
Rencana nya setelah pulang sekolah, Karin dan Kiara pun ingin bermain ke rumah Elea, karena sore ini, Kak Juno mengajak Elea untuk berkencan, meski secara diam-diam karena Elea takut Alvin akan mengetahuinya.
Alvin sudah menunggu di parkiran, karena ia sendiri membawa mobil yang baru saja di belikan oleh daddy nya, kecuali Elea karena ia belum bisa mengendarai mobil.
Elea dan kedua sahabat nya menghampiri Alvin yang tengah asik berbincang dengan Kania dan juga Dylan, di sana juga ada Rangga, ntah mereka begitu asik mengobrolkan sesuatu sampai tidak mengetahui kedatangan Elea.
Kania sendiri adalah anak dari bu Monica, ia memang satu kelas dengan Alvin, akhir-akhir ini Kania memang sering terlihat dekat dengan Alvin, dan Elea yakin kalau Kania memanv menyukai Alvin.
" Kenapa sih, harus melihat pemandangan yang begitu menyakitkan!" ucap Karin setelah ia melihat Kania sedang asik mengobrol dengan Alvin sedangkan Dylan dan Rangga sibuk bermain game online.
" Kesel tau!"
Elea menepuk bahu Karin, sambil tertawa bersama Kiara " Hahaha..."
" Ya begitulah rin, kalau menyukai seseorang tapi orang yang kita sukai lebih nyaman dengan wanita lain" ucap Kiara, seolah membicarakan perasaannya sendiri.
" Tenang saja, aku yakin kak Alvin tidak tertarik dengan Kania. " ucap Elea
Karin pun berdengus kesal, ia ingin sekali menegur Kania agar tidak mendekati Alvin, karena Karin begitu menyukai Alvin.
" Aku tidak akan membiarkan Kania merebut Alvin begitu saja. " ucap nya.
Elea pun datang, dan berdiri di samping Alvin sampai kania pun menyadari kedatangan Elea, ntah Kania sendiri selalu bersikap dingin terhadap Elea, karena Kania tidak menyukai Elea.
" Kak, aku mau ngomong!" ucap Elea sambil menyandarkan kepala nya di bahu Alvin, dan Kania begitu kesal melihat tingkah Elea, meskipun ia tahu, kalau Alvin dan Elea hanya saudara kembar.
" Kania, nanti kita lanjut membahas pelajaran lagi, aku ada perlu dengan Elea. " ucap Alvin , Kania pun hanya mengangguk lalu pergi, namun Karin menarik lengan Kania.
" Jangan pernah mendekati Alvin lagi!" bisik Karin di telinga Kania, dan membuat Kania begitu kesal lalu pergi begitu saja.
Kiara pun memeluk Karin, dan memberikan kekuatan, karena Kiara memang merasakan hal seperti karin, ia harus belajar merelakan Juno dengan Elea, meski perasaannya hancur tapi, Kiara mampu menutupi semua kesedihannya, tanpa kedua sahabatnya sadari.
Mengalah, bukan berarti kalah tapi mengalah demi persahabatan adalah jalan terbaik, Kiara terlanjur mencintai Juno dan disisi lain Elea begitu baik kepada nya, semua begitu sulit tapi Kiara akan berusaha melupakan Juno.
" Rin , terkadang mencintai itu memang sakit, karena begitulah keadaan sebenarnya, kamu tidak salah menyukai Alvin, kalau memang dia menyukai orang lain, lantas kamu bisa apa?" ucap Kiara sambil memeluk Karin.
" Ra, kamu tidak pernah merasakan seperti aku! aku bahkan sangat membenci kania sekarang juga. " ucap Karin
Kiara hanya tersenyum, ia tidak bisa jujur dengan perasaannya sendiri, dan ia hanya bisa menyembunyikan perasaannya.
Elea pun meminta ijin kepada Alvin untuk ikut pulang bersama Karin, karena Karin memang membawa mobil sendiri, sekalian juga Elea ingin belajar mengendarai mobil, awalnya Alvin ragu dengan kejujuran Elea, tapi disisi lain Alvin mulai mengijinkan permintaan Elea karena ia yakin, kalau kedua sahabatnya tidak akan menyakiti Elea.
" Kak, kali ini saja aku mau pulang bareng karin." desah Elea sambil terus merayu Alvin
" Palingan juga mau kencan sama juno, alasan saja pulang bareng karin." celetuk Rangga yang kini ada di sebelah Alvin
" Diam deh! tidak usah ikut campur. " ujar Elea sambil menatap sinis ke arah Rangga.
Alvin diam sejenak, ia mulai memikirkan kembali, karena bagaimanapun Elea adalah tanggung jawab nya.
" Kak, aku janji tidak akan membuat hal konyol maupun aneh-aneh" ucap nya sambil merengek.
" Yasudah, hati-hati di jalan." ucap Alvin
" Siap kak.... " ucap Elea yang nampak girang.
Akhirnya, Elea pun menghampiri Karin dan juga Kiara yang sudah menunggu dari tadi, dengan perasaan senang, bahkan senyum yang terlintas di bibir Elea pun tidak pernah terlewati, begitulah cinta mampu merubah segala nya.
Rangga menatap kepergian Elea, ia menyimpan sejuta rasa curiga terhadap Elea, ntah pikiran nya begitu terganggu, dan Rangga nampak tidak konsentrasi dengan game online yang sedang ia mainkan bersama Dylan.
" Ga, yang bener dong! tuh kan kalah! " ucap Dylan sambil menepuk jidatnya.
" Kamu gimana sih main nya, dari tadi kalah terus!" Celoteh Dylan
Rangga menyadari, bahkan ia sempat melamun beberapa menit sampai ia tidak sadar kalau sedang bermain game.
