
Keesokan harinya, Alvin bangun pagi sekali bahkan ia langsung pergi ke ruang makan , sebenarnya Alvin ingin sekali membangunkan Elea tapi, ia masih kesal dengan sikap elea yang tidak bisa di andalkan bahkan ia masih saja memikirkan juno.
Alvin menuruni anak tangga satu persatu, kebetulan ia lupa dengan titipan surat yang diberikan oleh guru Bimbingan konseling waktu siang kemarin.
Alvin juga merasa penasaran dengan isi surat yang tersimpan rapih di dalam amplop coklat namun ia tidak berani membukanya karena surat ini di tujukan untuk kedua orang tuanya.
" Mom, Dad... " ucap Alvin yang menghampiri kedua orangtuanya yang sedang menunggu di ruang sarapan.
" Al, adik mu mana?" ucap Aleyna yang sedang mempersiapkan makanan, kebetulan Bibi sedang membuatkan segelas susu putih untuk Elea.
" Belum bangun..." dengus Alvin, ia langsung duduk
Aleyna menatap heran wajah Alvin, karena tidak seperti biasanya.
" Daddy, sama Momy ini ada titipan surat dari guru bimbingan konseling, aku juga tidak tahu apa isi di dalamnya..."
Alvin menyerahkan amplop yang berisi surat ke arah Adnan.
" Surat panggilan?" ucap Adnan sambil mengerenyitkan dahi nya. ia segera membuka surat tersebut.
" kamu nggak bikin keributan di sekolah kan, karena momy tahu kamu bukan anak yang suka bertengkar" ucap Aleyna yang juga merasa penasaran.
Adnan membuka isi amplop tersebut, bahkan ia nampak terkejut ketika membaca nya, namun ada kesenangan di hati Adnan karena selama ini, kepintaran Alvin patut di acungi jempol karena pihak sekolah menawarkan Alvin untuk naik langsung ke kelas 11 dalam masa percobaan selama tiga bulan lamanya, dengan alasan Alvin sudah menguasai seluruh pelajaran di kelas 10.
Adnan menggelengkan kepala, dan membuat Aleyna begitu penasaran.
" Ada apa sih Mas?" ucap Aleyna yang merebut surat itu dari Adnan.
" Vin, kamu beneran?" ucap Aleyna yang merasa bangga.
" Memangnya apa isi surat tersebut?" ucap Alvin yang tidak mengetahui tentang isi surat tersebut.
" Daddy bangga sama kamu vin, tapi dulu daddy di kelas 11 hanya satu semester karena pihak sekolah menawarkan daddy untuk langsung masuk ke kelas 12 , jadi jangan sampai mengecewakan ... " ucap Adnan
" Mas, aku bangga sama alvin karena aku dulu tidak seperti itu." ucap Aleyna yang merasa malu dengan anak nya sendiri, karena kalau mengingat jaman nya dulu, Aleyna bukanlah murid pintar seperti alvin.
" Dulu vin, momy hampir tiap hari mendapatkan surat panggilan orangtua, sampai guru BK saja bosan dengan momy.." ucap Aleyna sambil tertawa.
" dulu daddy pertama kali bertemu dengan momy, penampilannya kayak preman pasar..." ucap Adnan sambil meledek aleyna dan tertawa.
" Masa sih dad, memang ada preman yang cantik seperti momy?" sahut Alvin yang juga ikut tertawa.
" Makanya cantik, kalau nggak cantik daddy nggak akan suka..." ucap nya lagi.
" Jadi Mas Adnan naksir aku karena aku cantik doang?" ucap Aleyna
" kamu kan paket lengkap, nakal nya ada. cantik nya ada. ngeyel juga ada sama keras kepala juga." ucap Adnan sambil tertawa
Aleyna kesal dengan Adnan, bahkan ia mencubit perut Adnan sampai empunya merintih, karena keasyikan ngobrol akhirnya Aleyna pun melupakan elea , ia bahkan lupa membangunkan elea yang masih tidur.
" Nyonya segelas susu untuk Non el.." ucap Bibi yang menaruh segelas susu.
" Loh, el belum bangun mas..." ucap Aleyna yang segera bergegas pergi ke kamar elea, bisa jadi elea ngambek karena Aleyna baru membangunkannya.
