
Aleyna pun memasuki kamar nya dan ia membantingkan tubuh nya ke kasur ia benar benar tidak habis pikir dengan sikap Adnan akhir akhir ini, bahkan Adnan sudah berani membentak nya, padahal sudah jelas jelas Adnan lah yang salah namun ia malah memarahi Aleyna yang jelas Aleyna sangat kecewa dengan sikap Adnan yang seperti itu, ternyata sebuah pernikahan itu tidak selama nya akan berjalan dengan mulus namun ada saja kerikil dalam rumah tangga tersebut, Aleyna menyadari akan hal itu namun diri nya belum bisa kalau harus kehilangan Adnan, Apakah perjuangan cinta nya cukup sampai disini.
Ahh, ini cukup menyakitkan bagi Aleyna. ia hanya terbaring di tempat tidur dan menangis mengingat perkataan Adnan, Sebenarnya ini bukan Aleyna yang dulu, yang tidak perduli dengan perkataan siapapun kalau sedang marah, tapi Aleyna yang sekarang ia begitu takluk dengan perkataan Adnan, yang mengancam nya dengan kata kata perpisahan, sedangkan Aleyna sedikit pun tidak ingin berpisah dari Adnan, karena cinta yang mereka rajut begitu banyak mengalami kepahitan bukan hanya kebahagiaan saja namun beberapa masalah pun bermunculan , seperti sekarang ia tidak menyangka Adnan akan marah seperti itu , Sejujur nya Aleyna tidak ingin berpisah dari Adnan bahkan ia tidak sanggup kalau sampai itu terjadi.
Di tengah malam yang dingin, karena hujan seakan menjadi saksi akan kesedihan Aleyna, begitu pun Adnan yang belum kembali ke kamar nya mungkin saja Adnan menunggu sampai emosi Aleyna mereda ia tidak ingin salah berucap seperti tadi, memang perkataan Adnan ada benar nya ia tidak ingin Aleyna mengendarai motor dalam keadaan emosi karena bisa membahayakan diri nya sendiri kalau saja Adnan tidak tegas seperti itu, mungkin ia akan kehilangan Aleyna.
Adnan pun duduk termenung, mengingat semua kesalahan yang ia perbuat ia menyadari nya sampai detik ini, namun ia menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semua nya kepada Aleyna toh ia tidak ingin terus menerus bertikai seperti ini,bahkan kalau saja perpisahan itu terjadi mungkin Adnan akan menyesali perbuatan nya selama ini, kata kata yang ia ucapkan hanya lah luapan emosi nya saja, ia tidak ingin sama sekali berpisah dengan Aleyna dan dua anak kembar nya . karena mereka adalah harta terindah yang tuhan titipkan selama ini.
Hampir tengah malam, Adnan pun mulai memasuki kamar nya ia melihat Aleyna sudah tertidur dengan selimut yang di tarik ke tubuh nya ia pun menghampiri Aleyna untuk memastikan kalau Aleyna sudah benar benar tertidur, Ia pun duduk di samping Aleyna dan mengelus lembut rambut Aleyna
"Maafkan aku! karena disaat kamu membutuhkan aku, di saat itu Aku tidak berada di sisi mu, Aku harap kamu akan mengerti dengan apa yang aku lakukan "
batin Adnan, ia terus membelai rambut Aleyna dan mengecup kening Aleyna
" Aku tidak bermaksud membuat mu bersedih seperti ini ... Aku mencintai mu sangat mencintai mu .. "
Adnan pun menyelimuti tubuh Aleyna lagi dengan sangat rapih karena malam ini cuaca sangat dingin, sedingin sikap Aleyna sekarang
" Tidurlah ,besok atau lusa aku akan menjelaskan semua kepada mu karena ini bukan waktu yang tepat .. "
Adnan pun kembali mengecup kening Aleyna dan pergi ke kamar sebelah tepat nya ke kamar dua anak nya yang sedang tertidur lelap, kamar itu berada di sebelah kiri kamar Aleyna memang kamar ini sengaja di buat satu ruangan dengan kamar nya karena ia takut kalau harus berbeda ruangan, Ia tidak bisa menjaga kalau anak anak nya sedang terbangun.
