My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
mimpi buruk



Dokter Fandy pulang ke rumah untuk mengetahui keadaan Rangga, ia bertemu dengan dokter Adnan sebelum pulang, dokter Adnan nampak curiga melihat dokter Fandy yang begitu buru-buru.


Bahkan baru saja mereka membicarakan proyek pembangunan rumah sakit yang akan dokter Fandy laksanakan di Sidney.


" Apa yang terjadi?" Ucap Dokter Adnan


" Aku akan melanjutkan pembicaraan nanti, karena tiba-tiba saja Rangga sakit..." Ucap Dokter Fandy nampak terburu-buru.


" Yasudah, semoga Rangga tidak kenapa-napa, hati-hati di jalan Fan!" Ucap nya.


Dokter Fandy mengendarai mobil dengan tergesa-gesa, bahkan ia nampak tidak tenang kalau saja mendengar anaknya sakit, padahal Rangga bukan anak kecil lagi, tapi menurut nya Rangga paling berarti, apalagi setelah ia berusaha untuk memiliki anak kedua , yang terus gagal sampai sekarang, ia hanya mempunyai Rangga.


" Rangga...." Sahut Fandy setelah sampai ke rumah.


Dokter Fandy langsung berlari ke kamar Rangga, dan disana sudah ada Reyna yang menemani Rangga.


" Kenapa sayang?" Tanya dokter Fandy sembari mendekat ke arah Rangga


" Tidak apa-apa!" Ucap Rangga yang seolah tidak mau diperlakukan seperti anak kecil.


" Papa beruang, anak mu sudah besar, ia tidak ingin di manja seperti dulu..." Ucap Reyna sambil tertawa cengengesan melihat ulah Rangga yang begitu cuek akan perhatian kedua orangtuanya.


" Sebenarnya apa sih rencana Papa sama mama, apa belum cukup membuatku menderita?" Ucap Rangga yang protes dengan keinginan kedua orang tua nya.


Dokter Fandy dan Reyna saling menatap, mereka bahkan tidak tahu apa maksud perkataan Rangga.


" Rangga, Mama tidak mengerti maksud kamu apa?" Ucap Reyna.


" Kamu terlalu capek, lebih baik istirahat saja..." Ucap Dokter Fandy setelah memeriksa Rangga.


" Apa benar kita mau pindah ke Sidney lagi?" Tanya Rangga dengan wajah serius, dan membuat Reyna begitu terkejut padahal ia sama sekali belum menceritakan rencana kepindahannya.


" Rangga, kita masih menetap di sini, tapi tidak tahu sampai kapan karena Papa baru saja mendapatkan proyek yang bagus di sana..." Ucap Dokter Fandy yang duduk di samping Rangga.


" Begitu mudah bagi Papa untuk mengatur semuanya, tanpa menghiraukan aku?" Ucap Rangga


" Papa tahu itu semua pasti resiko nya besar, tapi Papa juga tidak bisa meninggalkan Mama dan juga kamu di sini, sementara proyek yang papah bangun sendiri berjalan selama dua tahun lamanya...." Ucap Dokter Fandy sambil merayu Rangga.


" apa aku harus pindah sekolah lagi? Dan bersosialisasi dengan orang baru? Apa semudah itu Pa?" Ucap Rangga yang terus memprotes


" Papa bear, sudah cukup! Rangga butuh waktu untuk istirahat ....." Ucap Reyna begitu khawatir.


" Bicarakan itu besok, sekarang kamu istirahat saja...." Ucap Dokter Fandy, dan Rangga membuang muka begitu saja.


Reyna menarik lengan dokter Fandy untuk segera keluar dari kamar Rangga.


" apa kita terlalu menyiksa Rangga?" Ucap Reyna yang nampak khawatir


" Ini semua aku lakukan untuk kamu sayang, dan untuk masa depan Rangga..." Ucap Dokter Fandy yang menenangkan Reyna.


" Tapi aku takut, Rangga susah bersosialisasi dengan orang baru, mungkin saja ia sudah betah disini, apa ada kemungkinan untuk kembali ke Sidney ? " Ucap Reyna dengan rasa cemas, Dokter Fandy memeluk erat Reyna dan memberikan penjelasan kepadanya.


" Mungkin saja Rangga belum mengerti, dengan apa yang aku kerjakan, karena dia belum bisa memahami, mungkin perlahan Rangga bisa memahaminya...." Ucap Dokter Fandy dengan sangat lembut dan membuat Reyna luluh didalam pelukannya.


***


Malam semakin larut, angin kencang berhembus, gemerlap bintang mulai memudar, Rangga beranjak dari tempat tidur, dan ia berdiri di atas balkon sambil menatap langit yang begitu luas dan jalanan yang sepi karena sudah berada di pertengahan malam.


