
Setelah mendapatkan pelayanan yang sangat baik, akhirnya Aleyna bisa bernafas dengan lega karena Alvin dan Elea sudah turun demam nya dan dr. Tina pun menyuruh Aleyna untuk menginap saja di Klinik tersebut namun Aleyna menolak nya dengan sangat keras bahkan ia juga tidak ingin kembali ke rumah nya sendiri ntah ia merasa sangat kecewa untuk yang kedua kali nya.
di luar pun hujan turun dengan sangat lebat sampai Aleyna pun harus meneduh dulu sementara di klinik ini, dan ia masih berada di ruangan khusus bersama bi Nani yang selalu setia mendampingi Aleyna.
" cepat sembuh sayang, kalian yang bikin mommy kuat seperti ini!" ucap Aleyna di hadapan kedua anak nya yang sudah tertidur akibat efek obat pereda panas
tiba-tiba saja seorang resepsinos menghampiri Aleyna karena ada panggilan dari Adnan, memang lah Adnan sudah bisa menebak kalau Aleyna akan membawa kedua anak nya di Klinik drg. Widya klinik milik ibu nya Adnan yang berada tidak jauh dari perumahan nya.
" permisi bu Aleyna" ucap salah seorang Resepsionis yang menghampiri Aleyna
Aleyna pun beranjak bangun, ia bahkan langsung menghampiri resepsionis itu
" kenapa ?" ucap nya sangat singkat dan memang Aleyna sedang malas melakukan apa-apa
" Ada telepone dari dokter Adnan, dan dia menanyakan bu Aleyna" ucap nya dengan sangat sopan sekali.
" kalau gituh, katakan saja aku sudah pulang dari klinik." ucap Aleyna yang langsung beralih pergi
Resepsionis itu nampak tercengang mendapatkan jawaban dari Aleyna yang memang tidak ingin menjawab telepone dari Adnan, dan Resepsionis itu berpikir kalau saja hubungan Aleyna dan dokter Adnan memang sedang tidak membaik, Resepsionis itu hanya menuruti saja keinginan Aleyna karena ia tidak ingin membuat Aleyna kesal jika ia memaksa nya.
****
Hujan semakin deras membasahi pepohonan dan jalanan sementara Aleyna dengan perasaan yang amat gelisah dan ia memang sudah cukup kecewa dengan semua nya.
Apa aku harus menjalani ini semua sendiri?
Aleyna pun menatap jendela dari arah kamar, dan menatap deras nya air hujan yang membawa suasana semakin terasa sunyi.
Bi Nani pun menghampiri Aleyna yang tengah termenung menatap ke arah Aleyna nampak nya ia sangat sedih sekali.
" Non, makan dulu, dari tadi non belum makan" ucap bi nani
" aku bahkan tidak lapar bi, aku sedang tidak ingin apa-apa!" ucap Aleyna
" Tapi non, kalau non tidak makan nanti yang ada malah sakit" bujuk bi Nani
" biarkan saja bi, aku sakit juga tidak ada yang perduli dengan ku" ucap Aleyna sambil menangis
tak lama bi Nani memeluk Aleyna dengan sangat erat, karena yang Aleyna butuhkan adalah sebuah sandaran dan kepedulian seseorang terhadap nya, hanya itu lah yang Aleyna inginkan...
" non, jangan berbicara seperti itu, bibi tau non terlalu muda untuk merasakan ini semua tapi bibi yakin non Aley, wanita yang hebat" ucap bi Nani sambil mengelus rambut Aleyna, ia sudah menganggap Aleyna seperti anak nya sendiri
" tapi bi, aku tidak sekuat apa yang bibi bayangkan, aku bahkan rapuh bi, benar-benar rapuh!" ucap Aleyna sambil menangis di pelukan bi Nani.
" masih ada bibi yang setia mendampingi non" ucap nya
Aleyna pun menyeka air mata nya dengan tisu yang bi Nani berikan, ia mencoba menenangkan pikiran nya dan takut nya isak tangis Aleyna malah terdengar oleh orang lain karena Aleyna tidak ingin orang lain mengetahui permasalahan hidup nya.
" Bi, untuk kali ini saja bibi bisa kan bantu aku?" ucap Aleyna memohon
" apa saja akan bibi bantuin non." ucap nya
" bi, bawa aku pergi ke rumah bibi aku tidak ingin kembali ke rumah " ucap Aleyna sambil memohon.
bi Nani terdiam ia mulai mencerna semua omongan Aleyna bahkan permintaan aneh Aleyna karena tidak mungkin bi Nani membawa Aleyna ke kampung halaman nya tanpa ijin dari Adnan, karena bi Nani takut terjadi apa-apa dengan Aleyna .
" Bi, aku mohon bi.... " ucap Aleyna lagi
" tapi non, kalau tuan Adnan mencari non bagaimana ?" ucap nya
" biarkan saja, dia tidak perduli dengan ku bahkan anak-anak ku, yang ada di dalam pikiran nya adalah Kerja dan kerja!"
Ucap Aleyna dengan menekan kan kata demi kata nya.
" Yasudah non, tapi kita ke rumah ibu dulu biar non ijin ke ibu sebelum pergi ke Bandung bersama bibi" ucap bi Nani .
