
Hari ini Reyna menemani Fandy untuk bekerja ke Rumah Sakit Cipto, seperti biasa ia bangun sangat pagi sekali, ntah ada angin apa, yang pasti Reyna ingin mengikuti kemana pun Fandy pergi, padahal Fandy pergi untuk bekerja namun, tetap saja Reyna begitu nekat ingin mengikuti Fandy.
Reyna pun sudah menyiapkan kemeja dan jas khusus dokter berwarna putih yang baru saja ia setrika dengan sangat licin.
Fandy pun keluar dari kamar mandi dan tersenyum menatap ke arah Reyna, ntah senyuman Fandy bahkan penuh dengan tanda tanya, karena ia nampak heran melihat Reyna yang begitu perhatian kepada nya, biasanya setiap Fandy bangun tidur, Reyna masih berbaring di kasur . Memang kelinci itu sedikit pemalas, tapi untuk kali ini, ia begitu rajin.
kau memang selalu membuatku semakin sayang...
Fandy pun menghampiri Reyna dengan tubuh yang masih basah dan membentuk kristal-kristal kecil di rambut serta tubuh nya.
" Pagi sekali kau sudah bangun dari tidur mu?" ucap Fandy sambil memeluk Reyna
" Memang kenapa? ada yang salah? atau kamu merasa terganggu?" ucap Reyna
" baru saja aku ingin memuji mu" ucap Fandy sambil terus merangkul Reyna sampai baju dan tubuh Reyna pun ikut basah karena terkena percikan air yang membasahi tubuh Fandy.
" pakai baju mu terlebih dahulu, beruang ku" ucap Reyna sambil melepaskan rangkulan Fandy
" Aku masih ingin memeluk mu" ucap Fandy seolah tidak ingin jauh dari Reyna
" Beruang kutub, bersiaplah! aku akan mengantarkan dan menemani mu bekerja" ucap Reyna dengan senyum sumringah nya
ikut bekerja?
Fandy membulatkan kedua bola mata nya, bahkan ia melemparkan senyum manis nya kepada Reyna, ia begitu menggoda hasrat Fandy, karena akhir-akhir ini Reyna begitu manja terhadap nya.
Fandy menarik tubuh Reyna lagi, sampai ia jatuh ke atas kasur, dan menatap mata Fandy.
" Kau jangan menggoda terus, kalau seperti ini bagaimana aku bisa fokus dengan pekerjaan ku" ucap Fandy sambil memegang dahu Reyna.
" Beruang kutub, bukan saat nya untuk melakukan itu, kau harus bekerja. kebutuhan wanita itu banyak, bukan sekedar cinta dan sayang saja " celoteh Reyna.
Ya begitu lah Reyna kalau sudah berbicara tanpa menggunakan titik atau koma dan tanpa jeda sekalian, karena ia sangat bawel namun Fandy menyukai bawel nya Reyna.
" Bawel ku!" ucap Fandy sambil mengecup Reyna.
namun tiba-tiba saja Reyna merasakan mual yang dulu pernah ia rasa ketika berada di jet pribadi milik keluarga Adnan.
ia mendorong tubuh Fandy, dan berlari menuju kamar mandi yang dekat dengan kamar nya.
" beruang kutub, awas ! " ucap Reyna sambil mendorong tubuh Fandy dan segera bergegas ke kamar Fandy
" Kelinciku, kamu kenapa lagi?" ucap Fandy merasa kebingungan.
sebenarnya, ada apa dengan Reyna?"
Fandy pun menghampiri Reyn dan mengetuk pintu kamar mandi yang di kunci oleh Reyna.
Hueekk....
Reyna terus merasakan mual dan kembung di perut nya setiap pagi.
" huek ... "
" kelinci ku, kau kenapa ?" ucap Fandy sambil mengetuk pintu
" Aku ngga kuat" ucap Reyna sambil terus merasakan mual dan muntah
" Buka pintu nya, aku khawatir" ucap Fandy
" Tidak usah, aku tidak apa-apa" ucap Reyna lagi
" Buka atau aku dorong paksa pintu nya" ucap tegas Fandy
Reyna pun membuka kan pintu kamar mandi, dan ia berdiri di depan pintu dengan wajah pucat nya.
