My Doctor Is My Husband

My Doctor Is My Husband
Pemotretan berkelas



Alvin nampak tampan dan mempesona ketika menggunakan produk sweater dari Sunreal, memang tidak salah lagi, postur tubuh Alvin memang cocok sekali, bak model yang sudah berpengalaman, sampai Ko Rendi pun tertarik dengan Alvin untuk mengikuti model dari brand lain namun sayang nya, Aleyna tidak mengijinkan Alvin untuk menjadi seorang model apalagi Adnan sudah menyuruh Alvin untuk menjadi generasi penerus nya.


Sebagai dokter bedah, Adnan juga ingin mengajarkan anak nya, dan membimbing anak nya untuk mengikuti jejak nya, apalagi menjadi seorang dokter merupakan profesi turun temurun dari keluarga Adnan. Bahkan, ia menentang kalau kedua anak kembar nya harus bisa melanjutkan profesi nya sebagai dokter.


Alvin dan Dylan keluar dari ruang Wardrobe, mereka mampu membius semua mata yang melihat, bahkan Aleyna dan juga Susan begitu terpukau, mereka tidak menyangka kalau anak-anak mereka sudah mulai beranjak dewasa, padahal baru kemarin mereka hamil dan melahirkan, bahkan membesarkan anak-anak mereka, tapi sekarang yang ada di hadapan mereka adalah anak-anak mereka yang sudah mulai beranjak dewasa tak terasa waktu begitu cepat.


" Alvin, anak momy tampan sekali." ucap Aleyna sambil membenarkan rambut Alvin yang sudah di tata


" Anak ku tidak kalah tampan." sahut Susan.


Sementara Elea masih di dandani oleh make up Artist di ruang wadrobe, dan juga Rangga yang belum selesai, mereka di temani oleh Reyna.


" Aku bangga, karena kalian mempunyai bibit-bibit unggul seperti ini!" ucap Ko Rendi sambil tertawa dengan mata sipit nya khas orang Tionghoa.


" Haha, siapa yang dulu orang tua nya ko." ucap Aleyna sambil tersenyum.


" Loh, kami kan kualitas bibit nya bagus ko." sahut Susan yang juga ikut tertawa.


Sementara Alvin dan juga Dylan sedang menunggu, karena tim sedang menyiapkan tema pemotretan dan yang lain.


" Aku malas sekali, kalau harus berpose di depan kamera. " ucap Alvin dengan wajah datar nya.


" bukan kah menyenangkan, ini kesempatan kita untuk menjadi terkenal. " ucap dylan sambil tertawa, seolah meledek Alvin.


Memang, Alvin bukan tipe cowok yang selalu mengumbar wajah nya, apalagi di sosial media ia tidak pernah memposting foto dirinya sendiri.


ia lebih menyukai foto pemandangan alam, yang selalu jadi penghias feed nya di sosial media.


" kalau saja bukan karena ibu ku, aku tidak akan mau melakukannya. " sahut Alvin sambil membenarkan kerah sweater nya.


" Bukan kah bagus, kita bisa membantu bisnis orang tua kita?" ucap Dylan


" Iya, aku mengerti. " ucap Alvin yang sudah mulai malas membalas omongan Dylan yang terus nyerocos.


Tak lama Ko Rendi pun memanggil Alvin dan Dylan untuk melakukan foto sesi pertama, yaitu pemotretan sweater yang di desain khusus dengan warna hitam, dan juga warna-warna yang lain, Ko Rendi mengarahkan bagaimana pose yang tepat untuk Alvin dan Dylan.


Pertama, Alvin terlebih dahulu dengan mengenakan jaket hitam, masih ada puluhan warna lain, yang membuat Alvin harus mengerenyitkan dahi nya. Namun, ia berusaha untuk tetap tersenyum apalagi ketika melihat Aleyna, yang tengah sibuk mengatur semua nya.


Alvin terlalu sayang kepada ibu nya, ia rela melakukan apapun untuk membahagiakan ibu nya,meski bertentangan dengan keinginan nya.


Cekrek..... Cekrek.....


Suara bunyi kamera yang terus mempotret seorang Alvin dan juga Dylan, mereka dengan gaya masing-masing, dan dengan dibantu oleh Ko Rendi.


" Alvin,senyum nya jangan di tahan." ucap Ko Rendi sambil fokus mempotret Alvin.


" Dylan, badan nya agak di tegakkan. jangan terlalu menunduk. " sahut Ko Rendi.


Aleyna dan Susan pun merasa bahagia, ia bahkan tidak menyangka produk baru yang bertema Spread Love , akan di perankan oleh anak-anak mereka sendiri, tanpa mereka duga.


" Aku tidak akan menyangka , akan secepat ini mereka tumbuh. " sahut Aleyna sambil tersenyum ke arah Alvin.


