
Rangga duduk termenung sambil berpikir tentang apa yang dikatakan oleh kedua orangtuanya. Keinginan Rangga untuk menikah setelah lulus sekolah harus sirna begitu saja, ternyata harapan berbanding terbalik dengan kenyataan, Rangga harus menelan pahit nya kegagalan, padahal ia sudah berjanji akan menikahi Elea setelah lulus sekolah nanti.
Reyna dan dokter Fandy menolak keras keinginan Rangga untuk menikah di usia muda, Apalagi menikah bukanlah hal yang gampang,banyak tanggung jawab dan resiko yang akan Rangga hadapi kedepannya.
Apalagi Rangga belum memiliki pekerjaan, bagaimana mungkin ia bisa menghidupi calon istri nya kelak.
meskipun orangtua nya memiliki harta sekalipun,tetap saja prinsip kedua orangtua Rangga sangat berbeda, ia ingin Rangga sukses meraih cita cita nya.
" Papah sangat menentang keras keinginan kamu Rangga!" Ucap Dokter Fandy begitu mendengar kalau Rangga ingin menikah di usia nya yang baru menginjak delapan belas tahun.
" Rangga menikah itu tidaklah mudah, apalagi kamu belum memiliki pekerjaan" ucap Reyna.
" bukankah, mama setuju kalau Aku menikahi Elea?" Ucap Rangga begitu heran.
" Mama dan Papa sangat setuju tapi tidak secepat ini, lagi pula kamu harus melanjutkan sekolah!" Ucap Reyna
Rangga meninggalkan kedua orangtua nya tanpa berkata sedikitpun, yang ada dalam pikiran nya hanyalah Elea. Bagaimana kalau sampai Elea kecewa lalu pergi meninggalkan Rangga, janji tiga tahun yang lalu sempat Rangga ucapkan, di saat Rangga mulai menyatakan perasaannya kepada Elea, Rangga berjanji akan menikahi Elea.
" El, tidak ada niat, sedikitpun aku ingin menyakiti perasaanmu, tapi memang benar, apa yang di katakan oleh kedua orangtuaku!" Batin Rangga.
Padahal besok adalah hari terakhir nya berada di Jakarta, rasanya malas sekali untuk merapihkan barang-barang keperluan yang akan ia bawa.
Hanya Elea yang kini memenuhi pikiran Rangga.
Dering telepon berbunyi, dan membuyarkan semua lamunan Rangga tentang Elea.
Benar saja, Elea pasti akan menelpon nya.
Meski sedikit ragu, tapi Rangga langsung mengangkat nya.
" Halo, calon suami..." Ucap Elea dalam sambungan telepon, ia begitu sumringah
" Halo..." Ucap Rangga dengan sedikit memasang senyum yang terpaksa.
" Kamu jadi datang ke rumah ku malam ini?" Ucap Elea yang tidak sabar ingin segera bertemu Rangga.
Elea tidak mengetahui kalau besok adalah hari keberangkatan Rangga menuju London, karena Rangga belum berani memberitahu nya bahkan Rangga takut membuat Elea bersedih kalau saja ia tahu, tidak ada pernikahan, tidak ada ikatan.
Rangga hanya terdiam, ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun, namun ia berjanji akan mengakhiri nya.
" Ga...."
" Mas Rangga..."
" Halo, kamu tidak apa-apa kan?"
" Iya malam ini aku akan datang menemuimu, tapi aku akan menunggu mu di Taman kompleks..." Ucap Rangga penuh dengan kekacauan.
" Aku akan datang menemui kamu, Aku kangen banget Ga..." Ucap Elea begitu lirih , namun Rangga tidak tahan ia mematikan ponsel nya lalu membanting ponsel nya ke kasur.
Rangga berbaring, sambil memikirkan kata demi kata yang akan ia ucapkan nanti ketika bertemu dengan Elea.
" Aku memang penghianat, bisa-bisa nya aku menjanjikan sebuah pernikahan , sedangkan aku belum memiliki apapun..."
" Aku tidak siap, kalau nantinya kamu akan membenci ku elea .."
Rangga terhanyut dalam kegalauan yang amat menyiksa, di sisi lain ada cita-cita dan masq depan yang harus ia raih, namun disisi lain juga ia harus mengorbankan hubungan nya dengan Elea yang telah di jalin selama dua tahun lama nya.
Banyak sekali kenangan, canda dan tawa serta janji yang mereka ucapkan. Banyak sekali mimpi mengenai masa depan, mengenai kehidupan berumah tangga, dan juga untuk selalu bersama.
Tapi, nyatanya itu semua hanyalah sekedar ucapan, Rangga tidak bisa memenuhi nya.
***
Hari sudah semakin gelap, Elea tidak bisa berhenti tersenyum, bahkan ia sudah memilih gaun yang akan ia kenakan ketika bertemu Rangga. Dalam benak nya, Rangga manusia yang penuh dengan kejutan akan menepati janji nya. Ia sudah tidak sabar ingin menjadi nyonya Rangga. Meski usia ny masih 19 tahun, tapi elea sudah sangat siap untuk berumah tangga. kedua orangtua nya menyerah kan semua keputusan itu kepada Elea, karena Elea yang berhak menentukan masa depan nya sendiri.
Elea duduk di depan cermin, sambil tersenyum dan membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti.
Ia mengoleskan sedikit blush on berwarna merah muda, dan juga lipstik yang sangat tipis, Elea terlihat begitu cantik dan mempesona.
