah bagaimana dengan mu?


Aku bahkan sangat mencemas kan mu, Mas Adnan*.......


Guys baca novel terbaru aku yah


- Mi amore Meira


- Secretary Yuna.


Jangan pelit-pelit buat vote hehehe.


Keluarkan komentar kalian...