My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Hilang, kemana!



Pak Darwin kembali ke kelas untuk mencari Elea, karena tiba-tiba saja Elea pergi tanpa ijin darinya padahal Elea sedang menerima hukuman.


" Dasar anak nakal, untung cantik...." Gerutu Pak Darwin sambil memasuki kelas dengan raut wajah kesal tapi tidak hilang ketampanannya.


Pak Darwin masuk ke dalam kelas semua murid kelas X yang dipimpin oleh Doni seakan sepi ketika Pak Darwin datang, padahal sebelum nya ramai oleh candaan, ada murid yang bermain ponsel, atau sekedar curhat bersama teman dan bernyanyi ada juga murid yang mencari kesempatan untuk tidur menikmati jam kosong. Namun semua itu berbanding terbalik ketika Pak Darwin datang, semua murid yang berada di kelas sontak merapihkan meja dan segera menaruh ponsel nya kembali ke dalam saku, Doni sebagai ketua kelas juga langsung memberikan sikap tegas, padahal ia sibuk membaca komik kesukaannya.


" Apakah kalian melihat Elea?" Ucap Pak Darwin sambil melotot kearah sudut kursi paling belakang.


Pak Darwin menatap kearah kedua teman Elea yaitu Kiara dan juga Karin.


" Rin, sebenarnya Elea kemana?" Ucap Kiara sambil berbisik-bisik kepada Karin.


" Dari tadi aku di dalam kelas kali ra, mana mungkin aku tahu!" Ucap Karin sambil menundukkan wajahnya karena Pak Darwin terus menatap ke arah mereka.


Pak Darwin memanggil Kiara dan juga Karin untuk ikut ke dalam ruang bimbingan konseling, padahal mereka tidak tahu apa-apa tentang kepergian Elea, semua begitu mendadak, bahkan Elea meninggalkan tas nya beserta handphone yang ada di dalam tas.


" Kalian ikut saya ke ruang bimbingan konseling!" Ucap Pak Darwin


Semua murid yang ada di kelas bahkan tidak heran mendengar nama ketiga geng naughty girls itu masuk ke dalam ruangan bimbingan konseling, karena sudah terbiasa.


Kiara menggerutu kepada Karin, sambil menggandeng lengan karin


" Rin, kali ini aku benar-benar tidak mau masuk ruang bimbingan konseling!" Bisik Kiara sambil berjalan mengikuti langkah Pak Darwin yang begitu cepat.


" Ruangan konseling tidak terlalu menyeramkan dibandingkan sikap Dylan sekarang!" Ucap Karin yang kesal dengan Dylan karena Dylan terus bersikap acuh kepadanya.


" Rin serius, aku nggak mau sampai tidak naik kelas lagi! Umurku sudah jauh lebih tua dibandingkan kamu dan elea, aku tidak mau bertahan di kelas X, cukup sekali aku tidak naik kelas ketika masih Sekolah dasar!" Celoteh Kiara


" Hahaha, bagus kalau gitu! " Ucap Karin sambil tertawa melihat sikap gugup kiara


Tak lama, mereka sampai di ruangan bimbingan konseling , mereka sampai bosan karena harus bolak balik ke ruangan ini.


Ruangan yang begitu sejuk dan menegangkan apalagi kalau harus berhadapan dengan Pak Angga yang sudah lanjut usia namun perkataan nya terkadang menakutkan.


" Silahkan duduk!" Ucap Pak Darwin


Kiara dan Karin pun duduk saling berdempetan, karena mereka takut salah menjawab pertanyaan apalagi mengenai Elea.


" Kalian teman dekat Eleanor?" Ucap Pak Darwin


" iya pak, memang kenapa?" Ucap Karin yang mencoba menjawab pertanyaan dari Pak Darwin.


" Kalian tahu, apa yang membuat Eleanor begitu nakal? Bahkan dia tidak menyukai pelajaran saya?"


" Manusiawi kali Pak!" Ucap Karin keceplosan, dan Kiara meremas lengannya.


