
Setelah pulang dari Bandung, Adnan dan Aleyna pun mempersiapkan diri untuk terbang ke Lombok menyusul kedua sahabatnya, dan mereka tidak hanya berdua karena mereka mengajak kedua bayi nya serta Bi Nani dan Mirna tidak lupa juga Rio ikut untuk membantu keperluan Adnan, padahal Rio sebelum nya tidak pernah ikut dalam acara liburan Aleyna dan Adnan tapi, kali ini ia malah menyetujui untuk ikut ke Lombok.
-
Akhirnya hari yang di nanti pun tiba, Aleyna dan keluarga kecil nya sudah siap untuk berangkat liburan ke Lombok, impian nya bersama kedua sahabat nya akan segera terwujud, Adnan sudah mempersiapkan Jet pribadi keluarga Raden yang memang sedang tidak di gunakan oleh Ayah Raden karena dia sudah pulang dari Palopo, sedangkan Adnan juga sudah membooking tiga hotel sekaligus untuk dirinya dan Bi nani serta Rio, meskipun liburan mereka sangat singkat karena hanya berlangsung tiga hari saja namun, tidak akan memudarkan rasa bahagia Aleyna karena impian nya selama ini bisa tercapai.
" Sayang, terimakasih kau sudah mewujudkan impian ku" ucap Aleyna sambil memeluk Adnan dengan sangat erat
" Ini semua aku lakukan untuk menebus semua kesibukan ku sayang,semoga kau bahagia " ucap Adnan dengan mengecup kening Aleyna
" Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi" ucap Aleyna tak terasa air mata kebahagiaan pun mengalir begitu saja.
" Aku bingung, kenapa kau masih saja menangis? kau bilang bahagia ? tapi kau masih saja menangis " ucap Adnan merasa heran
" kamu harus bisa membedakan, tangisan bahagia sama tangisan kesedihan" ucap Adnan
" Aku tidak bisa membedakan nya, berhentilah menangis karena aku tidak ingin melihat nya" ucap Adnan lagi
" Cium dulu" ucap Aleyna dengan manja nya
" tidak mau!" gumam Adnan
" Yasudah jangan pernah mencium aku lagi! titik tidak pakai koma." ucap Aleyna sambil cemberut, ia memang kesal dengan Adnan padahal Aleyna sudah susah payah membuat momen romantis tapi, Adnan malah menghancurkan nya.
Aleyna pun membelakangi Adnan, rasa nya ia tidak akan mau melihat wajah Adnan karena ia begitu tega tidak ingin mencium Aleyna.
dasar suami durhaka!
Aleyna masih cemberut, dan melipatkan kedua tangan nya di dada nya. ia masih menyimpan rasa kesal,namun Adnan terus menggoda nya dan mencubit kedua pipi nya agar Aleyna mau berbalik arah dan menghadap ke arah Adnan namun Aleyna masih tetap kesal.
" Sayang" goda Adnan
" Tidak usah memanggil ku" gerutu Aleyna
" Kalau aku mau memanggil gimana?" tanya Adnan lagi
" terserah!"
" Jangan ngambek terus, nanti aku semakin sayang" ucap Adnan lagi sambil mencolek tubuh Aleyna
" jangan colek-colek aku!" gumam Aleyna lagi
Adnan pun menarik tubuh Aleyna dan menyandarkan nya ke tembok besar di dalam kamar nya, ia menatap wajah Aleyna dan mengecup bibir Aleyna, sementara tangan Aleyna merangkul tubuh Adnan karena ia harus berjinjit untuk menyampai tubuh Adnan yang memang jauh lebih tinggi dari tubuh minimalis Aleyna.
" Kau mau meminta aku untuk mencium mu? kau harus siap membangunkan peradilan ku" ucap Adnan dengan sesekali mengecup Aleyna
Aleyna hanya menerima saja, toh ia memang menikmati. Sedikit demi sedikit Adnan berusaha membuka tali pita yang mengikat leher Aleyna agar baju yang ia pakai bisa terlepas, Adnan sudah lama menginginkan nya apalagi setelah Aleyna kembali di dalam pelukan nya.
Adnan memejamkan mata, ia fokus pada satu orang yang kini ada di hadapan nya, wajah nya yang cantik seolah membuat Adnan terbuai dalam pelukan nya.
Adnan menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang ia lakukan bersama Aleyna.
" Jangan mencoba pergi dari ku lagi!" ucap Adnan sambil mendorong tubuh Aleyna ke kasur
Namun, tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi yang ada di kamar sebelah, tidak lain adalah tangisan kedua anak kembar mereka, yang memang sudah bangun dari tidur nya.
Adnan pun menghentikan langkah nya, ia menatap ke arah Aleyna, ada rasa kecewa yang terlintas di mata indah Adnan, karena ia gagal melakukan nya bersama Aleyna.
