My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Keraguan hati



Elea keluar dari kelas, tapi tiba-tiba saja ia tak sengaja menabrak Nadine dan kedua sahabatnya yang akan masuk ke dalam kelas.


" Brugh......"


Tidak terlalu kencang, namun Nadine melotot ke arah elea, sebenarnya Elea malas sekali melayani orang rese seperti Nadine, bahkan ia tidak ada waktu untuk sekedar bertengkar dengan Nadine.


namun seolah memiliki rasa dendam, Nadine langsung menarik tangan Elea untuk berhadapan dengan nya.


" Kalau jalan itu pakai mata! Atau jangan-jangan, kedua mata kamu tidak berfungsi sama sekali!" Ucap nadine sambil tertawa di ikuti oleh kedua sahabatnya


" Jangankan mata, harga diri saja dia tidak punya!" Ucap Eva sambil tertawa


" aku tidak memiliki waktu untuk membully orang gila seperti kalian, untung saja aku masih waras!" Ucap elea sambil beranjak pergi, namun Nadine masih terus menahannya, ia menarik lengan elea kembali.


" aku tidak akan rela, kalau sampai Rangga menjadi milikmu, sampai kapanpun!" Ketus nadine sambil memperingati Elea.


" Hah, semua ancaman kamu! Tidak ada gunanya..." Ucap Elea sambil tertawa.


Nadine tidak bisa menerima semua ucapan elea, ia menjambak rambut elea dengan sangat keras sampai elea menjerit kesakitan, Elea tidak terima, ia membalas nya dengan menjambak rambut Nadine kembali, sampai Nadine merintih kesakitan


" Jangan ambil Rangga dariku, dasar cewek tidak tahu diri. ..." Ucap Nadine


Karin dan Kiara pun langsung menghampiri elea, mereka terkejut ketika melihat Nadine dan Elea bertengkar.


Kedua sahabat Nadine bukan memisahkan malah membantu nadine, akhirnya Kiara dan Karin pun mendorong tubuh Nadine sampai ia terjatuh, mereka menarik elea.


" kamu tidak apa-apa el?" Ucap Karin


" Bisa nggak sih, jangan mencari keributan!" Ucap Karin yang marah-marah kepada Nadine dan kedua sahabatnya.


" Kalau memang iri, bilang!" Ucap Kiara


" Diam, anak haram! Aku tidak memiliki urusan denganmu...." Ucap Nadine dan kedua sahabatnya yang langsung menantang Kiara.


Kiara amat terpukul dengan ucapan Nadine, karena selama ini ia tidak pernah mengetahui kedua orangtua kandungnya itu.


" Ra, maafkan aku!" Ucap Elea yang memeluk erat Kiara.


Elea maupun Karin memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua kandung Kiara, karena yang mereka tahu, Kiara adalah anak seorang tante Tiara yaitu Tante dari Dylan. Namun, Tante Tiara telah meninggal dan sekarang Kiara hidup bersama suami dari Tante Tiara.


" Aku memang dilahirkan tidak memiliki orangtua, tapi apa aku sehina itu?" Ucap Kiara yang nampak bersedih, kedua sahabatnya langsung memeluk erat Kiara.


" Masih ada kita yang selalu menemani kamu Ra, jangan pernah sakit hati dengan ucapan Nadine, karena mereka bukanlah segalanya...." Ucap Elea


Tak lama bel masuk pun berbunyi, tapi Elea masih saja tidak bertemu dengan Rangga.


" Apa Rangga tidak masuk kelas hari ini?"


Elea malas sekali, untuk masuk dan belajar tanpa seorang Rangga, Elea masih terus menatap ke arah kursi Rangga, namun kursi itu kosong.


Elea ingin sekali bolos sekolah hari ini, ia ingin mencari Rangga.


****


Sudah pukul 06.00 wib, Rangga malas sekali bangun dari tempat tidur selain tubuhnya yang masih sakit, dan demam.


Rangga belum siap untuk bertemu Elea, ia tidak ingin membuat Elea bersedih karena minggu depan keluarganya akan pindah ke Sidney.


Bagaimana mungkin, Rangga bisa pergi meninggalkan Elea.


" Rangga...." Sahut Mama Reyna Yang masuk ke dalam kamar Rangga.


