
Adnan dan yang lainnya segera bergegas ke rumah sakit setelah Daniel memberi kabar kalau Susan hendak melahirkan.
Mereka hanya menggunakan satu mobil, karena terlalu lama kalau menggunakan mobil masing-masing.
Dengan perasaan cemas, Aleyna menggenggam tangan Reyna berharap semua nya akan baik-baik saja, dan berharap Susan dan anak nya baik-baik saja.
Karena dari tadi, Aleyna sudah berusaha menghubungi Daniel untuk menanyakan kondisi Susan, tapi tetap saja tidak ada balasan.
" Aku khawatir banget, panik juga!" ucap Aleyna yang mulai menghela nafas, mencoba untuk menenangkan dirinya.
" Aku juga khawatir, bahkan tak henti nya untuk berdoa" ucap Reyna.
Aleyna pun memeluk Reyna, karena saat ini Susan sedang berjuang melahirkan seorang anak, dan mereka selalu berharap yang terbaik untuk Susan maupun anak nya.
Tak lama mobil Adnan pun sudah sampai di pekarangan besar rumah sakit cipto, rasanya baru saja ia kemarin pulang, dan harus kembali lagi ke rumah sakit ini, tapi sekarang bukan untuk bekerja, melainkan untuk Daniel dan istri nya.
Adnan pun tahu bagaimana perasaan Daniel, apalagi ia pernah merasakan berada di posisi Daniel, di saat Aleyna hendak melahirkan dua buah hati nya.
" Mas, ruangan nya dimana?" ucap Aleyna setelah turun dari mobil
" Ruangan bersalin ada di lantai dua!" ucap Adnan dan ia menarik tangan Aleyna.
" Tunggu aku." ucap Adnan yang menggandeng tangan Aleyna.
Setelah sampai di dalam rumah sakit, Adnan pun tidak sengaja melihat wartawan yang sedang berkumpul di aula.
Adnan nampak curiga, padahal Adnan yakin, rumah sakit milik almarhum kakek nya ini tidak bermasalah baik dari tim medis, ataupun fasilitas nya.
Adnan pun berhenti sejenak, ia ingin menghampiri sekumpulan wartawan tersebut, namun Aleyna menarik tangan nya.
" Mas, mau kemana?" ucap Aleyna.
Aleyna memang tidak melihat adanya wartawan di aula.
" Sayang, tunggu sebentar. " ucap Adnan
yang penasaran dengan sekumpulan wartawan tersebut.
" Mas, ayo! aku ingin menjenguk Susan. " Ajak Aleyna lalu menarik lengan Adnan, sementara kedua bola mata Adnan masih tertuju dengan wartawan tersebut.
Memang sudah tidak asing lagi, bagi wartawan untuk selalu mengetahui informasi rumah sakit, baik dari pasien maupun dari tim medis dan Dokter, Apalagi keluarga Adnan memang sudah banyak di kenal oleh banyak orang, baik kehidupan keluarga Adnan pun selalu banyak di cari oleh seorang wartawan untuk membuat berita di media.
Tapi, Adnan merasa keluarga nya tidak mempunyai masalah sama sekali, bahkan Ayah nya maupun Bunda nya selalu terlihat akur bahkan baik-baik saja.
Adnan bahkan tidak pernah melihat keributan diantara mereka berdua. Semenjak Adnan kecil pun, Adnan tidak pernah melihat mereka bertengkar, bahkan Adnan sampai saat ini selalu mencontoh rumah tangga kedua orang tua nya.
Sebenarnya, apa yang wartawan itu cari, sampai mereka rela menunggu di aula!.
Aleyna segera membuyarkan lamunan Adnan, ia menarik lengan Adnan untuk sampai di ruang bersalin sementara Reyna dan Fandy sudah lebih dulu sampai di sana.
" Mas, Ayo! lama sekali. " gerutu Aleyna yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Susan.
" Iya sayang!" ucap Adnan yang menuruti Aleyna.
Setelah sampai di ruang bersalin, Adnan dan Aleyna pun tidak bertemu dengan Susan, ntah dimana keberadaan Susan, sementara ia tak sengaja melihat ayah nya yang baru keluar dari ruangan sebelah, tepat nya di ruang bersalin, padahal ayah Raden bukanlah dokter kandungan, dan dia juga tidak pernah berurusan dengan dokter kandungan.
Adnan pun menghampiri Raden, sementara Aleyna sibuk menelpon Reyna.
" Ayah..." sahut Adnan yang segera menghampiri Ayah nya.
Raden nampak gugup, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Adnan.
" Ayah sedang apa di ruang bersalin, Haha. bukan kah ayah tidak mempunyai kepentingan di ruangan bersalin ini?" tanya Adnan sambil tertawa melihat ayah nya.
" Haha, kamu juga nak mengapa ada di ruangan bersalin?" tanya Raden
" Aku dan Aleyna ingin menjenguk sahabat nya Aleyna yang sedang melahirkan. " ucap Adnan, ia segera memanggil Aleyna.
Kemudian Aleyna pun menghampiri Adnan dan Raden.
" Ayah... " ucap Aleyna sambil mencium punggung tangan Raden untuk member hormat kepada ayah mertua nya itu
" Ayah ada keperluan mendadak, kalau gitu ayah pergi dulu!" ucap Raden yang segera bergegas pergi, ia tidak ingin Adnan mencurigai nya.
