
Elea mengayuh sepeda dengan sangat kencang, sesekali ia berhenti karena kakinya terasa sakit, tapi rasa semangat itu datang ketika ia mengingat keadaan Rangga yang sedang sakit.
Elea berhenti di depan toko buah, kebetulan ada sisa uang di dalam sakunya untuk membelikan Rangga buah buahan yang sudah di bungkus parcel, Elea berharap Rangga menerima nya dengan senang hati.
Elea terus mengayuh sepeda melanjutkan perjalanannya, yang lumayan jauh karena ditempuh menggunakan sepeda.
Namun elea tetap pada pendirian nya untuk sampai di rumah Rangga.
Rintik hujan mulai membasahi bumi, Elea menatap langit, air hujan itu menetes ke wajah manis Elea.
Elea berhenti di dekat pohon yang rindang, baju nya basah kuyup.
" Yatuhan, apa memang rasa rinduku, dipenuhi oleh ujian yang sangat berat, aku hanya ingin bertemu Rangga, itu saja cukup....."
Elea tidak ingin terlalu lama meneduh karena rintik hujan tidak kunjung berhenti, sementara jam sudah semakin siang, Elea memaksakan diri untuk menerobos air hujan, ia tidak peduli dengan baju nya yang basah, atau memang keadaan dingin yang memang tidak Elea sukai.
Sambil mengayuh sepeda , Elea terus berusaha untuk segera sampai di rumah Rangga.
Tubuh Elea begitu kedinginan, tapi ia tetap memaksakan diri, Elea begitu kuat disaat orang tersayangnya terbaring lemah.
Apa cinta itu bisa menguatkan tubuh seseorang?
Atau memang cinta yang mampu memberinya kekuatan, sampai Elea kuat menahan rasa dingin di sekujur tubuhnya.
Sementara Reyna hari ini harus pergi meninggalkan Rangga, karena ada urusan visa yang bermasalah, sebenarnya ia bisa menyuruh orang lain, namun sayangnya, pihak perusahaan visa menyuruh Reyna untuk mengurusnya karena Visa Rangga yang bermasalah, ia tidak mungkin menyuruh Rangga untuk keluar apalagi Rangga sedang sakit.
Dengan pakaian yang amat rapih, Reyna beranjak ke kamar Rangga untuk memastikan keadaannya.
" Ga, Mama pergi dulu sebentar untuk mengurus visa kamu ..... " Ucap Reyna yang melihat Rangga sedang berdiri diatas balkon, sambil menatap rintik hujan yang mengguyur kota.
" Iya. " Jawab Rangga dengan sangat singkat, ia memang sedang malas berbicara atau berbincang dengan orang lain.
" bagaimana keadaan kamu Ga, tidak apa-apa Mama pergi!" Ucap Reyna lagi sambil memegang kening Rangga yang mulai mereda demam nya
" Tidak apa-apa, aku terbiasa sendiri!" Ucap nya lagi.
Reyna tersenyum ke arah Rangga, ia memang sudah terbiasa melihat sikap jutek Rangga seperti ini.
Memang Rangga sedang marah kepada kedua orang tuanya, karena mereka tetap memaksa Rangga untuk tetap tinggal di Sidney, sementara Rangga tidak ingin meninggalkan kota ini, kota yang baru ia pijak selama 8 bulan lamanya. Dan ia tidak bisa pergi meninggalkan Elea.
Reyna pergi meninggalkan kamar Rangga, ia memang tidak ingin mengganggu Rangga terlalu berlebihan, karena ia bisa jadi kabur dari rumah, karena sikap Rangga dan juga Dokter Fandy sama saja, keras kepala.
Mobil yang dikendarai oleh supir pribadi Reyna meninggalkan perkarangan besar miliknya, sementara setelah mobil keluar dari perkarangan rumah besar milik keluarga Rangga, Elea dengan wajah pucat terus mengayuh sepeda hingga sampai di depan gerbang besar milik Rangga.
Meski tubuhnya sangat menggigil , Elea tersenyum karena akhirnya ia bisa sampai di depan rumah Rangga.
" Pak, permisi apa Rangga ada dirumah?" Ucap elea yang baru saja sampai dengan baju yang basah kuyup
" Ada,silahkan masuk non Elea!" Ucap Security rumah Rangga yang sudah hafal dengan status Elea sebagai anak dokter Adnan.
Elea memasuki perkarangan rumah Rangga, ia membawa satu parcel buah-buahan yang memang basah kuyup, untung saja buah itu di lapisi plastik yang amat tebal, jadi Elea tidak perlu repot-repot melindungi buah-buahan tersebut.