" mengapa kedua anak kita terbangun, di waktu yang tidak tepat" ucap Adnan sambil menghela nafas
" karena mereka tidak ingin kau melakukan nya" ucap Aleyna sambil bergegas pergi
Adnan harus menelan ludah, karena ia tidak bisa lagi menikmati masa-masa berdua bersama Aleyna karena kedua anak nya menangis.
kalau seperti ini setiap hari, aku bisa gila.
Adnan beranjak mengikuti Aleyna yang tengah menggendong anak nya.
" sayang, mengapa kalian bangun " ucap Adnan di depan pintu
" Mas, Mereka lapar " ucap Aleyna sambil memberikan sebotol susu untuk Alvin dan Elea
" Ma-ma-ma " gelak tawa kedua anak kembar nya ketika melihat ke arah Adnan
" kenapa sayang? mamah jahat yah? iya mamah jahat banget, daddy sudah lama tidak di sayang!" ucap Aleyna ke arah Elea dan Alvin, tapi mereka hanya tertawa
" Bu-bu-bu... "
" Iya daddy nggak jadi bobo, gara-gara kalian terbangun" ucap Adnan lagi sambil mencium gemas anak nya.
" Bukan kah kamu ingin mempunyai anak lagi? " tanya Aleyna sambil menggendong Elea dan Adnan yang menggendong Alvin
dua saja aku hampir gila !
" kita tunggu Alvin dan Elea besar dulu, karena kasihan kalau mereka masih kecil seperti ini sudah memiliki adik, karena aku takut kau tidak bisa membagi waktu mu" ucap Adnan
" waktu untuk mengurus anak-anak apa waktu untuk melayani kamu Mas" ucap Aleyna sambil tertawa
" Kalau itu jangan di tanya, kepala ku sudah mulai pusing " Gerutu Adnan
***
-
Keluarga Adnan memang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pergi liburan, sebenarnya kalau Mirna tidak ikut, Rio malas sekali untuk ikut ke Lombok, ntah Rio sekarang lebih rajin sampai ia menyuruh Adnan untuk diam di rumah karena segala urusan jet pribadi atau keberangkatan nya sudah Rio atur.
Rio sendiri mengatakan kalau, Jet pribadi milik keluarga Raden sudah mendarat kemarin pagi, dan segera ia meminta ijin kepada Raden untuk menggunakan kembali jet Pribadi tersebut untuk membawa keluarga besar Adnan ke pulau Lombok sesuai permintaan Aleyna karena ia membawa dua anak kembar nya kalau saja memakai pesawat terbang biasa takut nya para penumpang lain terganggu dengan tangisan kedua anak nya. Tanpa perlu menunggu waktu yang lama, akhirnya Raden mengijinkan mereka untuk memakainya toh, Jet pribadi milik keluarga Raden memang cukup mewah dan memiliki fasilitas nya yang mumpuni yang dapat memuaskan penumpang nya.
setelah selesai memberikan laporan mengenai jet pribadi kepada Adnan, Rio pun menghampiri Mirna yang tengah selesai membersihkan halaman depan rumah Adnan.
" Selamat pagi, Mirna." ucap nya sambil tersenyum
" Kak, maksud aku Pak Rio" ucap Mirna ia terbiasa memanggil Rio dengan panggilan kakak, padahal Rio sendiri adalah orang terpercaya keluarga Raden
" Kau boleh memanggil ku Kakak" ucap nya sambil tersipu malu
" Tidak Pak, bagaimana pun saya bekerja di rumah ini, sangat tidak sopan kalau saya memanggil Pak Rio dengan sebutan kakak" ucap Mirna sambil menundukan pandangan nya.
Bisa-bisa nya aku mengatakan hal konyol seperti tadi.
" Maksud ku, Ada panggilan lain kecuali bapak karena terlalu formal" ucap Rio yang mencari alasan saja,untuk menutupi rasa malu nya
Mirna hanya tersenyum, ia bahkan tidak berani menatap wajah Rio karena ia takut kalau ia terjebak perasaan sedangkan Rio dan dirinya sangatlah berbeda, Mirna bukan wanita yang berpendidikan seperti Rio dan Mirna sadar akan hal itu.
" Saya lebih suka memanggil bapak Rio saja" ucap Mirna sambil bergegas pergi meninggalkan Rio
kau boleh memanggil ku bapak, karena aku bapak dari anak anak kita nanti... .
Rio semakin terpukau dengan sikap Mirna, ia baru kali ini menemuka wanita yang benar-benar baik bahkan ia mulai menyadari ada nya sikap Mirna yang membuat detak jantung Rio seperti ingin berhenti berdetak padahal kalau saja Rio menginginkan wanita lain ia bisa saja dengan cepat mendapatkan nya tapi Mirna? Rio tidak yakin ia bisa mendapatkan nya dengan mudah.
