My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Peluk ku, untuk Pelik mu



Arrrgh.... kenapa sih harus kepencet.


Aleyna langsung bergegas masuk ke dalam rumah setelah ia tidak sengaja menelpon Adnan, padahal ia sudah mencoba untuk tidak menelpon nya, tapi di saat Aleyna mengingat tempat yang pernah di lalui bersama ia langsung mengingat Adnan.


Namun, Aleyna terkejut ketika masuk ke dalam rumah dan bertemu Bi Nani yang tengah berdiri di depan pintu.


"Bi, hampir saja aku pingsan!" ucap Aleyna sambil terkejut


" sudah malam Non, lebih baik tidur" ucap Bi Nani, padahal ia tahu kalau Aleyna menelpon adnan secara diam-diam


" Iya Bi, ini mau tidur kok. cuma nyari angin saja tadi" ucap Aleyna yang mencari alasan.


Bi nani, nampak heran dan menggelengkan kepala nya ketika melihat tingkah Aleyna yang nampak gugup kalau saja ketahuan ia habis menelpon Adnan.


Bi Nani pun menatap kepergian Aleyna dan memastikan kalau Aleyna sudah benar-benar tidur, karena ia mempunyai rencana untuk menyatukan Adnan dan Aleyna kembali.


Aman !


Bi nani pun mulai meluncurkan rencana nya, Aleyna memang sudah menyuruh bi Nani untuk merahasiakan keberadaan nya,tapi bi Nani tidak bisa tinggal diam kalau saja Aleyna dan Adnan berpisah seperti ini, karena bi Nani adalah saksi dimana mereka pertama kali menikah bahkan pindah ke rumah sendiri, Bi Nani yang menjadi saksi akan keromantisan cinta mereka, ini saat nya Bi Nani menjadi pahlawan bagi kedua nya.


Bi Nani pergi ke gubuk kecil yang sengaja di buat di depan rumah nya, gubuk yang terbuat dari kayu dan atap yang terbuat dari daun kelapa tapi tidak mengurangi rasa sejuk di dalam nya.


Bi Nani, mengambil ponsel genggam dari dalam saku celana nya sambil melirik ke arah rumah takut nya Aleyna mendengar dan bisa jadi rencana yang sudah di susun rapih akan gagal dan berantakan.


" semoga tuan mau mengangkat telepone nya" ucap Bi Nani dalam hati, perasaan nya was-was takut Aleyna mengetahui bahkan curiga dengan gerak gerik dari Bi Nani, namun seperti nya Aleyna sudah tertidur.


Tak lama, panggilan telepone dari Bi Nani pun terhubung ke ponsel Adnan,dan ia pun mengangkat telepone dari bi Nani.


" Halo, Aleyna...


sayang kamu dimana ?" ucap Adnan sekilas tanpa memperhatikan siapa yang menelpon nya.


Bi Nani diam sejenak , ia memikirkan kata demi kata yang harus ia ucapkan.


" Halo!" ucap Adnan lagi


" Halo Tuan, saya Bi Nani" ucap Bi Nani


" Bi, dimana Aleyna dan anak-anak ku?" Tanya Adnan dengan tergesa gesa


" Tuan tenang saja, Non Aleyna dan si kembar sedang ada di rumah bibi " ucap Bi Nani


" katakan, dimana tempat tinggal bibi karena malam ini juga aku akan segera kesana!" Tegas Adnan


" Iya tuan, bibi ada di Bandung, bukan kah tuan sedang ada di Banjarmasin ?" ucap Bi Nani yang nampak heran


" Saya sudah pulang, tolong kasih alamat bibi karena malam ini saya akan segera kesana !" ucap Adnan


" Rumah bibi ada di desa Ciwidey, nanti Bibi akan kirim alamat rumah nya, tapi dengan satu syarat Tuan?" ucap Bi Nani lagi


" Apa Bi, katakan saja Bibi mau apa ? akan saya turuti!" ucap Adnan


" Bibi hanya ingin, Tuan merahasiakan ini dari Non Aleyna " ucap bi Nani


" Iya Bi, terimakasih sudah memberitahu saya" ucap nya.


