My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
salah tingkah



Seperti biasa Alvin selalu pergi ke perpustakaan di jam istirahat bahkan ia sama sekali tidak berbicara atau mengobrol dengan teman-teman nya di kelas sebelas, Alvin memang terkenal sangat dingin bahkan jarang sekali murid lain bisa berteman dengan seorang Alvin, tapi Alvin sangat pintar ia bahkan sering sekali menjadi bahan ejekan karena kepintarannya, maka dari itu Alvin loncat kelas , karena ia sudah bisa mempelajari berbagai mata pelajaran di kelas sepuluh.


Alvin selalu pergi ke rak buku bagian ilmu kedokteran, ntah ia selalu berambisi dengan keinginannya untuk menjadi dokter bedah seperti Ayah nya. menurut Alvin, Ayah nya adalah orang yang selama ini selalu menjadi inspirasi nya.


Alvin memilah dan memilih buku panduan mengenai ilmu kedokteran, namun tiba-tiba saja matanya melotot ke arah rak buku di sebelahnya, ntah ia baru pertama kali melihat Kiara pergi ke perpustakaan, Alvin tersenyum menatap Kiara yang tengah sibuk mencari buku.


Kiara mencoba mengambil buku di bagian rak atas, buku panduan Obygin ilustrasi Ginekologi , berbeda dengan Alvin yang justru berambisi dengan cita-cita nya sebagai dokter ahli bedah, justru Kiara tertarik dengan ahli kandungan, Dalam kehidupan nya Kiara sudah cukup menderita, ia tidak tahu darimana ia dilahirkan, bahkan Kiara sampai saat ini tidak mengetahui wajah ibunya, ataupun Ayah kandung nya. Dalam hati, ia selalu berjanji akan menyelamatkan semua ibu-ibu diluaran sana yang sedang berjuang demi melahirkan sang buah hati, Kiara nampak sedih ketika tante Susan memberitahu kalau ibunya meninggal ketika melahirkan kiara. hati kiara amat terluka, Andai saja ia bisa melihat ibunya, memeluknya serta menceritakan keluh kesah nya.


" Semua tidak akan mungkin terulang kembali, aku mencintaimu ibu!"


Kiara sadar, mungkin ia tidak akan bisa menyia-nyiakan waktu, bahkan ia sudah menjadi beban bagi ayah tirinya, Kiara berjanji akan belajar lebih giat lagi. Setelah dua tahun masa sekolah yang ia lalui namun belum juga ia mendapat nilai bagus, Pernah sekali Kiara tidak naik kelas, namun ia tidak ingin mengulanginya lagi.


Kiara menemukan buku panduan mengenai kehamilan, Ia mencoba mengambil nya namun buku tersebut terletak di bagian rak paling atas, ia mencari kursi untuk mengambil nya namun tidak ada kursi, tubuhnya yang agak berisi, dengan tinggi 163 cm saja tidak bisa mengambil nya.


" Kamu mau buku ini?" Ucap salah seorang yang berdiri di belakang tubuh Kiara, seseorang itu nampak tinggi dan ia mengambilkan buku yang kiara inginkan.


Kiara nampak terkejut ketika ia menatap wajah seseorang yang menolongnya, karena orang itu adalah alvin. Kiara tak hentinya menatap wajah Alvin yang tersenyum ke arah nya.


Jantung Kiara tidak bisa berhenti berdetak , ia bahkan tidak bisa mencuri pandangan lain selain menatap wajah tampan Alvin.


Kiara tersadar dari lamunannya, seolah Alvin menghipnotis setengah dari dalam dirinya.


" Makanya, tumbuh itu ke atas!" Ledek Alvin


Kiara cemberut, namun ia sangat berterima kasih.


" Terimakasih vin, kalau gitu aku mau baca buku ini!" Ucap Kiara yang langsung pergi sambil duduk di ruang baca yang nampak sepi dan sunyi.


Alvin menatap kepergian Kiara sambil tersenyum.


Alvin juga ikut pergi ke ruang membaca, dan ia berada di hadapan Kiara.


