
Dalam perjalanan, pikiran Saka tidak karuan ia bahkan terus memikirkan Elea, ia mengerti bagaimana Elea begitu tertekan.
Saka memutar balik mobil nya ke arah rumah Elea, karena ia begitu paham ketika seseorang dalam keadaan tertekan, mereka akan melakukan hal di luar batas, apalagi kalau seseorang itu sedang sendirian . Saka tidak ingin Elea melakukan hal yang tidak di inginkan, Bahkan kejadian seperti ini banyak sekali menimpa pasien nya dulu ketika melakukan penelitian.
" Aku memang tidak bisa menggantikan seseorang di hatimu elea , tapi aku bisa jadi teman mu..."
Ntah, Saka begitu mengkhawatirkan Elea padahal ia baru kenal semalaman dan hari ini saja, tapi rasanya ia sudah mengenal elea begitu dekat, apalagi setelah dokter Adnan memarahi nya.
Hari semakin malam, mobil saka sudah parkir di depan rumah Elea kebetulan Security rumah Elea sudah mengenal Saka, dan ia mempersilakan Saka memasuki rumah Elea.
Saka berdiri di depan pintu, ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu rumah atau memencet bel rumah Elea, dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Saka mencoba menenangkan diri lalu memencet bel.
Tak lama setelah suara bel berbunyi, salah seorang asisten rumah tangga dari keluarga dokter Adnan pun keluar membukakan pintu.
" Maaf , ada yang bisa di bantu?" ucap salah seorang Asisten rumah tangga.
" Saya temannya Elea!" ucap Saka sambil sedikit ragu.
" silahkan masuk!" ucap nya.
Saka untuk pertama kali datang dan bertamu ke rumah seseorang yang bahkan baru pertama ia kenal, ntah Saka begitu mengkhawatirkan Elea, ia ingin sekali membantu Elea dari keterpurukannya.
Tak lama Elea pun turun dari tangga dengan menggunakan piyama tidur nya, dan wajah nya sedikit kusut tanpa seulas make up sedikitpun, namun kecantikan alami seorang Elea nampak terpancar.
Saka menelan ludah, ia langsung bersikap seperti biasanya.
" Kebetulan kamu datang ke rumah, bawa aku pergi sekarang juga!" ucap Elea dengan nada sedikit keras.
" Pergi kemana? ini sudah malam, lagi pula aku kesini hanya untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja!"
" Ha! begitu perdulinya kamu sama aku, atau memang merasa iba?"
Elea langsung menarik kerah baju Saka, dan ia langsung mengikuti keinginan Elea.
" sebenarnya kamu mau mengajak ku kemana?" ucap Saka yang terus menerus menanyakan kemana Elea akan membawanya pergi, sedangkan Elea hanya mengenakan piyama.
Elea mendorong tubuh Saka untuk masuk ke dalam mobil, sementara Elea mengambil alih kunci mobil saka, Ntah Elea begitu sangar, mungkin karena perasaannya sedang tidak tenang.
" Kamu jangan gila! biar aku saja yang mengendarai nya...."
Saka mencoba mengambik Alih kunci mobil nya namun, tetap saja Elea pemenang nya.
" Sudah, pakai saja sabuk pengamanmu, buat jaga-jaga kala nanti ada kecelakaan!" ucap Elea sambil menatap sinis wajah Saka.
Saka hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa mengontrol diri Elea,yang semakin menjadi.
" Tidak, aku masih ingin hidup, kalau kamu mau mati duluan, silahkan!" ucap saka dengan sedikit berteriak, namun Elea menutup mulut Saka dengan telapak tangan nya.
" Jangan bermain dengan ku, Dokter kejiwaaan!" ucap Elea sambil mengangkat alis sebelah kiri nya.
Elea menekan gas dengan sangat kencang, keluar dari gerbang besar rumah nya, tanpa dokter Adnan ketahui karena Dokter Adnan sudah tidur.
Tepat pukul 22.35 wib , Elea mengendarai mobil dengan sangat kencang sambil berteriak.