Rangga menatap ke arah bawah, kedua bola matanya tertuju kepada gadis kecil yang kini berada di depan perkarangan rumahnya.
Rambutnya basah, baju nya juga basah.
Rangga segera mengucek kedua bola matanya, ia takut salah mengira kalau gadis kecil itu adalah Elea.
" Apa benar itu Elea?" Ucap Rangga sambil terus memperhatikan Elea dari atas balkon kamarnya.
" Dasar gadis nakal, mengapa nekat pergi ke rumahku, padahal cuaca sedang hujan!" Gerutu Rangga.
Rangga dengan cepat menuruni anak tangga untuk menyambut Elea, meski menggunakan pakaian tidur, Rangga mengambil handuk didalam kamarnya, untuk Elea karena Rangga begitu mengetahui kalau elea tidak tahan dengan cuaca dingin.
Elea mengetuk pintu rumah Rangga, dan sesekali menekan bel di pinggir pintu namun tidak ada jawaban sama sekali, tak lama Elea mengetuk pintu lagi dan elea begitu terkejut karena pintu itu sudah terbuka.
" Ga, katanya kamu sakit?" Ucap Elea yang berdiri dihadapan Rangga.
Rangga tidak mengatakan apapun, ia langsung menarik tubuh elea untuk masuk ke dalam rumah, dan melingkarkan handuk itu di tubuh elea yang begitu basah karena kehujanan.
" Ga, aku bawa buah-buahan untuk kamu!" Ucap Elea yang berada di rangkulan tubuh Rangga.
Rangga menyuruh Elea untuk duduk, dan langsung menyuruh asisten rumah untuk membuatkan minuman hangat untuk Elea.
" Dasar gadis nakal, kenapa nekat pergi ke rumahku, sudah tahu cuaca sedang hujan?" Celoteh Rangga sambil menatap wajah Elea.
" Aku khawatir, ketika mendengar kamu sakit Ga, seharusnya aku yang protes jangan kamu " ucap Elea
" Tapi, kalau kamu ikutan sakit bagaimana? " Celoteh Rangga lagi.
" Yang penting aku sudah bertemu kamu, aku kuat kok!" Ucap elea, namun tiba-tiba saja Elea bersin terus menerus.
" Hachu...."
" Hachummm....."
Rangga menyuruh Elea untuk minum teh hangat yang baru saja di bawa oleh Bibi.
" Minum dulu!" Ucap Rangga yang menyuruh Elea untuk minum.
" Kamu seneng nggak, aku ke sini?" Ucap Elea sambil menatap wajah Rangga.
" Bukannya ini masih jam pelajaran?" Ucap Rangga yang menatap jam dinding di ruang tamu.
" Iya, karena aku bolos! Aku pergi ke rumah kamu juga naik sepeda pak darma..." Ucap Elea sambil cengengesan.
Rangga menepuk jidat, sambil menghela nafas.
" Dasar cewek nakal, kenapa kamu melakukan semua itu?". Ucap Rangga sambil mencubit pipi tembem Elea, dan Elea merintih kesakitan namun sambil tertawa.
" Untuk ketemu kamu Ga! Kamu tidak tahu, bagaimana perjuangan aku untuk sampai ke rumah kamu, itu semua karena aku kangen sama kamu!" Protes Elea sambil memarahi Rangga.
" Jadi kamu kangen ?" Ucap Rangga sambil menatap wajah Elea dengan sangat tajam.
Tatapan yang selama ini membuat jantung elea berdetak dengan sangat kencang.
" Ga, udah ah...." Ucap Elea yang menutup wajah Rangga dengan telapak tangan nya.
" Terimakasih sayang, sudah menjenguk, bagaimana aku nggak semakin sayang kalau kamu kayak gini!" Ucap Rangga sambil mengacak rambut Elea yang basah dan lepek.
" sekarang, giliran aku untuk mengurus kamu, aku tidak mau kamu sakit " ucap Elea yang menarik Tubuh Rangga untuk bangun dari sofa, sementara Bibi sudah mempersiapkan baju ganti untuk Elea, kebetulan Rangga menyuruh Bibi untuk mengambil baju nya, dan diberikan kepada Elea untuk dia pakai.
Elea pergi ke kamar tamu, untuk mengganti baju karena ia tidak kuat memakai baju yang basah.
" Ga, kamu sudah makan?" Ucap Elea yang baru saja selesai ganti baju, ia mengenakan kaos berwarna hitam milik Rangga dengan dipadukan celana pendek. Dan mengikat rambutnya dengan handuk kecil.
