My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Pengorbanan Reyna



karena panik,team dari snorkeling pun tidak kunjung juga memberi pertolongan kepada Fandy, akhirnya Reyna pun turun tangan ia memberikan nafas buatan untuk suami nya itu karena ia yakin Fandy masih hidup.


Reyna pun menyuruh semua orang yang ada di sekitaran Fandy untuk menjauh terlebih dahulu, karena Reyna akan turun tangan


" nona, apa yang akan anda lakukan!" Ucap seorang operator snorkeling


" kalian diam saja!" ucap Reyna dengan penuh rasa kesal


ia membungkuk kan badan nya ke arah Fandy yang sedang bertelentang, Reyna memanggil nama Fandy, dan menepuk bahu Fandy agar ia sadar dan merespon Reyna.


" beruang kutub!"


Ah, Fandy masih saja seperti tadi. ia belum bangun sama sekali hal itu membuat Reyna begitu khawatir dan air mata sudah berjatuhan ke wajah Fandy, karena memang Reyna tidak ingin kehilangan Fandy.


mungkin yang semua orang takutkan di dunia ini adalah kehilangan, karena setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan dan di setiap perpisahan pasti ada sedih yang begitu mendalam, apalagi bagi Reyna yang baru saja merasakan berumah tangga bahkan pernikahan nya baru berjalan satu minggu saja, namun tetap Reyna masih tidak ingin kehilangan Fandy.


Walau jodoh maut ataupun rezeki itu pasti sudah tuhan atur sebagaimana mestinya.


-


Reyna pun mendekatkan dirinya ke arah wajah Fandy, ia nampak memegang tengkuk Fandy dan menyangga kepala Fandy di pangkuan nya, sedangkan team snorkeling gili meno pun hanya diam dan memperhatikan mungkin saja mereka memberi peluang bagi Reyna untuk bisa menyelamatkan Fandy karena nafas Fandy masih terasa hangat dan denyut nadi nya masih bergerak, itu pertanda Fandy masih hidup.


Reyna mencoba membuang pikiran buruk tentang ucapan yang di lontarkan salah satu operator snorkeling.


keterlaluan! bisa-bisa nya ia memberitahu berita buruk kepada, ku.


Reyna pun mendongkak kan kepala Fandy dengan satu telapak tangan yang menempel di kening nya, ia mengangkat dagu Fandy dengan sangat telaten agar kepala Fandy mendongkak.


Reyna pun mencubit hidung Fandy, ia mulai menghirup nafas lalu mengeluarkan nya sebelum memberikan nafas bantuan kepada Fandy yang sedang pingsan.


Reyna pun menarik nafas dalam-dalam dan mulai menempelkan mulut nya kepada mulut Fandy, namun di luar dugaan ternyata Fandy bukan pingsan melainkan hanya pura-pura pingsan, bahkan ketika mulut nya saling bersentuhan, Fandy malah asik ******* bibir Reyna dan ia memeluk Reyna dengan sangat erat.


Reyna begitu terkejut bahkan ia ingin sekali menendang Fandy dan terjun dari perahu menuju laut yang dalam karena Fandy begitu keterlaluan ia tega membohongi Reyna dengan hal seperti ini.


Sementara team snorkeling bertepuk tangan sambil bersorak ria mereka nampak nya telah bekerja sama dengan Fandy untuk membuat hal bodoh seperti ini.


Reyna melepaskan ciuman yang tanpa di rencanakan itu, ia bahkan memukul dada bidang Fandy karena ia memang kesal dengan Fandy.


" kamu tega ya membohongi ku !" ucap Reyna sambil memukul Fandy


" sayang jangan marah dong" ucap Fandy sambil menarik lengan Reyna namun ia menggibaskan nya.


" kamu kira lucu HAH! garing bercanda kamu " ucap Reyna dengan sangat marah bahkan ia meninggalkan Fandy.


semua team snorkeling pun nampak menghabiskan waktu masing-masing tanpa memperdulikan Fandy dan Reyna yang sedang bertengkar.


Fandy mengejar Reyna yang sedang berdiri menghadap ke dasar laut, ia mungkin kecewa dengan tingkah konyol Fandy yang menurut Reyna ngga lucu sama sekali bahkan Reyna sudah terlanjur membuang air mata yang jatuh di pipi nya karena ia takut kehilangan Fandy.


Fandy memeluk Reyna dari belakang ia menyandarkan kepala nya ke bahu Reyna yang bahkan bertubuh mungil berbanding jauh dengan Fandy bahkan tubuh Reyna hanya lah sebatas dada bidang Fandy saja.