Adnan pun segera menutup telepone dari Bi Nani, dan menyuruh Rio untuk mempersiapkan mobil karena ia akan pergi ke Bandung untuk menyusul Aleyna, sungguh ini kesempatan yang tidak akan Adnan sia-sia kan walau tubuh nya letih karena tidak tidur atau makan, karena pikiran nya hanya tertuju kepada Aleyna dan dua anak nya.


Mereka memang sudah tanggung jawab Adnan, apapun yang terjadi dengan mereka Adnan lah yang akan merasa bersalah, seperti kejadian sekarang? Aleyna pergi tanpa memberitahu Adnan, walaupun ia pergi ada sebab nya, namun sikap Aleyna sangat di sayangkan sekali.


.


kesabaranku, ada batas nya Aleyna ....


" tapi Pak, ini sudah larut malam, apa tidak berbahaya kalau kita memaksakan diri untuk pergi? sedangkan Pak Adnan belum istirahat sama sekali " ujar Rio yang menyuruh Adnan untuk istirahat sejenak.


" Saya ingin malam ini juga Kita pergi ke Bandung, tidak ada alasan apapun!" ucap Adnan dengan tegas nya.


" Pak, demi keamanan. Karena Perjalanan dari Jakarta ke Bandung itu tidak dekat, tidak semudah itu!" Ucap Rio lagi


" Kalau kamu tidak ingin mengikuti ku, lebih baik aku saja yang pergi sendirian, kau tidak usah melarangku!" bentak Adnan


" baik Pak Adnan, saya akan menemani anda, saya tidak ingin anda pergi sendiri ke Bandung dengan keadaan kalut seperti ini" ujar Rio lagi, ia memang selalu menjaga keselamatan Adnan , karena itulah Rio di percaya oleh keluarga Raden untuk menjadi Asisten Pribadi Adnan.


Rio pun menyiapkan segala keperluan Adnan, dan mereka langsung pergi malam ini juga ke Bandung dan hanya berdua tanpa ada orang lain.


mengejar cintamu memang sulit,


sampai aku harus bersusah payah lebih dulu, untuk menggapai mu....


***


Setelah menelepon Adnan tadi tanpa sengaja, akhirnya Aleyna memberikan ponsel yang ia pinjam ke Mirna, dan ia tidur di samping kedua anak kembar nya meski kamar ini tidak luas bahkan Aleyna tidak biasa tidur di kamar yang sempit namun bagi Aleyna kamar ini cukup nyaman, tapi masih saja ada yang kurang dalam hidup Aleyna kalau saja separuh hati nya tidak berada disisi nya.


Tidak bisa di pungkiri, Aleyna meman sangat merindukan Adnan walaupun ia tahu, Adnan sedang sibuk!


Mas, aku kangen sama kamu!


Aleyna merebahkan tubuh nya ia sangat lelah karena hati dan pikiran nya benar-benar telah terkuras belakangan ini.


Kenapa sih, rasa rindu itu datang secara tiba tiba...


Padahal niatnya, Aleyna ingin menghabiskan waktu di Bandung untuk beberapa hari, dan menghibur diri nya sendiri di tengah kegundahan hati nya tanpa seorang Adnan, namun nyata nya ia gagal, karena terbiasa hidup berdua bersama Adnan, meski ia ingin mencoba menghibur diri tapi kenyataan nya,kehadiran Adnan lah yang mampu mengobati hati Aleyna.


Aleyna menatap ke arah wajah Alvin, dan memang wajah Alvin hampir mirip dengan Adnan dan tidak ada sama sekali wajah Aleyna di wajah mungil Alvin.