Adnan pun menghampiri Rio yang tengah berdiri di halaman depan sambil menatap kepergian Mirna.
" Kalau orang sedang jatuh cinta memang akan lupa dengan segala nya" ucap Adnan sambil berdiri di belakang Rio dan membuat Rio begitu terkejut
" Pak, maaf saya tadi sedang menanyakan Mirna saja tidak lebih" ucap Rio dengan perasaan gugup nya
" Masih saja ngeles!" ucap Adnan
" Pak, kalau begitu ayo kita berangkat. " ucap Rio ia hampir saja lupa
" Bantu Pak supir angkut barang-barang ke bagasi saja" ucap Adnan
Rio pun bergegas menuju ke dalam rumah untuk membantu mengangkat barang-barang yang sudah di masuk kan ke dalam koper, lalu sesekali mata nya tertuju kepada Mirna yang sedang menggendong Elea, di samping bi Nani yang sedang menggendong Alvin.
Sampai, Rio pun tidak fokus dan sesekali hendak menabrak pintu , Mirna pun hanya membalas senyuman Rio ia memang terhibur dengan ada nya Rio.
" Mirna tolong cek semua keperluan anak-anak ku, apa sudah lengkap ?" ucap Aleyna yang meraih Elea dari tangan Mirna
" Sudah bu" ucap nya
" Bibi, jangan lupa kunci semua pintu rumah dan berikan kunci nya ke security" ucap Aleyna layak nya nyonya di rumah nya.
kali ini, Adnan menggunakan dua mobil untuk berangkat menuju Bandara, dan meskipun Jet Pribadi tersebut milik perusahaan keluarga Raden tapi Adnan hanya bisa memakai nya kalau sedang tidak ada kegiatan karena jet pribadi tersebut di kelola oleh pihak perusahaan, sementara di kelola juga oleh pihak maskapai udara, agar bisa terjaga dan terawat dengan baik.
*
Setelah sampai di bandara, tak menunggu waktu lama keluarga Adnan beserta rombongan lain pun akan terbang menuju ke Pulau Lombok, mereka menikmati Fasilitas yang ada di jet pribadi tersebut bahkan mereka di dampingi oleh pilot yang sudah berpengalaman membawa keluarga besar Raden dan di dampingi oleh pramugari yang sangat piawai dalam melayani.
Jet Pribadi itu pun sudah terbang meninggalkan kota jakarta,dan segala kenangan indah di sana.
" Yuhu, Lombok I'm Coming " Teriak Aleyna terpancara kebahagiaan di raut wajah nya, tak henti Adnan selalu mencium kening Aleyna
" kamu bahagia kan ?" Tanya Adnan lagi
" Sangat bahagia sayang" ucap Aleyna.
Sementara Bi Nani sedari tadi hanya memegang kedua pelipis nya karena sudah mulai mual dan pusing.
" Aduh non, bibi sudah pusing" ucap Bi Nani. karena memang ia tidak biasa pergi menggunakan pesawat terbang atau jet pribadi .
" Mas, bawa obat kan?" ucap Aleyna
" Rio, tolong berikan obat pusing untuk bi Nani" ucap Adnan
Rio pun membuka kotak obat yang memang sering ia bawa kemana mana untuk menjaga kesehatan nya.
" Bi, coba minum obat dulu" ucap Rio dan di bantu oleh pramugari yang membangunkan tubuh bi Nani agar tidak pusing
" Mama, bagaimana masih pusing apa nggak Ma?" ucap Mirna dengan bahasa sunda nya yang alus.
" Mama mau tidur saja" balas Bi Nani
" Yasudah Bi Nani tidur dulu saja, nanti sebentar lagi sampai" ucap Rio
kemudian, Mirna dan Rio pun membantu Bi Nani menyandarkan kepala nya.
" untung kita bukan orang kaya neng" ucap Bi Nani kepada Mirna
" memang kenapa Ma?" Tanya Mirna
" Pake pesawat saja kepala mama muter muter kayak di naik komedi putar" ucap Bi Nani
Rio dan Mirna pun tertawa dan saling tatap, kemudian Rio pun hendak berdiri namun terhenti ketika kepala nya saling berbenturan dengan Mirna.
" Aduh!" ujar Mirna ketika kepala nya terbentur kepala Rio
" Sakit yah!" ucap Rio
" sedikit pak" jawab Mirna lagi
sampai kedua nya, saling menatap dan tersenyum malu, ada celah di hati Rio untuk Mirna karena Rio begitu tulus hanya butuh waktu saja untuk mereka bisa menjalin kasih, dan butuh keberanian bagi Rio untuk mendapatkan Mirna .
*Rio Pratama
*Meriana Farasia ( Mirna)
Guys, masih setia membaca novel ini ?
sok atuh di Vote , di Like, di Komen