
Elea pergi begitu saja meninggalkan Rangga setelah ia mengetahui akan kepindahannya ke Sidney.
Bahkan Elea tidak memperdulikan tentang Alvin, ia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan apapun mengenai surat yang diberikan oleh Pak Darwin, sepertinya memang Elea butuh waktu untuk sendiri.
Setelah sampai ke rumah, Elea segera masuk ke dalam kamar, ia tidak memperdulikan ibu nya yang terus berusaha memanggil nya.
Aleyna nampak heran dengan sikap Elea yang tiba-tiba saja murung, Aleyna berpikir kalau elea sedanh bertengkar dengan Alvin.
" Elea....." Sapa Aleyna yang terus menanggil namun tidak di hiraukan sama sekali.
" Alvin, apa yang terjadi dengan Elea?" Ucap Aleyna begitu khawatir.
" Atau jangan-jangan, elea bertengkar dengan mu?" Sambung nya lagi.
Alvin sendiri tidak menjawab, toh ia tidak ingin ikut campur dengan hubungan Elea dan Rangga. Ia hanya mengangkat bahu sambil memberikan secarik kertas kepada Aleyna.
" Ada titipan dari Pak Darwin!" Ucap alvin
" Apa ini al?" Ucap Aleyna merasa penasaran
" Baca saja mom, alvin istirahat dulu, hari ini lumayan capek!" Ucap nya sambil bergegas menuju kamar
Aleyna langsung membuka secarik kertas yang berisi tentang pelanggaran yang dibuat oleh Eleanor, Aleyna mengangkat alis nya sambil fokus membaca, karena di surat itu tertulis Elea diperintahkan untuk belajar di rumah dalam kurun waktu yang tidak ditentukan, karena Elea sudah terlalu sering bolos dalam pelajaran.
Aleyna menepuk jidat, ia tidak menyangka Elea akan mengikuti jejak nya, padahal dulu meskipun Aleyna nakal tapi ia tidak pernah sampai di liburkan atau belajar di rumah dengan guru pembimbing.
" Yatuhan, apa yang harus aku katakan kepada mas adnan....." Ucap Aleyna merasa khawatir, tiba -tiba saja Adnan ada di samping nya.
" Kenapa sayang, kok cemas! Memang nya ada apa?" Ucap Adnan yang baru saja selesai mandi dan menghampiri Aleyna.
" Mas Adnan, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan! Apa mungkin ini kesalahan aku ,aku bisa merasakan apa yang Mama rasakan dulu ketika aku nakal!" Ucap Aleyna
" Sebenarnya ada apa sayang? Jangan berbelit gitu!" Ucap Adnan sambil duduk di samping Aleyna dan memeluk nya.
" Aku memang dulu nakal , bahkan aku selalu menyusahkan kedua orang tuaku, sampai hari ini aku merasakan ada di posisi orang tua ku Mas....." Ucap Aleyna sambil menyesali perbuatannya.
" Kalau kamu capek, istirahat sayang...." Ucap Adnan dengan mengelus rambut Aleyna.
" Bagaimana aku bisa istirahat dengan tenang, sementara Elea begitu terluka, aku tahu Elea anak baik, hanya saja sifat nakal nya menurun dari ku!" Ucap nya.
" Mulai besok, Elea tidak diperbolehkan pergi ke sekolah, bahkan ia belajar didampingi guru pembimbing di rumah!" Ucap nya lagi
Adnan begitu terkejut ketika mendengar ucapan Aleyna.
Namun, Adnan hanya membalasnya dengan senyuman, ia menghapus air mata Aleyna yang menetes.
" Apa yang kamu khawatirkan?" Ucap Adnan
" Aku takut kamu memarahi Elea, aku takut mental elea terganggu, semua anak itu mempunyai kelebihan masing-masing, mungkin saja Elea tidak sepintar Alvin! Tapi aku yakin suatu saat nanti Elea akan menjadi anak yang membanggakan, tolong jangan memarahi Elea mas! Aku mohon...." Ucap Aleyna yang meminta kepada Adnan, bahkan Adnan hanya tertawa kecil mendengar ucapan istrinya itu.