" daddy minta maaf yah,karena telah meninggalkan kalian daddy janji ngga akan mengulangi nya lagi "
lalu Adnan mencium kedua anak kembar nya dan ia kembali ke kamar nya ia merebahkan tubuh nya di samping Aleyna sesekali Adnan terus menatap wajah Aleyna bahkan ia kesusahan untuk memejamkan kedua mata nya, ia menginginkan sebuah pelukan hangat yang biasa nya Aleyna berikan untuk nya, bahkan sekarang Aleyna malah membelakangi nya.
ia pun menghela nafas dan mencoba memejamkan kedua mata nya karena besok pagi ia kembali melakukan aktivitas seperti biasa nya yaitu bekerja di Rumah Sakit yang selama ini membesarkan nama nya.
tak lama handphone nya bergetar ketika Adnan mulai memejamkan mata nya, ia pun langsung bangun dan beranjak menjauhi tempat tidur, ia takut Aleyna akan terbangun Ia menekan tombol hijau yang ada di layar ponsel nya dan segera menempelkan benda pipih itu ke telinga nya
" Halo .. " Ucap nya
" Bagaiman dengan istri mu Nan ? " Ucap seseorang di seberang sana, tak lain adalah Fandy karena ia juga merasa bersalah membiarkan Adnan untuk tidak memberi kabar kepada Aleyna.
" Istri ku marah besar ! " Ucap Adnan
" Daniel juga mengabari ku kalau Istri nya marah besar. " Ucap nya sambil tertawa
" Tertawa di atas penderitaan orang "
" Aku nanti yang akan bertanggung jawab, menjelaskan semua nya kepada istrimu . "
" Ahh, tidak perlu biar aku saja yang menjelaskan semua nya kepada istriku, aku takut Aleyna akan tambah marah kalau dia mendengarkan penjelasan nya dari mu bukan dari suami nya sendiri ."
" Sungguh ?"
" Iya. kau tidur saja, Aku tahu kau kesepian karena malam ini hujan . "
" memang kenapa kalau hujan . "
" Kamu bahkan lebih kesepian karena tidak mendapatkan jatah dari istri mu ."
" Kalau aku mau, aku bisa langsung melakukan nya ... "
" dan jangan lupa mengajari ku .. "
" Bukan nya kamu ahli dalam hal itu .. "
" jangan menghina ku ! "
" Tidak perlu di ajarkan .. Kalau sudah berdua pasti bisa ! "
" Besok, aku akan melamar Reyna !"
" Terus ?"
" Yah, berdoa supaya berjalan lancar!"
" Siap! "
Akhir nya mereka pun mengakhiri obrolan lewat telepon dan Adnan pun kembali membaringkan tubuh nya di samping Aleyna, Bahkan Aleyna masih tetap saja membelakangi Adnan, tak ingin menyia-nyakan kesempatan Adnan pun memeluk tubuh Aleyna karena cuaca sangat dingin, dengan erat nya ia memeluk tubuh Aleyna dan menciumi rambut Aleyna
" Sudah lama aku tidak melakukan nya lagi dengan mu ... "
Adnan begitu menyesali perbuatan nya, kalau saja ia bisa menahan emosi semua nya tidak akan bisa seperti ini, sampai di situasi seperti ini, Adnan sulit membangunkan Aleyna mungkin ia sangat kelelahan dengan semua aktivitas nya seharian ini . Adnan hanya bisa menggigit jari, ia bahkan tidak bisa memejamkan mata nya lagi . Namun tiba tiba saja Aleyna menggeliatkan tubuh nya dan membalik kan badan nya, dengan perasaan senang. Adnan terus mengganggu tidur Aleyna .
ia mencubit hidung dan pipi Aleyna tetap saja ia tidak terbangun, Aleyna memang kalau sudah tidur susah untuk di bangun kan. Terpaksa Adnan pun akhir nya memejamkan kedua bola mata nya meski hanya dua jam saja ia tidur, karena besok pagi ia harus bekerja kembali.
Tak terasa hari sudah semakin pagi, Aleyna pun beranjak bangun karena mendengar suara tangisan dari Alvin dan Elea, mereka memang sudah terbiasa bangun sangat pagi sekali, dan menangis karena mereka buang air kecil atau merasa lapar , Aleyna pun segera beranjak dan terkejut ketika mendapati Adnan sedang memeluk nya, Ia mencoba untuk melepaskan rangkulan Tangan Adnan di tubuh nya.
" Dasar cowok! kamu ngga bisa kan jauh dari aku " Batin Aleyna, Ia nampak mengulaskan senyuman di bibir nya ia merasa senang karena Adnan melupakan masalah keributan nya waktu siang, Namun Aleyna tidak mau luluh begitu saja, ia ingin membuat pelajaran kepada suami nya agar tidak seenaknya pergi tanpa pamit terlebih dahulu, dengan sikap Adnan seperti ini memang mampu meluluhkan hati Aleyna,bahkan Aleyna bahagia melihat Adnan memeluk nya ketika ia terbangun dari tidur nya, Namun Adnan harus menerima konsekuensi nya yaitu sikap Aleyna yang berpura pura dingin terhadap nya.
