My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Day 2 ~ Kemana kamu?



Rangga kembali menuju rumah sakit, untuk membawa satu parcel buah-buahan dan juga setangkai bunga mawar yang baru saja ia beli, ia langsung memasuki kamar nomor 22 ruangan anggrek , di sana ada Meghan yang sedang menolak makanan dari seorang suster yang merawatnya, Meghan tidak ingin makan.


Meghan membanting makanan yang diberikan oleh seorang suster sampai suster itu begitu kesal, namun ia tetap sabar. tiba-tiba saja Rangga datang , dan melihat kejadian tersebut.


" Meggy,...."


Rangga menghampiri Meghan yang sedang tidak stabil emosional nya.


" Biar saya yang menyuapi makanan ini..." Ucap Rangga, suster tersebut dengan senang hati memberikan piring itu ke arah Rangga.


" Kamu kenapa nggak mau makan ?" Ucap Rangga


" Untuk apa makan, kalau tidak ada satu orang pun yang perduli terhadap aku...." Ucap Meghan dengan ketus nya.


" Aku perduli denganmu, aku bawakan bunga mawar kesukaan kamu..." Ucap Rangga sambil memberinya.


" Karena kamu kasihan melihat keadaan ku seperti ini, bukan karena kamu perduli kepadaku kan?" Ucap Meghan


" Aku perduli dengan mu, lebih baik makan dulu ..."


" Percuma, aku sudah tidak ingin hidup!"


" Jangan seperti itu Meghan, aku janji akan menemani kamu sampai kamu sembuh!"


" Aku tidak ingin jauh dari mu Rangga...."


Meghan memegang tangan Rangga, ia menatap penuh dan berharap Rangga bisa terus berada di sisinya.


" Makan dulu...." Ucap Rangga yang mulai menyuapi Meghan.


Perlahan Meghan mulai mau memakan sedikit demi sedikit, Meghan juga melihat ketulusan Rangga yang merawatnya, sikap Rangga kembali seperti dulu.


Keinginan terbesar meghan saat ini, bisa bersama dengan Rangga. Kenangan dulu, bisa terulang kembali. perhatian dan kasih sayang Rangga, Meghan begitu berharap.


" Andai kamu tau Ga, rasa ini tidak akan pernah berubah, aku masih tetap mencintaimu, meski kita terpisahkan...."


" Aku yakin, tidak akan ada satu orang pun yang berani merebutmu, maupun kamu sudah memiliki kekasih ...."


Rangga sebenarnya berat ingin mengucapkannya, tapi ia ingin Meghan cepat sembuh dari penyakitnya.


****


Sudah hampir tiga hari Rangga tidak mengabari Elea, Rangga hilang begitu saja, bahkan Elea sibuk mencari tahu keadaan Rangga, ia takut terjadi sesuatu kepada Rangga , karena Rangga tinggal sendiri, kedua orangtuanya sudah berangkat ke Sidney minggu lalu, Elea takut Rangga sakit, ia bahkan berani berkunjung ke rumah Rangga.


" Non elea, sudah tiga hari, Tuan belum pulang!" Ucap Bi Ratmi, asisten rumah tangga yang mengurus semua kebutuhan Rangga.


" Yasudah bi, aku kira Rangga sakit, soalnya dia tidak ada kabar sama sekali...." Ucap Elea sambil tersenyum.


" Bibi juga tidak tahu, handphone nya terjatuh, ketika bibi menyapu halaman depan...."


" Oh, seperti itu Bi. Kalau begitu elea pulang dulu bi, kalau ada kabar tentang Rangga, beri tahu el bi...." Ucap nya sambil pamit.


Elea benar-benar kesal, kemana lagi ia harus mencari tahu tentang Rangga, bahkan tidak ada satupun yang tahu tentang keberadaan Rangga.


" Apa kamu setega itu meninggalkan aku Ga, aku takut kehilangan kamu, beri aku tanda, agar aku bisa menemukan kamu...."


" Aku harap kamu baik-baik saja Ga...."