Rangga tidak bisa membayangkan, apabila jauh dari Elea, baru beberapa minggu Elea menghiasi hari-harinya, Rangga tidak akan bisa melihat Senyum manis yang terukir di bibir Elea, sikap nya yang selalu ceria bahkan sikap manja nya yang membuat Rangga semakin menyayangi.


Kesepian, kedinginan, dan rasa hampa mungkin akan terjadi, di saat Rangga berada jauh dari Elea.


" Pada kenyataannya, aku tidak bisa berada jauh dari mu elea...."


Rangga memegang kedua pelipis nya , kepalanya amat pusing karena terlalu banyak beban pikiran.


Rangga sudah berjanji tidak akan meninggalkan Elea begitu saja.


Apalagi perjanjian tersebut, sudah disimpan di lubuk hati dan cincin adalah tanda bukti keseriusan Rangga terhadap Elea.


***


" jangan tinggalkan aku Rangga!" Teriak Elea.


" Rangga...."


" Jangan pergi, aku mohon!"


Tiba-tiba saja Elea terbangun dari tidurnya, dengan tubuh yang penuh dengan keringat bahkan baju nya basah, ia melihat ke arah langit-langit diatas kamar nya, dan ia melihat jarum jam yang berputar ke arah 01.15 WIB, ternyata Elea hanya mimpi, Elea tidak benar-benar kehilangan Rangga.


" Untung saja hanya mimpi, ya tuhan aku tidak ingin kehilangan Rangga....."


Elea langsung, mengambil telepone genggam nya di atas nakas, dan ia segera menghidupkan lampu. Elea kembali duduk di atas kasur dan ia melihat walpaper di handphone nya yang terpampang foto elea dan juga Rangga.


Aku merindukan kamu Ga, sampai mimpi buruk! Ya tuhan, semoga itu hanya mimpi saja....


Elea segera membuka kotak pesan, bahkan tidak ada pesan dari Rangga sama sekali, setelah keduanya pulang dari acara perkemahan.


Rangga bahkan tidak mengangkat telepon dari Elea, bahkan ia juga tidak membalas pesan dari Elea.


Elea berharap, tidak ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi dengan Rangga.


elea segera menyibukkan jari jemari nya untuk mengirim pesan lagi kepada Rangga.


Ga, kamu sudah tidur ? lucu yah, tengah malam gini aku mimpiin kamu.


Apa benar, kalau mimpiin seseorang itu pertanda kamu sedang merindukan aku?


Elea tersenyum sambil menatap layar iphone nya, ia berharap Rangga membalas pesan dari nya, tapi sampai satu jam lebih Rangga tidak membalas pesan darinya sama sekali.


Elea tidak ingin terlalu agresif, mungkin saja Rangga sudah tidur, lagi pula untuk apa Rangga bangun di pertengahan malam menjelang subuh, terpaksa elea menarik selimut lalu memejamkan matanya kembali, namun kali ini ia berharap mimpi itu tidak datang, karena meskipun mimpi tapi semuanya terasa nyata bagi Elea, sakit hati dan juga kehilangan, Elea rasakan di dalam mimpi tersebut.


Jam 03.25 Wib


Rangga kembali masuk ke dalam kamarnya setelah ia menenangkan pikirannya diatas balkon, ia bahkan tidak bisa memejamkan kedua bola matanya, karena setiap matanya terpejam, wajah Elea selalu muncul bahkan semakin dalam diingatan Rangga.


Rangga melihat handphone nya, yang sedari tadi di charger di dekat televisi, banyak sekali pesan dan panggilang telepone tak terjawab dari Elea, Karena terlalu banyak pikiran sampai Rangga tidak memperdulikan ponselnya.


Rangga membaca pesan yang dikirim dari elea, wajah rangga kembali ceria bahkan Rangga tersenyum manis melihat pesan yang dikirim oleh Elea.


Rangga membalas pesan dari elea.


Aku memang merindukan kamu, bahkan sangat merindukan kamu, maaf yah aku mampir di mimpi kamu


Rangga langsung mengirimi balasan untuk Elea, tapi Elea belum membacanya karena Elea sudah tertidur.


Akhirnya, setelah menatap foto Elea di ponselnya, Rangga menempelkan ponsel itu di atas dadanya , sambil perlahan memejamkan kedua bola matanya, Rangga terhanyut dalam rasa kantuknya yang begitu dalam, sampai tidak terasa ia lupa menutup pintu balkon nya.


.


.


.


.


.


.


.


.




Karena Novel ini terlalu panjang, jadi beberapa episode lagi cerita ini bakalan The End, dan berlanjut di Novel Baru masih tentang Rangga dan Elea.


Jangan lupa dukung terus cerita ini, karena dukungan dan semangat kalian sangat membantu untuk aku...


kalian setuju?