" beruang kutub, kayak nya aku sakit! coba kamu pegang dahi ku? atau pipi ku? dan perut ku? bagaimana menurut mu?" ucap Reyna sambil mengarahkan telapak tangan Fandy ke arah dahi dan pipi serta perut nya
" Kalau gitu, tidak usah menemani ku, kau istirahat saja di rumah" ucap Fandy
" Tidak! aku mau ikut , suami ku" ucap Reyna dengan manja nya
Fandy menghela nafas, ia tidak bisa melihat Reyna merengek dan bersikap manja seperti ini, akhirnya ia pun menuruti keinginan Reyna dengan syarat yang telah di tentukan oleh Fandy.
Setelah selesai sarapan dengan buah-buahan, akhirnya Fandy dan Reyna pun berangkat ke rumah sakit, tidak lupa ia membawa satu parcel berisi buah-buahan untuk menengok Susan karena Daniel menghubungi Fandy kalau Susan sedang di rawat di rumah sakit, akhir nya Reyna memutuskan untuk ikut ke Rumah sakit bersama Fandy.
Reyna dan Fandy juga belum mengetahui tentang kehamilan Susan karena mereka belum memberitahu kedua nya.
sebenarnya Reyna juga sudah menghubungi Aleyna dan memberitahu kalau Susan sakit dan di rawat di Rumah Sakit Raden Cipto.
***
" Pake masker jangan lupa" ucap Fandy yang memakai kan Masker untuk Reyna
" Aku mual terus, sih!" ucap Reyna yang bahkan tidak tahan dengan bau kendaraan
" apa kamu hamil?" ucap Fandy secara tiba-tiba
Apa aku hamil?
" Haha, memang kalau hamil harus mual seperti ini?" Tanya Reyna
" Meskipun aku bukan dokter kandungan tapi, aku mengetahui gejala awal nya kelinci ku." ucap Fandy
" Tapi aku tidak merasa hamil, yang aku rasakan hanya lah Mual dan pusing saja setiap pagi" ucap Reyna sambil kebingungan
" memang gejala awal seperti itu kelinci ku" ucap Fandy
jadi? aku hamil ?
aku akan menjadi seorang ibu?
" Beruang kutub, kalau aku hamil bagaimana ?" tanya Reyna dengan wajah polos nya
Dasar anak kecil, aku bahagia dengan kehamilan nya, tapi dia malah merengek .
" Ini kabar bahagia istriku" ucap Fandy sambil memegang tangan Reyna
" Aku belum siap jadi seorang ibu, nanti bagaimana aku mengurus anak kita, aku saja masih belum bisa mengurus kamu, aku takut " ucap Reyna sambil sesekali merengek
" Kalau tidak mau hamil, kenapa mau melakukan nya setiap hari" celoteh Fandy namun Reyna mendengarnya
Reyna memukul paha Fandy dengan kencang nya, sampai empunya berteriak
" kelinci nakal .... " ujar Fandy sambil menahan sakit
" Beruang kutub, bagaimana kalau aku hamil beneran ?" tanya Reyna lagi ia masih merasa bingung
memang selama ini ada hamil bohongan?
Sebelum menikahi Reyna, Fandy sudah menerima semua resiko nya terutama sikap kekanakan Reyna dan sikap manja Reyna selama ini.
" sayang, justru aku bahagia kalau kamu beneran hamil, bahkan kebahagiaan ku berkali- kali lipat nya karena aku akan menjadi seorang ayah" ucap Fandy sambil membelai pucuk rambut Reyna
" Kamu beneran bahagia, kalau seandai nya aku hamil?" ucap Reyna
" Sangat bahagia sekali, kelinci ku" ucap Fandy lalu memeluk Reyna
" Kalau begitu, aku mau hamil anak kamu" ucap Reyna sambil membalas pelukan Fandy
**
Sebelum menjenguk Susan, Fandy pun mengajak Reyna ke ruangan dr. Edwin selaku dokter kandungan karena rasa penasaran tentang keadaan Reyna, ia sangat berharap kalau Reyna beneran hamil.
Tidak bisa di ukur bagaimana bahagia nya Fandy kalau saja Reyna hamil anak nya.