" Ga, aku tidak sabar ingin bertemu dengan mu...."
Elea menuruni anak tangga satu persatu, rumah ini terlihat sepi apalagi semenjak kepergian Kak Alvin , Daddy juga sibuk di luar kota mengurus semua kerjaan nya, Momy juga sibuk dengan bisnis nya bahkan jarang sekali kedua orangtua Elea berkumpul , Elea nyaris sendiri setiap hari, Karin dan juga Kiara telah pindah ke luar kota untuk melanjutkan studi nya.
***
Taman Anggrek, Kompleks.
Elea menelusuri jalan menuju taman kompleks, yang biasa menjadi tempat pertemuan antara ia dan juga Rangga, Dengan perasaan senang Elea terus menelusuri jalan, karena jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah nya, elea memilih untuk berjalan kaki dengan menggunakan dress gown berwarna nude setara dengan warna kulit Elea yang putih kemerahan.
Setelah sampai, Elea melihat Rangga yang sudah datang lebih awal darinya, Rangga duduk di bangku taman sambil menghadap ke arah utara, Elea melihat jelas penampakan tubuh Rangga yang sedang menunggu nya.
Elea berjalan dengan sangat pelan, ia ingin mengejutkan Rangga secara diam-diam.
Elea berdiri di belakang Rangga sambil , menutup mata Rangga dengan kedua telapak tangan nya.
" Nungguin aku yah!" Ucap Elea sambil cengengesan dan memeluk Rangga dari belakang.
Rangga nampak tersenyum, namun kini senyuman itu nampak berbeda.
Rangga diam sejenak, Elea pun duduk di samping Rangga.
" Ga, kenapa sih diam saja?" Ucap Elea begitu penasaran
" Maaf el, tapi aku tidak bisa menepati janjiku..." Ucap Rangga begitu lirih
" Maksud kamu Ga?" Ucap Elea yang belum yakin dengan ucapan Rangga.
Rangga menggenggam tangan Elea begitu kuat.
" Aku rasa hubungan kita harus berakhir sampai disini el, aku tidak ingin menyakiti kamu terlalu dalam, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikahi kamu setelah lulus sekolah..." Ucap Rangga begitu lirih.
Elea terdiam, ia masih tidak percaya dengan ucapan Rangga. Elea merasa Rangga sedang bercanda.
" Kamu bercanda kan?" Ucap Elea sambil menatap wajah Rangga sambil tertawa untuk menutupi kesedihannya.
" Aku serius el, aku benar-benar tidak bisa melanjutkan hubungan ini...."
" Kamu bilang, tidak akan menyakiti aku, tapi nyatanya kamu benar-benar menyakiti perasaan aku Rangga.."
" Dua tahun lama nya, aku benar-benar tulus, bahkan banyak lelaki diluar sana yang menginginkan untuk menjadi kekasihku, tapi nyatanya kamu dan juga janji palsu kamu yang membuat aku bertahan sampai sekarang Rangga..."
" Kenapa kamu tega memutuskan aku begitu saja?"
Elea menangis tersedu, ia tidak bisa menahan air mata nya.
Rangga berusaha untuk memeluk Elea, namun Elea mengibas tubuh Rangga.
" Maafkan aku elea, aku tidak ingin kami hidup susah, saat ini aku tidak memiliki apapun, aku ingin memfokuskan diri untuk meraih masa depanku..."
" Besok aku akan berangkat ke London, mungkin malam ini pertemuan terakhir kita elea..."
" Kita bisa saja tetap menjalin hubungan meski jarak memisahkan, tapi kenapa kamu harus mengakhiri hubungan ini Rangga, Di saat aku benar-benar berharap lebih kepadamu..."
Rangga terus berusaha memeluk dan menenangkan Elea namun tetap saja, Elea diluar kendali emosi nya begitu meluap , hati nya begitu hancur.
" Aku tidak bisa memastikan berapa la aku berada di sana elea, dan aku tahu hubungan jarak jauh itu tidak meyakinkan. Aku tidak ingin menyakiti kamu lagi, cukup kali ini aku menyakiti kamu."
" Aku benci sama kamu Rangga, aku benci...." Ucap Elea sambil memukul bahu Rangga dengan keras nya.
" Aku mohon tenang elea .." ucap Rangga yang berusaha menenangkan Elea.
" Bagaimana aku bisa tenang, kamu memberiku harapan selama dua tahun ini, tapi sekarang kamu begitu tega, memberikan harapan palsu, sampai aku begitu tersakiti...."
" Kamu jaga diri baik-baik Elea, aku memang pengecut, aku benci diriku sendiri, aku begitu bodoh telah menyakiti perasaan kamu, tapi ini jalan satu-satunya
agar aku tidak menyakiti kamu kedepan nya..."
" Aku pergi Elea...."
Rangga pergi meninggalkan Elea tanpa memperdulikan Elea yang tengah menangis, dan terluka. Memang ini keputusan terberat bagi Rangga namun ia harus melakukan nya.
" Maafkan aku Elea, aku janji akan mendatangi kamu, setelah aku sukses nanti..."
Rangga menatap Elea dari kejauhan, ia sebenarnya tidak tega melihat Elea menangis, dan meninggalkan Elea sendirian di taman.
Namun keputusan Rangga sudah bulat, ini yang harus Rangga lakukan demi masa depan nya, dan Rangga berjanji dengan dirinya sendiri, kalau ia sudah sukses nanti, orang pertama yang akan Rangga temui adalah Elea.