Jarak nya tidak terlalu dekat, namun kiara nampak tidak tenang kalau saja ada Alvin dihadapan nya. Kiara gagal fokus, apalagi ketika melihat Alvin yang tengah fokus dengan buku nya.


" Jadi, setampan itu kamu vin, ketika sedang serius membaca!" Batin Kiara, ia tidak tahu kenapa bisa jatuh hati kepada Alvin, padahal ia sadar, ia bukan wanita yang pantas untuk alvin.


Kiara diam-diam menatap wajah Alvin, malah ia tidak bisa konsentrasi untuk membacanya, ia lebih memilih untuk menatap wajah Alvin meski ditutupi dengan buku, namun kiara dengan pasti bisa terus memandang wajah Alvin.


Ruangan perpustakaan begitu nyaman, dingin dan juga sepi, tidak ada satupun yang berbicara, semuanya hanya fokus membaca, Kiara terbuai dalam dinginnya ruangan berAc, ia tertidur dengan sangat pulas, dan menutup wajahnya dengan buku.


Hampir dua puluh menit Alvin membaca dan membolak-balik buku nya, ia tidak sengaja menatap ke arah depan, bel masuk sudah berbunyi ia mendapati Kiara sedang tertidur. Alvin langsung menutup buku dan memasukkannya ke dalam rak buku. Ia langsung menghampiri Kiara.


" Ra.. bangun!" Ucap Alvin yang hendak menyentuh bahu Kiara namun ia mencegahnya.


alvin tidak ada hak untuk menyentuh Kiara, ia bukan siapa-siapa Kiara.


" ra...."


Kiara tak kunjung bangun, namun Alvin dengan isengnya memukul meja sampai Kiara nampak terkejut.


" Maling... Mana maling..... !" Ucap Kiara yang tersontak karena suara meja yang alvin pukul.


" Nggak ada maling!" Ucap Alvin sambil tersenyum menatap Kiara.


" Lah kok sepi sih, yang lain kemana?" Ucap Kiara yang menatap ruangan sekitar nampak sepi,hanya ada ia dan Alvin di perpustakaan ini.


" Sudah masuk, lagi pula kok bisa kamu tidur disini?" Ucap Alvin yang nampak heran.


" Memangnya aku tidur yah, Aku tadi lagi baca buku kok!" Ucap Kiara yang nampak malu.


" Memangnya bisa baca buku sambil merem?" Ucap Alvin


" Ya bisa, mmmmm...


Kalau gitu aku masuk dulu yah!" Ucap Kiara yang nampak buru-buru masuk, namun tanpa di sengaja rambut panjangnya yang kini terurai mengikat di kancing baju Alvin.


" Ra...." Panggil Alvin, Kiara tidak bisa pergi karena rambutnya terikat dengan kancing baju Alvin.


" Duh, kenapa sih jantungku tidak bisa berhenti berdetak!"


Alvin menatap wajah Kiara dengan tatapan tajam, dan hal itu membuat Kiara semakin tidak karuan.


" Vin, maaf! Ada-ada saja!" Ucap Kiara yang nampak grogi


" Kebetulan saja!"


Alvin langsung membenarkannya, ia dengan sangat pelan menarik rambut Kiara yang menyangkut di kancing nya.


" Vin, aku duluan ya! Takut Pak Darwin mencariku!" Ucap Kiara yang pergi dan tersenyum ke arah Alvin.


Alvin hanya mengangguk saja dan membalas senyuman dari Kiara.


Kiara lari untuk menghindar dari Alvin, ntah ia tidak bisa membayangkan rasa malu nya tadi, mengapa Kiara bisa bertindak seperti orang bodoh.


" Aduh Ra, kenapa sih bisa salah tingkah dan memalukan banget, bagaimana kalau alvin merasa ilfeel atau seenggaknya dia malah jijik sama sikap aku!"


Kiara memukul kedua pipinya dengan sangat pelan, ia tidak bisa membayangkan kejadian memalukan tadi.


" Ra, darimana saja sih? Tiba-tiba menghilang di lapangan tadi!" Ucap Karin


" Iya kita sampai bingung mencari kamu!" Dengus Elea.


Kiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bahkan masih menenteng buku panduan ilmu kandungan.