" Vin, kamu tidak curiga kalau ini semua akal-akalan Elea agar dia bisa kencan dengan kakak kelas sialan itu?" ucap Rangga seolah pikiran itu memenuhi otak nya.
" Aku yakin, lelaki ****** itu tidak akan berani mendekati elea lagi. " jawab Alvin dengan tegas
" Aku sendiri tidak yakin, karena apa yang aku lihat waktu pagi, juno benar-benar nekat ingin mendekati elea, aku tidak akan bisa diam saja! bagaimana mungkin juno mengalahkan ku."
Rangga tidak puas dengan jawaban Alvin, karena ia sama sekali tidak merasa tenang, ntah pikiran nya mulai kacau, yang ada hanya Elea dan Elea saja!
" Kalau gitu, kita pulang saja." ucap Alvin yang mengajak keduanya untuk pulang.
" Vin, apa isi surat yang di berikan oleh pak Angga?" ucap Dylan begitu penasaran.
" Aku tidak berani membuka nya, biarkan saja aku tidak merasa membuat kesalahan untuk apa takut." tegas nya.
" Jangan sampai deh, kamu di keluarkan dari sekolah vin, nanti nggak ada yang kasih contekan lagi. " ucap Dylan sambil tertawa , sementara Rangga masih fokus dengan pikiran nya tentang Elea.
" Besok dan seterusnya aku tidak akan memberikanmu contekan!" ucap Alvin
" nanti aku bagi deh tips dan trik mendekati siswa perempuan di sekolah ini. "
Alvin tertawa mendengar ucapan Dylan, karena selama ini ia belum pernah menyukai seseorang, karena tidak ada yang bisa menarik hati nya.
Mereka pun pulang, dan berpisah karena Rangga membawa mobil sendiri sementara Dylan ikut bersama Alvin.
Rangga hampir menabrak seseorang karena tidak fokus mengendarai mobil, ntah pikiran nya terlalu kacau.
ia takut, Elea semakin terperangkap oleh rayuan juno, karena Elea begitu polos meskipun ia menyebalkan dan juga pecicilan namun ia mampu menarik perhatian Rangga.
" Elea, please go away!"
Rangga mulai bersikap acuh dan membuang semua pikiran tentang Elea namun tetap saja ia tidak bisa.
" kenapa aku tidak mencuri ponsel nya dan memasang maps untuk melacak keberadaannya, sialan!"
Rangga menghentikan mobil nya, ia beristirahat sejenak di kedai kopi yang biasa ia kunjungi bersama kedua sahabatnya, namun kali ini ia hanya sendiri.
Rangga memesan satu gelas ice coffe untuk meredakan pikiran nya.
Namun, kedua bola mata Rangga nampak terbelakak ketika melihat ke arah sudut meja paling kanan.
Ia melihat Juno sedang asik mengobrol dengan wanita, Rangga memperhatikan gerak gerik wanita itu dan nampak nya itu bukanlah Elea melainkan Kakak kelas yaitu ketua cheers, bernama Nabila.
Rangga naik pitam, bisa-bisa nya Juno bersikap seperti itu di belakang Elea.
Rangga pun menarik Juno, untuk keluar dari Kedai Baperin , ia tidak bisa menahan emosi nya.
Juno nampak terkejut ketika Rangga mulai memukul nya.
" Lelaki ******, sudah berapa wanita yang kamu ajak kencan terus kamu sakiti ?" ucap Rangga seolah ia tidak akan mau Elea jadi korban untuk selanjutnya.
" Apa urusan mu!" ucap Juno yang juga memukul Rangga.
bughhhh..... plakkk.....
Namun Rangga berhasil mengelak, dan menjauh sehingga pukulan yang Juno berikan nampak melesat.
Kedai itu sangat ramai, ketika terjadi perkelahian antara Juno dan Rangga, sementara wanita yang sedang bersama juno hanya bisa menjerit dan sesekali ingin menarik Juno. Namun Rangga semakin naik pitam, pukulan demi pukulan ia tujukan kepada Juno sampai bibir kanan Juno memar dan berdarah.
Rangga menarik kerah baju juno, dan memperingati juno mengenai Elea.
" jangan sampai Elea menjadi korban kamu selanjutnya, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. " ketus Rangga lalu mendorong tubuh Juno sampai ia terjatuh dan tersungkur lalu, wanita itu membangunkan tubuh Juno yang terkulai lemas.
Pemilik kedai pun datang, dan menghampiri Rangga namun ia tidak berani mengusir Rangga, karena kedai ini merupakan milik kekuasaan keluarga dokter fandy, ia hanya mengelola saja dan mengembangkan usaha nya, sementara dokter fandy lah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas kedai ini
" Maaf atas kejadian ini, tapi bisa kau pastikan lelaki ****** itu tidak akan datang lagi ke kedai ini?" ucap Rangga kepada pemilik kedai dan tidak lain adalah teman dari dokter Fandy.
" Baik tuan muda. " ucap nya begitu takut, karena bagaimana pun kedai ini berdiri atas ijin dokter fandy, karena ia hanya diberikan kepercayaan untuk mengelola nya.
Rangga pun pergi dari kedai baperin ia semakin yakin dengan perasaannya sendiri terhadap elea, ia juga berjanji akan menjauhkan elea dari lelaki sialan seperti Juno.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Guys, di Vote dong biar author semangat!
Btw selamat untuk pemenang Giveaway merchandise novel My doctor is My Husband silahkan cek story Instagram author untuk mengetahui pemenang nya.
bagi yang belum menang, semoga di part 2 nanti ada kesempatan yah :)