My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Kecewa



Raden pun nampak bingung, ia ingin sekali menghubungi Widya namun, Widya sudah mengganti nomor telepon nya, sampai Raden begitu kesulitan menghubungi nya.


Di sisi lain permintaan Elisa yang mendesak untuk bertemu dengan Widya, membuat Raden begitu gelisah. Ia kembali menuju ruangan nya, memikirkan bagaimana cara nya mempertemukan Elisa dengan Widya agar semua masalah cepat terselesaikan.


Tapi, ada kejanggalan di hati Raden terutama dengan Adnan, ia bahkan belum menjelaskan apa-apa kepada Adnan, padahal jalan satu-satu nya yang bisa membantu Raden hanyalah Adnan.


Terakhir kali Raden bertemu dengan Widya adalah sebulan yang lalu, sebelum Widya salah paham dengan semua nya, berulang kali Raden meminta Widya untuk menjelaskan semua masalah nya tapi tetap saja Widya tidak mau mendengarkan sama sekali.


Sampai Raden pun mendapatkan surat permohonan cerai yang di kirim dari pengadilan, sudah berapa kali Raden menyuruh kuasa hukum nya untuk membatalkan rencana Widya, tapi nyata nya rasa kecewa Widya tidak bisa di ganggu gugat, namun Raden akan selalu berusaha membatalkan perceraian nya dengan Widya.


Raden pun menatap ke arah luar, di suasana malam yang sunyi dengan keramaian kota dan mobil yang lalu lalang, sementara Raden masih terus gelisah memikirkan dua wanita yang kini ada di benak nya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan nya terbuka, seseorang yang berdiri di depan pintu itu adalah Adnan dengan wajah penuh emosi bahkan Raden melihat adanya kemarahan di wajah Adnan.


" Adnan..... " sahut Raden nampak terkejut dan langsung menghampiri Adnan.


Adnan pun memasuki ruangan luas nan besar tersebut.


Adnan menatap tajam wajah Ayah nya itu, ia menyimpan kemarahan yang amat dalam. Mata nya memerah dan wajah nya dingin penuh dengan tanda tanya.


" Adnan, kenapa kamu ada di sini, Nak!" tanya Raden


" Ayah, aku begitu membanggakan kamu, aku bangga dengan semua kerja keras mu, Tapi hari ini kau benar-benar membuat ku kecewa. " ucap Adnan sambil menatap wajah Raden.


Raden pun sudah menduga nya, Adnan akan mengetahui semua nya.


" Maksud kamu apa Nak?" tanya Raden yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Ayah, mengapa kamu begitu tega menyakiti hati seorang malaikat penolong ku, hati seorang Bunda yang selama ini merawatku. Kenapa Ayah , kenapa! " ucap Adnan sambil berkaca kaca.


" Adnan, semua ini hanya salah paham saja. Ayah mohon dengarkan semua penjelasan ayah, hanya kamu nak yang bisa menolong ayah. " ucap Raden sambil memegang bahu Adnan.


Adnan hanya terdiam, ia bahkan sangat kecewa kalau kedua orang tua nya berpisah.


" Jangan berpisah dengan bunda, Adnan bahkan kehilangan keharmonisan yang dulu pernah Adnan dapatkan semasa kecil. Jangan pernah meninggalkan bunda, Yah. " ucap Adnan sambil menangis.


Bagaimana pun kedua orang tua nya begitu berarti bagi Adnan, kalau saja bukan dukungan kedua orang tua nya, ia tidak akan bisa menggapai semua nya.


" Adnan, ayah sama sekali tidak ingin berpisah dari bunda, tapi semua ini hanya salah paham saja. !" ucap Raden


Adnan pun memeluk Raden dengan sangat erat, bahkan ia menyayangi kedua nya.


" Jelaskan itu semua Ayah, sebelum terlambat. Aku tidak ingin sampai kalian berpisah, aku tidak ingin Ayah .... " ucap Adnan dengan lirih nya.