" Yasudah, kalau gitu kalian bisa pergi...." Ucap Pak Darwin, Kiara dan Karin pun saling bertukar pikiran, menatap satu sama lain, ntah Pak Darwin terlihat aneh, begitu aneh.


Untuk apa Pak Darwin memanggil kedua teman Elea, hanya untuk menanyakan alasan Elea tidak menyukai dirinya maupun pelajarannya.


" Kalau gitu, kami berdua pergi Pak!" Ucap Kiara dan Karin yang langsung lari dan keluar dari ruangan konseling.


Tiba-tiba saja tubuh Kiara menyenggol tubuh tinggi siswa laki-laki, tak lain adalah Alvin yang sedang membawa beberapa buku sampai buku itu berjatuhan.


" Maaf...." Ucap Alvin sambil merapihkan buku nya.


Karin memajukan bibirnya, ia nampak kesal, mengapa bukan dirinya yang menabrak Alvin, mengapa harus Kiara.


Kiara bangun dan menatap ke arah Alvin.


" Justru, aku yang minta maaf vin, karena tidak melihatmu!" Ucap Kiara sambil tersipu malu, namun Karin mencubitnya.


" Tidak apa-apa, Elea kemana? ". Tanya Alvin biasanya, mereka selalu bertiga


" Elea bolos, ntah dia pergi kemana!" Ucap Karin keceplosan sambil menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


" Rin, bocor banget!" Bisik Kiara.


Alvin hanya terdiam, ia tidak berkata apa-apa.


Sementara Kiara dan Karin diam-diam pergi meninggalkan Alvin karena takut Alvin memberikan pertanyaan mengenai Elea.


Alvin langsung masuk ruang bimbingan konseling, ia memang di panggil Pak Angga untuk masuk ke dalam ruangan itu, mungkin ini alasan Pak Angga memanggil Alvin.


" Masalah apalagi el, yang kamu perbuat...."


Alvin menarik nafas, lalu ia bertemu dengan Pak Darwin yang sedang berbincang dengan Pak Angga.


" Pak, memanggil saya?" Ucap Alvin


Pak Angga menyuruh nya untuk masuk dan duduk di hadapannya.


" Saya malu memanggil anak berprestasi seperti kamu untuk masuk ke dalam ruangan ini...." ucap Pak Angga.


" Tidak apa-apa, memangnya ada hal apa pak?" Tanya Alvin


" Saya hanya ingin menitipkan surat ini, kepada kamu. Saya bahkan tidak tahu, apa yang harus saya lakukan untuk adik kamu!" Ucap Pak Angga.


" Surat untuk orangtua saya? Memang apa yang dilakukan elea?" Ucap Alvin begitu khawatir.


" Eleanor bolos begitu saja disaat saya sedang memberinya hukuman, saya sudah mencarinya, tapi dia tidak ada...." Ucap pak Darwin.


Alvin menghela nafas, karena kesal dengan ulah Elea.


" Kamu tidak perlu minta maaf, karena itu surat persetujuan kedua orangtua kamu, untuk menyetujui Elea belajar dirumah beberapa minggu ini, dia akan ditemani oleh Pak Darwin selama beberapa minggu ke depan!" Ucap Pak Angga.


" Elea di skors?" Ucap Alvin merasa terkejut.


" Bukan begitu, Elea hanya perlu suasana belajar yang kondusif, hanya untuk satu atau dua minggu saja!" Ucap Pak Darwin.


" Yasudah kalau gitu Pak! " Ucap Alvin.


Alvin keluar dari ruangan konseling sambil membawa secarik kertas, mungkin saja ini jalan terbaik untuk Elea.


Alvin langsung pergi ke taman belakang, taman yang lumayan sepi karena ia ingin menghubungi Rangga, kebetulan ia juga tidak bertemu Rangga , dan dylan juga mengatakan kalau hari ini Rangga tidak masuk sekolah karena sakit, mungkin saja elea diam-dima pergi ke rumah Rangga.


***


Rangga dan Elea menikmati suasana dingin sambil menonton film di ruang televisi, ia bahkan membuat cemilan untuk menemani mereka menonton, kebetulan ada film horor yang ingin mereka tonton.