Sementara Alvin berangkat lebih awal karena ia sebagai ketua kelas mempunyai tanggung jawab dalam kebersihan kelas, ia memang masih kecewa dengan elea.
" Jadi daddy datang nya minggu depan ?" ucap Adnan
" Iya dad, kalau gitu Alvin berangkat duluan yah... " ucap Alvin sambil meraih tas dan mencium punggung tangan Adnan.
" Adik mu bagaimana vin, kamu nggak mau menunggu el?"
" Alvin harus berangkat pagi sekali dad, biar Pak Anwar saja yang mengantar elea. Alvin pamit dulu... "
" Hati-hati di jalan vin... "
" Assalamualaikum dad... "
" Waalaikum salam... "
***
" Mom, ini jam berapa ?" ucap Elea yang masih setengah merem.
" Jam 06.45 wib el ! kamu nggak sekolah?"
Ucap Aleyna yang selalu sabar menghadapi elea.
Elea melotot ke arah jam weker di atas nakas, ia nampak tidak percaya.
" Kak alvin mana?" tanya elea
" Sudah berangkat, lagian el lama sih.. "
" Aaaaaahh.... Momy!"
Elea teriak sampai gendang telinga Aleyna rasanya mau pecah, el segera bergegas menuju kamar mandi, ia bahkan sudah telat jangan sampai untuk yang ketiga kalinya elea telat karena bu monica akan menghukum nya lagi, mungkin lebih parah dari yang kemarin.
" El sarapan dulu baru berangkat!" ucap Aleyna yang mengejar elea
" mom, el sudah telat nanti el sarapan di kantin saja... "
" Minum susu saja kalau gitu sayang... "
" Nggak mau mom, el sudah telat!"
" Hati-hati sayang, Pak Anwar jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya... "
Mobil Toyota Alphard meninggalkan perkarangan besar keluarga dokter Adnan dengan perasaan tidak tenang elea pergi kesekolah di jam molor, hari ini tidak seperti biasanya ntah elea tidak pernah takut kalau saja telat sekolah namun kali ini Elea merasa tidak tenang.
" Kenapa sih kak alvin tega banget, ninggalin aku , tumben juga dia nggak bangunin aku.. "
Elea terus menggerutu, begitu sampai sekolah gerbang sudah tertutup bahkan elea tidak di perbolehkan masuk oleh security baru, el nampak kesal karena ia sudah rapih kalau saja el bolos lagi, bisa-bisa daddy akan menikahkan elea sekarang juga.
" Pak, ayolah bolehkan aku masuk!" ucap Elea sambil merayu satpam baru di sekolah.
" Ini sudah jam berapa? "
" ini sudah peraturan sekolah, tidak bisa di ganggu gugat!" ucap satpam tersebut.
Elea mendengus kesal, ia melihat kakak kelas yang melewati jalur aman. Elea mengikuti langkah kakak kelas yang juga telat sama seperti elea.
Dengan langkah pasti, elea menorobos jalan setapak yang ada di belakang sekolah.
Elea berlari karena takut tertinggal oleh kakak kelas yang juga ikut telat, mungkin saja kakak kelas ini mempunyai jalan pintas agar bisa masuk kelas dan lolos dari hukuman guru piket.
" Kak, aku ikut dong... " ucap Elea ketika kakak kelas itu mulai memanjat tembok belakang sekolah yang menjulang tinggi.
Kakak kelas itu nampak misterius, bahkan ia mengenakan sweater hitam dengan kepala yang di tutupi oleh kupluk dari jaket yang ia kenakan. Namun, elea yakin kakak kelas ini murid dari sekolah elementary high school
" Kak... " ucap Elea yang terus memanggil kakak kelas tersebut.
Namun tetap saja kakak kelas itu tidak menengok ke arah elea, bahkan ia mengabaikan elea. Tapi, elea yakin ia nampak mengenali postur tubuh seseorang yang kini sedang ia ikuti.
" Yatuhan, lindungi el.... "
Seseorang itu berhenti sejenak, di dekat tembok besar bahkan ia mengambil tangga kayu yang sudah tersedia di dekat pohon besar.
" Kamu manusia kan? bukan hantu?" ucap Elea yang merasa ketakutan.