Aleyna langsung beranjak menuju kamar di sebelah karena kedua anak kembar nya sudah menangis. Namun, ketika Aleyna menghampiri mereka berdua malah tersenyum kepada Aleyna, sungguh senyuman kedua anak nya membuat Aleyna bahagia, mungkin saja Alvin dan Elea merasa bahagia karena kedua orang tua nya bisa akur kembali .
" Anak momy udah bangun . " ucap Aleyna yang langsung menggendong Alvin terlebih dahulu, namun Ketika Aleyna menggendong Alvin, Elea malah menangis sangat kencang sekali
" Elea mau di gendong juga .. " ucap Aleyna yang langsung menaruh Alvin di tempat tidur nya dan bergantian menggendong Elea, Sungguh penyesalan yang luar biasa kalau sampai Aleyna melayangkan gugatan cerai kepada Adnan kalau saja melihat mata kedua bayi kembar nya yang sangat menggemaskan, Aleyna mungkin akan merasa kehilangan, mungkin tuhan sedang menguji rumah tangga Aleyna yang ia bina dengan Adnan selama satu tahun lima bulan ini, penuh dengan lika liku kehidupan namun bukan seberapa kuat mereka menahan amarah tapi seberapa kuat mereka akan bertahan selama ini, Mungkin saja Aleyna akan kehilangan masa masa setiap pagi di penuhi dengan keramaian di rumah ini, dengan kehadiran dua anak kembar nya mampu membuat pribadi Aleyna berubah sangat drastis, ia yang dulu susah untuk bangun sangat pagi bahkan sekarang ia terlalu sering bangun ketika kedua bayi kembar nya menangis, Mungkin benar cinta itu mampu merubah segala nya ntah itu sikap maupun sifat seseorang , dengan ada nya cinta kehidupan pun akan terasa sempurna .
Setelah menggendong dan memberi susu yang ia buat ke dalam botol kepada Elea, Alvin pun menangis sampai Aleyna kerepotan mengurus kedua bayi kembar nya, meski sudah sangat terbiasa . Aleyna memang menghentikan pemberian Asi eklusif nya kepada Kedua bayi kembar nya karena merasakan sakit yang luar biasa dan Adnan pun tidak masalah, ia tidak ingin membuat Aleyna merasa sakit.
Sebenarnya, jika ia sedang kerepotan mengurus dua anak kembar nya, Aleyna biasa memanggil Adnan tapi kali ini, Aleyna enggan mengganggu Adnan, karena memang Aleyna masih kesal, namun Adnan tipekal orang yang sangat peka ia pun terbangun dan menghampiri Aleyna di kamar anak nya, dengan rambut yang berantakan serta kantung mata yang menghitam mungkin Adnan memang kurang tidur bahkan semalaman ia tidak tidur hanya sekitar dua jam saja ia tidur lalu terbangun mendengar tangisan bayi nya
" Sayang , Alvin biar aku gendong saja" Ucap Adnan dengan suara parau khas bangun tidur nya
Aleyna masih terdiam, ia ingin melihat usaha Adnan untuk meminta nya kembali, Yah, gengsi dong kalau harus mengajak nya kembali bahkan ia dengan tega membentak nya begitu saja.
setelah selesai mengurus kedua bayi kembar nya, Aleyna pun menyiapkan seluruh pakaian Adnan yang akan di pakai hari ini, memang lah Aleyna yang selalu memilih baju yang akan Adnan pakai untuk bekerja, karena di balik penampilan gagah nya seorang Adnan, Ada Aleyna di belakang yang selalu memilih dan mencocokan baju yang pas untuk Adnan. karena seorang Dokter itu akan menjadi pusat perhatian semua pasien di Rumah sakit, ia tidak ingin melihat penampilan Adnan yang berantakan
Dan Aleyna tidak menyukai nya. Setelah menyiapkan semua kebutuhan Adnan, Aleyna pun turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan , karena Adnan lebih menyukai Aleyna yang membuat Pancake atau oatmeal kesukaan Adnan, Sementara Bi Nani mengajak Elea dan Alvin terlebih dahulu. Memang seperti ini lah kegiatan Aleyna setiap pagi namun ia menyukai nya.