Elea dengan wajah muram, ia masuk ke dalam mobil. Kedua sahabatnya beserta Alvin dan Dylan menyambut Elea.


"el, bagaimana? Apa rangga ada di dalam rumah nya?" Ucap Karin yang merasa penasaran.


" Kayaknya memang Rangga pergi bersama Meghan, benar kata doni..." Ucap Dylan dengan polos nya.


Karin memukul paha dylan dengan sangat kencang, sampai empunya menjerit.


" Sembarangan, bisa saja Doni itu hanya berbohong!" Ucap Karin sambil memarahi Dylan.


" Kenapa mereka bisa menghilang secara bersamaan?" Ucap Dylan lagi.


" Oh My Dylan, jangan membuat suasana semakin tegang!"


Elea hanya bisa terdiam, sementara teman-teman nya berselisih paham, ia hanya ingin bertemu Rangga dan memastikan keadaan Rangga baik-baik saja.


" Aku yakin Rangga baik-baik saja el, jangan terlalu di pikirkan. Nanti yang ada kamu malah sakit...." Ucap Alvin yang mengelus rambut Elea.


" Tapi kak, el cuma ingin tahu keadaan Rangga, el takut Rangga tiba-tiba sakit tapi el tidak ada di samping Rangga..." Ucap elea sambil menangis, Kiara dan karin pun memeluk nya dengan sangat erat.


" Sabar el, aku yakin Rangga baik-baik saja. Sekarang pulang yuk, suda malam, kita mau mencari Rangga kemana lagi?" Ucap Kiara dengan lembut nya merangkul Elea.


" Aku tetap ingin mencari Rangga!"


Alvin menghentikan mobil nya , sampai semuanga begitu terkejut.


" Untuk kali ini, kakak nggak bisa turutin keinginan kamu el, lebih baik kita pulang dulu, nanti momy malah khawatir menunggu kita...."


" Tapi kak....."


" El, kalau memang Rangga begitu menyayangimu, dia tidak akan membiarkan kamu menunggu kabar dari nya, jangan terlalu bodoh dalam mengambil sikap..."


Akhirnya, Elea pun menuruti keinginan Alvin. Dan mereka sama sama kembali ke rumah, Kiara dan juga karin sengaja menginap di rumah elea, untuk menemani Elea agar tidak galau dan memikirkan Rangga terus menerus.


" Bagaimana kalau kita menginap di rumah mu?" Ucap Kiara sambil meminta persetujuan elea.


" Terserah, aku capek!"


Elea langsung menuju kamar, sedangkan Alvin menyusul memanggil kiara.


" Mau aku anter pulang?" Ucap Alvin sambil tersenyum.


Karin melirik ke arah Alvin, dan juga Kiara ia benar-benar menjadi nyamuk di pertengahan mereka.


" Vin, kita mau nginep, tapi kalau kamu mengusir kita sih yasudah kita pulang!" Ledek Karin sambil menatap Alvin. Kiara hanya tersenyum sembari membalas ucapan karin.


" Iya vin, aku mau menginap dan menemani elea..."


Alvin salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, baru kali ini Alvin di buat salah tingkah oleh seorang wanita.


" Tentu saja boleh, lagi pula el pasti senang!"


Kiara dan Karin pun langsung memasuki kamar Elea, Elea nampak murung, salah satu cara yang mereka lakukan untuk menghibur Elea yaitu menyalakan musik rock dan metal yang amat kencang.


Karin sudah menyalakan musik yang amat kencang, sampai terdengar di balik kamar Alvin.


" Ayo lah el, kita lupakan semua masalah!" Ucap Karin yang melompat lompat di atas kasur milik Elea.


Elea hanya terdiam, tubuhnya lemas, ia sama sekali tidak ingin melakukan hal apapun namun, Karin dan juga Kiara memaksa dan menarik tubuh Elea untuk ikut berjoget menikmati alunan musik rock dicampur metal.