Rangga menatap Elea sambil mengangkat alis sebelah kirinya.
" Kalau seperti ini, kamu mirip preman di pasaran!" Ucap Rangga sambil tertawa melihat Elea memakai bajunya.
" Nyebelin banget sih!" Ucap Elea sambil mengejar Rangga dan memukul nya
" Jangan dipukul , kan aku lagi sakit, manjain dong!" Ucap rangga yang terlentang di sofa ruang televisi.
" Iya, untuk hari ini aku akan menjadi perawat gratisan buat kamu!" Ucap Elea dengan sangat senang
" Kalau gitu, buatkan aku sup hangat dong perawat Elea!" Ucap Rangga dengan manjanya.
" Ga, jangan minta yang aneh! Aku mana bisa masak..." Gerutu Elea sambil kebingungan.
" Ayo sayang...." Rayu Rangga sambil menggenggam lengan Elea.
Elea hanya mengangguk saja, meski ia sedikit bingung untung saja tante reyna tidak berada dirumah, jadi elea bisa lebih leluasa mengacak dapur milik nya.
Elea bergegas ke dapur untuk membuatkan Rangga sup hangat, ia didampingi oleh Bibi Ratmi untuk membuatnya, kebetulan Sup hangat memang kesukaan rangga.
" Bi, memang Rangga itu setiap hari makan sup hangat? " Ucap Elea sambil bertanya.
" Tuan Rangga itu sangat menyukai sayuran dibandingkan buah-buahan!" Ucap Bibi.
Elea menggerutu didalam hatinya.
" Sia sia aku membeli buah-buahan, kalau Rangga seorang vegetarian!"
Rangga masuk ke dalam dapur untuk melihat Elea dan Bibi yang sedang memasak sup untuknya.
Rangga memperhatikan elea yang begitu serius memasak dengan bibi Ratmi.
" Kalau seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu Eleanor!"
Rangga mengingat kembali dengan kepergiannya, ia bahkan tidak akan bisa pergi dan berada jauh dengan Elea.
Kasih sayang elea begitu tulus untuk nya, bagaimana mungkin Rangga mengatakan kejujurannya mengenai kepergian dan kepindahannya ke Sidney, itu akan menyakitkan hati Elea.
" Taraaaa .... Sup ala chef elea sudah jadi!" Ucap elea sambil memegang satu mangkuk sup hangat untuk di sajikan kepada Rangga.
" Memang calon istri idaman!" Ucap Rangga sambil tersenyum, Elea yang mendengar pujian tersebut langsung tersipu malu.
" Mas Rangga....." Ucap Elea dengan panggilan manjanya kepada Rangga.
Rangga dan Elea pun menuju ruang makan, kebetulan Elea juga ingin menikmati masakannya pertama kali nya, karena sebelumnya jangankan masak, menyentuh dapur saja Elea tidak pernah.
Elea mengambil satu piring untuknya dan satu piring lagi untuk Rangga, ia mencicipi hasil masakannya tanpa memperdulikan Rangga.
" Ummm... ammmm... ternyata enak!" Ucap Elea yang terus menikmati sup buatannya sendiri
Sementara Rangga diam memaku memperhatikan Elea yang sibuk makan.
" katanya mau jadi perawat aku, tapi malah sibuk makan sendiri " celoteh Rangga yang protes dengan sikap Elea.
" Kok kamu nggak makan? menurutku sup nya enak!" ucap Elea yang meneruskan makannya.
" Dasar cewek nggak pernah peka!" ucap Rangga lagi.
" suapin!" ucap Rangga dengan manja nya, Elea beranjak dari kursi nya dan berdiri di samping Rangga.
" nih, bayi besar waktunya makan....." ucap Ela sambil menyuapi Rangga.
Rangga tersenyum dengan lebar, ketika Elea memberikan semua perhatian nya.
" Dasar bayi gede!" ucap Elea yang mencubit hidung Rangga.
" Dasar kepala batu!" ucap Rangga yang juga menyindir Elea, namun keduanya nampak tersenyum bahagia menikmati kebersamaan.
Apakah kebahagiaan itu akan selamanya terjalin, atau memang ada tembok pemisah diantara keduanya.
.
.
.
.
.
.
* Kasian nih,bayi gede lagi Demam
* untung ada suster Elea, meskipun sekeras batu tapi bucin banget lho!
guys, di Vote yaaaaw.
kalau votenya banyak, author up lagi nanti malam.....