" Aku tidak akan di suntik kan dokter?" tanya Reyna dengan polos nya, bahkan membuat dr. Edwin dan Fandy tertawa
" Di suntik nya sama dr. Fandy saja" ucap dr. Edwin sambil tertawa
" Maaf dokter, dia memang sedikit menyebalkan " ucap Fandy namun ia mendapatkan cubitan di paha nya dari Reyna.
dr. Edwin hanya tersenyum melihat kemesraan mereka.
" kapan terakhir anda datang bulan?" tanya
dr. Edwin
" beruang kutub kapan yah?" ucap Reyna sambil mengingat-ingat
" memang aku selama ini yang merasakan nya?" jawab Fandy begitu heran
" Sekitar sebelum menikah kayak nya, cuma aku lupa tanggal nya dok" jawab Reyna
" Yasudah dr. Fandy boleh temani istri nya untuk melakukan test urin menggunakan tespek ? " ucap dr. Edwin
" Bisa dok" ucap Fandy lalu mengantar dan mengajarkan Reyna untuk menggunakan alat tes kehamilan
Reyna pun masuk ke dalam kamar mandi di ruangan dr. Edwin, dan dia pun menggunakan alat tes kehamilan untuk mengetahui hamil atau tidak nya.
Fandy pun sudah menunggu dengan harap cemas di luar , menunggu kabar baik dari Reyna , Positif atau pun negatif Fandy sudah siap menerima nya.
" sayang bagaimana ?" tanya Fandy
" Aku tidak mengerti!" ucap Reyna lalu memberikan tespek ke Fandy
Fandy dengan cepat mengambil tespek dari tangan Reyna karena ia begitu penasaran.
" Positif?" ucap Fandy dengan raut wajah bahagia nya, ia memeluk Reyna dengan sangat erat, bahkan mencium kening Reyna.
" Maksud kamu? aku positif hamil?" ucap Reyna yang bahkan tidak percaya
" kenapa kamu tidak bahagia mendengar nya?" tanya Fandy begitu heran ketika melihat Reyna yang diam dan kebingungan
" Kau pasti salah!" ucap Reyna lalu ia bertanya kepada dr. Edwin
" kau bahkan meragukan suami mu?" ucap dr. Edwin sambil tertawa
" Jadi apa benar aku hamil?" tanya Reyna
" Benar , anda hamil dan kalau di hitung ketika terakhir anda datang bulan, berarti usia kehamilan anda sekitar dua bulan?" ucap dr. Edwin
Reyna membulatkan kedua bola mata nya, ia memegang pipi Fandy dengan kedua tangan nya.
" Beruang kutub kau akan menjadi ayah? apa kau bahagia?" ucap Reyna
" Aku sangat bahagia, kelinci ku" ucap Fandy sambil memeluk Reyna
" Kalian memang pasangan yang beda dari yang lain, tapi selamat untuk dr. Fandy atas kehamilan istri anda, jaga baik-baik dan jangan terlalu lelah" ucap dr. Edwin
" terimakasih dok" ucap Fandy .
Fandy dan Reyna pun keluar dari ruangan dr. Edwin namun, Reyna sama sekali tidak ingin melepaskan rangkulan tangan nya ke fandy, karena ia tidak ingin jauh dari Fandy, tak jarang para pengunjung rumah sakit memperhatikan sikap Reyna. bahkan ada yang membicarakan Reyna.
" Sayang" ucap Fandy yang ingin melepaskan rangkulan tangan Reyna karena banyak sekali yang memperhatikan nya.
" Jangan menolak permintaan ibu hamil! " ucap Reyna memberi peringatan kepada Fandy.
Fandy pun tidak ingin membuat Reyna bersedih, ia langsung merangkul Reyna dan berjalan menuju kamar tempat Susan di rawat, ia mencoba tidak memperdulikan orang lain yang melihat nya, toh mereka tidak merasakan kebahagiaan yang Fandy atau pun Reyna rasakan saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
GUYS , MAAF BARU UP LAGI :(
KEMAREN LAGI BAD MOOD BANGET BUAT NGETIK.
HEY, MANA UCAPAN UNTUK PASANGAN FANDY DAN REYNA?
bulan madu bareng?
hamil bareng?
jangan-jangan *ehem juga ....
* jangan di lanjut bahaya
Yah di vote atuh, like dan komen juga
jangan lupa Follow official ig
Raindu9721