My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Ngidam



Padahal hari ini ada jadwal operasi kecil tapi tiba-tiba saja badan Adnan terasa lemas, bahkan ia tidak bisa beranjak dari sofa di ruangan nya, padahal sebelum nya ia merasa sehat, tapi setelah mencium bau obat-obatan , Adnan pun merasa mual dan bau nya menusuk ke lubang pernafasan nya, dan tubuh nya di rasa sangat lemas padahal ia sudah minum vitamin.


" Dok, anda kenapa?" ucap Suster Indah yang menghampiri Adnan di ruangan nya, ia terkejut melihat Adnan bersandar di sofa padahal ia seharus nya ada di ruang operasi setengah jam sebelum operasi di mulai.


" Apa anda sakit dok?"


Suster Indah pun menyentuh dahi Adnan namun, tidak terlalu panas, dan aneh nya Adnan seolah tidak bergairah.


" Tidak apa-apa, saya hanya lemas dan ngantuk saja." sahut Adnan padahal ia semalam tidur sangat lama.


Apa yang terjadi dengan ku?


mengapa tubuh ku lemah seperti ini...


Adnan memang jarang sekali sakit, karena ia selalu menjaga daya tahan tubuh nya, namun untuk hari ini ia tidak bisa bekerja sama sekali, untuk berjalan saja, ia merasa tidak kuat.


" yasudah dok, lebih baik istirahat saja. kalau memang tidak enak badan. "


" tidak,saya akan segera ke ruang operasi."


Suster Indah keluar dari ruangan dr. Adnan setelah menaruh segelas air putih dan vitamin nya, ia nampak khawatir dengan dr. Adnan, namun Adnan mengatakan kalau operasi nya akan berjalan, padahal ia sendiri sedang terkulai lemas.


Suster indah tidak bisa berkata apa-apa, ia malah menuruti saja keinginan dr. Adnan, karena kalau bukan dr. Adnan, lantas siapa lagi yang akan melakukan tindakan operasi karena ia adalah ahli nya, meskipun banyak dokter bedah yang lain, namun mereka sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing.


Dengan wajah yang sangat pucat, dr. Adnan pun keluar dari ruangan nya. Ia tidak ingin mengabaikan pekerjaan nya hanya karena fisik nya yang sedang lemah, ia menggunakan masker penutup hidung, dan telah berganti pakaian.


" Kenapa dokter Adnan terlihat pucat sekali?" ucap dr. Chan ketika melihat wajah Adnan


" Tidak apa-apa, hanya sedikit lemas saja." ucap nya


namun pekerjaan nya adalah tanggung jawab nya, Adnan tidak akan bisa mengabaikan pekerjaan nya, meski tubuh nya sangat terkulai lemas namun ia berusaha untuk tetap profesional dengan pekerjaan nya.


Setelah melakukan operasi, Adnan pun terkejut dengan kedatangan Fandy yang tengah berada di ruangan nya.


" ini permintaan terbodoh yang aku lakukan!" ucap Fandy begitu heran.


" Apa maksud mu?" ucap Adnan sambil mencuci tangan


Akhir- akhir ini memang permintaan Reyna sedikit aneh, namun Fandy harus bisa mengerti karena Reyna sedang hamil, tapi kali ini permintaan Reyna sungguh di luar dugaan Fandy, Karena Reyna ngidam ingin mengelus hidung mancung Adnan, padahal seharus nya Reyna mengelus hidung Fandy, tidak beda jauh dengan hidung Adnan...


" Haha, mengapa istri mu meminta aku?" ucap Adnan sambil tertawa


" Aku tidak tahu, permintaan orang hamil kadang aneh-aneh. untung saja dia tidak ngidam ingin di beliken helicopter " cerocos Fandy


" kalau nanti anak mu mirip dengan wajah ku, nanti jadi tanda tanya" ucap Adnan lagi sambil meledek Fandy


" Sialan, jangan sampai itu terjadi." ucap Fandy


Dan di balik obrolan antara Fandy dan Adnan, tiba-tiba saja Daniel datang menghampiri mereka dengan wajah kusut nya, karena ia memang kurang tidur akibat Susan terus mengganggu nya.