" sayang, maafkan aku! " ucap Fandy


hanya segelintir kata-kata maaf saja yang terlontar dari mulut Fandy ia masih merasakan kenyamanan saat memeluk Reyna ia memang hanya ingin membuat Reyna khawatir dan sebenarnya Fandy juga sudah bekerja sama dengan pihak snorkeling tadi sebelum mulai naik ke perahu kaca ini dan menepis rasa khawatir Reyna untuk bermain snorkeling.


Reyna hanya diam saja, ia malah menangis karena menahan rasa kesal yang ia rasakan ia takut kalau saja hal itu terjadi secara nyata kepada Fandy, karena ia belum siap untuk kehilangan Fandy.


" kelinci, kenapa kau diam saja. kau masih marah kepada ku?" ucap Fandy lagi kini pelukan nya semakin erat.


Reyna melepaskan pelukan Fandy, ia beralih menatap Fandy dengan mata yang memerah akibat menangis terus menerus semenjak tadi.


" maaf kelinci ku, jangan menangis" ucap Fandy ia menghapus air mata Reyna dengan jari tangan nya.


.


hanya desiran ombak dan angin kencang yang menemani kesunyian ini, Fandy mulai mendekat lagi ke arah Reyna ia menggapi kedua lengan Reyna.


" aku memang salah , tapi maafkan aku " ucap Fandy lagi


" Kalau gitu aku terjun saja ke laut, agar kamu puas membuat ku menangis " ucap Reyna lagi yang seolah mengancam Fandy


" jangan sayang, kau jangan berbicara seperti itu " ucap nya lagi


" aku benci sama kamu beruang kutub" ucap Reyna sambil teriak dengan suara kencang nya.


" aku mencintai mu kelinci ku" balas Fandy dengan teriakan yang tidak kalah dengan Reyna


" Benci!" tegas Reyna


" cinta " tegas Fandy lagi


Reyna malah mengalihkan pandangan, ia tidak ingin Fandy menggoda nya dengan tatapan mesra nya padahal ia sedang membuat pelajaran kepada Fandy karena ia sudah berhasil membuat Reyna khawatir lihat saja Reyna akan membalas nya suatu saat nanti.


tunggu pembalasan ku beruang kutub.


" Ternyata kamu sangat mencintai ku?" ucap Fandy sambil tertawa


" itu dulu, sekarang aku membenci mu" ucap Reyna lagi


" kelinci ku yang manis "


" hei, istri ku"


" lihat aku!"


Fandy pun menarik dagu Reyna dan mengarahkan wajah nya ke arah Fandy.


" ada apa sih?" ucap Reyna


" sampai kapan menstruasi! percuma bulan madu tapi kau malah datang bulan" ucap Fandy


" memang kenapa ?" ucap Reyna


sungguh pertanyaan jebakan sekali untuk Fandy, ia mati kutu tidak bisa menjawab pertanyaan Reyna.


" tidak apa-apa " ucap nya singkat


Reyna tertawa dengan sangat lepas nya, ia bahagia memandang wajah Fandy yang kini sedang duduk cemberut seperti anak kecil yang tidak di kasih jajan oleh ibu nya.


" tenang, yang sabar yah suami ku" ucap Reyna sambil mengelua pucuk rambut Fandy.


***


Setelah sibuk dengan semua aktifitas nya Daniel pun telah pulang dari luar kota karena ia ada tugas di luar kota, untuk menjalin kerja sama antara ikatan dokter seluruh nusantara ia sempat mengabaikan Susan yang memang telah mengingkan kehadiran nya.


Daniel sendiri berjanji akan mengajak Susan pergi berlibur rencana mereka akan menyusul Reyna dan Fandy yang tengah menikmati liburan di Pulau Lombok, ini kali pertama Daniel dan Susan pergi liburan ke Lombok setelah sekian lama tidak pergi jalan- jalan.


Namun ia tidak mungkin mengajar Kiara karena bak pengantin baru, Daniel ingin menghabiskan waktu bersama Susan apalagi, mereka belum mempunyai keturunan dan berharap di saat mereka banyak menghabiskan waktu untuk bersama, mereka akan lebih mudah mendapatkan momongan.


karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, walau sering kali Susan menangis karena ia tidak bisa hamil seperti Aleyna namun berjalan nya waktu Susan sudah lebih tegar menghadapi ini semua karena Daniel tidak pantang menyerah untuk memberi semangat bagi Susan, agar ia lebih semangat menjalani proses hidup.


Kesetiaan seorang Daniel memang sedang di uji ketika sang istri ternyata mengidap Kista bahkan kemungkinan kecil saja kalau Susan bisa hamil, tapi Daniel dan Susan tetap percaya akan keadilan tuhan mungkin belum saat nya, tapi ntah kapan waktu nya mereka akan tetap menunggu keajaiban tersebut.


Note : guys, makasih sudah support novel ini, aku ucapkan terimakasih banyak bagi yang sudah like, komen dan Vote kalian luar biasa .


jangan lupa Vote terus yah☺️😊