
Elea pun berlari ke ruang pemotretan, ia masih memegangi dada nya yang terasa sesak, tapi bukan sesak karena terkena debu melainkan sesak dan nafas nya tida beraturan ketika tubuh nya menabrak tubuh Rangga, ia tidak menyangka akan sebodoh itu.
Kalau saja elea bisa memutar waktu, ia sama sekali tidak ingin kejadian tadi terulang, sungguh memalukan.
Amit-amit deh kalau, sampai aku jatuh cinta sama Rangga, aku tidak akan bisa membayangkan itu semua.
Elea tidak perduli dengan tatanan rambut nya yang berantakan, ntah ia sama sekali tidak menyukai rambut panjang nya, namun momy selalu merawat rambut panjang elea, sampai momy melarang elea untuk memotong rambut nya sendiri.
" Momy...." ucap Elea sambil bergegas memeluk Aleyna.
" El, kenapa rambut kamu berantakan. " ucap momy sambil menatap elea dengan heran nya.
" ini semua gara- gara anak tante beruang sama om beruang! Aku benar-benar tidak menyukai nya!" dengus Aleyna sambil melipatkan kedua lengan nya di atas perut.
"Maksud kamu Rangga?" ucap Momy sambil menata kembali rambut elea.
" Ya begitulah, aku malas menyebut nama nya, takut orang nya muncul secara tiba-tiba. " ucap Elea, dan benar saja Reyna pun datang dengan di dampingi Rangga, karena sebentar lagi pemotretan akan segera di mulai.
" Ley, apa elea sudah siap?" tanya Reyna sambil menghampiri Aleyna dan elea.
Rangga pun menatap elea, namun kali ini tatapan nya tidak setajam ketika pertama kali bertemu, tapi tetap saja tanpa seulas senyum, memang rangga sudah di cipatakan dengan wajah dingin, dan nyaris tanpa senyum sedikit pun.
Yatuhan, apa dia termasuk manusia yang peka, baru saja aku memanggil nama nya.
Elea pun heran dengan tatapan Rangga, ia membuang muka untuk menghindar dari tatapan rangga, ntah tatapan yang sulit di tebak, antara ingin menikam atau ingin membunuh, elea tidak mengerti dan tidak ingin perduli dengan Rangga.
" Sudah siap, tadi rambut nya sedikit berantakan. " ucap Aleyna sambil tersenyum
" Rangga juga sudah siap. " ucap Reyna yang juga tersenyum ke arah Aleyna.
" Ayo sayang, kita akan melakukan pemotretan. " ucap Aleyna yang menggandeng tubuh elea untuk masuk ke dalam ruang pemotretan di sana sudah ada Alvin dan juga Elea yang sudah selesai setelah satu jam pemotretan.
Elea menghentikan langkah momy nya, ia bahkan mengingat ancaman daddy nya di telepone tadi.
" Mom, tadi aku tidak sengaja mengangkat telepone momy, dan ternyata daddy yang menelpon. " ucap elea sambil meremas tangan Aleyna.
" Daddy bilang apa?" sahut Aleyna.
" Daddy melarang Aku dan kak Alvin untuk menjadi model. " ucap Elea sambil cemberut.
" Tidak usah di pikirkan, nanti Momy akan membicarakan ini semua dengan Daddy. lebih baik kamu sekarang ikuti semua perintah Ko Rendi, lakukan semua nya demi momy. " ucap Aleyna sambil mengelus pucuk rambut elea.
" kenapa harus sama manusia kulkas itu sih Mom?" dengus Elea, ia malas kalau harus berhubungan dengan Rangga.
" Tidak apa-apa, Rangga tidak akan menggigit kamu, hehehe. " ucap Aleyna sembari tertawa.
Ko Rendi pun memanggil Elea dan Rangga untuk masuk ke dalam ruang pemotretan, ruangan yang sudah di lapisi tirai putih, elea pun memakai sweater abu-abu sama dengan Rangga yang juga memakai sweater dengan warna senada.
Elea dan Rangga pun masuk ke ruang pemotretan, tatapan tajam dari elea dan juga tatapan dari Rangga, mata mereka saling bertemu seolah ingin memburu musuh nya.
" Silahkan masuk, jangan malu-malu. " ucap Ko Rendi
Elea pun masuk , ia berdiri di depan layar entah ia sendiri bingung, apa yang akan elea lakukan dengan Rangga.
" Hati-hati nanti malah jatuh hati. " bisik Dylan di telinga Elea kebetulan Dylan dan Kak Alvin ikut menyaksikan pemotretan elea dan Rangga.
" Diam! " ucap Elea sambil teriak di telinga Dylan.
" Benci jadi cinta itu wajar el. " bisik nya lagi, namun kali ini elea menjewer telinga Dylan sampai yang empunya meront kesakitan.
Ogah, sampai kapan pun aku tidak akan mau jatuh cinta dengan Rangga.
" Elea dan Rangga, apa kalian siap?" ucap Ko Rendi.
