
Elea terbaring sambil mengobrol lewat Sambungan telepon dengan Saka, karena Elea begitu merindukan Saka, tidak menyangka Elea akan terbaring lemah hanya karena soto betawi, Lucu bukan? Elea dan Saka asik mengobrol sampai Elea tidak memperhatikan Rangga yang sedang menyapu di pinggir Elea, Rangga memperhatikan Elea terus menerus, Elea masih sama seperti dulu, Elea nampak bahagia menelpon seseorang, Rangga semakin penasaran siapa orang yang bisa membuat Elea bahagia kembali?
Siapa orang yang bisa membuat Elea ketawa dan terhibur selain Rangga?
Rangga sangat kesal, ingin sekali ia mendobrak pintu kamar Elea, rasa cemburu itu masih ada, tanda nya Rangga memang masih mencintai Elea.
Elea nampak tidak perduli dengan Office boy yang sedang membersihkan kamar nya, toh sudah biasa kamar nya setiap hari dibersihkan. Namun ada yang aneh dengan postur tubuh seseorang yang sedang menyapu bahkan debu nya masih berantakan.
Elea menutup telepon, karena Saka ingin melanjutkan pekerjaannya, Elea bahkan sangat rindu dengan suasana panti asuhan, sebenarnya esok ia ingin berkunjung ke panti asuhan mutiara bunda bersama Saka, namun apa daya besok Elea harus tindak operasi.
" Mas, sebenarnya bisa nyapu nggak sih? ini loh debu nya masih ada!" ucap Elea yang nampak kesal, Rangga dengan penutup wajah dan penutup kepala menghampiri arahan Elea, ia menyapu debu yang tertinggal.
" Sialan, kalau bukan demi kamu, aku tidak akan mau menyapu lantai ini!" batin Rangga, Namun ketika hendak menyapu, penutup wajah Rangga jatuh ke lantai, bahkan Elea yang sedari tadi memperhatikan nampak terkejut.
Wajah Rangga terlihat jelas, bahkan ia menatap ke arah Elea, wajah Rangga terpampang nyata, bukan lagi sebagai penyamar.
Rangga nampak terkejut, ia mencari penutup wajah nya, namun penutup wajah itu berada di tangan Elea, Rangga membelakangi Elea.
" Mas, kamu mencari ini?" ucap Elea sambil memberikan penutup wajah, namun Rangga masih membelakangi Elea, Elea sesekali memperhatikan gerak-gerik postur tubuh sang office boy, nampak nya Elea pernah melihat postur tubuh nya.
" Apa ini saatnya Elea mengetahui?" batin Rangga, bibir nya nampak kaku bahkan Rangga diam memaku, ia tidak bisa menahan untuk bersin karena alergi dengan debu.
Terpaksa Rangga membalikkan tubuhnya menghadap Elea, karena sudah terlanjur. Elea yang sedang duduk memegang masker wajah berwarna hitam, niatnya untuk memberikan masker itu kepada Sang office boy namun kedua bola mata Elea terbelakak, ia terkejut ketika mengetahui kalau office boy itu adalah, mantan pacar nya. mantan pacar yang pernah melukai hati nya begitu dalam yang telah menanam cinta lalu menghancurkannya begitu dalam, bahkan luka itu belum sepenuhnya sembuh, mengapa dia datang kembali?
Masker hitam itu terjatuh ke lantai, Elea terbujur kaku, ia tidak bisa berkata apa-apa ketika menatap Rangga, Rangga yang kini ada di hadapannya, ini bukan khayalan semata, Elea tidak bisa berkata apapun selain meneteskan air mata.
" Kamu?" ucap lirih Elea, bahkan menyebut namanya saja, Elea tidak kuat, bibir nya terasa kaku dan berat untuk mengatakannya.
Rangga meneteskan air mata ketika berhadapan dengan Elea, bukankah seorang lelaki tidak boleh menangis?
Tentu saja boleh, apalagi menangisi kesalahan yang pernah ia lakukan di masa silam, Rangga menangis sambil menghampiri Elea, ia ingin sekali memeluk erat Elea karena rasa rindu yang tidak tertahan selama sepuluh tahun belakangan, Rangga pergi hanya sementara, hanya untuk mengejar cita-cita nya namun setelah Rangga menggapai cita-cita nya, ia ingin orang yang pertama kali ia temui adalah Elea.
