My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Day 1 ~ tanpa kabar



Elea sudah terbiasa menunggu kedatangan Rangga, bahkan Elea sampai bosan karena Rangga tidak kunjung datang untuk menjemputnya, Elea menatap jam tangan yang melingkar di lengannya, ia berdengus dengan kesal, apalagi Rangga tidak mengangkat telepon nya.


Sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi, sementara Elea masih berada di depan rumah menunggu kedatangan Rangga, dengan perasaan kesal Elea langsung berangkat dengan Pak Anwar yang dari tadi sudah menawari nya, dengan wajah yang sedikit di tekuk, Elea berdumel dalam hati sambil memaki rangga, karena ini bukan yang pertama kali nya tapi Rangga sudah beberapa hari ini sering sekali mengingkari janji, Elea sudah cukup bosan dengan semua ucapan Rangga.


" Dasar tidak tahu diri, aku membencimu Rangga!"


Dengan langkah cepat namun pasti, Elea sampai ke sekolah meski telat beberapa menit, ia langsung menghela nafas karena tidak ada guru piket, jadi Elea bebas masuk ke dalam kelas. Meski dengan cara mengendap karena sekolah sudah mulai sepi, semua murid sudah masuk ke dalam kelas masing-masing, hanya ada Pak Darwin yang membuntuti Elea dari belakang.


" Murid nakal!" Ucap Pak Darwin sambil menepuk bahu Elea dari belakang.


Elea nampak terkejut, dan membalikkan tubuhnya menghadap Pak Darwin.


" Selamat pagi Pak Darwin..." Ucap Elea sambil mengelak dirinya telat, dan tersenyum ke arah Pak Darwin , namun senyumannya begitu palsu.


" Tidak usah tersenyum, jangan memaksakan untuk tersenyum, apalagi tidak ikhlas. " Ucap Pak Darwin


" Maunya apa sih Pak, yasudah aku lebih baik masuk kelas...." Ucap Elea dengan menggibaskan rambutnya.


Elea masuk ke dalam kelas, ia menatap kursi rangga yang masih kosong, hanya ada Doni si kutu komik , bahkan elea kembali menatap kursi Meghan, keduanya tidak datang ke sekolah, Elea menghela nafas panjang, ia seolah membuang pikiran buruk tentang Rangga maupun Meghan.


" Mungkin saja, hanya kebetulan mereka tidak masuk!" Batin Elea, ia berjalan menuju kursi nya. Kedua sahabatnya menyambut kedatangan Elea dengan senang hati.


" Pagi-pagi sudah cemberut, bukannya hari ini berangkat bareng Rangga?" Ucap Karin sambil melirik ke arah Elea.


" Lupakan, aku tidak ingin membicarakan Rangga!"


Elea duduk dengan wajah yang masih di tekuk, pikirannya tidak karuan.


" apa yang di lakukan Meghan kepada Rangga!"


Elea menatap jarum jam yang ada di dalam kelas, kemudian ia berbalik menatap jam tangan yang melingkar di lengannya, Jam menunjukkan pukul 07.35 Wib, namun Rangga maupun Meghan belum kunjung datang, tidak seperti biasanya Rangga seperti ini.


" el, kenapa sih muka nya di tekuk terus, Rangga yah?" Ucap Kiara yang menarik lengan Elea


Elea hanya mengangguk saja, ia sedang berada di fase tidak ingin berbicara sedikitpun.


Tiba-tiba saja Doni menghampiri Elea, ntah ada angin apa , namun Doni sepertinya membawa berita yang penting, ia nampak serius dengan tatapannya.


" Aku melihat Rangga pergi ke rumah Meghan, namun ia masih mengenakan seragam sekolah, jangan tanya apa tujuan nya , aku sama sekali tidak tahu...." Ucap Doni


Elea menatap tajam wajah doni, namun ia masih terdiam , terpaksa Elea meninggalkan kelas. Ia pergi ke toilet, kedua sahabatnya menghampiri Elea. Untung saja guru fisika sedang ada urusan jadi semua murid hanya di berikan tugas saja.