" Semoga saja, kamu tidak seperti daddy kamu nak!" ucap Aleyna sambil mencium pipi Alvin yang sedang tertidur


Bagaimana mungkin ?


wajah nya saja sangat mirip, bisa jadi Alvin itu duplikat nya Adnan yang memang penerus generasi keluarga Raden Kusuma Cipto Mahesa.


arrghhh.. kenapa bayang-bayang wajah Mas Adnan selalu menghantui ...


Aleyna malah semakin gelisah, ia tidak bisa memejamkan mata nya karena setiap ia memejamkan mata, wajah Adnan selalu menghantui nya.


Padahal baru satu hari Aleyna berada di Bandung, ia sudah merindukan Adnan tapi apa kabar Adnan yang sudah seabad di Banjarmasin?


Apa dia merindukan ku juga ?


Ah, Aleyna malah semakin merasa serba salah memang cinta dan rindu serta benci itu sudah satu paket, kalau saja Aleyna terus berusaha membenci Adnan tapi disisi lain justru Adnan malah semakin terus merasuk di dalam pikiran Aleyna tapi kalau saja Aleyna merindukan Adnan, jalan satu-satu nya adalah bertemu agar mereka bisa menyelesaikan semua masalah.


***


Setelah sampai di Bandung, Adnan dan Rio pun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, mereka pergi ke masjid terdekat untuk menjalankan ibadah dan berdoa agar semua masalah di kehidupan Adnan bisa dengan mudah terselesaikan, tanpa ada perpisahan. Karena Adnan sangat membenci perpisahan tidak ada bayang bayang dalam kehidupan Adnan untuk berpisah dengan Aleyna.


" Semoga masalah Pak Adnan bisa segera terselesaikan" ucap Rio


" Saya berharap tidak ada masalah lagi dalam kehidupan saya ataupun rumah tangga saya" ucap Adnan


" baik Pak." ucap Rio


***


Sementara pagi ini, Aleyna di ajak oleh Mirna untuk memetik buah stroberi di perkebunan milik kepala Desa karena itu sudah menjadi pekerjaan Mirna selama di tinggal oleh Bi Nani ke Jakarta.


Mirna sendiri tinggal bersama kedua adiknya , ia bahkan yang merawat adik-adik nya ketika Bi Nani sibuk bekerja sebagai Asisten rumah tangga Aleyna.


" Bi, aku titip anak-anak ku yah" ucap Aleyna


" Non, ingat jangan terlalu cape, bantu secukup nya saja yah" ucap Bi Nani


" Iya Bi, tenang saja" ucap Aleyna


" Yasudah, aku dan Mirna berangkat dulu" Ucap Aleyna.


" Hati-hati Non, ingat pesan Bibi tadi" ucap Bi Nani sambil menatap kepergian Aleyna dan Mirna ke Kebun stroberi.


-


" Jadi kita naik sepeda ?" Tanya Aleyna


" Iya Non, saya cuma punya sepeda saja" ucap Mirna


" Tidak apa-apa, aku senang mengendarai sepeda" ucap Aleyna sambil mengangkat alis sebelah kiri nya.


Jangankan sepeda, motor gede pun Aleyna bisa menaklukan nya. mereka hanya membawa satu sepeda, dan Aleyna memaksa untuk memboncengi Mirna namun, Mirna sempat menolak nya. Namun, pada akhirnya Mirna memperbolehkan Aleyna untuk membawa nya.


Dengan sigap, Aleyna mengayuh sepeda dengan sangat cepat meski ia harus melewati jalanan yang berliku, namun kepiawaan Aleyna tidak di ragukan lagu, ia bahkan mengayuh sepeda seperti ia menancapkan gas di arena balap,Aleyna memang sangat menyukai nya.


