My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Demi Rangga



Pelajaran sejarah di jam pertama saja sudah membuat Elea mengantuk, apalagi sekarang ia benar-benar kehilangan Rangga.


Elea terus menatap ke arah kursi yang kosong, yang biasanya rangga tempati, namun sekarang bahkan elea tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Rangga.


Mengapa dia tidak masuk sekolah, padahal Elea sudah berusaha bangun pagi agar tidak telat masuk sekolah, ia berusaha tampil secantik mungkin hanya untuk Rangga tapi, semuanya nampak sia-sia.


Rangga bahkan tidak melihatnya, Rangga tidak memuji nya.


Elea merasa hari ini, hari paling terburuk baginya. Mengapa Rangga setega itu, tidak memberinya kabar, bahkan ia mematikan ponsel nya.


Elea sudah berusaha untuk berubah, karena Rangga mampu membuat nya berubah menjadi lebih rajin, Elea lebih sering masuk kelas dibandingkan dengan dulu, ia sering sekali bolos sekolah.


" Eleanor?" Ucap Pak Darwin guru Sejarah, yang kini mengajar di kelas Elea.


Elea tidak memperdulikan apapun, ia terlelap dengan semua beban pikirannya, Elea tertidur tapi pikirannya masih tertuju dengan Rangga, meski kedua bola matanya terpejam.


" Eleanor!" Ucap Pak Darwin lagi, yang semakin kesal.


Karin yang duduk satu bangku dengan Elea sudah berusaha membangunkan, Karin menginjak kaki Elea tapi tetap saja Elea tidak terbangun.


" Dasar anak nakal, sekalinya masuk pelajaran saya, malah tertidur ..." Dengus Pak Darwin yang semakin kesal.


Akhirnya ia memukul meja elea dengan sangat kencang, sampai Elea terbangun dari tidurnya.


" Ada apa sih!" Ucap Elea


Semua murid yang ada di kelas nampak menyoraki elea apalagi Nadine dan kedua sahabatnya yang selalu menyuruh Elea untuk terima hukuman.


" Ikut saya...." Ucap Pak Darwin


" Tidur udah kayak kebo!" Ucap Karin sambil berbisik di telinga Elea.


" memangnya aku tidur? Aku malah tidak sadar!" Ucap Elea sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Pak Darwin kayaknya marah banget el, lebih baik ikuti dia saja...." perintah Kiara, akhirnya pun Elea mengikuti langkah Pak Darwin, Elea sendiri mengabaikan semua cacian dan hinaan yang di lontarkan oleh Nadine dan kedua temannya, toh memang Elea beruntung memiliki sikap cuek, dan tidak menghiraukan sama sekali.


" Pak, kita mau kemana?" Ucap Elea sambil mengikuti arah kaki Pak Darwin.


" ketempat kamu!" Ucap Pak Darwin dengan tegas nya.


" Pak, nggak bosen menggiring aku ke ruang konseling?" Ucap Elea , dan membuat langkah Pak Darwin terhenti.


Elea begitu terkejut ketika Pak Darwin menoleh ke arahnya, Elea langsung menundukkan pandangannya.


" Apa yang salah dengan aku, atau pelajaran ku, karena dari awal masuk sampai sekarang kamu tidak pernah berubah, Elea...." Ucap Pak Darwin,yang usianya masih muda sekitar dua puluh lima tahun, Pak Darwin sendiri masih lajang dan tampan.


Elea menghela nafas, dan menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Pak Darwin.


" Tidak ada yang salah dengan Pak Darwin, hanya saja aku tidak bisa belajar dan mengingat semua kejadian di masa lalu. " Ucap Eleanor dengan polos nya.


Pak Darwin tersenyum ke arah Elea.


" Saya rasa bukan hanya itu saja, tatapan dan cara berbicara kamu, tidak selaras!" Ucap Pak Darwin.


" Aku tidak mengerti, apa yang Pak Darwin katakan!" Sahut Elea, ia tidak berani menatap wajah Pak Darwin.


" Kamu berada disini, dan sedang berbicara dengan saya, tapi pikiranmu lari ntah kemana!" Ucap Pak Darwin seolah menebak semua gerak gerik Elea.


" Jangan-jangan Pak Darwin mempunyai kekuatan untuk membaca pikiran seseorang?" Ucap Elea


Pak Darwin terkekeh, padahal ia tadi kesal dengan semua yang dilakukan oleh Elea, tapi ntah senyum dan paras cantik yang dimiliki Elea mampu mengalahkan segalanya.


Bahkan, disaat Elea merasa takut, semakin tidak tega Pak Darwin untuk menghukumnya lagi, karena Elea sudah terlalu sering kena hukuman.


Pak Darwin langsung melanjutkan langkah kakinya dan membawa Elea ke ruang konseling lagi, mungkin ruangan itu tidak asing bagi Elea karena Elea sudah menjadi langganan guru bimbingan konseling, Pak Angga sebagai ketua bimbingan konseling sudah bosan mendengar nama Elea lagi yang masuk daftar hitam oleh guru-guru.


Elea menunggu di ruangan konseling , mungkin siswa lain menganggap ruangan ini adalah ruangan paling mengerikan tapi, untuk Elea tidak ada yang lebih menyeramkan selain rumah hantu.


