
Kiara tersenyum ketika Alvin baru saja datang, sepulang sekolah Alvin tidak pulang dulu ke rumah, melainkan pergi ke Rumah sakit untuk menengok keadaan ayah Kiara.
Hampir setiap hari Alvin selalu meluangkan waktu untuk menemani Kiara di rumah sakit, ia membawa makanan untuk Kiara, memang bentuk perhatian Alvin membuat Kiara begitu luluh, Kiara bahkan sudah tidak tahu sejauh mana perasaan nya terhadap Alvin.
" Vin, terimakasih atas semua nya. Padahal aku bukan siapa-siapa kamu!" ucap Kiara
Karena Kiara sendiri bingung, sampai detik ini Alvin belum pernah menyatakan perasaannya sendiri, Kiara takut semakin hari ia semakin terpukau dan terhanyut oleh perasaannya sendiri kepada Alvin sedangkan Alvin tidak pernah menyatakan perasaan nya kepada Kiara.
..." Sebenarnya apa sih hubungan kita saat ini vin?"...
" Memangnya salah, aku hanya ingin menemani kamu saja ra!" ucap Alvin yang terdiam sejenak, ia sendiri bingung dengan perasaannya, Alvin tidak berani mencintai seorang wanita, apalagi wanita seperti Kiara, ia takut akan menyakiti hati nya.
" Vin, Aku takut kalau sampai terbawa perasaan!" ucap Kiara yang seolah membuat Alvin begitu terkejut, Kiara sudah lama memendam semua perasaan suka nya terhadap Alvin, apalagi sikap Alvin yang selama ini membuat Kiara begitu terpukau.
Alvin menatap Kiara, Kiara menundukkan kepalanya ia nampak malu, kalau harus mengakui perasaannya sendiri kepada Alvin.
" Maksud nya Ra?" ucap Alvin yang tidak paham dengan ucapan Kiara.
" Aku juga sama seperti wanita lain Vin, kalau saja ada yang memberikan perhatian lebih kepadaku, aku takut tenggelam terlalu jauh dalam perasaan!" ucap Kiara
Alvin nampak terdiam, ia sebenarnya mengerti dengan apa yang di maksud oleh Kiara. Namun sampai sekarang, Alvin masih belum bisa menyatakan semua perasaanya.
" maafkan aku Ra , aku belum bisa jujur dengan perasaanku, Aku sendiri butuh waktu untuk belajar mencintai mu , karena aku takut menyakiti mu...."
" Vin, maaf atas semua ucapanku tadi!" ucap Kiara yang tidak enak hati, karena Alvin tiba-tiba saja diam mematung.
" Tidak apa-apa Ra. !" ucap Alvin
" Vin, semua sikap perhatian dan perduli kamu mungkin hanya sebatas teman, aku yang terlalu berharap ini semua lebih dari sekedar teman, aku memang bodoh...." ucap Kiara sambil mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh di ujung mata nya.
" bukan begitu maksud aku Ra...." ucap Alvin yang hendak menjelaskan semuanya.
" Aku takut mencintaimu vin , aku takut semua perasaan ini jatuh terlalu jauh. aku tidak ingin bertepuk sebelah tangan..." ucap Kiara yang menangis.
" Ra, aku ....." belum sempat membalas ucapan Kiara .
Namun, tiba-tiba saja Kiara di panggil oleh petugas Administrasi rumah sakit, ia ingin membicarakan mengenai biaya operasi yang akan di lakukan untuk kesembuhan Ayah nya, Kiara langsung mengusap air matanya, tanpa sadar ia berbicara hal bodoh, yang justru merendahkan dirinya.
" apa sih ra, kenapa coba jujur sama Alvin! Aduh....."
Kiara menatap Alvin ke arah belakang, sambil berjalan menuju ruang Administrasi. Alvin nampak terdiam sambil menundukkan kepala, Kiara nampak bersalah dengan semua kejujurannya secara tiba-tiba, mungkin Kiara lelah dengan semua beban pikirannya, sampai ia tidak bisa menahan emosi nya.
Kiara di arahkan kebagian resepsionis untuk merinci semua biaya perawatan dan biaya operasi untuk ayah nya.
" Jadi total nya 85 juta ?" Ucap Kiara sambil melotot ke arah selembar kertas yang baru saja di berikan.
" Iya itu total nya mbak, apabila ingin di percepat operasi nya, silahkan melunasi sebagian biaya nya terlebih dahulu!" ucap Resepsionis itu.
Kiara nampak bersedih, ia tidak tahu harus membayar semua biaya rumah sakit,sedangkan ia tidak memiliki tabungan yang mencapai puluhan juta.
Tiba-tiba saja dokter Daniel menemui Kiara yang sedang berdiri di dekat ruang Administrasi.
" Kiara, jangan khawatir. Aku sudah membayar sebagian biayanya." ucap Dokter Daniel.