" Aku benci hidup, aku benci semua yang ada pada diriku!"
" el, aku mohon fokus mengendarai mobil nya." ucap Saka sambil berteriak.
Tak lama mobil yang elea kendarai berhenti di sebuah club malam Night' 721 Club malam yang belum pernah Elea kunjungi, karena sebelumnya Elea tidak pernah pergi kesana, namun karena perasaannya sedang tidak karuan, yang ada di dalam pikirannya hanyalah Rangga, Elea merasa frustasi dengan hayalan dan harapan yang amat besar kepada Rangga, namun pada akhir nya, Rangga hanyalah luka yang tidak pernah ia sadari selama ini. Luka yang amat dalam, sampai merubah diri Elea yang begitu manis menjadi sangat dingin dan arogan bahkan nakal.
" untuk apa pergi ke tempat ini!" ucap saka sambil menarik lengan Elea untuk cabut dari tempat ini, namun Elea meronta, dengan memakai piyama ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam club, dengan musik yang sangat kencang, lampu yang berkilau dan sedikit gelap, banyak yang berjoget mengikuti irama musik dj, sambil memegang botol.
Elea masuk sambil di temani oleh Saka yang sedari tadi memarahi elea namun Elea tidak mendengarkan nya, mungkin dengan minum sedikit alkohol bisa menenangkan hati Elea, atau malah sebaliknya.
" Cukup Elea, masa depan mu masih panjang, jangan kamu hancurkan seperti ini hanya karena lelaki yang tidak berkomitmen!" ucap Saka dengan menarik elea untuk keluar dari tempat itu, namun Elea masih sangat kekeh dan keras kepala.
" Aku mohon,untuk malam ini saja aku menikmati hidup, yang sebelumnya tidak pernah aku lakukan, aku mohon Saka beri aku waktu untuk menghibur diri !"
Elea meneguk wine itu, dan tenggorokan nya merasa panas karena ia baru pertama kali meminum nya.
Saka sudah hampir berapa kali menasihati namun , ia juga tidak berhak atas diri Elea,karena Saka hanya sekedar teman Elea. Mungkin saja Elea butuh penenang namun ini bukan jalan nya.
Saka terus menemani bahkan menjaga Elea dari kenakalan cowok-cowok di club malam ini , sudah berapa botol wine yang sudah Elea habiskan, bahkan membuat Elea tidak sadarkan diri, Saka langsung membayar dan menggendong Elea pergi dari tempat club itu, ia bahkan sangat berhati-hati menjaga Elea.
" Rangga, aku mohon! jangan pergi!"
" Bagaimana masa depan kita?"
" Bukankah kamu berjanji akan menjagaku!"
" Aku benci semua janji palsu kamu!"
" Aku benci semua yang ada pada diri kamu!"
Elea pun terhanyut , bahkan kedua bola mata nya terpejam namun mulut nya masih berbicara.
" Elea, lelaki di dunia ini masih banyak yang akan menjagamu, bukan hanya Rangga, bahkan aku juga bisa menjaga kamu lebih dari Rangga..."
Elea terbangun, dengan tatapan yang masih sangat samar, ia menatap wajah Saka seolah Rangga lah yang ada di depan nya.
" Rangga?"
" kamu beneran Rangga kan?"
Elea menyentuh rahang Saka yang ia kira sebagai Rangga.
" el, ini aku Saka!" ucap nya sambil terus menyadari Elea.
elea memeluk saka dengan sangat erat, bahkan pelukan itu ia rasa seperti pertama kali memeluk Rangga , Elea menyentuh bagian sensitif Saka yaitu bibir tipis nya dengan sedikit kumis yang tidak seberapa.
" Aku mencintaimu Rangga!" ucap Elea
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Nahloooooo, maafkeun baru bisa update maklum punya anak bayi itu super repot, maunya nempel sama mama nya terus jadi author susah punya waktu luang,dan ini juga kalo libur ayah nya, jadi bisa gantian gtuuuuu......