Karena selama ini Adnan tidak pernah melihat kedua orang tua nya bertengkar, yang Adnan tahu selama ini hanya keharmonisan dan rasa kasih sayang satu sama lain yang membuat Adnan begitu terbuai dengan semua nya.


" Ayah memamg bukan lelaki yang baik, bahkan ayah banyak salah kepada bunda, tapi dalam hati , ayah tidak ingin sama sekali menyakiti hati bunda, ayah sangat menyayangi bunda mu. " ucap Raden sambil menangis.


Memang selama ini Raden sudah mencoba menghubungi Widya namun, tidak ada respon sama sekali bahkan Widya meninggalkan Raden sendiri dan lebih memilih tinggal bersama Adnan.


" Ayah sudah begitu tua , lihat wajah Ayah! sudah tidak muda seperti dulu, di sisa hidup Ayah selama ini hanya ingin melihat kamu dan bunda bahagia. " ucap Lirih Raden sampai ia terkulai lemas.


" Maafkan Adnan ayah, Adnan janji akan menolong Ayah dan menyelesaikan semua masalah ini. " ucap Adnan sambil memeluk Raden dengan sangat erat.


" Waktu itu, Ayah sedang mengurus pasien di Palopo, bahkan ia sudah mengalami penyakit komplikasi, ia hanya berdua dengan anak gadis nya bahkan ia sudah menjual rumah dan harta nya untuk mengobati penyakit nya, sampai tiba waktu nya, dia menginginkan Ayah untuk menikahi anak gadis nya, agar Ayah bisa membiayai semua kebutuhan nya!" ucap Raden sambil mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.


" Mengapa Ayah menikahi gadis itu, apa ayah tidak memikirkan perasaan bunda?" ucap Adnan sedikit kesal tapi ia menahan semua emosi nya.


Raden menceritakan kembali, kejadian di masa silam


" Ayah menolak nya, tapi ia terus mendesak ayah namun, ayah berjanji kepada anak gadis nya untuk berpura-pura menikah di depan ayah nya,setelah itu Ayah nya menghembuskan nafas terakhir nya, dan kamu tahu ? pernikahan itu bukan lah permainan, Ayah menganggap itu semua hanya pura-pura saja, karena ayah tidak ingin merusak masa depan Elisa. " ucap Raden


" Dimana gadis itu sekarang, katakan Ayah! Dimana gadis itu sekarang!" ucap Adnan sambil menekan kata demi kata yang ia lontarkan.


" Gadis itu kini sedang berjuang karena ia akan melahirkan, namun ia ingin bertemu dengan bunda mu!" ucap Raden.


" Jangan katakan gadis itu, hamil anak ayah! Aku tidak akan bisa menerima itu semua ayah!" ucap Adnan yang kini emosi nya mulai meningkat.


" Jawab Ayah.... "


Raden menghela nafas dan menenangkan Adnan.


" Itu bukan anak Ayah, karena selama ini Ayah menganggap Elisa adalah anak angkat ayah, tapi dia terjebak oleh seorang pria yang menjadi pacar nya bahkan menghamili nya, setelah itu pria itu kabur dan tidak bertanggung jawab sama sekali. " ucap Raden sambil terisak mengingat Elisa yang kini tengah berjuang.


" sungguh? apa itu benar Ayah?" ucap Adnan yang masih ragu.


" Kalau begitu, ayo ikut Ayah!" ucap Raden.


Lalu ia mengajak Adnan untuk bertemu dengan Elisa di ruang bersalin khusus yang telah di siapkan.


" Elisa..." ucap Raden dan Adnan sambil menghampiri nya.


" Pak Raden, bagaimana dengan bu Widya?" ucap Elisa sambil menahan sakit.