Ko Rendi pun mengarahkan tangan elea , dan tangan Rangga pun melingkar di pinggang elea, sementara tangan elea menempel di bahu rangga, mata mereka saling menatap.
" Kamu jangan macam- macam, simpan wajah menyebalkan kamu itu!" ucap Rangga
" Apa? kamu bahkan lebih menyebalkan dari ku. " bisik elea
kini, wajah mereka saling berdekatan, namun bukan tatapan romantis bak pemotretan pasangan lain, elea dan Rangga malah memberikan tatapan musuh, untuk menerkam mangsanya.
" Rangga senyum nya mana? jangan di tahan" ucap Ko Rendi
" Elea berikan tatapan romantis untuk rangga!" sahut ko Rendi lagi.
Elea pun mengikuti arah dari Ko Rendi, ia menatap wajah Alvin, dengan tatapan mata yang menggoda, bahkan elea mengingat kejadian tadi, waktu ia menabrak tubuh Rangga.
" Nggak usah tatap wajah ku terus menerus,nanti naksir lagi. " bisik Rangga dan membuat elea bergidik
" Hah? bisnis adalah bisnis, jadi nggak usah baper deh. " celoteh elea.
Ko Rendi pun langsung mengarahkan kedua nya lagi, untuk mengganti posisi.
Elea di suruh menyandarkan bahu nya di dada bidang Rangga, dengan wajah yang masih saling menatap.
Elea memang cantik, tapi sayang mengapa dia begitu pecicilan.
Sorot mata mereka saling bertemu, namun bukan lagi tatapan kebencian melainkan tatapan yang penuh arti dan tanda tanya.
" Ternyata kamu cantik juga. " ucap Rangga dengan suara pelan, namun terdengar jelas di telinga elea.
elea tersenyum manis, ntah ia merasa bahagia ketika mendengar kata-kata itu dari mulut Rangga.
coba saja kalau kamu romantis seperti ini, pasti aku tidak akan membenci mu...
" Jangan baper, cuma bisnis!" sahut Rangga yang menarik kembali kata-kata nya.
" GE-ER banget! nggak usah kepedean deh." ucap elea sambil mendorong tubuh Rangga untuk menjauh dari nya.
Elea pun memajukan bibir nya, ia kesal dengan Rangga, ntah rasa benci itu muncul kembali dalam benak nya, elea pun menyuruh Ko Rendi untuk menghentikan pemotretan nya, mood nya sudah tidak baik, apalagi kalau harus di pasangkan dengan Rangga.
" Aku tidak ingin melakukan nya lagi. " ucap Elea yang langsung berlari menuju Aleyna.
" Tapi, ini belum selesai. " ucap Ko Rendi yang memanggil elea.
" Lain kali saja Ko, aku mau pulang saja. " ucap Elea.
" Mom, ayo pulang! Aku benar-benar bosan apalagi kalau ada Rangga. " ucap Elea sambil berdengus kesal.
Aleyna pun menghampiri Ko Rendi dan mengatakan kalau pemotretan nya sudah selesai lagi pula, sudah hampir malam, Aleyna takut ini semua akan membuat Adnan menjadi marah. Apalagi kedua anak nya akan berangkat kesekolah besok pagi nya.
" Ambil seadanya saja Ko, karena aku tidak ingin memaksakan elea, apalagi mood nya sedang tidak baik Ko. " ucap Aleyna
" Tidak apa-apa, kalau begitu terimakasih atas kerja sama nya. " ucap Ko Rendi.
" Tolong kabari aku kalau, semua nya sudah selesai. " ucap Aleyna lalu menghampiri kedua anak kembar nya.
" Berarti makan malam nya tida jadi?" ucap Reyna
" Iya, sayang sekali. " ucap Susan sambil berdecih kecewa.
" Lain kali saja, aku juga takut elea dan Alvin kelelahan, apalagi besok mereka sekolah. " ucap Aleyna.
" Yasudah, kalau gitu kita pulang saja. " ucap Reyna
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan membatalkan acara makan malam yang sudah di janjikan.
Adnan pun masih terus menghubungi Aleyna, ia takut terjadi apa-apa, karena Adnan sudah lebih dulu sampai di rumah.
" Mas, aku dan anak-anak lagi di jalan. " ucap Aleyna sambil mengendarai mobil
" Hati-hati, jangan ngebut aku tunggu di rumah sayang. " ucap Adnan
Aleyna pun menutup telepon, sementara kedua anak nya malah tertidur, Aleyna memang merasa bersalah menjadikan kedua anak nya sebagai model, dan memperkerjakan kedua anak nya di bawah usia, tapi bukan itu maksudh Aleyna, karena itu jalan satu-satunya. Aleyna siap menerima konsekuensi nya apalagi melihat kemarahan Adnan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author akan share foto-foto mereka pas jadi model SunReAL,di tunggu yah.
Coba yang mau lihat, berapa banyak ?
komen , Like,dan Vote nya.
makasih yah :)