My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
kembali pulang



Setelah melakukan pekerjaan yang begitu melelahkan, akhirnya Fandy dan juga Adnan beserta Daniel bisa bernafas dengan lega, mereka menyempatkan diri untuk makan dan beristirahat sejenak, karena rasa lelah yang melanda mereka, dan akhirnya mereka juga di perbolehkan pulang ke rumah karena sudah hampir satu bulan berada di rumah sakit.


Ada kesenangan dan kegembiraan di hati mereka, ketika mendengar kalau mereka sudah bisa kembali pulang dan menjalankan aktifitas seperti biasa nya, setelah menjalani beberapa pemeriksaan kesehatan.


Rasa lelah itu terbayarkan ketika mereka bisa kembali kumpul bersama keluarga masing-masing, rasa rindu yang amat dalam yang mereka rasakan saat ini, rindu akan istri tercinta dan juga rindu akan kebersamaan.


Fandy pun merebahkan tubuh nya ketika rasa lelah yang melanda, di ambil nya telepone genggam milik nya di atas meja, tepat di ruangan nya. Fandy menatap foto Reyna yang kini ia jadikan sebagai gambar di walpaper depan handphone nya.


Kelinci ku, aku sangat merindukan mu....


tiba-tiba saja handphone Fandy berbunyi, karena ada seseorang yang menelpon nya, Fandy merasa ikatan batin antara dia dan Reyna begitu kuat karena baru saja Fandy memikirkan Reyna, namun ketika Fandy menatap ke layar ponsel nya ternyata bukan panggilan masuk dari Reyna melainkan dari nomor asing yang menelpon nya, nomor yang berasal dari negara Australia, bahkan Fandy tidak mengenal nya.


Fandy segera mengangkat telepone tersebut.


" Halo" sahut Fandy nampak ragu, lalu seseorang yang menelpon nya langsung menjawab.


" Apakah saya berbicara dengan dr. Affandy?" ucap seseorang itu dalam sambungan telepone


" Iya, saya Affandy" ucap nya


" Selamat, dr. Affandy kamu terpilih sebagai penerima beasiswa Pascasarjana di Melbourne Medical University program spesialis " ucap seseorang itu.


Fandy membulatkan kedua bola mata nya, ia nampak tidak percaya. Bahkan, ia dulu di ajak oleh Adnan untuk mendaftarkan diri, karena Fandy memang belum melanjutkan pascasarjana nya ke spesialis, terutama spesialis jantung. Fandy bahkan tidak menyangka akan di terima di universitas kesehatan di Melbourne.


Adnan memang dulu mengajak Fandy, Adnan sendiri ingin melanjutkan S3 nya sementara Fandy ingin melanjutkan S2 nya di Melbourne namun Adnan terhalang ketika dulu Aleyna sedang hamil dan ia tidak bisa mengajak Aleyna untuk pindah ke Australia sementara, Pekerjaan nya sebagai Dokter Bedah di Rumah sakit cipto sangat di butuhkan.


Tapi, Fandy juga bingung di samping Reyna sedang hamil besar bahkan ia tidak memiliki sanak saudara di Australia, tapi ini semua demi masa depan Fandy bahkan masa depan untuk keluarga nya.


" dr. Affandy? " ucap seseorang itu lagi


" Iya Pak?" ucap Fandy nampak ragu


" Apa anda bersedia menerima undangan kami, kalau bersedia bisa kah anda mengisi data-data diri anda yang sudah kami kirimkan lewat email?" tanya seseorang itu lagi


Ya tuhan, aku bahkan belum membicarakan ini dengan Reyna.


Fandy nampak terdiam ia tidak bisa menjawab sama sekali, karena ia memang belum membicarakan semua nya kepada Reyna.


Kalau memang Fandy menerima undangan untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana nya, ia harus meninggalkan kota ini, tapi ini juga peluang yang bagus untuk pekerjaan nya nanti, apalagi Fandy sangat ingin menjadi Dokter Spesialis jantung.


" Saya tanya sekali lagi, Apa anda bersedia menerima nya?"


" Iya Pak, saya bersedia" ucap Fandy, ia bahkan tidak ingin menolak nya. karena ini kesempatan bagus untuk nya.


" Baik, secepat mungkin kirim semua data diri anda, dan isi formulir yang sudah saya kirimkan, nanti ada pihak kampus yang mengabari anda lagi, terimakasih atas waktu nya. salam hangat dari kami "


Telepon itu langsung tertutup, tapi hati Fandy malah semakin resah, ia bahkan takut, Reyna tidak mengijinkan nya, Tapi ini semua untuk masa depan Reyna dan anak di dalam kandungan Reyna.


Fandy pun segera merapihkan barang-barang nya ke dalam tas milik nya karena kebetulan tugas nya sudah selesai, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Reyna.


" Fan... " ucap Adnan ketika bertemu di depan ruangan Fandy .


" Hey, Nan kamu juga ikut pulang?" ucap Fandy


" Yah, pulang masa tidak pulang? aku juga punya keluarga yang membutuhkan ku" ucap Adnan


" Haha, aku kira kamu akan menjadi penjaga rumah sakit ini. " ucap Fandy sambil tertawa


" Ah, semua nya sudah berubah ketika aku menikah" ucap Adnan.