" Terimakasih dokter Daniel, kalau tidak ada dokter Daniel mungkin saja, aku tidak akan bisa melihat Ayah!" ucap Kiara nampak bersedih.
" Beliau kakak iparku , aku pasti akan membantu nya..."
" Semoga kebaikan dokter Daniel di balas oleh tuhan..."
Kiara sedikit lega, karena dokter Daniel sudah membantu nya, kini Kiara harus bisa bekerja di sela sela sekolah nya. Ia harus segera menemukan pekerjaan sampingan untuk menambah biaya operasi ayah nya.
" Semoga ayah kuat, aku yakin Ayah cepet sembuh!"
Alvin tiba-tiba saja berdiri di hadapan Kiara.
" Maaf aku telah membuatmu kesal, kalau begitu aku pulang dulu!" ucap Alvin sambil berjalan mendekati Kiara.
" Vin, jangan dengarkan semua ocehan aku tadi, mungkin aku kurang tidur jadi wajar dong kalau aku ngawur!" ucap Kiara yang nampak malu.
" Aku mengerti!" ucap Alvin sambil tersenyum sedikit, Alvin bahkan merasa malu dengan dirinya sendiri.
Alvin belum berani mengungkapkan apa yang ada di dalam hati nya, padahal ia sendiri sudah menyukai Kiara, entah kenapa belum ada keberanian di diri Alvin untuk mengatakan nya.
" terimakasih ya vin, kamu memang teman terbaik aku!" ucap Kiara
" Hati-hati Alvin!" ucap nya seraya berteriak
Kiara langsung membalikkan badan nya.
" bodoh, bodoh! kenapa sih kejadian tadi harus terulang! aku benci dengan kejujuran ini, bagaimana kalau Alvin sampai ilfeel!"
" Duh, Ra kenapa coba harus jujur. "
Kiara langsung berlari ke kamar rawat Ayahnya, ia merasa tidak enak hati dengan Alvin yang bahkan sudah baik kepadanya, tapi Kiara menuntut perasaannya sendiri kepada Alvin.
Elea bahkan pernah mengatakan kalau Alvin tidak pernah bersikap lembut bahkan perhatian ke wanita lain selain Kiara, namun Elea juga pernah mengatakan kalau Kiara harus bersabar untuk mendapatkan cinta nya Alvin.
" Dasar cowok dingin misterius, untuk apa memberiku perhatian, kalau tidak berani mencintai!"
Kiara bernafas dengan lega, Ayahnya sedang tertidur dengan sangat pulas, Kiara tersenyum sambil berdoa untuk kesembuhan Ayahnya.
" Ayah, aku yakin kita akan bersama-sama lagi, aku akan berusaha untuk kesehatan ayah!"
kiara memeluk ayahnya dengan sangat erat, meskipun bukan ayah kandung tapi kiara sangat menyayangi ayahnya.
setidaknya nya, Ayah lebih menghargai Kiara di bandingkan bapak kandungannya sendiri yang tega membuang Kiara.
" Kalau tidak ada ayah, mungkin aku akan terlantar di jalanan, dengan orang yang bahkan tidak menyayangi aku..."
-
Alvin masuk ke dalam mobil, ia masih mengingat semua ucapan Kiara tadi, memang kiara mengucapkan nya dengan penuh kejujuran.
" Tunggu waktu yang tepat, aku tidak ingin main-main, bahkan aku tidak ingin mencintai mu hanya dengan kata-kata Ra..."
Alvin tersenyum sembari menatap foto Kiara yang ada di handphone nya.
" Saat ini aku sedang berjuang untuk masa depanku, aku tidak ingin semuanya gagal, karena aku melakukan ini semua demi kamu!"
Alvin memang sedang fokus dengan kegiatan belajarnya, apalagi ia akan menjalani tes untuk masuk ke universitas kedokteran yang ada di Melbourne, Karena waktunya tidak lah lama. Alvin tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, ia ingin menjadi seperti ayahnya. bahkan, menikah di usia yang masih muda. Alvin ingin melakukan itu semua.
" Tunggu aku Ra..." ucap Alvin sambil tersenyum ke arah foto Kiara yang ada di handphone nya.
.
.
.
.
.
Uhuyyyyy,....
iklan bentar yah wkwk
Q: thor, kenapa up nya dikit banget sih, lama juga
A : Sabar ya kak, nanti author balik lagi dengan cerita Ralea.
Q: Kenapa Alvin gemes banget si Thor, kenapa ga nembak aja sekalian.
A : Wah, Alvin emang gitu kak! suka menggantung perasaan! wkwk tapi, namanya juga belum pernah pacaran.
Q: Thor, si Kiara kenapa ga nembak sekalian
A : Duh, jangan nanti Alvin meninggal
Q: Thor aku kangen Rangga. Jangan bully Rangga kasian ihh.
A: Anak bhaiq