Setelah selesai Mandi, Adnan pun melihat Aleyna tidak berada di kamar namun ia melihat baju kemeja serta celana yang sudah Aleyna siapkan
" Aku tahu, kamu sedang marah! tapi, kamu tidak melupakan kegiatan mu setiap pagi, Jangan membuat ku seperti orang gila yang haus akan kehangatan mu, istri ku .. " Batin Adnan, ia tersenyum ke Arah baju yang sudah Aleyna siapkan untuk nya.
segera Adnan memakai baju kemeja berwarna cream tersebut serta celana hitam yang sudah ia siapkan untuk Adnan
" Dia tidak menyukai kalau baju ku berantakan, biar saja aku tidak ingin membenarkan kancing atas kemeja ku, Siapa tahu, dia akan membenarkan nya " Ucap Adnan dalam hati,
Adnan pun menuruni anak tangga dengan baju yang berantakan serta rambut yang belum tertata rapi, bahkan ia sangat mirip dengan orang barbar . Ia menuju ruang makan, di sana sudah Ada Aleyna dan kedua anak kembar nya yang di tidurkan di kereta dorong bayi, Aleyna pun memberi makan bubur bayi untuk kedua anak kembar nya.
" Selamat pagi istri dan anak anak ku " Ucap Adnan dengan melemparkan senyuman, Aleyna yang sedang minum pun tersedak karena melihat penampilan Adnan yang sangat berantakan, bahkan ia seperti orang gila saja.
Baru saja Aleyna ingin mengucapkan kata kata, namun ia ingat kembali kalau Ia sedang berpura pura cuek kepada Adnan meski ia sudah tidak tahan ingin membenarkan kancing kemeja Adnan dan menyisirkan rambut nya Adnan namun semua itu ia tahan, Tak lama Elea dan Alvin pun tertawa ntah mungkin mereka peka dengan Adnan yang sekarang sudah seperti orang barbar , baru semalam Aleyna bersikap cuek dan dingin kepada nya saja sudah membuat Adnan seperti ini, apalagi kalau Aleyna bersikap seperti ini selama satu atau dua bulan kedepan, Aleyna tidak bisa membayangkan itu semua.
" Anak daddy ketawa, seneng yah liat daddy kayak gini, Habis daddy ngga ada yang merhatiin sih! " Ucap Adnan sambil melirik ke Arah Aleyna, dan Aleyna pun memalingkan wajah nya.
" Sayang,kamu ngga sarapan kenapa ?" Tanya Adnan kepada Aleyna
" Tidak apa apa " Jawab nya ketus
" Kamu kenapa sayang ?"
" Tidak apa apa . "
" Mau aku suapin nih ? "
" Tidak usah"
" Baju ku berantakan .. "
" Iya "
" Kamu tidak membenarkan nya ?"
" Enggak . "
Aleyna pun hanya menjawab sesingkat itu, mungkin sikap pura pura cuek nya Aleyna akan membuat Adnan sadar betapa penting nya meminta ijin kepada seorang istri agar tidak menjadi boomerang dalam hidup nya, karena bagaimana pun Adnan sudah berkeluarga , harus nya ia tahu bagaimana memprioritaskan keluarga nya sendiri bukan menganggap semua masalah enteng bahkan bisa ia hadapi, namun tidak bagi Aleyna, Bagi Aleyna setiap masalah harus ada sebab dan akibat yang akan membuat seseorang itu menjadi jera dan tidak akan mengulangi nya lagi, Aleyna memang sangat keterlaluan hari ini namun ia bersikap seperti ini agar Adnan bisa menyadari kesalahan nya sendiri.
" Sayang, aku berangkat !" Ucap Adnan dengan raut wajah yang amat berantakan dan penampilan yang sangat barbar.
" Iya " Jawab Aleyna sambil mencium tangan Adnan, ia memang dingin sekarang lebih tepat nya berpura pura dingin namun ia tidak ingin melupakan kewajiban nya kepada Adnan.
" daddy berangkat kerja ya .. " Ucap Adnan lalu mencium kedua anak nya yang kini melontarkan senyum kepada Adnan.
Setelah melihat mobil Adnan sudah melaju meninggalkan perkarangan besar rumah nya, Aleyna pun bergegas mandi karena ia belum sempat mandi dan harus mengurus bayi nya terlebih dahulu, ia pun menyuruh Bi Nani untuk mengajak Alvin dan Elea untuk jalan jalan ke taman hias di depan perkarangan rumah Aleyna.
" Bi .. Jaga Alvin sama Elea yah, Aku mau mandi dulu .. " Ucap Aleyna
" Iya non.. " ucap Bi Nani yang langsung mendorong kereta bayi yang sudah di rakit istimewa untuk bayi kembar nya.
lalu ia pun mendorong kereta itu menuju taman di depan rumah, Aleyna tidak ingin membiarkan Alvin dan Elea untuk pergi keluar rumah karena ia takut ada penculik anak yang menyebar dimana mana.