Tiba-tiba saja seseorang yang di duga kakak kelas elea menengok ke arah elea. Namun, Elea tidak berani membuka matanya. Karena tempat ini begitu gelap, bahkan ia menyesal telah mengikuti seseorang yang tidak ia kenali.
" Jangan mendekat, aku mohon!" ucap Elea sambil terus menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangannya.
" Aku nggak ada maksud buat ngikutin kamu kok, aku cuma mau masuk ke kelas dan belajar udah itu saja!" elea terus menjerit ketakutan bahkan kaki nya gemetar.
Seseorang itu membuka penutup kepala dan membuka jari jemari elea yang menutupi wajahnya.
" Jangan... Aku mohon... " ucap Elea , kini detak jantungnya terus berdetak kencang, ia takut esok atau lusa tidak bisa hidup seperti sekarang.
Seseorang yang di duga kakak kelas itu adalah Rangga, ntah elea memang mengenali postur tubuh Rangga tapi, ia tidak menyangka kalau orang yang kini ada di hadapannya adalah Rangga.
Elea masih memejamkan kedua bola matanya, meski ia tahu orang itu ada di dekat nya bahkan di depan wajah nya.
" segini kah nyali kamu? dasar penakut!"
" Jangan deketin aku !" ucap Elea yang merasa ketakutan.
Rangga mengangkat dagu elea, untuk menyadarkan bahwa orang yang kini ada di hadapannya adalah Rangga bukan hantu ataupun makhluk lain.
Elea mulai membuka matanya, bahkan ia terkejut ketika menatap kedua bola mata sipit dan bulu mata yang lentik , hanya Rangga yang memilikinya.
" Rangga?" ucap Elea yang merasa terkejut ketika ia tahu, kalau orang yang ia ikuti adalah Rangga.
" Lain kali nggak usah ngikutin orang lain, apalagi kamu nggak kenal, bagaimana kalau orang itu bukan aku?" ucap Rangga sambil melepaskan jari tangan nya yang menyentuh dagu elea.
" Aku... Aku.... " elea terbata-bata, karena ia tidak menyangka kalau ia mengikuti Rangga.
" Jadi kamu giat belajar cuma karena tidak ingin menikah dengan ku?" ucap Rangga sambil tertawa.
" Bukan begitu, tapi... "
Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Rangga langsung membuka jaket nya untuk melindungi elea dari percikan air hujan yang akan membasahi tubuh mungil elea.
Elea nampak terpukau, melihat ketulusan Rangga, ia bahkan melihat sisi baik Rangga yang begitu perduli dengan dirinya sendiri.
" Ayo el, neduh dulu!" ucap Rangga sambil menyuruh elea untuk masuk ke gedung kosong di belakang sekolah.
" Aku mau sekolah ga, aku nggak mau bolos!" ucap Elea yang tetap keras kepala ingin masuk kelas.
" Kenapa sih ngeyel banget?"
Elea tidak memperdulikan omongan Rangga, ia mengambil tangga yang terbuat dari kayu untuk memanjat tembok agar cepat sampai di kelas, namun apa daya kepala Elea terbentur tangga kayu sampai berdarah dan lecet.
" aw .... "
Elea merintih kesakitan, ia bahkan memegangi kening nya yang lecet dan berdarah.
" Batu banget sih jadi orang!" ucap Rangga yang menuntut elea untuk masuk ke dalam gedung kosong.
" Kamu kuat kan?" ucap Rangga yang terus menuntut elea ke arah tempat yang lebih bersih.
" Aw... Sakit rangga!"
Elea terus merintih kesakitan, sampai Rangga mengeluarkan sapu tangan kesayangan nya untuk menghapus luka di kening elea.
" Lain kali nurut bisa nggak sih, ini kepala batu banget kalau di bilangin!"
Rangga dan Elea menemukan tempat untuk berdiam diri, tepatnya di dalam gedung kosong tersedia kursi yang masih layak. meski baju mereka basah,setidaknya gedung kosong ini mampu melindungi mereka dari derasnya hujan.
" Sakit yah?" ucap Rangga yang terus menyeka luka di kening elea dengan sapu tangan nya.
Elea hanya manggut saja, ia tidak berkata sedikit pun karena tubuhnya sangat dingin, apalagi elea tidak bisa tahan dengan udara dingin.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya nya yah?
Guys, like komen dan vote :)