
Setelah turun dari pesawat, Alvin menghirup udara karena Alvin tiba di Bandara pukul 06.30 wib, matahari baru mau terbit, Alvin tersenyum ia menghirup udara Jakarta yang sudah sepuluh tahun ia tinggalkan.
Alvin sangat merindukan kota asal nya, dimana banyak sekali kenangan-kenangan di sini, Tapi dulu Alvin hanya anak kecil yang ingin bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah seperti Ayah nya, namun ia sedang menempuh Strata 2 yang satu tahun lagi akan selesai, ia menempuh jalur fakultas kedokteran spesialis, untuk sementara Alvin masih bergelar Dokter umum.
" Indah nya kota tercinta...." ucap Alvin sambil mendorong tas koper nya.
Alvin menepuk jidat nya, ia lupa kalau Rangga juga ikut pulang, tadi setelah turun dari pesawat Rangga ijin ke toilet tapi Alvin malah meninggalkan nya begitu saja, Alvin terbuai dalam kerinduannya pada kota kelahirannya.
" Rangga..."
Alvin kembali menyusul Rangga, tapi Rangga sudah berada di belakang dengan santai nya ia berjalan.
" Gue lupa..." ucap Alvin sambil ketawa.
Rangga hanya menggelengkan kepala nya saja, ia bahkan tidak semangat pulang ke Indonesia, apalagi dengan status nya sekarang.
Mobil dr. Fandy sudah berada di lobi depan untuk menjemput anak kesayangan nya, dr. Fandy dan juga Reyna yang telah memberi Rangga Adik perempuan bernama Rania. Rania masih berusia lima tahun, bahkan Rania tidak mengenali Rangga.
" Rangga ...." ucap Reyna yang begitu merindukan anak sulung nya.
" Ma.. Pa... adek .." ucap Rangga yang berlari dan memeluk keluarga nya.
" Mama om ini siapa sih, kok peluk-peluk Rania?" ucap Rania begitu gemas, Memang Rania belum sama sekali bertemu dengan Rangga.
Rangga menunduk dan mencium Rania sambil tersenyum.
" Ini abang kamu dek, abang Rangga bukan om-om! sembarangan ya adek..." ucap Rangga sambil menggendong Rania, awal nya Rania takut namun Rania mau di gendong oleh Rangga. wajah Rania memang jauh berbeda dengan Rangga, Rangga memiliki mata yang sipit sedangkan Rania memiliki bola mata yang bulat seperti bola yang membuatnya terlihat seperti boneka.
dr. Fandy dan juga Reyna menyambut Alvin , Alvin juga mencium telapak tangan dr. Fandy dan juga Reyna untuk memberi salam dan rasa sopan nya terhadap yang lebih tua.
" Selamat ya Vin atas gelar dokter nya!" ucap dr. Fandy sambil memeluk Alvin.
" selamat ya Vin..sudah lama kita tidak kumpul bersama, bagaimana Mommy sama Daddy mau jemput?" ucap Reyna yang bertanya kepada Alvin, ia juga memeluk Alvin seperti anak nya sendiri.
" terimakasih om dan Tante,kebetulan Daddy sama Mommy tidak jemput, soalnya el lagi di rawat dan akan di operasi lusa nanti ..." ucap Alvin sambil tersenyum namun ada sedikit kesedihan karena setelah kepulangan nya bukan berita baik yang Alvin terima melainkan berita menyedihkan. Bagaimanapun Rasa sayang Alvin terhadap Elea melebihi apapun, Alvin begitu khawatir terhadap kembaran nya itu.
Mendengar berita itu, Rangga begitu terkejut, bahkan Alvin tidak mengatakan apapun di pesawat tadi, apa Rangga tidak terlalu penting untuk Elea lagi? hanya karena Rangga sudah bukan kekasih Elea lagi?
" Memang Elea sakit apa?" ucap Reyna dan dr. Fandy begitu terkejut karena keluarga dokter Adnan kehidupannya begitu sehat tapi beda dengan penyakit yang mungkin datang dari mana saja.
" Yatuhan kalau gitu, ayo Kita jenguk Elea, lagipula sudah lama kita tidak bertemu!" ucap Reyna.
Memang sudah lama dr. Fandy dan juga dr.Adnan tidak bertemu hampir tiga tahun semenjak dr. Fandy pindah rumah ke Yogyakarta, mereka tidak saling bertemu hanya sebatas memberi kabar.
Hati Rangga begitu hancur, meskipun sudah sepuluh tahun lamanya, Rangga putus dari Elea tapi, perasaan itu masih ada, walau Rangga sudah menjalin hubungan dengan dr. Clara McKenzie, salah satu teman kuliah Rangga, Rangga selama ini berusaha melupakan Elea bahkan ia rela menjalin hubungan dengan dr. Clara , ia belum bisa mencintai dr. Clara, hati dan perasaanya hanya untuk Elea.
miss lolipop, aku merindukan kamu, apa kamu bisa menerima kehadiranku?
aku pulang hanya untuk melihat senyuman manis mu?
aku rindu canda tawamu, aku rindu candaanmu, aku rindu semua yang ada pada dirimu...
" Rangga, kamu mau ikut?" ucap dr. Fandy yang mengajak Rangga untuk ikut menjenguk Elea.
Rangga hanya mengangguk saja, ia bahkan tidak tahu harus berkata apa.
" Yasudah, kalau memang dr. Fandy dan juga Tante Reyna mau menjenguk elea, boleh saja..." ucap Alvin yang begitu bahagia, ia sudah membawa permen lollipop kesukaan Elea
Walau usia Elea sudah menginjak 26 tahun, tapi di mata Alvin, Elea masih sama seperti dulu, anak manja dengan segala tingkah nya.
Alvin mengubungi supir rumah yaitu Pak Anwar untuk tidak menjemputnya karena sudah ada mobil dr. Fandy yang di tumpangi oleh Alvin.
" kalian sudah makan?" ucap Reyna yang begitu perhatian.
" belum Ma, Rangga laper banget!" ucap Rangga.
" Vin, kita makan dulu ya .."
Mereka berhenti di Restoran, untuk sarapan pagi, Alvin bahkan tidak canggung karena sudah terbiasa dengan keluarga Rangga, Rangga sibuk dengan ponsel nya, karena berulang kali Clara menghubungi Rangga.
" Kamu balas pesan siapa si? ngga baik makan sambil main handphone!" ucap Reyna yang begitu penasaran, apalagi usia Rangga sudah menginjak 25 tahun.
" Biasa tante, Rangga kan punya pacar bule, dokter lagi .." ucap Alvin yang membocorkan sambil tertawa.
" Aduh siapa sih sebenarnya, bukannya yang tante tahu, Rangga pacar nya El?" ucap Reyna.
" Nggak, Ma.. ini cuma teman doang. lagipula Alvin ini asal ngomong doang..." ucap Rangga yang tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui tentang hubungannya dengan Clara.