My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Kebohongan besar



Setelah selesai melaksanakan rapat, Adnan pun menghampiri Ayah nya karena sudah hampir sebulan ini Adnan tidak bertemu dengan ayah nya sendiri, karena kesibukan seorang direktur utama seperti Raden membuat nya jarang sekali berada di rumah, bahkan bunda Widya pun sampai kesal karena hanya bertemu dua kali dalam sebulan dengan Raden.


Ceklek......


Adnan pun membuka setengah pintu ruangan Raden, bahkan Raden pun dalam kondisi tidak sehat, ia sering sekali batuk terus menerus, karena akhir-akhir ini ia memang jarang sekali untuk sekedar istirahat di rumah karena pekerjaan nya yang menyibukkan.


'' Ayah, apa kau baik-baik saja?''Ucap Adnan sambil memasuki ruangan khusus Ayah nya.


'' nak, masuklah...'' ucap Raden sambil batuk terus menerus


" ayah lebih baik ayah istirahat dulu, Adnan tidak ingin melihat ayah dalam keadaan batuk seperti ini, serahkan semua nya kepada Adnan" ucap Adnan sambil memaksa Raden untuk berhenti dari tugas-tugas nya, Meskipun Raden ngeyel tidak ingin berhenti tapi Adnan tidak akan tinggal diam, ia terus memaksa Ayah nya meskipun Ayah nya memang sangat keras kepala.


Raden nampak tersenyum melihat sikap Adnan, bahkan ia sangat bangga dengan anak semata wayang nya itu, yang kini telah berubah menjadi sosok yang dewasa bahkan menjadi anak yang begitu baik. Entah, Raden sangat bahagia melihat Adnan seperti ini.


Tapi, akan kah Raden bisa terus melihat Adnan, dan mendapatkan perhatian dari seorang Adnan, sedangkan ia tidak tahu sampai kapan ia hidup dan bisa bernafas seperti ini, sedangkan usia nya sudah tidak muda lagi.


" ayah.... " Panggil Adnan lagi


Raden pun menuruti keinginan Adnan, bahkan Adnan menyuruh nya untuk berbaring, ia memeriksa keadaan Raden bahkan dengan sangat telaten, Adnan tidak ingin melewati kesempatan ini, apalagi ia sekarang ingin membalas semua kebaikan Raden terhadap nya.


kalau bukan karena kedua orang tua nya, Adnan tidak akan bisa seperti sekarang, ini waktu nya Adnan membalas semua kasih sayang orang tua nya.


" ayah, lain kali serahkan semua pekerjaan ayah kepada Adnan, ayah sudah terlalu tua untuk mengurus semua pekerjaan di rumah sakit ." Ucap Adnan setelah selesai memeriksa suhu tubuh Ayah nya.


" bagaimana kabar menantu kesayangan ku, dan juga kedua cucu kembar ku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. " Ucap Raden yang mengalihkan pembicaraan, karena ia tidak ingin berdebat terus menerus dengan Adnan mengenai pekerjaan nya.


" Mereka baik-baik saja, dan aku mempunyai kabar baik. " Ucap Adnan sambil tersenyum ke arah Raden


" kabar baik apa? " Tanya Raden begitu penasaran


" aleyna hamil lagi, dan kau akan mempunyai cucu yang banyak" ucap Adnan


" haha, kau memang hebat. sayang sekali Ayah dan bunda hanya memiliki satu anak" jawab Raden


" Kau bahkan jangan berpikir untuk menambah nya lagi Ayah." Ucap Adnan sambil tertawa


" tidak mungkin nak, karena Ayah hanya memiliki satu anak yaitu kamu, meskipun ayah dan bunda mu tidak di karunia lagi" ucap Raden


" tidak apa-apa Ayah, minum obat terlebih dahulu, lalu istirahat" ucap Adnan sambil menyelimuti Ayah nya.


" nak, ayah sangat bangga kepada mu, semoga bisa terus menerus mendampingi kamu seperti ini." Ucap Raden begitu terharu


" Ayah aku akan selalu mendampingi Ayah, jadi sekarang istirahat lah Aku tidak ingin melihat mu bekerja lagi, biar aku yang menggantikan mu." Ucap Adnan sambil memberi peringatan kepada Raden untuk beristirahat.