Sereal di taburi susu putih yang menemani mereka menikmati tontonan.


" Ga, aku mau kita seperti ini terus, selalu bersama! Aku bahagia bisa kenal kamu!" Ucap Elea sambil menatap Rangga dan bersandar di bahu nya.


" Kepala batu, aku juga ingin seperti ini terus, tapi kalau suatu saat kita dipisahkan oleh jarak dan waktu bagaimana?" Ucap Rangga.


" Pokoknya aku nggak mau pisah sama kamu! Titik...." Ucap Elea sambil mencubit pipi Rangga.


" Iya aku juga tidak mau pisah sama kamu el...." Ucap Rangga


" Janji....?" Ucap Elea sambil memberikan jari kelingkingnya, Rangga meraih dan melingkarkan jari kelingkingnya.


Elea nampak tersenyum, karena sampai kapanpun ia dan juga Rangga tidak akan pernah berpisah.


Elea terhanyut dalam buaian cinta seorang Rangga, sampai ia tidak fokus menonton serial film horor, meski Rangga terus menjelaskan sedikit demi sedikit alur cerita dari film tersebut, rasa kantuk mulai elea rasakan, ia terus menguap sampai pada akhirnya Elea terlelap di bahu Rangga.


Rangga tidak menyadari kalau Elea tertidur, ia bahkan mengira Elea sedang menikmati film nya.


" Maafkan aku, mungkin aku bukan yang terbaik untuk kamu el, apakah kita bisa tetap bertahan walau jarak dan waktu memisahkan kita?"


" Minggu depan aku akan pergi ke Sidney, mungkin aku tidak akan bisa bersama seperti ini lagi el, tapi aku tetap akan mencintaimu, sama seperti sekarang maupun nanti ketika aku jauh!"


" El, kamu marah sama kamu?"


" Elea ...."


" Elea ...."


Suasana begitu hening, ketika Rangga mulai jujur dengan semuanya, akan tetapi kejujuran Rangga begitu sia-sia, karena Elea tidak mendengarkan sama sekali.


" Kepala batu, aku kira kamu marah dengan semua kejujuranku, mungkin ini bukan waktu yang tepat!" Ucap Rangga sambil membaringkan tubuh Elea di sofa dan menyelimuti nya.


Rangga begitu mengerti, mungkin saja elea terlalu capek dengan perjalanan yang begitu jauh dan hanya ditempuh dengan sepeda. Rangga begitu senang dengan pengorbanan seorang elea untuk bisa bertemu dengan dirinya.


aku begitu mencintaimu, eleanor!


Tiba-tiba saja handphone Rangga bunyi, ada satu panggilan dari Alvin, Rangga sudah mengira mungkin saja Alvin mencari keberadaan elea.


" halo!"


" Ga, bagaimana keadaan kamu? "


" Aku baik-baik saja, setelah ada seseorang yang menjenguk dan membawakan aku buah-buahan!"


" Elea ada disana?"


" Tenang saja, Elea baik-baik saja aku akan menjaga nya..."


" Bukan begitu Ga, tapi elea bolos lagi?"


" Aku tidak menyuruhnya untuk bolos vin! "


" Yasudah aku akan menjemputnya!"


" Iya vin, jangan khawatir. Justru aku sangat berterimakasih karena Elea begitu merawatku!"


" Kalau sudah cinta, memang seperti itu! Sialan...."


" Hahah, yasudah aku menunggumu...."


Telepon itu ditutup oleh Rangga, ia juga merasa bersalah mengapa elea begitu nekat, tapi ia juga sangat berharap dengan kedatangan Elea.


Elea mampu menjadi obat disaat Rangga terbaring sakit.


Bersama elea, seolah Rangga mampu bangkit. Tapi apa jadinya, ketika Rangga tidak bisa bersama seperti ini lagi?


Rangga tidak bisa terus menerus menyimpan rahasia keberangkatannya ke Sidney karena semakin lama waktu akan semakin dekat.


Andai saja Rangga memiliki waktu lebih lama lagi untuk tetap di sini, bersama Elea....