Setelah hujan reda, akhirnya Aleyna memutuskan untuk membawa pulang Alvin dan Elea akan tetapi bukan pulang ke rumah sendiri melainkan ke rumah mamah Venna, untuk meminta ijin kalau Aleyna dan kedua anak nya akan pergi ke Bandung bersama Bi Nani.
***
Tak butuh waktu lama, Aleyna dan bi Nani pun sampai di perkarangan besar milik keluarga Yudha, security rumah pun langsung membuka kan pintu gerbang rumah milik Keluarga Yudha yang terpampang sangat besar dan luas.
Aleyna pun memasuki rumah nya dengan di dampingi oleh Bi Nani yang menggendong Alvin dan Aleyna yang menggendong Elea, mereka pun di sambut oleh bi Ina selaku asisten rumah tangga keluarga Yudha.
" Aleyna dan cucu grandma" ucap mamah Venna dengan senyuman manis nya
" Bu, bagaimana kabar nya" ucap Bi Nani , tak lain adalah adik dari Bi Ina.
" Baik bi" ucap nya
Aleyna pun duduk di sofa besar milik keluarga nya ia nampak lelah dengan segala nya.
" kenapa sayang, tengah malam ke rumah? Adnan mana ?" tanya mamah Venna sambil duduk dan meraih Elea dari tangan Aleyna.
bukan menjawab pertanyaan dari ibu nya Aleyna malah menangis di hadapan ibu nya, melepas semua beban yang ia pikul sendiri.
mah, Aleyna boleh menyerah nggak?
Mamah Venna nampak khawatir dengan Aleyna, ia bahkan tiba-tiba saja menangis.
" sayang,kamu kenapa? cerita sama mamah!" ucap Mamah Venna lalu memberikan Elea ke Bi Ina sementara
" mah,Aleyna boleh menyerah tidak? Aleyna sudah benar-benar lelah dengan semua nya mah.... " ucap Aleyna sambil menangis
Mamah Venna memeluk Aleyna dengan sangat erat, dan pelukan seorang ibu memang mampu menenangkan suasana hati Aleyna.
" kamu ada masalah apa sayang, katakan sama mamah? apa adnan melukai mu?" Ucap nya begitu khawatir
" Aleyna lelah harus berjuang sendiri merawat anak-anak, sedangkan waktu dan tenaga Aley sudah habis selama mengurus anak-anak, dan sekarang Elea dan Alvin sedang sakit sedangkan mas Adnan sibuk dengan tugas-tugas nya tanpa memperdulikan Aley " ucap Aleyna sambil terisak
" sayang, maafkan mamah yang terlalu memaksamu menikah di usia mu yang seharus nya sibuk dengan dunia remaja mu, mamah minta maaf nak, mamah tidak akan tahu kalau kamu akan seperti ini!" ucap Mamah Venna ia bahkan ikut menangis melihat Aleyna
" mamah tidak salah " ucap Aleyna lagi
" kalau boleh , Aleyna mau meminta ijin pergi ke Bandung bersama bi Nani untuk sementara mah, Aleyna bosan di rumah " ucap Aleyna
" tapi, bagaimana dengan suami kamu?" ucap nya
" Mas Adnan tidak ingat pulang mah, dia tidak akan kembali bersama ku lagi!" ucap Aleyna
" tapi, sayang ... " ucap mamah venna
" mah, kali ini saja Aley tidak akan meminta apa-apa lagi dari mamah" sahut Aleyna
" Yasudah nak, nanti biar supir rumah yang mengantarkan kalian ,mamah tidak ijinkan kamu bawa mobil sendiri" ucap mamah venna
" Iya mah, Aley akan menginap di sini hanya untuk malam ini saja, karena besok aku dan bi Nani akan segera berangkat" ucap nya
" iya nak, mamah senang kamu menginap di sini bersama cucu-cucu mamah" ucap nya
***
Sementara Adnan nampak gelisah ketika Aleyna tidak ingin menjawab telepone dari nya, ia bahkan melampiaskan nya kepada Rio karena sudah hampir dua jam Rio belum kembali membawa tiket pesawat padahal Adnan tahu, jadwal keberangkatan antara banjarmasin ke jakarta masih bisa di tempuh sampai jam delapan malam. namun sudah hampir tengah malam Rio belum juga datang.
Adnan menatap arloji di tangan nya, ia nampak tidak tenang bahkan gelisah rasa bersalah terus menghantui nya, ia tidak bisa fokus pada pekerjaan nya.
aku harap mereka baik-baik saja.
tiba-tiba saja Rio datang dengan membawa dua tiket, ia segera menghampiri Adnan yang sudah menunggu nya dari tadi.
" dari mana saja kamu?" ucap nya dengan sangat dingin
" maaf pak, jadwal keberangkatan nya besok pagi, karena saya kehabisan tiket untuk malam hari ini" ucap nya
" yasudah rapihkan semua barang-barang saya" ucap Adnan
Adnan sudah tidak sabar menanti kepulangan nya,ia memang sudah menyadari kalau saja Aleyna akan marah dengan nya namun, perlahan Adnan akan mencoba membujuk Aleyna karena ini semua hanya kesalahpahaman saja. Dan ia berharap tidak akan ada pertengkaran antara mereka berdua.
wah dokter adnan pulang, Aleyna kemana ?
Guys, maaf baru up yah ☺️
coba di vote, di like di komen yg banyak juga jangan lupa ajak teman" kamu buat baca juga.