Aleyna pun menutup pintu kamar, segera ia menuju kamar mandi karena sudah sangat gerah, kebetulan sudah sangat lama ia tidak berendam di dalam bath up kamar mandi dengan di hiasi bunga bunga tidak lupa memakai lulur terlebih dahulu sebelum ia mandi, karena bagus untuk membersihkan kotoran dan sel kulit mati yang menempel di kulit putih nya.
Sementara Adnan nampak tidak semangat, ia pun memutar arah lagi menuju rumah, ia tidak ingin pergi bekerja ke Rumah sakit dengan segudang masalah yang menumpuk di dalam pikiran nya, karena akan mengganggu semua aktivitas nya apalagi ia seorang dokter bedah yang setiap hari akan melakukan operasi, ia tidak ingin melakukan kesalahan kepada pasien nya dan malah berakibat fatal.
Ia membalik kan arah menuju rumah nya, dan benar saja, Adnan sudah sampai rumah kembali sampai Semua orang yang ada di rumah itu menatap heran Adnan, mungkin saja ada yang tertinggal
" Bi .. tidak biasa nya Pak Adnan aur-auran penampilan nya?" Ucap Pak yanto ketika melihat Penampilan Adnan seperti orang barbar saja
" aur-auran saja tetap tampan lah kamu, sudah rapih ngga ada tampan nya sama sekali .. " Ucap Bi Nani kepada security itu
Tak lama, Adnan menaiki anak tangga satu persatu dan menuju kamar nya mencari tahu dimana keberadaan Aleyna, ia sangat merindukan kasih sayang seorang Aleyna bahkan ia sudah sangat tega menyiksa perasaan Adnan yang sudah tidak bisa menahan nya, Adnan mencari Aleyna di kamar namun tidak ketemu, akhir nya ia memutuskan untuk mencari Aleyna di kamar mandi karena terdengar suara percikan air di kamar mandi, segera ia menobrak kamar mandi yang terkunci dengan segala kekuatan nya .
Brukk .....
Pintu kamar mandi itu terbuka bahkan rusak karena pegangan pintu itu berjatuhan kemana mana, Aleyna teriak histeris takut seseorang memasuki kamar mandi nya tanpa sepengetahuan nya, dan ia pun terkejut ketika melihat Adnan berada di depan nya dengan penampilan barbar nya dan kantung mata yang hitam karena kurang tidur .
" Mas Adnan !" Ucap Aleyna karena ia sangat terkejut melihat kedatangan Adnan,
Tanpa berkata kata, Adnan langsung menyusul Aleyna menuju Bath up kamar mandi, ia menatap dalam wajah Aleyna yang kini semakin sulit untuk di taklukan, Baju nya pun basah.
" Aku sudah lama menahan nya .. "
" Dan kau membuatku semakin gila!"
" Aku merindukan mu, istri ku .. "
Aleyna terkejut dengan perkataan Adnan ini, ia bahkan merasa takut karena tatapan tajam nan liar yang Adnan berikan kepada nya .
" Bukan kah kamu kerja mas ?" Ucap Aleyna dengan mengalihkan semua pembicaraan Adnan .
Tanpa membalas pertanyaan Aleyna, Adnan pun menelusuri tubuh Aleyna meski Aleyna sempat meronta, namun akhir nya Aleyna menerima sentuhan demi sentuhan dari Adnan
" Jangan diamkan aku seperti ini lagi, Aku tidak tahan "
" Jangan buat aku semakin gila istriku . "
Aleyna pun hanya terdiam menerima sentuhan demi sentuhan yang Adnan berikan untuk nya, Ia pun sangat merindukan hal ini . Berdua bersama di dalam Bath up sambil menikmati dingin nya air dan wangi nya bunga mawar .
Adnan mengangkat tubuh Aleyna ke atas nya, dan mulai melakukan pergerakan nya.
ia menutup mata nya, menikmati kebersamaan dengan Aleyna.
" Jangan mencoba pergi dariku ! "
" Aku tidak akan pergi meninggalkan kamu !"
Adnan seolah larut dalam buaian seorang Aleyna, hanya Aleyna yang mampu meluluhkan hati Adnan dan hanya Aleyna lah yang sering kali berada dalam pikiran Adnan dan hanya Aleyna lah yang mampu membuat hari hari Adnan menjadi sangat indah, ia bersyukur telah memiliki seorang istri seperti Aleyna bahkan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu bersama Aleyna.
" Aku mencintai mu Aleyna ..... "
" Maafkan aku sayang .."
Aleyna menyentuh bibir Adnan dengan telunjuk nya
" Jangan katakan itu lagi,Karena aku mencintai mu juga .. "