" Aku juga ley, padahal baru kemarin kita menikah, dan kamu tahu kan, gimana susah nya aku untuk bisa hamil? dan Dylan adalah anugerah terindah yang aku miliki . " ucap Susan tak terasa air mata nya menetes.


" Aku jadi ingat, dengan adik Alvin dan Elea yang meninggal, karena keguguran. mungkin kalau dia hidup, dia akan tumbuh besar seperti dylan dan rangga. " Ucap Aleyna dengan mata yang berkaca-kaca.


" Anak mu sudah bahagia di sana. " ucap Susan sambil memeluk Aleyna.


" itu lah alasan, mengapa aku menyuruh Mas Adnan untuk mendaftarkan sekolah bersamaan dengan anak-anak kita, walau jarak mereka beda satu tahun. " ucap Aleyna.


" Aku yakin mereka akan tumbuh menjadi remaja yang baik, tidak seperti kita, karena kamu tahu? betapa benci nya guru-guru di sekolah dengan kita. " ucap Susan.


" Karena kita selalu berbuat gaduh kan. " ucap Aleyna kini, tangisan nya berubah menjadi tawa tatkala mereka mengingat masa-masa sekolah.


" Kita melewati masa remaja tanpa perhatian dari orang tua, aku tidak ingin Dylan ataupun Alvin, elea beserta Rangga merasakan hal yang sama seperti kita. " ucap Susan


" Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, karena aku tahu bagaimana rasa nya, ketika tidak di perdulikan sama sekali. " Ucap Aleyna sambil mengingat kejadian dulu.


Mereka memang, terlahir dari keluarga kaya raya bahkan mereka mampu membeli semua apapun yang mereka mau, tapi sekedar rasa perhatian atau kasih sayang dari orang tua mereka, jarang di dapati apalagi orang tua mereka sibuk dengan urusan pekerjaan, itulah yang membuat Aleyna beserta Susan dan Reyna pun menjadi anak yang brutal dan nakal, mereka tidak akan melakukan hal ini kepada anak-anak mereka, karena kasih sayang kedua orang tua lebih penting dari segala nya.


Handphone Aleyna terus berbunyi di dalam tas nya, sementara Aleyna sibuk dengan pemotretan Alvin dan Dylan.


Aleyna memang meninggalkan tas dan handphone nya di ruang wardrobe, Elea pun segera mengangkat nya, dan terpampang nama suami di layar handphone milik ibu nya tersebut, elea sudah tahu kalau itu dari Daddy nya.


" Halo, daddy.... " sahut Elea


" Momy sedang mengurus pemotretan untuk Kak Alvin, soalnya el sama kak Alvin mau jadi model untuk Produk clothing line Momy. " ucap elea dengan polos nya.


Aleyna memang menelpon Adnan, tapi ia tidak mengatakan yang sebenarnya, kalau kedua anak nya akan dijadikan model untuk SunReaL


" Panggil momy sekarang el!" perintah Adnan dengan menekan kata demi kata


" Memang nya kenapa daddy, lagi pula el seneng kok. " ucap elea


" daddy tidak pernah mengijinkan kamu dan kak Alvin untuk menjadi model, memalukan!" ucap Adnan sambil menutup telepon nya.


Daddy marah besar, aku harus cepat memanggil momy...


elea pun bergegas beranjak dari tempat duduk nya, ia ingin menyusul momy nya ke ruang pemotretan, dengan tergesa gesa, elea pun berlari dan tubuh nya menabrak seseorang, tak lain adalah Rangga yang ingin memasuki ruang Wardrobe.


tubuh elea pun menimpahi tubuh Rangga di bawah nya, elea berada di atas tubuh rangga.


" aw...... " jerit elea, jepitan rambut yang ia pakai pun lepas dan rambut yang sudah di tata rapih pun jadi berantakan.


elea menatap wajah rangga, ia melihat kedua bola mata rangga yang tenang dan begitu indah.


Yatuhan, aku baru tahu rangga setampan ini.


Rangga pun memegang kedua bahu elea, ia mendorong tubuh elea untuk menjauh dari nya.


Apa aku sudah gila? memuji manusia kulkas ? sadar elea sadar.....


" kalau jalan itu pakai mata! jangan pakai dengkul. " ucap Rangga sambil mengurungkan niat nya untuk masuk ke ruang Wardrobe, ia pergi begitu saja meninggalkan elea yang tengah mematung sendiri.


Rangga masuk ke dalam toilet, ia nampak nya sesak nafas secara tiba-tiba, ia bahkan terbayang wajah elea terus menerus, seolah elea terus menghantui nya.


mengapa cewek pecicilan itu, memenuhi memoriku, sialan.....


Rangga masih terus berdiam di dalam toilet, ia bahkan tidak berani keluar karena hati dan perasaan nya belum tenang, apalagi kalau berurusan dengan cewek pecicilan seperti elea.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


MAAF YAH, LAMBAT UPDATE NYA!


Harap di maklumi,


doakan author dan juga dede bayu sehat selalu.