" Lah ini kenapa juga?" ucap Adnan lagi sambil menatap Daniel dengan heran


" Kenapa ?" tanya Fandy lagi.


" Apa wanita hamil begitu menjengkelkan?" ucap Daniel sambil membantingkan tubuh nya ke sofa di ruangan Adnan


Fandy dan Adnan saling menatap, mereka sesekali mentertawakan Daniel yang sudah pasrah...


" Istri mu ngidam apa Niel?" tanya Adnan


" Kau tahu, semalam aku suruh memakai Bikini dan menemani dia nonton drama sampai pagi, sedangkan dia tidur. Dan dia menyuruhku untuk menonton" ucap Daniel sambil mendengus kesal.


" Haha, dan kau memakai bikini seharian di rumah?" ucap Adnan sambil terus tertawa.


" Iya, menjengkelkan... "


" Haha, Dan kau tahu Reyna menyuruhku untuk membawa Adnan ke rumah karena ia ingin mengelus hidung nya." sahut Daniel sambil menepuk jidat


" Haha, Anak mu lebih menyukai Adnan" ucap Daniel sambil tertawa


" Kau tahu, Ayah nya ini tidak menarik" sahut Adnan lagi sambil tertawa.


" Sialan" ucap Daniel sambil melempar bantal ke arah Adnan.


" kalian berdua sabar menghadapi ngidam nya istri kalian karena aku juga sedang menanti kehamilan Aleyna." ucap Adnan


Fandy dan Daniel pun terkejut mendengar perkataan Adnan.


" Ha! Aleyna hamil lagi?" ucap Daniel nampak terkejut


" Belum tahu, karena belum sempat melakukan tes kehamilan." ucap Adnan


" Dua anak lebih baik Nan, hobi banget deh bikin nya." ujar Fandy sambil tertawa


" Kalau memang sudah kehendak tuhan, aku bisa apa? anak kan adalah titipan dari tuhan" ucap Adnan


" Iya dan aku sangat bersyukur atas kehamilan istri-istri kita" sahut Daniel


tiba-tiba saja handphone mereka berbunyi, dan benar saja tanpa di duga Aleyna pun menelpon Adnan dan kedua sahabat nya juga menelpon suami nya, suatu kebetulan atau memang perasaan wanita itu sangat kuat kalau mereka sedang di perbincangkan.


" Pasti dia akan menyuruhku pakai bikini lagi" gerutu Daniel yang langsung pergi mengangkat telepone dari Susan.


" Jangan-jangan dia menyuruh ku untuk pulang" gerutu Fandy dan langsung pergi dari ruangan Adnan.


kini hanya tinggal Adnan sendiri yang berada di ruangan nya, bahkan ia segera mengangkat telepon dari Aleyna.


" Mas, bisa pulang lebih cepat tidak." ucap Aleyna sambil meminta


" jangan banyak bertanya, lebih baik pulang saja, karena Suster Indah mengabariku kalau kau sakit."


" Aku tidak sakit, hanya lemas saja"


" jangan banyak bicara, lebih baik pulang karena aku sudah menyuruh Rio untuk menjemput mu!"


" tapi sayang.... "


" sayang pulang atau aku yang ke sana."


" iya, aku tidur sebentar sambil menunggu Rio, karena aku sudah benar-benar mengantuk."


" Ya sudah,istirahat dulu jangan terlalu cape"


" iya istriku... "


***


Aleyna pun nampak tidak tenang setelah menerima telepone dari Suster Indah kalau Adnan sedang sakit. Aleyna sudah beberapa kali menghubungi Rio untuk menanyakan Adnan, karena sampai sekarang belum pulang juga.


aku bahkan tidak tenang, mendengar kalau ia sakit.....


