My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
season 3- Egois



Perjuangan Elea untuk cepat sampai di bandara tidak sia-sia, ia langsung berlari dan mencari keberadaan Rangga, Saka ikut masuk ke dalam menyusul Elea, padahal Saka ada acara seminar di kampus, tapi gara-gara Elea mungkin Saka akan telat pergi ke kampus nya.


" Rangga...."


Elea melihat Rangga sedang memeluk Mama dan Papa nya, Elea hanya bisa melihat Rangga dari balik tembok, dari kejauhan ia tidak berani menghampiri Rangga, apalagi setelah Rangga memutuskan hubungannya begitu saja, tanpa ada rasa penyesalan dalam hati nya.


" untuk saat ini, tahan semua emosi Elea, Rangga bukan milik mu lagi, Berhenti berharap tentang Rangga..."


Elea terkulai lemas, air mata nya kembali menetes ketika melihat Rangga, ingin sekali Elea menghampiri Rangga dan memberinya pelukan terakhir, tapi rasanya ia tidak pantas untuk melakukannya, apalagi sekarang Elea bukanlah kekasih Rangga.


" andai kamu tahu Ga, aku disini datang untuk menemuimu, tapi aku sama sekali malu dengan diriku sendiri, aku terlalu amat mencintaimu, dan berpikir kita akan selamanya seperti ini, namun takdir tuhan sangatlah berbeda."


" aku yakin, kamu akan kembali dengan gelar kamu sebagai dokter berkelas, selamat tinggal Rangga, semua kenangan yang kamu berikan selama lebih dari dua tahun ini, tidak akan pernah aku lupakan, meski kita berjauhan, ntah sampai kapan aku menyimpan perasaan ini, atau mungkin suatu saat perasaan ini lenyap seketika, karena seiring berjalannya waktu. Rangga, aku akan selalu merindukan kamu!" Elea.


Elea duduk dan menyandarkan tubuh nya ke tembok, ia menangis , Saka memperhatikan gerak gerik Elea, bahkan Saka memperhatikan Tatapan kedua bola mata Elea yang melihat ke arah penumpang pesawat menuju London.


" kalau mau menangis, jangan di tahan, kalau bisa keluarkan semua beban di dalam pikiran kamu, kalau memang itu bisa membuat mu lebih tenang ." saka


Elea masih tetap menangis, bahkan ia menutup wajah nya.


" Kenapa kamu tidak menemui pria itu ?" Ucap Saka sambil duduk di samping Elea.


Elea hanya menggelengkan kepala saja, ia masih menangis tersedu.


Tiba-tiba saja ponsel Elea berbunyi, dan terpampang nama Daddy nya, mungkin saja Dokter Pram menghubungi Daddy dan menceritakan semua kejadian kemarin malam.


" Halo Dad?" elea


" Kamu dimana el, Daddy pergi ke rumah dokter pram tapi kamu tidak ada di sini, sebenarnya kamu dimana!" dokter Adnan


" iya daddy pulang saja ke rumah, el mau pulang juga ke rumah!"


" Yasudah Daddy dan Momy menunggu kamu di rumah, kita perlu bicara!"


" iya Dad...."


Elea menutup sambungan teleponnya, ia langsung memasukkan ponsel nya ke dalam tas, Elea beranjak bangun dan melihat wajah Saka yang masih kebingungan.


" Antarkan aku pulang!" Ucap Elea sambil menyeka air mata nya dengan telapak tangan nya.


" Siapa yang mengajak aku pergi ke bandara, tiba-tiba mau minta pulang?" Celoteh Saka


Elea berdiri lalu pergi meninggalkan saka sendiri.


***


Saka mengantarkan Elea untuk pulang ke rumah, karena orang tua Elea sudah menunggu nya.


Sebenarnya Elea malas kalau harus berdebat dengan Daddy apalagi Daddy selalu membandingkan dirinya dengan Kak Alvin, Kak Alvin yang selalu mendapat perhatian lebih karena ia pintar dalam segala hal, berbeda dengan Elea yang tidak jenius seperti kembaran nya.


Sudah ada tiga universitas yang menolak Elea di fakultas kedokteran, sedangkan Dokter Adnan selalu menuntut Elea untuk menjadi seorang dokter seperti dirinya.


