My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Persiapan



Setelah Keputusan nya untuk pindah ke Australia, menemani Fandy. Reyna pun segera menghubungi kedua sahabat nya, untuk berkumpul sebelum keberangkatan nya. Hanya tersisa satu minggu saja Reyna dan Fandy berada di kota ini, ia harus membiasakan diri hidup di Australia nanti.


Bukan hanya Reyna dan Fandy saja yang berangkat ke Australia, Martha selaku ibunda Reyna juga ikut untuk menemani Reyna bahkan ia rela menjual rumah nya di sini hanya untuk biaya hidup di Australia, mengingat Fandy pun ikut resign dari rumah sakit cipto.


Berat memang bagi Reyna, tapi demi Fandy ia rela melakukan nya. Toh, cuma lima tahun, tidaklah lama.


Sebelum nya memang Reyna telah membicarakan keputusa nya untuk pindah ke Australia bersama kedua sahabat nya, mereka pun sudah berjanji akan mengunjungi rumah Reyna, bahkan menginap di rumah Reyna di hari terakhir Reyna berada di sini.


Reyna juga sudah menyiapkan masakan yang amat banyak, karena kedua sahabat nya akan datang mengunjungi rumah nya.


" Makanan sudah siap, Bunda?" Tanya Reyna sambil menghampiri Bunda Martha


" Kamu tenang saja, karena Buna sudah menyiapkan nya" ucap Martha.


Sementara Aleyna pun sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Reyna, tak lupa ia memakaikan baju yang serupa untuk kedua anak kembar nya, apalagi sekarang mereka sudah bisa berjalan. Tapi, di sisi lain Aleyna menyimpan segudang rahasia, bahkan rahasia menyangkut tentang ayah Adnan, Aleyna berada di antara cemas dan bingung di samping ia juga sudah berjanji kepada bunda Widya agar tetap menutup rapat masalah mengenai rumah tangga nya, tapi disisi lain Aleyna merasa bersalah kalau harus menatap senyuman yang terlintas dari bibir Adnan, mungkin saja ia tidak akan bisa tersenyum dengan indah dan lepas seperti ini lagi ketika ia tahu kenyataan yang sebenarnya.


" Sayang... " ucap Adnan sambil mengecup kening Aleyna.


" Mas, aku bahkan tidak sanggup kehilangan Reyna" ucap Aleyna sambil duduk di samping Adnan


" Sayang, apa yang di lakukan Reyna merupakan keputusan nya, kita tidak boleh mengatur keputusan yang telah di buat oleh Reyna maupun Fandy" ucap Adnan dengan tenang.


" Tetap saja aku akan berpisah jauh dari Reyna" ucap Aleyna merasa sedih


" Kalau kamu mau, nanti kita bisa pergi ke Australia, untuk bertemu dengan Reyna tapi setelah adik baru lahir" ucap Adnan sambil mengelus perut Aleyna yang kini berusia empat bulan.


" Sayang, berhenti membuatku semakin sayang dengan mu" ucap Aleyna yang menyandar di dada bidang Adnan, sesekali ia mengelus dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu.


" Jangan memancingku! bukan kah kita harus berangkat ke rumah Reyna? atau kamu mau melakukan adegan semalam?" tanya Adnan sambil melempar senyuman kecil nya


Aleyna pun menarik hidung mancung Adnan, yang di tumbuhi tahi lalat kecil di ujung hidung mancung nya, semakin terlihat manis sosok Adnan di mata Aleyna.


" Memang nya semalam kurang?" tanya Aleyna


" Aku tidak akan pernah puas, bahkan ingin melakukan nya terus" ucap Adnan sambil tertawa


" Enak saja!" ucap Aleyna yang beranjak dari kasur dan segera merapihkan baju nya. Ia menatap cermin sambil menyisir rambut nya yang kini ikal di bagian ujung nya.


Adnan menghampiri Aleyna dan memeluk Aleyna dari belakang.


" Istri ku cantik!" ucap Adnan sambil merayu.


dan mencium leher Aleyna. meski Aleyna merasa risih dan geli tapi dia menyukai nya.


Namun, tiba-tiba saja Alvin dan Elea datang dengan melempar bola kecil yang terbuat dari karet , bola kecil tersebut di lempar oleh Elea mengenai kepala belakang Adnan hingga ia terkejut dan mencaritahu siapa yang berani melemparkan bola pada nya.


" Aw!" rintih nya sambil memegangi kepala nya.


" Daddy..." ucap Elea sambil menghampiri Adnan, ia berjalan dengan sangat menggemaskan, sementara Al masih sibuk dengan mainan mobil-mobilan nya.


" Ternyata kamu yang melempar Daddy dengan bola ini" ucap Adnan segera menggendong Elea dengan gemas nya. Sementara Aleyna hanya tertawa saja.


*Andai saja kamu tahu, bagaimana hancurnya hubungan antara Ayah dan Bunda, mungkin saja aku tidak akan bisa melihat senyum dan bahagia nya kamu. maaf aku belum bisa memberitahumu, karena aku sudah janji dengan bunda, di sisi lain aku juga merasa bersalah sebagai istri.


apa yang harus aku lakukan, Tuhan*....