" Maafkan aku!" ucap Rangga, bibir nya bergetar, air matanya menetes, Rangga memegang tangan Elea sambil menangis. Tangan yang mungil itu, kini di penuhi dengan jarum.
Elea tidak bisa berkata apapun, ia menangis sejadinya mengingat semua kenangan yang dulu.
" Sekali lagi maafkan aku, aku tahu kamu pasti membenciku, aku tahu rasanya aku tidak pantas bertemu denganmu lagi, maafkan aku menyamar sebagai office boy, ini aku lakukan hanya untuk bertemu denganmu elea, aku sangat merindukan kamu..." ucap Rangga, sambil menggenggam tangan Elea, namun Elea melepaskan genggaman tangan Rangga, ia tidak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya, ditambah kedatangan Rangga yang semakin membuat perih hati nya.
" aku mohon maafkan aku elea!" ucap Rangga
" Pergi....." teriak Elea begitu kencang, ia menekan bel untuk memanggil perawat karena dada nya begitu sesak,karena menahan tangis yang amat dalam.
Rangga tidak bisa berbuat apapun, ia meninggalkan album foto ketika masa SMA dan juga surat-surat yang ia tulis untuk Elea lalu Rangga pergi meninggalkan Elea yang tengah menangis dan dada nya begitu sesak.
Selang beberapa menit, perawat datang memenuhi panggilan Elea, Perawat itu merasa sangat aneh, karena tadi Elea baik-baik saja namun, sekarang keadaan Elea semakin memburuk.
" Heeuuu....Nafasku...Heeeu...se...saak..!" ucap Elea sambil menahan sakit, Perawat itu dengan sigap memasang selang oksigen untuk membantu Elea bernafas, ia juga menelpon dokter untuk segera memeriksa keadaan Elea yang tiba-tiba saja sesak nafas sambil terus menangis.
Perawat itu tidak ingin disalahkan apalagi di pecat dari rumah sakit ini, karena Elea adalah anak pemilik rumah sakit ini, ia tidak terjadi sesuatu kepada Elea.
" Mbak el, apa sudah mendingan? tunggu dr. dedy datang ya mbak!" ucap Perawat itu nampak ketakutan, tak lama dr.Adnan dan juga Aleyna sampai di kamar Elea dengan membawa selimut berwarna merah muda, dan ketika membuka pintu dr.Adnan nampak terkejut ketika melihat putrinya memakai alat bantu bernafas.
" Apa yang terjadi dengan anak saya? apa yang kalian lakukan, apa kalian tidak menjaga anak saya...." ucap dr. Adnan.
" Apa yang terjadi dengan Elea! suster...."
" Elea anak Mommy, kamu baik-baik saja kan sayang?" ucap Aleyna nampak kebingungan.
dr.Adnan mencoba menenangkan Elea karena Elea menangis, dr. Adnan memeluk nya dengan sangat erat.
" Apa yang terjadi denganmu sayang?" ucap dr.Adnan yang nampak khawatir.
Elea tidak berbicara sepatah katapun, ia hanya butuh penenang, yaitu pelukan hangat seorang ayah, yang begitu menenangkan, perlahan nafas Elea terbantu oleh oksigen, tak lama dr.Deddy datang untuk memeriksa keadaan Elea.
" Sebenarnya, tadi satu jam lalu aku dan juga perawat memeriksa keadaan Elea, dan Elea bahkan keadaanya lebih baik dari kemarin sudah lebih tenang, tapi ntah apa yang terjadi, mungkin Elea tertekan, apa yang terjadi dengan Elea ini hanya sebuah tekanan yang berulang kali muncul dalam pikirannya, Pak Adnan lebih baik Elea beristirahat agar lebih tenang dan hati nya lebih tentram " ucap dr. Deddy karena apa yang disampaikan dr.Deddy memang benar, sebelum dr. Adnan dan Aleyna meninggalkan ruangan ini, Elea terlihat baik-baik saja.
" istirahat dulu sayang ya, buang semua pikiran buruk kamu, Mommy sama Daddy ada disini buat kamu, semangat sembuh sayang ya!" ucap Aleyna yang begitu khawatir terhadap anak perempuannya.
" Istirahat sayang, Daddy akan menjagamu!" ucap dr.Adnan.
dr.Adnan curiga ada yang memenuhi pikiran Elea, ntah ia tidak tahu, mungkin belum saatnya ia menanyakan ini kepada Elea yang ada kondisi Elea semakin lemah.