Akan tetapi, kemampuan yang Elea miliki tidak sebanding dengan kak Alvin. Elea sudah berusaha untuk belajar dan mengikuti les uji kompetensi, tapi tetap saja, ia selalu gagal.


Setelah sampai rumah, dokter Adnan berdiri di depan pintu menunggu kedatangab Elea, Elea pun masuk dan menyuruh Saka untuk mampir ke rumah nya terlebih dahulu. Saka hanya menurut saja toh, Ayah nya bilang kalau orang tua Elea adalah pemimpin di tempat kerja nya.


" Iya ada apa?" Ucap Elea, ia sudah bisa menebak apa yang akan daddy katakan kepadanya.


" Sampai kapan kamu uring-uringan seperti ini, kamu tidak lihat bagaimana kak Alvin?" Ucap Daddy sambil terus membanggakan Alvin.


Elea hanya terdiam, ia sudah bosan mendengar ucapan itu setiap hari.


" Apa yang kamu lakukan semalam? " tanya Daddy.


Elea hanya terdiam, sementara Saka tidak berani berbicara ia hanya menunduk dan menatap Elea, Saka bahkan bisa mengetahui perasaan Elea yang menyimpan beban terlalu banyak.


" Elea jawab pertanyaan daddy!"


Emosi elea tidak stabil, biasanya ia selalu diam membisu mendengarkan daddy nya yang terus memarahi bahkan ia tidak memandang siapapun, bahkan Saka yang berdiri di samping Elea pun tidak di hiraukan.


Andai saja ada Momy pasti dia akan membela bahkan membelai Elea penuh kasih sayang, Elea sangat merindukan kehadiran Aleyna, yang kini sedang mengurus nenek yang sakit.


" Daddy, stop membandingkan aku dengan kak alvin!"


" Dari dulu Daddy selalu membanggakan prestasi kak Alvin, sedangkan Elea selalu jadi bahan cemoohan, karena Elea bodoh tidak seperti Daddy!"


Elea menangis sambil menatap wajah daddy.


" Aku mohon sama Daddy jangan paksa aku untuk mengikuti jejak Daddy, itu semua beban buat aku, aku tidak bisa memaksakan kemampuanku, padahal aku sudah banyak berusaha Dad, aku mohon beri aku kesempatan untuk melakukan apa yang aku sukai...."


Mendengar penuturan Elea, dokter Adnan malah semakin marah.


" Mau kamu apa? Pokok nya semua keturunan keluarga Raden harus berprofesi sebagai dokter bagaimana pun caranya, kamu pikirkan sendiri...."


" Susah sekali di atur!"


Elea menentang keinginan Daddy nya, ia menangis sejadi nya.


" Daddy egois, aku benci daddy ...."


Elea langsung berlari ke dalam rumah dengan penuh isak tangis, karena keegoisan orang tua nya.


Dokter Adnan langsung menghampiri Saka yang tengah berdiri dengan kaku.


" Apa kamu anak dari dokter Pram?" Dokter Adnan.


Saka langsung mencium tangan Adnan dan memberi hormat, Saka memang anak yang sopan dan juga dewasa.


" iya dokter, kenalkan nama saya Saka, saya mahasiswa akhir jurusan psikologi." Ucap Saka sambil tersenyum, ia sedikit canggung karena ini pertemuan pertama nya dengan seorang dokter yang terkenal.


" Saya titip Elea. Bimbing dia, agar bisa menjadi seorang dokter seperti saya " ucap dokter Adnan


" Iya Pak dokter, tapi saya tidak ingin memaksa Elea. " Saka.


" Elea anak yang lembut, tapi semakin kesini, ia semakin malas, mungkin dengan cara ini, saya bisa menegaskan elea"


" iya pak dokter, kalau begitu saya pamit." ucap Saka yang meminta ijin untuk pulang , karena ia masih belum mengumpulkan skripsi ke kampus, ntah Elea begitu menarik perhatian Saka, sampai Saka begitu lupa untuk melakukan kegiatan nya seharian ini, Saka berjanji akan ada untuk Elea, dan menghibur Elea.


Guys, dukung author dengan cara vpte dan komentar, agar authorr senang.