Memang ketika Adnan belum menikah, Adnan lebih sering menghabiskan waktu di Rumah sakit bahkan ia sampai di juluki " penghuni rumah sakit" karena sering sekali menginap di rumah sakit bahkan jarang pulang ke rumah, tapi setelah menikah semua nya nampak berubah Adnan yang dulu sering tidur di Rumah Sakit tapi sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama dengan Aleyna.


Wajar saja, kalau Adnan betah berada di rumah sakit berlama-lama, karena ia sudah terlatih dan terbiasa kecuali Fandy dan Daniel yang tidak pernah absen untuk pulang ke rumah atau ke Apartement Adnan.


" Nan, ada yang ingin aku tanyakan. " ucap Fandy sambil berjalan beriringan dengan Adnan


" Kenapa?" jawab Adnan


" Tadi ada pihak dari Universitas Melbourne yang menelpon ku, mengenai undangan jalur beasiswa yang di peruntukan untuk ku dalam program pascasarjana" ucap Fandy


Adnan nampak membulatkan kedua bola mata nya, ia bahkan ikut senang ketika Fandy menerima undangan beasiswa tersebut.


" Selamat Fan, jangan melewatkan kesempatan ini " ucap Adnan sambil tersenyum sumringah


" Tapi, masalah nya Reyna sedang hamil, apa tidak bahaya? kalau aku sibuk dengan kuliah ku sementara Reyna terabaikan " ucap Fandy nampak bingung , ia menghentikan langkah nya


" Dulu, aku pun seperti itu. ketika aku ingin melanjutkan program studi doktor ku, tapi itu semua terhalang ketika Aleyna sedang hamil besar dan persis seperti Reyna" ucap Adnan


" Aku sudah terlanjur menerima nya, apa yang harus aku lakukan " ucap Fandy


" Sekarang yang harus kamu lakukan adalah pulang ke rumah, bicarakan baik-baik dengan Reyna karena apa yang kamu lakukan itu, ada Reyna yang selalu mendoakan mu, bicarakan itu semua dengan kepala dingin" ucap Adnan begitu dewasa menasehati Fandy.


" Tapi, bagaimana kalau Reyna tidak mengijinkan ku ?" ucap Fandy


" Kamu harus menerima resiko nya, karena kamu adalah kepala rumah tangga, kamu yang bisa memutuskan yang terbaik, berpikirlah dengan jernih dengan menurunkan sifat egoisme mu" ucap Adnan


" Baik, Nan kalau begitu, aku pulang duluan badan ku rasa nya mau rontok " ucap Fandy sambil merengek karena terlalu lelah, Adnan yang melihat hanya tertawa saja. Namun tiba-tiba saja Daniel datang menghampiri mereka dengan membawa tas besar milik nya.


" Aku kira kamu masih betah berada di sini" ucap Fandy dan Adnan sambil tertawa


" Sialan, kalian memang tidak mempunyai hati" ucap Daniel karena dari tadi, ia mencari keberadaan Fandy dan Adnan


" Hati ku cukup untuk istri ku seorang" celetuk Fandy, namun Adnan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.


" Sebentar lagi, ada yang akan pergi ke Australia" ucap Adnan, namun Fandy mengedipkan mata sebelah kiri nya.


" Siapa?" tanya Daniel


Adnan menunjuk Fandy dengan memainkan bola matanya


" Jadi kamu di terima di Universitas Melbourne, adik kecil ku?" ucap Daniel sambil mengelus kepala Fandy


" Berisik!" ucap Fandy


" Haha, kalau begitu aku dan Adnan menunggu untuk makan gratis " ucap Daniel sambil tertawa.


" Nah kalau gitu, aku setuju" jawab Adnan sambil tersenyum


" Tenang saja, nasi kotak sudah tersedia" ucap Fandy


" Tidak! aku dan Adnan menunggu tlaktiran dari mu" ucap Daniel


" Terserah mu"


" Kalau begitu ayo kita pulang" ucap Adnan


" Ayo!" ucap Fandy


"Aku sengaja mengejar kalian untuk menumpang , karena aku tidak membawa mobil" ucap Daniel


" Naik angkot saja" sahut Fandy


" Tidak, aku takut kadar ketampanan ku berkurang" celetuk Daniel


Adnan pun hanya tertawa saja, di ikuti Fandy yang mulai risih mendengar ucapan Daniel


" Kalau tampan itu, meskipun naik angkot juga kadar ketampanan nggak akan hilang" ucap Fandy


" Sudah tidak usah banyak bicara, lebih baik kita pulang" ucap Adnan yang bergegas pergi


" Aku ikut Nan, kebetulan tidak bawa mobil juga" ucap Fandy


" Sama saja, bambang!" ucap Daniel yang menoyor kepala Fandy


Daniel dan Fandy pun mulai masuk ke dalam mobil Adnan, dengan Adnan yang mengemudi di depan nya.


Mereka kembali setelah beberapa minggu melaksanakan tugas nya sebagai tenaga medis, dan menyelesaikan pekerjaan nya.


rasa rindu yang mulai melanda, membuat mereka semakin semangat untuk cepat sampai ke rumah masing masing.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Guys, Jangan pelit sama author :( di Vote dong biar author semangat


Author kan punya tiga novel nih


- Secretary Yuna


- Mi Amore Meira


Author akan rajin up.


btw, komen dong jangan diem bae.


sepi nih :(