" Jadi kamu perempuan yang di minta ayah mu untuk menikah dengan Ayah ku?" ucap Adnan


" Kak, semua itu hanya rekayasa, aku hanya ingin Ayah hidup dengan tenang di alam sana, tanpa khawatir dengan keadaan ku. Maafkan Aku, kak karena kehadiran ku hanya membuat keluarga Pak Raden begitu susah. Aku akan menebus semu kesalahan ku. " ucap Elisa sambil menangis menggenggam tangan Adnan.


Adnan begitu iba melihat keadaan Elisa, tapi di sisi lain ia juga mengkhawatirkan ibunda nya.


" Tolong, aku ingin bertemu dengan bu Widya " ucap Lirih Elisa.


" Elisa, kamu lebih baik istirahat. jangan memikirkan masalah ini, apalagi kamu sedang kontraksi." ucap Adnan begitu iba.


Adnan pun segera keluar dari ruangan Elisa, ia langsung mencari telepon genggam nya bahkan ia lupa dimana menaruh benda pipih tersebut, ia ingin menghubungi Widya.


-


Sementara Aleyna begitu khawatir memikirkan Adnan, setelah selesai buang air kecil di kamar mandi Aleyna begitu terkejut ketika melihat bercak darah yang terus keluar dan membasahi celana dalam nya , bahkan hampir deras, setelah ia mengalami keram di perut nya semalaman ini.


" Mas Adnan.... "


" Bunda..... "


Aleyna berteriak sekencang mungkin, sampai Widya terbangun dan Bi Nani langsung berlari menuju kamar atas tempat tidur Aleyna.


" Bi, Aleyna kenapa?" ucap Widya sambil berlari menaiki anak tangga


Widya pun mendorong pintu kamar Aleyna dengan sangat kencang nya, ia dan bi Nani mencari keberadaan Aleyna.


" Bunda..... " ucap Aleyna sementara ia duduk di lantai kamar mandi dengan kaki yang berlumuran darah.


" Astaga, Aleyna.... " ucap Widya sambil teriak histeris melihat keadaan Aleyna


" Yallah, Neng kenapa bisa begini?" ucap Nani yang juga panik.


Tak lama Aleyna pun pingsan karena kaget dan juga lemas akibat melihat bercak darah yang keluar dan menahan keram di perut nya yang amat mendesak.


" Bi, Telepon Adnan bi !" ucap Widya yang panik.


" Nak, kamu yang kuat Nak"ucap Widya yang juga ikut khawatir, ia mengangkat tubuh Aleyna ke kasur


" Tidak aktif bu, kalau begitu kita bawa ke rumah sakit saja bu, saya takut Non Aleyna kenapa-kenapa..." ucap Bi Nani


Widya pun merasa panik, ia tak henti nya menangis melihat Aleyna. Ia takut Aleyna mengalami keguguran bahkan persis seperti kejadian ia dulu,yang harus rela kehilangan rahim nya setelah keguguran.


" Pak,tolong di percepat bawa mobil nya. " ucap Widya yang sudah panik


" Nak bangun Nak, Bunda khawatir. " ucap Widya sambil terus membangun kan Aleyna.


Tak lama mobil itu berhenti di rumah sakit Raden Cipto, pada pukul 02.00 pagi.


Adnan pun melihat Widya yang tengah tergesa-gesa kebetulan Adnan memang sedang ke parkiran untuk mencari telepon genggam nya ke dalam mobil.


" Bunda... " ucap Adnan


Ia segera menghampiri Widya.


Namun, ia begitu terkejut ketika melihat Aleyna yang berbaring di brankar rumah sakit dan di dorong oleh perawat menuju ruang gawat darurat.


" Aleyna.... " ucap Adnan ia berlari sekencang mungkin untuk mengejar Adnan.


Adnan begitu tergesa gesa, ia tidak tahu apapun dengan keadaan Aleyna.


" Aleyna, istriku! kamu kenapa sayang?" ucap Adnan sambil memegang kedua pipi Aleyna yang tengah berbaring dan tanpa sadarkan diri.


