My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Aku mencari



Semenjak kejadian kemarin, Rangga tidak pernah bisa untuk menghubungi Elea ia bahkan sengaja menelpon Alvin hanya untuk mengetahui kabar dari Elea.


rasa bersalah muncul dari dalam diri Rangga, ia tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin Elea bisa mengetahuinya dari Mama bukan dari mulut Rangga sendiri.


meski semalam tidak tidur, Rangga tetap akan pergi ke sekolah, ia ingin bertemu Elea meski Elea mungkin bersikap acuh, atau bahkan tidak perduli dengan kehadiran Rangga. Setidaknya dengan melihat wajah Elea, Rangga bisa jauh lebih tenang dari semalam.


" Ga, sarapan dulu!" ucap Mama Reyna


Rangga hanya melirik ke arah Mama nya dan kembali berjalan menuju pintu keluar, Reyna bahkan heran melihat tingkah Rangga. ia seperti menyimpan banyak beban di pundaknya, wajah nya layu tidak seperti kemarin.


" Bi, memang kemarin ada kejadian apa?" tanya Mama Reyna


" Anu bu, kemarin saya melihat keceriaan di wajah tuan Rangga tapi sekarang, nampak nya tuan Rangga sedang menyimpan banyak masalah!" sahut bi Ratmi


" apa aku salah mengajak Rangga untuk kembali ke Sidney?" batin Reyna, ia memang melihat wajah Rangga akhir-akhir ini sering sekali terlihat murung.


***


Seperti biasanya Rangga selalu tepat waktu pergi ke sekolah, ia pergi ke arah kantin. Tempat yang biasa Elea dan kedua sahabatnya kunjungi, ntah Rangga berharap Elea ada di sana.


Rangga bersama dengan Dylan dan juga Doni berkumpul di Kantin, meski mereka hanya memesan secangkir kopi hangat untuk menyegarkan tubuh mereka.


" aku senang kamu bisa kembali Ga..." ucap Doni sambil membawa komik kesukaannya.


" Ada kejadian apa kemarin?" sahut Rangga, tapi kedua bola matanya masih tertuju kepada kursi yang kosong, tempat duduk ketiga murid nakal itu.


bahkan tidak ada yang berani menempati tempat duduk itu, karena mereka takut dengan geng naughty girls.


"aku berharap bisa bertemu lagi denganmu!"


Batin Rangga, seolah mencari setengah hati yang hilang.


" Alvin belum datang juga!" ucap Rangga


" alvin sudah datang dari tadi Ga, dia berada di perpustakaan, seperti biasanya..." sahut Dylan sambil menyeruput segelas kopi mocca.


" kenapa aku tidak melihatnya?" gerutu Rangga yang sedikit kecewa.


" Elea tidak masuk sekolah hari ini, karena dia di skors dan belajar di rumah beberapa minggu ke depan!" sahut Dylan


Rangga terbelakak mendengar ucapan Dylan, bagaimana mungkin Rangga tidak mengetahui semuanya.


" apa yang dilakukan Elea?" sahut Rangga dengan segudang rasa penasaran.


" Bolos lagi mungkin!" ujar Dylan yang kini memainkan game online nya.


Rangga berdiri dan mengambil tas nya, hati nya kecewa bahkan ia tidak menyangka akan seperti ini.


Elea sengaja menjauh dari Rangga, atau memang sebuah keadaan yang memaksanya untuk menjauh.


Rangga amat kecewa, bukan karena ia tidak bisa bertemu Elea. Tapi Rangga kecewa akan diri nya sendiri, yang sudah terlambat memberitahu semuanya kepada Elea.


" Mau kemana?" ucap Dylan yang menatap kepergian Rangga.


Rangga tidak menjawab apapun, ia langsung pergi begitu saja.


" Begitulah kalau sedang marahan!" ucap Dylan sambil meledek ke arah Rangga.


Rangga pergi mencari Alvin, ia ingin mengetahui jelas bagaimana keadaan Elea, karena kesalahan terbesar yang Rangga lakukan adalah membuat Elea menangis.


Rangga pergi ke perpustakaan, ia bertemu dengan Nadine , Rangga tidak ingin membuang waktu dengan sekedar berbicara bersama Nadine namun ia terus mendekati Rangga.


" Ga, kamu udah sembuh?" ucap Nadine yang perhatian terhadap Rangga.


Rangga hanya terdiam, ia orang yang tidak menyukai basa basi. ia mengacuhkan Nadine dan tidak menjawab ucapan Nadine.


Rangga langsung masuk ke perpustakaan namun Nadine mencegahnya.


" Jadi karena cewek barbar itu kamu mengacuhkan aku begitu saja Ga?" ucap Nadine yang menatap penuh wajah Rangga.