" Ini apaaan?" Ucap Elea sambil menarik buku yang ada di genggaman Kiara.


" Buku panduan ilmu kandungan?" Ucap Elea nampak terkejut.


" Jadi, kamu habis pergi ke perpustakaan, kayaknya ada maksud tertentu!" Ledek Karin sambil menyenggol tubuh Kiara.


" Ih apaan sih, aku cuma kesel saja. apalagi melihat kalian yang sudah bukan jomblo lagi!" Ucap Kiara sambil cemberut.


" Kayaknya ada yang jatuh hati beneran sama kak Alvin! " Ledek Elea sambil menyenggol tubuh Kiara.


" Cie... Cie...."


Karin dan Elea terus meledek Kiara, meski Kiara enggan untuk mengakui, namun Karin dan Elea yakin kalau saja Kiara sudah menyimpan perasaan untuk Alvin.


" Akhirnya aku akan mempunyai kakak ipar!" Ucap elea sambil berlari, tanpa memperhatikan orang yang kini ada di belakangnya.


" El, awas!" Ucap Karin dan juga Kiara yang berteriak.


Brughhhhh.........


Tubuh Elea menabrak tubuh seseorang yang berbadan besar, dan juga tinggi, tak lain adalah Pak Darwin yang kini memangku tubuh mungil elea.


Elea menatap wajah Pak Darwin yang kini ada dihadapannya.


Sementara Rangga dan Doni baru saja hendak masuk dan melihat pemandangan yang nampak menjijikan.


Rangga melotot ke arah Elea dan juga Pak Darwin, Elea langsung bangun dan membenarkan baju nya.


" Kamu tidak apa-apa?" Ucap Pak Darwin.


Elea hanya menggelengkan kepalanya, ia menatap wajah rangga yang sudah memerah seperti kerang rebus, Rangga nampak marah dan mengepalkan lengannya. Ia langsung masuk dan tidak ingin melihat wajah pak Darwin, Rangga memang tidak menyukai Pak Darwin, tapi di area sekolah Rangga tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi Pak Darwin adalah seorang guru.


" Gawat, pasti Rangga bakalan cemburu!"


Elea langsung berlari menuju kedua sahabatnya.


" El, aku yakin pasti Rangga bakalan marah seribu persen!" Ucap Karin


" Tapi, aku tidak sengaja menabrak Pak Darwin!"


" Bagaimanapun, Pak Darwin memang menyukai kamu el!".


" Gosip mulu!"


" Serius, aku yakin karena tatapan Pak Darwin itu beda banget!"


" Tapi aku nggak doyan om-om kayak pak Darwin!"


" Om-om nya ganteng seperti Pak Darwin, aku mana tahan el!"


" Berisik banget sih Rin!"


" Sudah ayo kita masuk!"


Pak Darwin menyuruh Elea dan kedua sahabatnya untuk masuk dan memulai pelajaran sejarah yang akan berlangsung selama dua jam lama nya.


Elea menatap Rangga , namun Rangga malah membuang muka, ia nampak marah dan kesal sekali terhadap kejadian tadi.


" Kayaknya Rangga beneran marah deh!"


Elea sibuk mengeluarkan handphone,dan mengetik kata-kata permintaan maaf untuk Rangga atas kejadian tadi, namun Rangga mengabaikannya.


" Rin, gimana nih!"


" Biarkan saja Rangga cemburu, itu berarti dia sayang banget sama kamu!" Bisik Karin


" Memang begitu rin?"


" Iya biarkan saja, Rangga cemberut seperti bayi yang tidak dikasih makan!"


" Memang dia menggemaskan!"


Pak Darwin baru saja memulai pelajaran, namun kali ini tiba-tiba saja ia membagikan kertas putih yang berisi soal ulangan harian, Elea nampak terkejut karena ia tidak tahu kalau hari ini adalah jadwal ulangan harian.


Kertas ulangan itu sudah terbagi rata, Pak darwin menjelaskan mengenai soal ulangan tersebut, setiap siswa diberikan soal yang berbeda. karena Pak Darwin ingin menguji daya ingat para siswa.