" Bunda, ada apa dengan Aleyna bun?" ucap Adnan sambil teriak


" Aleyna mengalami pendarahan, bunda juga tidak tahu." ucap Widya sambil menangis


" Yatuhan, Aleyna.... " ucap Adnan yang begitu lemas setelah melihat keadaan Aleyna.


" Maaf dokter Adnan, anda boleh menemani istri anda. " ucap perawat Indah yang memperbolehkan Adnan ikut menangani Aleyna, dan menemani nya.


Maafkan aku istriku, aku bahkan tidak tahu apapun tentang dirimu, karena aku begitu sibuk dengan urusan keluarga ku.


Tak terasa air mata Adnan jatuh, membasahi pipi, ia bahkan merasa bersalah karena ia tidak bisa berada di samping Aleyna ketika ia sedang merasakan sakit.


Dokter Edwin menyuruh Adnan untuk menunggu nya di ruangan nya, karena ia akan menangani Aleyna.


" Dokter Adnan, saya ingin berbicara kepada anda." ucap dokter Edwin ketika selesai menangani Aleyna.


" Saya begitu terharu untuk mengatakan nya. " ucap dokter edwin


" Katakan saja dokter Edwin apa yang terjadi dengan istriku, apa dia baik-baik saja dan calon anak kedua ku?" ucap Adnan


" Maaf saya harus mengatakan ini, karena kehamilan kedua istri anda begitu lemah, sampai janin yang ada di kandungan istri anda, tidak terselamatkan. " ucap dokter Edwin.


" istriku keguguran?" ucap Adnan yang sangat terpukul mendengar semua nya.


Adnan pun meneteskan air mata, ia bahkan merasa bersalah dengan keguguran nya Aleyna.


" Turut berduka dokter Adnan, saya harap anda dan keluarga bisa di beri ketabahan. Memang dari awal saya sudah mengatakan kalau kehamilan istri anda begitu lemah, mungkin saja akhir-akhir ini, istri anda terlalu banyak beban pikiran atau kecapean yang menyebabkan ia mengalami keguguran. " ucap dokter Edwin


" Bagaimana kondisi istri saya sekarang dok?" ucap Adnan begitu khawatir.


" Kami akan melakukan kuretase untuk mengeluarkan nya" ucap Dokter Edwin


" berat bagiku dokter edwin, bagaimana aku mengatakan ini semua kepada Aleyna." ucap Adnan merasa sedih


" Ini semua sudah takdir tuhan, semoga istri anda tabah menerima ini semua. " ucap Dokter Edwin.


Adnan pun memeluk bunda Widya setelah mendapatkan kabar tentang keguguran nya Aleyna, Padahal selama ini Adnan di kenal sebagai orang yang kuat dalam menghadapi apapun, ntah pada saat ini Adnan begitu lemah ketika di hadapkan dengan dua masalah yang membuat ia tidak bisa hidup dengan tenang, masalah yang sudah menyangkut kedua orang tua nya beserta istri nya, merupakan cobaan terberat bagi Adnan.


Sebelum proses kuretase selesai Adnan hanya bisa berdoa dan menunggu proses itu selesai, sementara Raden datang menghampiri Widya dan Adnan, meski kedatangan nya membawa luka bagi Widya tapi Raden akan berusaha untuk membangun kembali rumah tangga antara dirinya dan Widya sekaligus mengkuatkan Adnan agar lebih tegar menerima ini semua.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Catatan :


Maaf guys, akhir-akhir ini memang jarang update karena keterbatasan waktu tapi aku masih nyempetin waktu untuk update.


Kalau ada yang nanya, kenapa Aleyna di buat keguguran, karena Author mau buat sekuel dari Novel ini, dan sudah author atur cerita nya.


Aku harap kalian paham dengan alur cerita ini. menuju puncak akhir, semoga bisa segera selesai karena aku tahu, kalian mulai bosan. tapi, aku akan tetap semangat menulis.


terimakasih


- Raindu**