" Yuhuuuuu .. "


Aleyna bersorak riang, ia bahkan hampir melupakan semua masalah di hidup nya.


sedangkan Mirna sedari tadi sudah ketakutan sambil memejamkan kedua mata nya karena Aleyna benar-benar membuat jantung Mirna hampir berhenti berdetak, padahal naik sepeda apalagi kalau naik motor, setelah sampai di kebun strobery mereka pun langsung memakai topi petani dan membawa satu tempat untuk menyimpan strobery


" kenapa bawa artis ke kebun?" ucap salah satu petani


" aduh ini teh bukan artis, tapi majikan dari Mama Mirna, kang." ucap Mirna dengan logat sunda nya


" Meni geulis" Ucap Petani lain


Aleyna hanya membalas nya dengan senyuman saja toh Aleyna tidak mengerti apa yang di bicarakan para petani itu.


***


Setelah hampir empat jam berada di perjalanan, Akhirnya Adnan pun sampai di sebuah desa yang terletak di Ciwidey, ia mencari tahu letak rumah Bi Nani dan Rio pun menanyakan ke setiap orang yang lewat karena desa ini benar-benar masih asri, dan masih di lengkapi sawah-sawah dan pegunungan yang menjuntai.


akhirnya, Adnan dan Rio pun telah sampai di rumah bi Nani, rumah yang tidak besar hanya saja cukup untuk keluarga kecil bi Nani, karena ia sendiri tidak memiliki suami.


" Maaf Tuan, hanya gubuk kecil saja" ucap Bi Nani sambil merendah


" Bibi, tidak usah merendah" ucap Rio


" Anak daddy " ucap Adnan yang langsung menggendong dan mencium anak nya secara bergantian


" Ba-ba... "


Alvin dan Elea pun nampak girang bertemu dengan Adnan terlihat dari tawa nya yang selalu terlihat kalau Adnan sedang mencium dan mengajak mereka bercanda.


" Bi, saya ingin bertemu dengan Aleyna" ucap Adnan


" Non baru saja pergi dengan anak Bibi ke kebun stroberi" ucap Bi Nani


" Bisa tolong antarkan saya kesana Bi ?" Ucap Adnan dengan tergesa-gesa


" Biar aku saja yang anter " ucap Anak laki-laki Bi Nani


" Yasudah biar anak saya saja yang mengantarkan " ucap Bi Nani


Adnan dan Rio pun langsung menuju ke perkebunan stroberi, dengan menggunakan mobil dan di antar oleh anak laki-laki Bi Nani, akan tetapi kedua anak Adnan di tinggal di rumah bersama bi Nani.


-


Setelah menempuh perjalanan yang sangat sulit, akhirnya Adnan pun sampai di sebuah Perkebunan strobery, kebun yang cukup luas dengan pepohonan hijau nan asri, Adnan menatap seluruh perkebunan untuk mencari tahu keberadaan Aleyna, namun tetap saja ia tidak bisa menemukan Aleyna karena perkebunan itu sangat luas.


" Maaf Tuan, sebelum memasuki area perkebunan, tuan harus memakai topi petani dan membawa satu tempat untuk menyimpan strobery" ucap anak laki-laki bi nani, panggil saja Johan.


" Pakai saja Tuan" ucap Rio yang juga ikut memakai


" demi menjalankan aksi mu" bisik Rio


Akhirnya Adnan pun ingin memakai nya juga, ia dan Rio menelusuri setiap inci tanaman strobery namun tetap saja ia tidak bisa menemukan Aleyna, yang ada Adnan malah di kerumuni oleh ibu-ibu petani karena mereka baru melihat petani muda yang tampan seperti Adnan.


Rio menarik tangan Adnan untuk lepas dari kerumunan ibu-ibu, mereka pergi ke arah barat untuk melanjutkan perjalanan nya .


" Sebenarnya dimana keberadaan Aleyna! mengapa sulit sekali aku menemukan nya" bentak Adnan ia semakin tidak sabar


" Ikuti kata hati mu, jangan ikuti amarah mu, aku yakin kau akan menemukan cinta mu" ucap Rio .