Reyna menatap heran, ia melihat adanya kegelisahan yang dialami oleh Rangga.


" Sayang, kamu masih sakit?" Ucap Reyna sambil duduk di samping Rangga.


Rangga segera menyembunyikan ponsel nya, karena ia sedang menatap foto Elea.


" Iya Ma, aku tidak masuk sekolah pagi ini...." Ucap Rangga yang kembali berbaring


" Sarapan dulu, abis itu minum obat sayang. Papa sudah menunggu di bawah!" Ucap Mama Reyna


" Suruh bibi bawa ke kamar saja, aku malas keluar!" Ucap Rangga dengan penuh rasa malas.


Akhirnya Reyna menyerah untuk membujuk Rangga, mungkin saja Rangga masih memikirkan soal kepindahannya, tapi ini jalan terbaik, Tidak mungkin Reyna meninggalkan Rangga sendirian di sini.


Reyna turun ke bawah, ia mengambil gagang telepone dan mulai memencet nomor guru di sekolah Rangga, ia ingin memberitahukan kalau Rangga sedang sakit.


Ia menghampiri Fandy yang tengah sarapan.


" Pa bear, apa kita batalkan saja rencana untuk pindah ke Sidney?" Ucap Reyna


" Tidak bisa kelinci, mana mungkin aku membatalkan proyek yang sudah di rencanakan begitu lama, sejak aku masih disana!" Ucap Fandy


" Bagaimana dengan Rangga?" Tanya Reyna yang khawatir dengan Rangga.


" Rangga sudah besar, dia bukan anak kecil lagi yang harus kamu khawatirkan Reyna!" Sahut Fandy yang langsung mengambil tas nya.


" Jangan terlalu khawatir memikirkan Rangga, aku yakin dia bisa menerima semua keputusan yang aku buat, aku berangkat dulu...." Ucap Fandy sambil mencium kening Reyna.


" Hati-hati di jalan Pa..." Ucap Reyna.


Reyna menghela nafas sejenak sambil menatap kepergian Fandy, meski Fandy memang benar, Rangga bukan anak kecil lagi tapi tetap saja Rangga adalah anaknya, yang baru saja kemarin ia melahirkan lalu sekarang, Reyna tidak menyangka anak semata wayangnya sudah besar, walau ia tahu, ia tidak akan bisa memberikan adik untuk Rangga.


Tak lama, Bibi mengantar makanan ke kamar Rangga, ponsel Rangga berbunyi namun Bibi tidak berani untuk mengangkatnya, sementara Rangga sedang berada di kamar mandi.


" Elea...." Ucap Bibi Marni yang bekerja di rumah dokter Fandy.


Rangga datang, dan meraih ponsel nya dari Bi marni.


" Jangan diangkat!" Ucap Rangga sambil teriak, sampai membuat bi marni terkejut dan melemparkan ponsel nya ke kasur.


Bi Marni langsung kembali ke dapur, ia takut kalau Rangga sudah marah.


" Maafkan aku elea, aku belum berani berbicara denganmu, aku takut membuatmu bersedih"


Rangga meraih ponsel , namun ia sengaja mematikan ponsel nya. Ia memang bersalah karena lari dari masalah, tapi suatu saat mungkin Rangga mempersiapkan diri untuk siap menghadapi elea dan membicarakan semuanya.


tentang kepergian yang begitu menyakitkan, Rangga tahu, ini semua tidak akan mudah baginya, tapi Rangga yakin mungkin perpisahan adalah jalan terbaik untuk dia dan juga Elea.


Namun, Rangga tidak akan bisa melupakan wajah cantik Elea, senyuman yang menawan dan mata yang berbinar, selalu menghantui hari-hari Rangga.


Apa Rangga begitu pengecut?


menghindari Elea tanpa memberinya penjelasan sama sekali.


semua itu memang sulit, tapi esok atau lusa Rangga akan cepat memberitahu Elea tentang kepergiannya, karena Rangga bertanggung jawab atas semuanya.


" Eleanor, mungkin saja kamu akan membenciku, sama ketika pertama kali kita bertemu, dan kau akan membenciku selama nya, di saat aku akan pergi meninggalkanmu!"