" Sayang, ayo berangkat" ucap Aleyna ketika selesai menata rambut nya.


Aleyna pun menuntun Alvin sementara Elea di gendong oleh Adnan, Elea memang manja terhadap Adnan, di bandingkan dengan Aleyna. Sementara Alvin memang lebih pendiam.


" Cucu grandma mau kemana?" tanya bunda Widya sambil tersenyum.


" Mau ke rumah Reyna, Bunda" ucap Aleyna sambil tersenyum.


" Fandy mau melanjutkan pascasarjana nya ke Australia, seminggu lagi ia akan segera pindah ke Australia bersama istri nya" ucap Adnan


" Kamu tidak jadi Nan, melanjutkan gelar doktor kamu?" tanya Widya


" Lain waktu bunda" ucap nya.


" Kalau begitu hati-hati, sampai kan salam bunda kepada Fandy dan istri serta ibu mertua nya, maaf bunda tidak bisa ikut!" ucap Bunda.


" Iya bunda." ucap Adnan yang mengajak kedua anak nya untuk masuk ke dalam mobil.


Sementara Widya membisikkan sesuatu ke telingan Aleyna.


" Bunda mohon, jangan mengatakan apapun kepada Adnan mengenai perceraian antara Bunda maupun Ayah nya Adnan." bisik nya.


Aleyna menatap kepergian Adnan, ada perasaan bersalah tapi di sisi lain, bunda selalu mengawasi Aleyna bahkan menyuruh Aleyna untuk menutup rahasia tersebut.


" Sampai kapan bunda? Aku tidak ingin membohongi Mas Adnan terus menerus." ucap Aleyna


" Sampai Ayah nya Adnan mau bertemu dan membicarakan hal ini secara bersamaan. Agar Adnan juga mengerti alasan mengapa kami ingin berpisah " ucap Widya.


Sementara Adnan sedari tadi sudah memanggil Aleyna untuk segera berangkat .


Aleyna pun segera masuk ke dalam mobil, ia mengajak Mirna untuk menjaga Alvin dan Elea, karena Adnan yang menyuruh Mirna untuk ikut , ia tidak ingin Aleyna terlalu capek.


dan kerepotan mengurus kedua anak kembar nya.


" bunda bilang apa tadi?" tanya Adnan


Apa yang harus aku katakan.


Aleyna nampak gugup tapi, ia berusaha bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


" Tidak apa-apa, hanya mengingatkan aku agar aku tidak terlalu capek" ucap Aleyna yang membohongi Adnan.


" Aku juga tidak ingin membuat mu lelah." ucap Adnan sambil mengelus pucuk rambut Aleyna.


Adnan pun segera menancap gas mobil nya, sudah lama ia tidak pergi bersama Aleyna semenjak kesibukan nya akhir-akhir ini. Adnan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah Fandy.


-


Sementara Susan memang sudah mendapat kabar dari Reyna, Susan dan Daniel juga akan ikut mengunjungi rumah Reyna untuk merayakan pesta perpisahan antara Susan dan Reyna serta Daniel dengan Fandy.


Tapi, semenjak semalam Susan malah merasakan sakit perut yang amat dahsyat, bahkan sesekali ia menjambak rambut Daniel padahal usia kandungan Susan baru menginjak delapan bulan, tapi perut Susan sudah sangat keram. Ia bahkan tidak henti-henti nya pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil sampai Daniel tidak bisa tidur dan rela menjaga Susan hingga larut pagi.


" Kak Daniel perut aku sakit!" ucap Susan bahkan keringat bermunculan di sekitar dahi nya.


" Beneran perut kamu sakit, Bey?" tanya Daniel nampak gelisah.


" Kak Daniel tolong antarkan aku ke toilet!" ucap Susan, dengan di dampingi Daniel menuju toilet rumah nya.


" Bey, jangan-jangan anak kita mau lahir?" ucap Daniel merasa gelisah


" Kak Daniel perut aku sakit. Ahhhhh.... " ucap Susan yang terus menjambak rambut Daniel


" Tenang sayang, kalau gitu kita ke kamar dulu, berbaringlah" ucap Daniel sambil merangkul Susan menuju kamar nya.


" Udah nggak sakit!" ucap susan setelah sampai kamar dan ia membaringkan tubuh nya.


" Yampun, Bey aku khawatir !" ucap Daniel sambil menepuk jidat nya.


" Kadang sakit, kadang nggak!" ucap Susan yang membuat Daniel semakin pusing.


" Yasudah kamu tidur dulu, aku akan menjaga kamu " ucap Daniel


" Kak Daniel ..... " teriak Susan


"Aku disini !" ucap Daniel


" Punggung aku panas, tiupin ah!" ucap Susan yang merasa gerah, padahal di kamar nya ada Ac .


" Iya Bey, ini aku tiupin!" ucap Daniel


Daniel pun sudah menghubungi dokter Edwin selaku dokter kandungan yang selama ini mengurus Susan, ia takut terjadi apa-apa dengan kehamilan Susan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author up lagi, jangan lupa dukungan nya yah :)


Vote, like, dan komen.


Makasih sudah setia membaca cerita ini, yang episode nya panjang kaya sinetron