Maafkan Ayah, Karena Ayah bukan lah pria yang baik seperti mu Nak, Ayah bahkan tidak lebih dari seorang pecundang besar.....


Akhir- akhir ini memang Raden tidak tinggal bersama Widya karena Widya sudah mengetahui kebohongan besar yang Raden lakukan terhadap dirinya, Tanpa sengaja Widya melihat kebersamaan antara Raden bersama wanita lain, bahkan saat itu Widya meminta penjelasan terhadap Raden mengenai wanita yang sedang bersama nya di hotel.


Raden mengakui kalau ia memang sudah menikah lagi bersama wanita lain yang bahkan jauh lebih muda, bahkan usia nya hampir sama seperti Adnan, bahkan Raden sudah lebih dari tiga tahun menikahi gadis itu, yang kini menjadi istri kedua dari Raden.


widya pun marah besar terhadap Raden, karena selama ini ia mengkhianati kasih sayang yang tulus , memang kekurangan Widya yaitu ia tidak bisa memberikan keturunan lagi, karena rahim nya telah di angkat akibat penyakit yang mematikan, namun sampai sekarang Widya masih tulus mencintai Raden, tapi apa yang Widya dapatkan hanya lah rasa pahit saja.


Raden sendiri belum menceritakan semua kejadian ini kepada Adnan, ia tidak ingin membebani pikiran Adnan karena keretakan rumah tangga kedua orang tua nya.


-


" Ayah, apa kabar bunda ? sudah lama aku tidak bertemu dengan nya" ucap Adnan yang baru saja datang dengan membawa obat-obatan yang di perlukan oleh Raden


" Dia baik-baik saja, tapi Ayah sangat berharap kamu bisa mengunjungi Bunda, karena dia sangat merindukan mu " ucap Raden meskipun perkataan nya bertentangan , bahkan Raden sendiri tidak mengetahui keberadaan Widya yang sampai sekarang jauh dari nya, Karena Raden sudah pisah rumah dengan Widya setelah Widya mengusir nya dari rumah nya itu.


" Setelah selesai menangani kasus ini, aku akan mengajak Aleyna dan kedua anak ku untuk berkunjung ke rumah " ucap Adnan sambil tersenyum, ia memang sudah merindukan suasana rumah nya itu.


Kau secepatnya akan mengetahui Nak, bagaimana hubungan Ayah dengan Bunda saat ini.


" Memang nya ayah tidak merindukan Bunda, karena Ayah hanya sebulan dua kali untuk bisa bertemu dengan Bunda." tanya Adnan sambil merayu Ayah nya.


Uhuk .. Uhuk...


Tiba-tiba saja Raden batuk, bahkan ia tidak bisa menjawab pertanyaan konyol dari Adnan, ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi menunggu waktu yang tepat dan Raden yakin Adnan tidak akan menerima ini semua.


" Ayah .... " sahut Adnan nampak khawatir ia langsung mengambilkan air putih yang sudah tersedia di meja kecil.


" Ayah perlu istirahat, lebih baik kau melanjutkan pekerjaan mu saja. " ucap Raden mencoba menjauhi perbincangan mengenai Widya karena ia tidak ingin salah mengucapkan kata demi kata, karena Raden Janji akan mengatakan yang sebenarnya kepada Adnan namun menunggu waktu yang tepat.


" Dulu ketika aku masih kecil, aku ingin sekali menjadi dokter seperti mu, kau bahkan sangat mencintai pekerjaan mu, dan juga sangat menghormati Bunda, dan pada saat itu aku berjanji ingin menjadi orang hebat seperti mu." ucap Adnan sambil tersenyum ke arah Raden


Aku bahkan bukan ayah yang baik, tapi aku adalah seorang pendosa, kau tidak layak seperti ku, karena kau begitu baik.


" Aku bukan lah Ayah yang kamu banggakan, tapi kamu adalah anak yang paling ayah banggakan, jadi lah dirimu sendiri karena kamu jauh lebih baik dari Ayah." ucap nya


Adnan nampak heran dengan perkataan Ayah nya, bahkan ia melihat ada sudut perbedaan ketika ia sedang membicarakan bunda nya.


Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ayah dan Bunda ....


Adnan tidak ingin terlalu mengetahui nya, karena ia yakin Ayah nya akan selalu menjaga dan mencintai ibunda nya, karena Adnan percaya penuh terhadap sosok Ayah yang ia bangga kan selama ini.