" Apa urusan mu?" ucap Rangga dengan tatapan tajam nya.


" apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan aku Ga, kamu bahkan berubah begitu saja!" ucap Nadine lagi


" Aku bahkan tidak pernah dekat denganmu, Aku tidak ada waktu untuk sekedar basa basi seperti ini." ucap Rangga lagi, yang melepas lengan nadine yang terus menggenggam lengannya.


" apa sih kelebihan Elea dibanding aku! Elea murid yang nakal, bahkan banyak sekali guru yang tidak menyukai nya. Sedangkan aku, lebih pintar dari Elea!" ketus Nadine


mendengar ucapan itu, Rangga tidak terima. Ia kembali menghampiri Nadine.


" Elea memang bukan gadis pintar seperti kamu, tapi dia lebih baik dibandingkan dirimu!" ucap Rangga dengan kemarahannya, ia langsung pergi meninggalkan Nadine.


-


meninggalkan kemarahannya kepada Nadine, justru Rangga mendapatkan ketenangan ketika memasuki area perpustakaan. ia bertemu dengan Alvin.


" kenapa kamu tidak mengatakan, kalau Elea di skors gara-gara kejadian kemarin?" ucap Rangga yang mengejutkan Alvin.


Alvin menutup buku, dan tersenyum ke arah Rangga.


" ayo ikut aku, ini bukan tempat yang baik untuk membicarakan tentang percintaan!" ucap Alvin sambil menarik Rangga.


Rangga mengikuti arah Alvin, mereka duduk di belakang perpustakaan, tempat yang sepi dan memang tempat yang biasa disinggahi untuk sekedar bersantai karena terdapat pohon besar, yang di bawahnya di sediakan kursi yang terbuat dari batang pohon besar.


" Aku tahu, ini semua keputusan yang sulit, tapi setidaknya beri waktu untuk Elea agar ia bisa menerima nya." ucap Alvin yang begitu menenangkan.


" Aku tidak akan pergi meninggalkan Elea, apapun itu alasannya...." ucap Rangga


" Aku tidak bisa menjamin itu semua karena itu hanya kau dan Elea yang bisa, beri Elea waktu, untuk bisa memperbaiki diri. mungkin ini adalah waktu yang tepat!"


" Vin, aku tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut, apalagi sekarang aku tidak bisa bertemu Elea!"


" Elea belajar bersama Pak Darwin di rumah."


Rangga membulatkan kedua bola matanya, ketika ia mengetahui kalau Pak Darwin yang menjadi guru pembimbing nya.


" Shit! kenapa harus Pak Darwin!" ucap Rangga yang mulai kesal.


" Kenapa dengan Pak Darwin?" sahut Alvin sambil cekikikan.


" Aku tidak percaya dengan guru itu, mungkin saja ini trik dia untuk mendapatkan perhatian dari Elea, aku tahu bagaimana sikap Pak Darwin, ia seolah tegas tapi ia bukan guru yang tepat untuk Elea!"


" mengapa tidak Pak Angga saja!" sambung nya lagi.


" Pak Angga sudah berumur, ia tidak akan bisa membimbing Elea!" ucap Alvin sambil tertawa.


Rangga memegang kedua pelipis nya yang amat pusing, ia tidak habis pikir kalau Pak Darwin yang menjadi guru pembimbing untuk Elea.


" kalau sampai kamu tergoda oleh pak Darwin, aku benar-benar akan pergi Elea!"


Rasa takut akan kehilangan Elea pun semakin menjadi, Rangga takut Elea yang akan pergi meninggalkan nya. Apalagi ada sosok Pak Darwin yang kini selalu menemani nya.


Rangga dan Alvin berbincang cukup lama sampai bel masuk pun berbunyi, keduanya memutuskan untuk mengakhiri obrolan ini, dan masuk ke dalam kelas masing-masing.


Rangga masuk ke dalam kelas nya dengan rasa malas karena hari ini, ia tidak bisa melihat Elea, bahkan menghubungi nya begitu sulit.


Rangga menatap ke arah kursi Elea yang kosong, hanya ada Karin yang duduk. Sementara Elea dan juga Kiara tidak masuk sekolah.


Karin duduk dengan kesal karena kedua sahabatnya tidak masuk sekolah, Elea di skors beberapa minggu sedangkan Kiara tidak ada jawaban sama sekali. Karin sudah menghubungi tetapi keduanya memilih untuk mematikan ponselnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah bisa update lagi nih guys!


Hmm, Rangga udah mulai khawatir nih! kalau Elea nanti berpaling kepada pak Darwin.


coba kasih semangat buat Rangga biar terus memperjuangkan cinta nya ^