Akhirnya Elea ikut dengan kedua sahabatnya, ia melupakan semua kegelisahannya. Rangga maupun meghan, kedua nama tersebut mampu memenuhi memori Elea, malam ini ia berusaha menghibur diri bersama kedua sahabatnya.


Alvin mengetuk pintu kamar Elea, rasanya suda hampir tengah malam suara musik itu terus menganggu gendang telinga Alvin ia tidak terbiasa dengan suara musik seperti itu, menurut nya , musik rock dan metal membuat kepalanya pusing tidak karuan.


Malam sudah menunjukkan pukul 02.30 wib, Karin dan Elea sudah lelah, mereka terbaring di kamar tidur milik elea, karena terlalu rusuh dan bersemangat. Sehingga tubuh mereka terkapar lelah.


Sementara Kiara tidak bisa tidur, ia mendapatkan pesan dari om Daniel kalau keadaan ayah nya sedang kritis, Kiara semakin gusar, ia ingin pergi ke rumah sakit sekarang juga tapi.


Baru saja Kiara hendak membuka pintu, ia terkejut dengan kedatangan Alvin di depan pintu kamar elea. Ntah kebetulan atau apa, Kiara dan alvin nampak berhadapan.


" Aku kira siapa!" Ucap Kiara yang nampak terkejut.


" Apa tidak ada cara lain, musik itu menganggu konsentrasi ku..." Ucap Alvin sembari mencari alasan padahal, ia memang ingin bertemu dengan Kiara.


" Vin, aku boleh minta tolong!" Ucap Kiara yang nampak murung.


" Minta tolong apa ra?" Sahut Alvin.


" Apa kamu bisa mengantarkan aku ke rumah sakit, aku harus mengetahui keadaan ayahku, karena om Daniel mengatakan kalau ayahku, sedang kritis!" Ucap Kiara yang nampak sedih.


" Kalau gitu ayo kita pergi!" Ucap Alvin yang menarik lengan kiara untuk segera pergi, kiara nampak gugup apalagi, Alvin menarik lengannya dengan sangat kencang.


" Ra, tunggu apalagi?" Ucap alvin.


kiara langsung mengikuti Alvin, dengan mengendap keluar rumah, Alvin membawa mobil, ia sudah meminta Security untuk memberitahu tentang kepergiannya yang sangat mendesak, sepanjang jalan kiara terus menetes kan air mata, ia merasa takut kehilangan ayah nya, meski sekedar ayah tiri tapi ia begitu baik, Kiara belum bisa membalas semua kebaikan Ayahnya.


" Aku merasa gagal menjadi anak, aku bahkan tidak berada di samping ayahku, ketika ayahku sedang sekarat!"


Alvin memberikan tisu kepada Kiara, dan Kiara menerima nya.


" Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, aku yakin semua nya akan baik-baik saja. .."


" Iya vin, terimakasih telah menolongku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana membalas semua kebaikan kamu!"


" Ra, dengan cara mencintaiku, itu sudah cukup!" Batin Alvin, ingin sekali ia mengungkapkan semua perasaanya, tapi itu semua tidak mudah. alvin tidak berpengalaman dalam hal itu.


Jalanan cukup sepi, karena mereka pergi di jam istirahat, tidak ada keramaian, bahkan mereka dengan sangat cepat sampai ke rumah sakit.


Alvin dengan setia mendampingi Kiara untuk masuk ke ruangan ayahnya, Kiara nampak menjerit ketika ayahnya sedang di tangani oleh dokter, bahkan mereka dengan berusaha keras untuk memancing detak jantung ayah, bagaimana mungkin Kiara bisa bertahan melihat ayahnya yang kesakitan.


" Ayah....."


" Ayah....."


" Ra, sabar ra. ayah kamu sedang ditangani oleh dokter, kita berdoa saja ra..." Ucap Alvin yang memberi kiara ketabahan.


" Aku nggak tega melihat ayah, kenapa tidak aku saja yang sakit!"


" Kamu jangan berkata seperti itu ra, tidak boleh!"