" Apa kamu semudah itu percaya terhadap doni?" Ucap Karin yang menanyakan keraguannya tentang ucapan doni.


" Rin, apa kamu pikir aku nggak percaya? Semua itu benar-benar nyata...." Ucap Elea.


" Lebih baik cari tahu dulu el, jangan mudah percaya dengan ucapan Doni begitu saja..." Ucap Kiara yang ikut menenangkan Elea.


" Kalau benar, Rangga lebih memilih Meghan, bagaimana dengan perasaanku, yang sudah jatuh terlalu dalam kepada Rangga?"


Kedua sahabatnya memeluk Elea dengan sangat erat, bahkan mereka menguatkan Elea.


***


Pagi sekali Rangga sudah bersiap-siap untuk menjemput Elea, ia bahkan sudah wangi , ntah berapa banyak semprotan parfum di tubuhnya namun ia ingin terlihat wangi di hadapan Elea. Rangga juga sudah menyiapkan permen lolipop berbentuk love untuk Elea, dan akan memastikan kalau Elea begitu senang. apalagi selama ini, Rangga sudah lama tidak memberi Elea hadiah.


Rangga mengambil kunci motor, hari ini ia ingin membawa motor gede nya, yang baru saja dibelikan oleh kedua orangtuanya.


Ia ingin merasa dekat dengan Elea bahkan ia ingin memboncengi elea dengan motor kesayangan nya ini.


" Kamu orang pertama yang akan aku boncengi menggunakan motor ini, el...."


Rangga sudah membayangkan pelukan Elea yang begitu hangat , apalagi ketika Rangga membawanya dengan sangat kencang.


Ketika hendak berangkat ke sekolah, tiba-tiba saja handphone Rangga berbunyi, ia mendapatkan panggilan telepon dari Meghan.


Rangga langsung mengangkat telepon tersebut.


" Halo, meggy ada apa?" Ucap Rangga dalam sambungan telepon.


Suara meghan begitu lirih, ntah Meghan merasa kesakitan.


" Ga, tolong aku! Aku sudah tidak kuat, aku benar-benar tidak kuat...."


" Apa yang terjadi denganmu meghan?"


" Aku sakit, kamu bisa temani aku, tidak ada siapapun di rumah ini..."


" Yasudah aku segera kesana, jangan beranjak kemanapun sebelum aku datang!"


Rangga nampak khawatir dengan keadaan Meghan, bahkan ia sampai tidak berasa menjatuhkan ponsel nya. Rangga memakai helm, ia dengan cepat mengendarai motor nya ke arah rumah Meghan. Ia melupakan tentang Elea, mungkin ia bisa menjelaskan nya nanti kepada Elea, karena Meghan membutuhkan pertolongannya, bagaimanapun Meghan adalah teman kecil nya. Ia tidak memiliki siapapun di sini.


Jalanan begitu macet, namun rangga dengan sigap sampai ia begitu cepat ke rumah Meghan.


Rangga berlari, dan menuju kamar Meghan. Meghan terkulai dengan lemas nya, bahkan banyak sekali kaleng wine yang berceceran di dalam kamarnya.


Apa mungkin Meghan mabuk semalaman?


" Meghan....."


Rangga menemukan Meghan sedang tidak sadarkan diri, bahkan Rangga langsung menyadarkan Meghan, ia menyandarkan tubuh Meghan dan membaringkan nya. kamar meghan begitu berantakan, bahkan tubuh meghan berbau alkohol, apa yang Meghan lakukan semalaman bahkan ia tidak tahu apapun tentang Meghan karena ia sibuk dengan urusannya sendiri.


" Apa yang terjadi dengamu Meggy?"


Rangga mencoba untuk membangunkan dan menggoyahkan tubuh Meghan, perlahan Meghan membuka mata dan menatap wajah Rangga, namun Meghan nampak tidak berdaya, tubuh nya panas wajah nya pucat.


" meggy bangun ....." Ucap Rangga sambil menggoyahkan tubuh Meghan.