Adnan menghela nafas, perlahan ia mulai melanjutkan perjalanan nya menuju arah barat perkebunan, kini mata nya sangat jeli sampai ia bisa menemukan Aleyna.


" Aleyna" ucap Adnan , kini senyuman terlintas di bibir Adnan


Adnan langsung berlari mengejar keberadaan Aleyna, tanpa memperdulikan jalan sampai ia terjatuh karena tidak sengaja menendang akar pohon.


" Awas Pak !" Teriak Rio, namun telat Adnan sudah terjatuh sampai baju nya pun kotor segera Rio membangunkan nya dan menepuk baju Adnan yang kotor.


Aleyna pun nampak bosan memetik buah strobery, ia pergi ke salah satu pohon strobery yang belum tumbuh, hanya daun-daun lebat saja yang menumbuhi pohon strobery itu, ia nampak gelisah karena pikiran nya masih tertuju dengan Adnan, sementara Adnan memperhatikan Aleyna dari belakang tanpa Aleyna ketahui.


" Mas Adnan, aku rindu .... " Teriak Aleyna di sebuah perkebunan


Aleyna tidak mengetahui kalau Adnan berada di belakang nya bersama dengan Rio , senyuman masih terus terlintas di bibir Adnan.


" Mas Adnan....


aku benci sama kamu, kenapa kamu sibuk dengan dunia mu sendiri " teriak Aleyna lagi


" Aku tidak bisa berada jauh dari kamu Mas, sebesar apapun usaha aku untuk melupakan kamu nyata nya aku tidak bisa Mas, aku tidak bisa jauh dari mu ... " Teriak Aleyna lagi ia sambil melampiaskan kekesalan nya.


aaaaaarghhhhhhhhh ......


Aleyna pun teriak sekencang mungkin untuk melepaskan semua rasa kesal dan membuang rasa benci terhadap suami nya sendiri, tak terasa air mata Aleyna jatuh membasahi pipi.


perlahan Adnan melangkah semakin dekat bahkan hanya berjarak satu langkah saja dekat dengan Aleyna.


" Aku merindukan mu mas Adnan ... " teriak Aleyna lagi dengan di iringi tangisan.


Tak terasa air mata Adnan pun menetes di sudut mata nya, ia langsung menghapus nya, dan segera ia memeluk Aleyna dari belakang dengan sangat erat, bahkan pelukan kali ini lebih erat lagi karena Adnan sudah menemukan separuh hati nya yang hilang, Aleyna terkejut dan membuka topi petani untuk memukul siapa yang berani memeluk nya, namun ia merasakan pelukan hangat seorang Adnan.


" Mas Adnan ?" ucap Aleyna yang menengok ke arah belakang


Dan benar saja Adnan datang dan memeluk nya dengan sangat erat, pelukan seperti orang yang tidak ingin kehilangan.


Aleyna menerima pelukan dari Adnan bahkan ia mencoba untuk melepaskan tapi tetap saja tubuh Adnan begitu erat memeluk nya sambil menyandarkan kepala nya ke bahu Aleyna, namun tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat deras membasahi dua insan yang sedang di landa rindu.


" Maafkan aku!"


Segelintir kata yang terucap dari bibir Adnan , namun sangat berarti untuk Aleyna


" Maafkan, aku sayang" ucap nya lagi


Aleyna hanya terdiam namun air mata masih tetap membasahi pipi, ia tidak bisa berkata apa-apa, berasa mimpi bisa bertemu lagi dengan Adnan dalam keadaan seperti ini seolah tuhan menjawab semua ucapan yang di lontarkan Aleyna tadi.


Rio hanya bisa tersenyum melihat Adnan dan Aleyna yang memang terlalu manis kalau sampai mereka harus berpisah.


Guys kumpulkan point untuk hari senin, Vote sebanyak mungkin ya hari senin nanti agar peringkat nya tidak jauh~


Komen dan Like .


Ini udah puanjang banget, parah kalau kalian nggak Komen !


author bilangin babang Adnan loh heheheh