" Terus aku harus berbuat apa?" tanya Adnan dengan penuh canda.
" Apa aku harus melakukan apa yang seharusnya orang tua kamu lakukan." Ucap Adnan, dan membuat Aleyna bingung.
" Maksud kamu, menjodohkan Elea?" Ucap nya.
" Apa kamu mau, aku menjodohkan Elea.?"
Aleyna berpikir sejenak, ia tidak habis pikir Adnan ingin menikahkan Elea yang masih kecil dan di bawah umur.
" Mas, Elea masih kecil dan masih di bawah umur!"
" Hahaha, aku juga menikahi gadis di bawah umur!"
" mas, situasi nya berbeda, memanh nya mas Adnan mau menjodohkan Elea dengan siapa lagi!"
" Ada seorang teman yang menawariku, ia mengatakan kalau anak nya begitu mengagumi Elea!"
" Katakan kepadaku, siapa orang nya!"
" Nanti kau akan mengetahuinya, sekarang tidurlah hari sudah semakin malam, lagi pula aku merindukanmu....."
Adnan mengecup kening aleyna dan mengajak nya tidur ke kamar sambil bertukar pikiran dan menenangkan pikiran, serta melepas penat karena seharian ini aktivitas mereka cukup padat.
****
Elea menatap ke arah cermin, ia menatap kedua bola matanya yang merah dan juga membengkak akibat terlalu lama menangis, ia bahkan mengabaikan telepon nya, Elea tidak ingin mengaktifkan kembali telepone nya, ia yakin kalau Rangga pasti akan menelponnya terus menerus.
" Elea bodoh banget sih, kenapa coba pake nangis segala, kalau gitu kan, Rangga si bayi gede itu bakalan besar kepala! "
Elea mengacak-acak rambutnya, ia sendiri malu mengapa ia menangis di hadapan Rangga.
" Kalau kamu mau pergi, kenapa cinta itu harus datang secepat ini...."
" aku benci Rangga, kenapa sih aku terus terbayang wajah nya!"
Elea bahkan turun ke arah dapur untuk mengambil cemilan, kebetulan ia lapar sekali, karena seharian terus mengurung diri di kamar.
Elea mencari buah-buahan yang cocok di makan di tengah malam, namun ia melihat Alvin yang sedang duduk di meja makan namun ia seperti sedang berbicara dengan seseorang.
Elea merasa penasaran, ia langsung mengumpat di samping lemari piring, sambil mendengarkan Alvin.
" Memang nya benar kamu ingin meninggalkan tempat ini?" kata Alvin dalam sambungan telepon
Hanya kata itulah yang elea dengar karena Alvin langsung bergegas ke kamar nya lagi setelah meminum satu gelas susu hangat.
" Sialan" pekik Elea.
Padahal dalam hati, ia ingin sekali mendengarkan obrolan antara Alvin dan seseorang yang elea duga adalah Rangga. Karena selama ini, Alvin tidak pernah mengobrol serius dengan seseorang terkecuali Rangga yang memang sering mencurahkan isi hati nya.
Elea menghela nafas sambil cemberut, ia langsung mengambil buah pir yang ada di dalam kulkas, lalu menyantap nya.
Sesekali ia melihat jam dinding yang begitu besar di rumahnya, jam itu baru menunjukkan jam dua pagi, namun kedua bola mata elea tidak bisa terpejam, sampai elea bosan memakan satu piring buah-buahan.
Elea bingung, apa yang harus ia lakukan lagi, karena pikirannya hanya tertuju kepada Rangga. Bagaimana mungkin Elea bisa melupakan Rangga dalam waktu yang sekejap, mungkin kalau itu hanya pura-pura lupa, Elea bisa melakukan nya.
" Apa benar kamu mau pergi Ga, lalu bagaimana dengan cinta kita? Dengan janji kita? Atau dengan cincin ini? Apa kita harus berpisah, tapi aku tidak mau...."