Rangga meminta bantuan Security penjaga rumah meghan, memang sudah tiga hari ini, Nenek nya Meghan pergi ke luar kota untuk mengunjungi adiknya yang sakit.


Rangga membawa meghan ke rumah sakit, ia bahkan tidak masuk sekolah, hanya untuk Meghan.


" Sabar meggy, aku akan membawamu ke rumah sakit, maaf aku terlambat...."


Meghan memegangi lengan Rangga sambil menyandarkan tubuh nya, karena tubuh Meghan sangat lemas meski ia sudah sadarkan diri.


Rangga selalu mendampingi meghan, sampai ke ruang rawat.


Dan meghan pun mendapatkan perawatan, namun salah seorang dokter yang merawat meghan ingin mengatakan sesuatu kepada keluarga Meghan, hanya saja Rangga yang berada di sana, tidak ada keluarga Meghan satupun.


" Apa anda keluarga dari meghan?". Ucap Dokter yang menangani Meghan.


" Saya teman nya, ada apa dok?" Sahut Rangga.


" Ada yang ingin saya katakan...." Ucap Dokter itu, Rangga segera mengikuti Dokter yang menangani Meghan ke ruangannya, sepertinya memang ada hal yang ingin dokter itu sampaikan kepada Rangga. Yang jelas Rangga tidak tahu. Rangga meninggalkan Meghan yang sedang terlelap dalam tidur nya usai diberikan obat penenang oleh dokter. Rangga sedikit lega, ia bisa melihat Meghan tidur dengan tenang.


" Ada apa dok?" Ucap Rangga sambil duduk di bangku ruangan Dokter Arya yang menangani meghan.


" Meghan mengalami depresi yang amat dalam, mungkin kamu sebagai temannya, bisa mengetahui apa masalah meghan?" Ucap Dokter itu, selain dokter umum, dokter Arya juga seorang psikolog, sama seperti neneknya Rangga dulu.


" Saya juga tidak tahu, apa yang ada di pikiran meghan, hanya saja saya menemukan beberapa minuman bekas beralkohol di kamar nya...."


" Meghan mengalami Anuptaphobia, penyakit yang ada di dalam dirinya..."


" Anuptaphobia itu penyakit apa dok?"


" Meghan cenderung orang yang takut dengan kesendirian, atau kesepian. rasa cemas dan rasa takut membuat dia begitu depresi, bisa saja dia takut kehilangan seseorang yang memang sangat ia sayangi...."


" Apa penyakit itu begitu serius dok?"


" Penyakit itu bisa sembuh, kalau saja meghan mendapatkan pendamping atau teman yang selalu menemani nya... "


Rangga terdiam sejenak, memang kedatangan meghan dari Sidney ke jakarta membuat rangga menjadi serba salah, Apalagi kehadiran meghan membuat Rangga merasa tidak nyaman.


" Apa kedua orang tua Meghan masih ada?" Tanya dokter Arya.


" Masih ada, cuma sibuk mengurus pekerjaan di Sidney, Meghan tinggal bersama nenek nya..."


" Saran saya, temani Meghan sampai ia bisa pulih kembali, agar penyakit nya tidak kambuh, apalagi di usia Meghan rentan...."


" Iya dok, saya akan menemani Meghan. Kalau gitu, saya permisi dulu dok..."


" Iya silahkan ..."


Rangga tidak menyangka dengan ucapan seorang dokter yang menangani Meghan, di sisi ia ingin mendampingi Meghan namun, ia tidak mungkin mengabaikan elea, karena Elea kini adalah kekasih nya.


Rangga bahkan tidak mengabari elea sama sekali, ia takut akan kesalahpahaman yang terjadi, apalagi kalau elea tahu Rangga sedang mengurus Meghan di rumah sakit.


Rangga keluar sebentar untuk membeli buah-buahan, dan membeli bunga mawar untuk Meghan, berharap Meghan bisa sembuh dan segera pulih dari penyakitnya.


Kebetulan meghan memang menyukai bunga mawar, Rangga tidak lupa dengan bunga kesukaan meghan.


" Semoga dengan ini, aku bisa membantu proses penyembuhan kamu meggy...."