Tak lama guru piket selaku ibu Monika datang dengan membawa selembar surat, namun ia sibuk dengan ponselnya, karena ia sedang menelpon seseorang.


Elea bahkan tidak perduli, dengan siapa ibu monika menelpon tapi, ketika melewati Elea, ada hal yang membuat Elea terkejut.


" Semoga Rangga cepat sembuh Bu reyna, dan bisa belajar kembali!" Ucap Ibu Monik sambil berjalan ke ruangan Pak Angga.


Elea membulatkan kedua bola matanya, ia bahkan tidak salah dengar, karena kedua telinganya masih normal.


Hati elea merasa teriris ketika ia mendengar kalau Rangga sakit, bahkan ia tidak tahu kalau Rangga sakit.


Elea segera keluar dari ruangan bimbingan konseling, ia sudah terlalu la menunggu hukuman apalagi yang akan ia terima.


Yang pasti, Elea ingin segera pergi ke rumah Rangga dan memastikan kalau ia baik-baik saja. Elea tidak bisa tenang, sementara Rangga sedang berjuang melawan rasa sakit.


" Ga, aku pasti datang menemani kamu, kenapa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya, kalau kamu memang sakit, aku khawatir dengan mu, Rangga....."


Elea langsung keluar dari ruangan bimbingan konseling tanpa pamit lebih dulu kepada Pak Darwin ataupun Pak Angga.


Setelah hampir setengah jam Pak Darwin membicarakan sikap dan ulah Elea kepada Pak Angga, akhirnya Pak Darwin keluar dari ruangan Pak Angga beserta Pak Rangga yang juga hendak memberikan hukuman bagi elea.


" loh, elea kemana ?" Ucap Pak Darwin nampak terkejut, karena elea sudah pergi ntah kemana.


" Anak itu memang nakal, bisa-bisanya pergi dari hukuman!" Ucap Pak Angga.


" Saya akan memberinya hukuman tambahan Pak!" Ucap Pak Darwin.


" Tidak usah, saya sudah bosan memberinya hukuman, Elea memang sama seperti ibunya dulu, tapi saya yakin, Elea akan berubah kelak seperti ibunya...." Ucap Pak Angga yang usianya sudah enam puluh lima tahun, namun ia masih berjasa dengan sekolah ini.


" Kalau gitu, saya akan lebih membimbing Elea untuk giat belajar lagi Pak " ucap Pak Darwin yang langsung pergi meninggalkan ruangan konseling, Pak Darwin tidak habis pikir kalau Elea bisa nekat seperti ini.


****


Elea berlari dan memikirkan jalan untuk keluar dari sekolah, ia bahkan ingat jalan satu-satunya yang dulu pernah ia lewati yaitu jalan setapak yang ada di belakang sekolah, dekat rumah penjaga sekolah itu.


Elea berlari sambil mengendap, takut ada siswa atau guru lain yang melihatnya, namun nampaknya aman karena ini baru pukul 09.30 Wib, semua siswa dan guru sedang sibuk mengikuti kegiatan belajar dan mengajar sementara guru Piket juga sedang berjaga di depan.


Elea langsung lari dan sampai di jalan setapak, memang sulit, karena Elea harus memanjat tembok yang lumayan tinggi, apalagi Elea pakai rok sekolah, tapi demi Rangga, ia bahkan sudah biasa memanjat tembok dibelakang sekolah.


" neng mau kemana?" Kata penjaga sekolah yang sedang membersihkan area belakang


" Pak, jangan bilang siapa-siapa, aku mau menjenguk teman yang sakit!" Ucap elea sambil berbisik


" Kalau gitu hati-hati ya neng!" Ucap penjaga sekolah yang sudah akrab dengan Elea.


Elea meluncurkan aksinya, ia berhasil memanjat tembok dan berhasil keluar dari area sekolah.


Elea ingin segera sampai ke rumah Rangga, tapi sayang sekali tas dan dompet nya tertinggal di kelas, ia tidak mungkin kembali ke kelas untuk mengambil handphone atau uang, karena itu semua cukup sulit baginya, Elea mungkin akan kena hukuman oleh Pak Darwin lagi.


" Kenapa sih mau ketemu kamu saja sulit, nggak tahu apa , kalau aku kangen! khawatir juga, Rangga..........."


Elea berjalan ke arah depan, namun kedua bola matanya terbuka ketika ia melihat sepeda berwarna merah, sepeda itu mirip seperti ontel namun lebih kecil dan kekinian, Elea yakin mungkin sepeda ini milik penjaga sekolah yang biasa di taruh disini, elea langsung mempunyai ide untuk menggunakan nya. Walaupun jarak antara rumah Rangga dan sekolah hampir setengah jam dilewati oleh kendaraan


" Semoga sepeda ini membantu, semangat Elea! Rangga sudah menunggu!"


Elea tersenyum senang, karena ia menemukan ide yang sangat berlian. Semua itu hanya demi Rangga.


TERIMAKASIH, Bagi yang sudah mau menunggu cerita ini, maaf jarang update karena semakin hari kehamilan aku semakin membesar dan perlu banyak waktu untuk istirahat tapi kalian begitu antusias sampai aku kembali semangat untuk menulis, tulisanku terbantu karena adanya kalian.


Love dari jauh, salam hangat!


Raindu♥️