Aleyna pun membatalkan kunjungan nya ke rumah Susan karena mereka sudah berjanji akan nongkrong di salah satu Restoran yang biasa ia kunjungi, tapi ntah kapan, karena baru rencana saja.


belum sampai juga...


Aleyna terus menunggu di depan ruang tamu, ia nampak tidak tenang


" Mas Adnan... " ucap Aleyna segera beranjak bangun ketika mendengar suara mobil Adnan.


Rio pun merangkul Adnan menuju ke dalam rumah, sebenarnya Adnan menolak tapi Rio memaksa nya, setelah melihat wajah Adnan yang begitu pucat .


" Mas Adnan... " ucap Aleyna langsung mengejar Adnan


" Mas duduk dulu." ucap Aleyna sambil merangkul Adnan


" Tidak apa-apa sayang, tidak perlu khawatir" tegas Adnan


" Bagaimana tidak khawatir Mas, apalagi kamu pucat kayak gini." ucap Aleyna sambil menyentuh dahi Adnan


" Sakit yah!" ucap Aleyna nampak sedih


" Tidak sayang, aku hanya lemas saja, aku butuh istirahat tapi kamu yang menemani " ucap Adnan sambil menyentuh tangan Aleyna


" Yasudah Mas Adnan, cuci kaki terus tidur " ucap nya


" Anak-anak sudah tidur?" tanya nya


" Sudah Mas"


Aleyna pun mengantarkan Adnan menuju kamar nya, bahkan ia merasa sangat bersalah kalau ia menerima tawaran untuk menjadi model, mungkin saja ia tidak bisa merawat Adnan seperti ini kalau saja ia menjadi seorang model karena kesibukan nya, Aleyna tidak ingin mengabaikan Adnan dan Aleyna baru sadar kalau Adnan menolak nya, karena ia tidak ingin Aleyna mengacuhkan nya.


maafkan aku yang keras kepala seperti ini Mas, karena di balik sikap posesif kamu, Ada rasa sayang yang begitu besar terhadap aku....


" Sayang, bagaimana kau hamil ?" ucap Adnan langsung bertanya


" Aku belum melakukan tes kehamilan, mungkin besok Mas, tidak usah di pikirkan" ucap Aleyna.


" Iya sayang " ucap nya


Aleyna pun menyuruh Adnan untuk beristirahat karena ia tidak tega melihat Adnan yang begitu lemas.


namun, ketika Aleyna hendak beranjak dari kasur dan meninggalkan Adnan, tiba-tiba saja lengan Aleyna di tarik oleh Adnan.


" Sayang, mau kemana!" ucap nya


" Ke toilet sebentar" ucap Aleyna


" Sayang, aku mau mangga mentah." ucap Adnan yang beranjak bangun


Aleyna terkejut mendengar permintaan Adnan yang begitu aneh di dengar nya, karena ini sudah hampir larut malam, apalagi sebelum nya Adnan tidak pernah makan mangga mentah, dan dulu waktu Aleyna ngidam pun ia sama sekali tidak menyukai mangga mentah.


" Mas kayak nya ngidam deh?" ucap Aleyna merasa heran


" Sayang, aku beneran menginginkan mangga mentah" ucap Adnan lagi


" aku harus mencari dimana, ini kan sudah larut malam!" ucap Aleyna sambil menggaruk kepala nya.


" suruh Rio untuk membeli nya, bukan kah ia menginap di sini" ujar Adnan


" Yasudah aku akan menyuruh Rio untuk membelikan mangga mentah" ucap Aleyna


" Dan jangan lama-lama, aku tidak ingin berada jauh dari mu." ucap Adnan lagi


Apa benar dia ngidam?


atau aku yang memang tidak paham dengan kemauannya ..


Aduh Guys, makasih bagi yang selalu setia membaca novel ini, jangan lupa Like dan komen serta Vote nya yah


Author up dua hari sekali kadang setiap hari, karena author juga lagi mempersiapkan dua novel baru yang belum kelar.


follow guys : Raindu9721