Karena Raden memang sedang menemani istri muda nya yang hendak melahirkan anak nya, tepat di rumah sakit ini.
Raden akui memang ia salah, tapi semua nya sudah terjadi, Raden pun merasa dirinya adalah laki-laki yang tidak baik, bahkan ia malu pada diri nya sendiri, tapi disisi lain ia menikah dengan istri muda nya atas dasar permohonan dari Ayah nya Elisa yang dulu sakit, bahkan Elisa selaku istri muda Raden hanya menuruti saja keinginan sang ayah yang dulu sakit parah dan Meminta Raden untuk menikahi putri nya sebelum ajal menjemput nya, Raden pernah menolak keinginan tersebut, tapi ia tetap memaksa kalau keinginan terakhir ayah Elisa adalah ingin melihat Elisa menikah dengan seorang dokter, dan tepat pada saat itu Raden lah yang sedang mengurusnya. Sudah hampir tiga tahun pernikahan itu berjalan, tepat nya di desa palopo, makassar.
Adnan hanya menggelengkan kepala nya, ia bahkan tidak menyangka kalau Raden begitu sibuk sampai ia jarang sekali memiliki waktu untuk bunda.
" Jadi alasan bunda menginap di rumah itu karena kesepian, ayah memang selalu mencintai pekerjaan nya. " ucap Adnan sambil tersenyum.
*Andai saja kamu mengetahui kejadian sebenarnya, Mas.
Aku yakin kamu tidak akan bisa menerima nya.
maafkan aku Mas*.....
" Sayang, kalau aku sibuk seperti Ayah. Apa kamu mau ?" ucap Adnan sambil menatap wajah Aleyna.
" Kalau sampai kamu sibuk sama seperti Ayah. Aku akan meninggalkan kamu!" ucap Aleyna yang bergegas meninggalkan Adnan sendiri.
Akhirnya, mereka pun pergi ke ruangan rawat, karena susan sudah di pindahkan ke ruang rawat.
" Susan..... " ucap Aleyna yang langsung mencium dan memeluk Susan.
" Aleyna.... " jawab nya.
" Selamat atas lahirnya baby Dylan" ucap Aleyna yang nampak bahagia.
" Aku sedih deh, nanti kalau aku melahirkan. pasti aku akan berada jauh dari kalian!" ucap Reyna yang langsung bersedih dan memeluk sahabat nya itu.
" Reyna, kami sangat menyayangi mu. Kami akan tetap berada di sisi kamu, meskipun perbedaan jarak " ucap Aleyna dan susan.
" Aku bahagia memiliki kalian" ucap Reyna.
Sementara Adnan dan Fandy sibuk menginterogasi Daniel.
" Akhirnya jagoan kamu keluar lebih dulu." ucap Fandy sambil menepuk bahu Daniel
" Jagoan ku, sudah tidak sabar ingin keluar. Dan jagoan ku menunggu jagoan milik mu!" ucap Daniel sambil tertawa.
" Haha, kamu tidak mau nambah lagi kayak Adnan?" tanya Fandy sambil tertawa.
" Gila! istri kamu baru saja melahirkan. Mau nambah?" tanya Adnan
" Tidak apa-apa, biar sama kayak kamu Nan!" ucap Fandy.
" Satu dulu, nanti kalau rame aku nggak kebagian jatah!" ucap Daniel sambil tertawa.
" Sialan!" ucap Fandy.
Mereka pun seperti biasa, membagi pengalaman satu sama lain, apalagi minggu ini terakhir Fandy berada di rumah sakit, mereka sudah merencanakan makan malam perpisahan, tapi apa daya semua nya gagal karena Susan melahikan, tapi tidak apa-apa. Fandy pun mengerti.
" Belajar yang baik di sana Fan. jangan pernah melukai hati istrimu, karena dia rela mengorbankan dirinya dan bayi nya bahkan waktu nya untuk menemani kamu." ucap Daniel sambil menepuk bahu Fandy.
" Aku tahu, jangan membuat mu bersedih seperti ini. Bikin malu saja. " ucap Fandy yang mulai berkaca kaca.
" Memang nya kenapa?kamu memang dari dulu cengeng Fan " ucap Adnan sambil tertawa.
" Jangan begitu Nan, dia sudah besar tidak pernah menangis lagi kalau tidak di belikan permen." ucap Daniel
" Sialan! berhenti menghina ku!" ucap Fandy.
" Kapan lagi aku bisa menghina mu lagi seperti ini, sedangkan minggu depan kamu sudah pergi dari kota ini." ucap Daniel
" Nah benar tuh!" ucap Adnan.
" Terserah kalian!" ucap Fandy
Mungkin dengan adanya pertemuan, disitu juga tuhan telah merencanakan tentang perpisahan nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Catatan :
GUYS MOHON MAAF.
Di episode berikut nya banyak sekali, konflik yang belum di selesaikan, dan author akan menyelesaikan konflik tersebut tapi kalian jangan mogok baca nya :(
Tetap dukung author yah
dengan cara Vote, like, dan komen
Baca juga Novel terbaru Author
- Secretary Yuna
- Mi Amore Meira
- Surat cinta Pak Guru